Connect with us
https://ronascent.biz/wp-content/uploads/2017/07/ronascent-adv-copy.jpg

EVENTS

Release Party Daging: Death Metal Sudah Mendarah Daging

Published

on

Gerogot saat tampil di release party debut album Daging pekan lalu. (Foto: Stage ID/Jonathan)

Sebenarnya banyak yang jadi pikiran malam ini. Gempa Lombok. Laga perdana Arsenal musim ini. Pilihan Capres-Cawapres. Kecuali mungkin yang terakhir, pikiran-pikiran semacam ini membawa kita pada kondisi mentok. Bingung. Belum ketambahan deadline, pekerjaan sialan, besok bisa bangun pagi apa tidak—mengingat hari Senin dari awal memang selalu menyebalkan, atau hal sesimpel di mana kita meletakkan korek api tadi, siapa yang meminjam, sementara mulut pahit minta pembakaran. Tapi kabar gembiranya, kita selalu punya cara tersendiri untuk menetralkan itu semua. Termasuk menghadiri gigs gelap yang membuat mata perih dan paru-paru menghitam karena asap rokok berputar-putar terus di area  berpendingin ruangan.

Tapi sudahilah mengoceh. Hari ini kalian yang mungkin sedang berada di tempat yang sama, seharusnya merasa beruntung. Fadly Zakaria sang MC sekaligus empunya Radioactive Force ini, menjadi MC tunggal yang memoderatori pertunjukan berlapis-lapis dengan inti peluncuran album terbaru Daging yang bertajuk Nafsu. “Mungkin molor dari jam tiga tadi.” Kata Jonatan dari Stage ID Surabaya yang kedapatan sedang melakukan aksi seolah melempar kameranya demi mendapatkan hasil foto yang raw. Kebetulan gondrong ini sedang di samping kami, yang terus-terusan mengelap mata yang walaupun sudah tertutup kaca mata, tetap terasa perih. Entah kami yang datang telat, atau memang acara molor sekali, Hold mengawali pagelaran pasca diminta secara sopan oleh Fadly. Itu sekitar pukul tujuh lebih sekian.

Beberapa dinamika breakdown seolah membuat leher kami terpelintir dengan sendirinya. Sebelumnya, kami memang mengajak Jonathan Budiman atau Yoyo, dedengkot M Radio, yang kemungkinan besar baru pulang ngantor—dan brengseknya dia kembali bekerja lagi ke kantor saat gigs usai. Dia baru saja datang dan langsung berkeringat. Membetulkan kacamata dan saat frekuensi lagu semakin panas, Yoyo tidak kuasa menahan badan. Tapi tahan.Tahan. Pun kami juga begitu. Setidaknya sampai Hold dengan lagu yang belum kami hafalkan ini pergi meninggalkan panggung. Dilanjut dengan Simpul Mati, yang memainkan brutal death dengan proporsional. Agaknya penonton mulai tidak betah untuk berkelonjotan saat simpul mati beraksi. Keringat menyebar di pelupuk mata. Hidung mulai berminyak.

Penampilan Daging di acara launchingnya. (Foto: Stage ID/Jonathan)

Selanjutnya adalah aksi dari band gabungan Slipknot, Korn, Jamrud, dan Mel Shandy bernama Black Jack. Pakai topeng dan menambah kesan sangar mereka. Tapi kalau Anda sisi humor gelap, frontman Black Jack mengingatkan kami pada acara kriminal di televisi swasta yang punya ikon bernama Bang Napi. Black Jack memakai seperangkat mixer atau DJ set atau apapun itu yang membuat nuansa-nuansa elektronika di lagunya. Sound gitar yang sangat industrial dengan vokalis super-seram yang—sekali lagi kalau kalian punya nafsu humor—seperti Rey Mysterio. Tambah lagi kehadiran seorang biduan dengan gaya seperti lady-rock Indonesia 80-an, semakin menambah semarak panggung. Applaus kami tidak sia-sia. Si Lady mengibas-ibaskan rambutnya yang menjuntai panjang dengan pola headbang urat leher. Membuat kepala kami agak bergerak juga.

Lalu deru pun terus berputar sementara arloji bertambah malam. Gerogot tampil dan menggerogoti jiwa-jiwa gelap yang haus pelampiasan amarah. Kami sebenarnya tidak terlalu yakin apakah Gerogot benar-benar terinfluence Disgorge. Yang ada di dada hanyalah rasa muak pada semua hal yang dibakar api vokalis bengal ini. Goyang-goyangan mulai ditampilkan. Tidak ada yang sungkan. Semua berputar menahan caci-maki yang dilontarkan gerogot. “Itu teknik vokal pitch squal”, ujar Yoyo. Lalu dia sedikit memberi ceramah metal 101 yang sebenarnya kami tidak mengerti-mengerti amat. Yoyo terus memaksa kalau pig squeal adalah menguik seperti babi. Tapi menurut hemat kami, itu lebih mirip seperti katak. Perdebatan pun menguap pasca sebatang rokok terbakar, dan band selanjutnya tidak kalah canggih.

Wafat—tidak seperti namanya—masih belum mati. Meskipun veteran, band yang baru saja mengeluarkan album bertajuk Dosa ini bermain prima. Membuat muka-muka kami semakin berminyak goreng saja sementara pikiran mulai menunjukkan kemelut soal besok kerja, Arsenal lawan City, migrain yang tiba-tiba, dan kepala yang mendadak ingin ledakan alkohol. Sebenarnya ingin gila-gilaan malam ini. Tapi Senin adalah hari yang sepenuhnya harus dihadapi dengan sadar, nir-sober, dan kehendak muntah. Bangsat. Terpaksa menahan sambil terus ikuti irama Wafat meskipun leher ini semakin nyeri saja dan kuping terus berdenging.

