Connect with us
https://ronascent.biz/wp-content/uploads/2017/07/ronascent-adv-copy.jpg

EVENTS

Super Generation Fest 2018: Kehangatan Shoegaze Memecah Dinginnya Bandung

Published

on

Tanggal 24 November mungkin menjadi hari yang paling dinanti shoegazer dan “sobat indie” Indonesia. Band shoegaze legendaris asal Britania Raya, RIDE dan band shoegaze asal New York, DIIV didaulat menjadi line-up utama di Super Generation Fest 2018 di Eldorado Dome, Lembang, Bandung.

Super Generation Fest 2018 bisa dibilang sebagai event musik irit line-up. Praktis hanya empat band yang nangkring di list pengisi acara. Namun dengan nama besar seperti RIDE dan DIIV sudah bias dipastikan animo penonton akan gila. Apalagi dengan harga tiket yang terhitung murah untuk band sekelas RIDE dan DIIV. Terbukti, antrean penukaran tiket sudah terlihat memanjang di sore hari. Ya walaupun sudah diumumkan bahwa show dimulai pukul tujuh malam, namun sejak sore sudah banyak penonton yang datang; sebuah capaian positif tentunya.

Pukul 19.30 WIB show dimulai. Dibuka oleh kolektif post-rock asal Bandung, Under The Big Bright Yellow Sun yang mampu memanaskan suasana. Kurang lebih tujuh track dibawakan UTBBYS malam itu. Cukup singkat memang, namun UTBBYS mampu membayarnya dengan penampilan yang apik. Setelah UTBBYS, band beraliran elektronik asal Bandung, Rock N Roll Mafia menjadi penampil selanjutnya. Hmmm, cukup awkward dan kurang pas memang jika band beraliran elektronik di daulat menjadi band pembuka. Terbukti crowd ketika RNRM tampil tidak begitu antusias. Hanya segelintir orang yang ikut berdansa dan bergumam. Agaknya kurang worth it jika melihat waktu yang termakan cukup lama untuk menyiapkan lighting khas RNRM dan sound yang terdengar kurang bersih.

Setelah RNRM selesai, seketika barisan shoegazer usia muda maju untuk menyambut DIIV. Setelah menunggu kurang lebih 20 menit, akhirnya DIIV memulai penampilan pertama mereka di Indonesia. Riuh penonton yang semangat tak terbayar di awal penampilan. Di tiga lagu awal, technical error menghiasi set DIIV namun akhirnya bisa diatasi. Mencoba membayar kesalahan di awal, Zach dkk membawakan tembang lawas Follow yang membuat penonton mulai bernyanyi bersama. Atmosfer mulai memanas ketika lagu Dopamine dibawakan. Kerumunan yang awalnya hanya head-banging akhirnya menghasilkan crowd-surf menyenangkan dan gila. Hampir di semua lagu lama seperti Under the Sun, Dust, dan Doused mampu mebuat penonton bercrowd-surf ria. Namun di sela-sela lagu lama yang dinantikan ternyata lebih banyak lagu baru yang dibawakan DIIV. Ini yang membuat penampilan DIIV menjadi kurang bertenaga. Penantian panjang penonton yang ingin mendengar track-track andalan di album Oshin ataupun Is The Is Are akhirnya tidak terbayarkan. Malah terkesan seperti sesi latihan untuk album baru DIIV. Ditambah attitude dan interaksi dari Zach yang kurang enak membuat set DIIV jadi cringe.

Dan akhirnya giliran sang legenda untuk naik panggung. Seketika pergantian penonton terlihat dengan jelas. Barisan shoegazer senior langsung memadati ruangan. Di buka dengan LannoyPoint, penonton sudah mulai ikut bernyanyi bersama. Track kedua, masih dari album terbaru RIDE, Charm Assault kembali memanaskan suasana. Disusul dengan track ketiga, Seagull yang diambil dari album Nowhere seketika membuat penonton bergemuruh dan bernyanyi bersama. “Haturnuhun”, ucap Mark Gardener setelah menyanyikan lagu ketiga. Penonton semakin dibuat menggila dengan lagu-lagu lawas andalan yang dibawakan seperti Leave Them All Behind, OX4, dan puncaknya Vapour Trail yang menjadi senjata pamungkas RIDE untuk membuat penonton bernyanyi semakin keras. Tidak seru jika tidak ada encore. Sebelum memainkan Drive Blind sebagai encore, RIDE sempat memainkan musik instrumental yang cukup panjang dan berinteraksi dengan penonton. Set RIDE yang sempurna akhirnya ditutup dengan lagu Chelsea Girl. Total RIDE membawakan 16 lagu dengan mulus dan fantastis. Jika ditanya apakah worth it? Jawabannya SANGAT WORTH IT! Bagi para shoegazer mungkin Super Generation Fest 2018 merupakan event musik terbaik tahun ini di Indonesia. Jika tahun ini sudah bias mendatangkan RIDE dan DIIV, apakah tahun depan bisa mendatangkan band shoegaze lain seperti My Bloody Valentine dan Slowdive? Well, kita tunggu saja.

Teks: Agita Bela Hakiki | Foto: Arina Habaidillah

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

EVENTS

SUBNATION VOL.2: Gigs Penutup Ramadhan Klimaks

Published

on

Bagai oase di tengah padang pasir. Setidaknya frase tersebut lah yang menjadi acuan untuk gelaran Subnation Vol.2! Bulan ramadhan tidak membuat teman-teman diam dan malah terus aktif untuk berkarya. Terlebih lagi kegiatan Subnation kemarin jadi klimaks yang kompleks  sebelum ramdhan berakhir, karena Subnation Vol.2 tak hanya menyajikan performer terbaik tapi lengkap dengan sesi diskusi edukatif, hingga marketplace. Subnation pun melibatkan pasarnoise untuk tenant mereka. Sayang karena keterbatasan gear kami bawa, redaksi pun hanya berhasil menangkap para performer. Selebihnya kalian harus datang sendiri untuk menikmati gelaran event Subnation. Tunggu event mereka selanjutnya dan pantau informasinya melalui akun instagram @subnation031 Selamat menikmati.

Continue Reading

EVENTS

Downtown Take Over: Sebuah Upaya Pertemukan Berbagai Generasi

Published

on

Melanjutkan acara sebelumnya, Talk Bus Tour, Paranoise kembali membuat sebuah suguhan yang bermaksud untuk me-recall ingatan kita tentang skena musik di Surabaya. Jika Talk Bus Tour kemarin sempat membawa kita berjalan ke tiga tempat legendaris di dunia permusikan Surabaya, kini acara terbaru mereka Downtown Take Over pun ikut memainkan beberapa band lawas yang tujuannya memperkenalkan dari generasi ke generasi. Ada Noxa, Murphy Radio, Piston, Let’s Go Cmon Baby, Berdikari, Plester-X dan Egon Spengler. Berikut laporan kami.

Continue Reading

EVENTS

Penampilan Golden Mammoth di Surabaya

Published

on

Band bermuatan psychedelic rock asal Malaysia, Golden Mammoth berkesempatan menggelar pertunjukannya di Surabaya. Dalam acara yang digelar di Nens Corner tersebut, band ini berbagi panggung dengan sederet band lokal, mulai dari yang paling muda ada Eisen, kemudian Timeless, Rasvan Aoki hingga Let’s Go Cmon Baby yang kembali bereuni. Berikut foto-foto hasil liputan kami.

Continue Reading

Surabaya