Connect with us
https://ronascent.biz/wp-content/uploads/2017/07/ronascent-adv-copy.jpg

EVENTS

Jazz Traffic, Masa Depan dan Eksperimennya

Published

on

Malam ini dan malam selanjutnya adalah pesta. Dan pesta malam ini dan malam selanjutnya punya definisi yang berbeda. Kesimpulan ini didapat saat menghadiri Jazz Traffic Festival 2018, yang digelar di Grand City Surabaya 25 dan 26 Agustus lalu. Masih teringat dengan jelas bagaimana antrian panjang di pintu penukaran tiket yang mengular-memanjang sampai hampir ke jalanan depan Gubeng. Ini jelas bukan acara main-main. Animo masyarakat cukup besar, sebesar puluhan ampli yang bertumpuk-tumpuk di lima panggung besar yang tersebar di area parkir, Convention dan Exibition.

Sebenarnya festival agak sedikit menghambat kita dalam menghayati memori dan ingatan. Ini karena penampilan demi penampilan demi penampilan dari sekitar 400 musisi langsung dihantamkan ke otak tanpa permisi. Rundown yang tahun ini tidak dicetak tapi dalam versi aplikasi resmi Jazz Traffic, membuat kita sebagai pengidap panic disorder tiba-tiba gelisah karena banyak sekali penampilan bagus di semua lini; jazz, pop, rock, metal, bahkan dangdut. Jazz Traffic sudah berevolusi dari sebuah acara reguler di Suara Surabaya sejak 1983—dengan Bubi Chen sebagai sosok musisi yang paling bertanggung jawab—menjadi festival musik besar-besaran tahunan sejak 2011 lalu. Kalau awalnya jazz, kali ini melebarkan sayapnya di berbagai macam genre dan aliran, yang tentu saja masih punya benang merah dengan jazz. Kata Errol Jonathans Chairman Jazz Traffic sekaligus CEO Radio Suara Surabaya, festival tahun ini mengusung tema The Future Is Now.

Tapi sekali lagi hidup adalah pilihan. Sekalipun itu sulit, yang penting adalah terus berjalan dan menjalaninya, dengan gila-gilaan dan tertawa. Mari sedikit kita deskripsikan pilihan-pilihan apa yang tersedia di festival legendaris ini. Ada Jazz Traffic Stage yang indoor di area Convention, juga Suara Surabaya Stage di area Exhibiton. Lalu mendongak keluar, ada MLD Stage dan Indihome Stage, yang disekitarnya berputar berbagai macam arena yang bisa disambangi. Termasuk Studio Mini Suara Surabaya yang mengudara di FM 100 saat membawakan siaran langsung dari venue. Selanjutnya menyatu dengan area F&B, ada Kolaborasik Stage yang diatur sedemikian rupa oleh punggawa M Radio dan anak-anak Kolektif Kolaborasik. Hidup adalah pilihan dan kepala kami terus berdenyut kencang mengingat pilihan-pilihan semacam ini.

Kami yang datang di hari pertama pada Sabtu sore, akhirnya memilih menonton penampilan Adhitya Sofyan, yang sekarang berpenampilan eksotis; memelihara rambutnya sampai gondrong dengan kumis yang lumayan tebal. Siapa mengira dia sudah berumur empat puluh tahun. Setiap orang punya waktu terbaik untuk menonton sebuah pertunjukan musik. Tapi menurut penulis kami saat ini, waktu favoritnya adalah sore menjelang pukul setengah lima. Pasca terik dan pra-senja di mana matahari sudah tampak sayu dan hangat, kuning orange tidak lagi merah membakar, menerpa panggung yang polosan tanpa perlu pakai lighting dan tata cahaya yang bejibun, dengan semilir angin empat sore yang menghembuskan rambut terurai Adhitya Sofyan yang saat itu sedang membawa gitar kopong.