Rupanya kami sudah tidak kuat lagi. Crucial Conflict kami daulat sebagai penutup aksi karena kepala benar-benar pening. Di aplikasi Live Score terlihat Raheem Sterling sudah mencetak gol perdana untuk City. Kepalang buyar untuk Unai Emery. Crucial Conflict bermain rapi seperti biasanya. Lamb Of God dengan atmosfer yang lebih lokal. Pikiran agak melonggar, tapi nyala tubuh tidak bisa dibendung. Yoyo menguap dan kami tidak-bisa-tidak, harus segera beralih dari ruangan ini.

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

EDITOR'S PICK

Merayakan 14 Tahun Blingsatan & Meroketnya 6 Rilisan Baru Skena Punk

Published

on

14 Tahun Blingsatan (dari kiri): Saka, Amir, Arief. (Foto: Novan Rebellnoise)

Euforia band gaek asal Surabaya, Blingsatan kemarin tak terbendung lagi. Sehari pasca merayakan hari kemerdekaan Indonesia yang ke-74, trio punk yang beranggotakan Arief, Saka, dan Amir itu juga merayakan hari jadinya yang ke-14. Dengan titel event Merocket #1 yang digelar di M-Radio Surabaya kemarin malam (18/8), mereka sekaligus melempar album The Best of Blingsatan, From The Past For The Future. Di tengah penampilannya, Blingsatan menyematkan seremoni pemotongan kue yang menandakan bertambahnya usia mereka. “Kue ini untuk kita semua, terima kasih yang sudah memberi support buat Blingsatan hingga kini!,” ujar Arief di sela-sela penampilannya.

Dalam setlist semalam, Blingsatan membawakan mayoritas lagu lama, seperti I Don’t Know Where, Belia, Si Sexy, Yang Muda Yang Bercinta, Waiting Is Hard Things To Do dan Berbeda Merdeka. Gigs semalam memang menjadi ajang bersenang-senang. Lupakan sejenak segala kesempurnaan di atas panggung, karena yang ada hanyalah sing along, alkohol, dan colekan kue tart yang menghiasi wajah ketiga personil Blingsatan.

Perayaan ulang tahun Blingsatan pun semakin marak dengan rilisan masal yang dilakukan oleh band-band penampil sebelumnya. Seperti Tulipe de Gezner yang akhirnya merilis album Berdiri Untuk Melangkah. Kemudian Melaju yang memperkenalkan mini albumnya Triakan Kebersamaan serta dua single baru yang meluncur masing-masing dari Dindapobia berjudul Overnow dan  Cheers The Punk dari Radiocase. Dan tentunya juga album digital The Best of Blingsatan, From The Past For The Future yang kabarnya akan menjadi pemanasan bagi Blingsatan untuk merilis album keempatnya.

Merocket #1 akhirnya ditutup lewat penampilan kolaboratif dari Hometown Rockers yang menampilkan musisi-musisi punk dari berbagai band seperti Happy Arabika (Pig Face Joe), Biyan (Plester-X), Paul (Give Me Mona), dan Ucup (Tulipe de Gezner). Menampilkan beberapa hits ala punk rock seperti Blitzkrief Bop, Basketcase, hingga When I Come Arround, mereka pun menutup pesta singkat Blingsatan yang selesai tidak lebih dari jam 9 malam, punk rock yang tertib!

 

Continue Reading

EVENTS

SUBNATION VOL.2: Gigs Penutup Ramadhan Klimaks

Published

on

Bagai oase di tengah padang pasir. Setidaknya frase tersebut lah yang menjadi acuan untuk gelaran Subnation Vol.2! Bulan ramadhan tidak membuat teman-teman diam dan malah terus aktif untuk berkarya. Terlebih lagi kegiatan Subnation kemarin jadi klimaks yang kompleks  sebelum ramdhan berakhir, karena Subnation Vol.2 tak hanya menyajikan performer terbaik tapi lengkap dengan sesi diskusi edukatif, hingga marketplace. Subnation pun melibatkan pasarnoise untuk tenant mereka. Sayang karena keterbatasan gear kami bawa, redaksi pun hanya berhasil menangkap para performer. Selebihnya kalian harus datang sendiri untuk menikmati gelaran event Subnation. Tunggu event mereka selanjutnya dan pantau informasinya melalui akun instagram @subnation031 Selamat menikmati.

Continue Reading

EVENTS

Downtown Take Over: Sebuah Upaya Pertemukan Berbagai Generasi

Published

on

Melanjutkan acara sebelumnya, Talk Bus Tour, Paranoise kembali membuat sebuah suguhan yang bermaksud untuk me-recall ingatan kita tentang skena musik di Surabaya. Jika Talk Bus Tour kemarin sempat membawa kita berjalan ke tiga tempat legendaris di dunia permusikan Surabaya, kini acara terbaru mereka Downtown Take Over pun ikut memainkan beberapa band lawas yang tujuannya memperkenalkan dari generasi ke generasi. Ada Noxa, Murphy Radio, Piston, Let’s Go Cmon Baby, Berdikari, Plester-X dan Egon Spengler. Berikut laporan kami.

Continue Reading

Surabaya