Si Adhit melempar sejumlah kidungnya yang menggubah pop menjadi sedemikian harmonis. Musik semacam begini penting didengar saat suara-suara di luaran sana punya pola yang sama; kebanyakan khianat dan susah dipercaya. Adhit menggunting pikiran sadar dan bawah sadar kita seketika, membawa kita masuk dalam setlist yang dia bawakan. Agak lupa memang dia membawakan lagu apa saja, tapi nomor Adelaide Sky yang disenandungkan jadi penutup, seolah jadi transisi ketidaksadaran itu tadi. Langit perlahan mulai menghitam dan Adhit pamitan dengan sopan sementara penonton terus bertepuk tangan sambil sedikit berkaca-kaca sambil sedikit mengasihani kisah romantisme diri sendiri sambil mengingat-ingat pikiran-pikiran soal sesuatu yang kemudian dicerna sebagai rekaman ingatan yang suwung. Adhit adalah penghiburan yang menawarkan rasa sedih sekaligus gembira, atraktif sekaligus kontemplatif, meditatif sekaligus adiktif. Dan sekarang kita adalah manusia-manusia yang tiba-tiba saja menjadi naif. Sebegitunya vibe acara musik live memengaruhi kita.

Selanjutnya adalah keramaian demi keramaian yang terus menghantam kepala. Dua panggung yang disusun berhadap-hadapan seperti layaknya festival, agaknya diatur sedemikian rupa supaya tidak saling bertempur. Pasca Adhitya Sofyan yang memukau sampai lima sore, kami melanjutkan destinasi telinga berikutnya masih di panggung yang sama: MLD Spot Stage. Bedanya saat ini hawa sudah mulai menusuk, nuansa mulai gelap dan senja sudah tidak tampak batang hidungnya. Kami beruntung karena si penulis naskah ini kedapatan membawa gelang all access. Tanpa peduli malu langsung menerobos ke backstage tempat penampil selanjutnya yang akan memulai aksi sedang memanasi motor peralatan. Wajah itu. Kaus itu. Perangai itu. Tidak salah lagi: Eet Sjahranie. Benar, kami sedang berada di depan legenda rock kenamaan yang membentuk salah satu eksponen rock paling panas bernama Edane. Eet sendirian mengawasi penonton di belakang panggung sambil terus mengisap rokoknya. Sesudah basa-basi super penting soal pengakuan penulis sebagai fans berat Edane yang beruntung bisa bersama Eet saat ini, Eet membeberkan sedikit rahasia soal penampilannya kali ini: “Masih memainkan rock. Itulah kenapa dinamakan Eet Sjahranie Black.” Tandem penampilan si mata eyeliner ini tidak lain tidak bukan: Gilang Ramadan. “Gilang lebih ke blues. Maka dari itu namanya Gilang Ramadan Blue.” Kata Eet. Ya benar, mereka berdua membuat satu proyekan yang baru pertama kalinya ditampilkan, bahkan satu-satunya di Indonesia. Dan Surabaya dengan Jazz Traffic-nya beruntung mendapatkan kesempatan emas yang dinamakan Gilang Ramadan Blue dan Eet Sjahranie Black ini. Dengan dibantu Novi dari Voodoo—unit slow rock legendaris 90-an.

Yang dilemparkan dari tembang pertama adalah Fire punya Jimi Hendrix. Di lagu yang berulang-ulang dicover menjadi gubahan yang tidak main-main oleh sejumlah musisi (bahkan DeadSquad di album Profanatik), kali ini digeber dengan nuansa yang sama sekali lain. Hard rock keras tanpa ba-bi-bu dengan pertunjukkan gitar solo-drum solo-gitar solo-drum solo secara konstan demi mempertegas nama Gilang dan Eet sebagai si empunya show. Novi seperti biasa, masih kuat melingking meskipun hanya sampai begitu saja: tidak ada yang terlampau istimewa. Dilanjutkan dengan beberapa tembang lawas evergreen slow rock dari band 80-an seperti Heart. Lalu yang sempurna adalah Highway To Hell dari AC/DC yang membuat Eet semakin memposisikan dirinya sebagai pengagum berat Angus Young si tua-tua keladi yang doyan memakai seragam sekolah. Pengunjung juga merespons secara histeris dan antusias. Bercampur lebur dari bapak-bapak ibu-ibu berumur sampai anak-anak mahasiswa. Ini gila. Bahkan banyak di antara mereka yang mungkin belum lahir saat The Beast-nya Edane dirilis. Tapi pesona seorang rockstar memang seberbahaya itu. Membuatnya sampai kapanpun akan terdengar keren dan mendatangkan massa. Apalagi di panggung Jazz Traffic ini, ada dua sosok yang bisa dikategorikan sebagai rockstar. Sekaligus!

Malam semakin biru dan kami melompati beberapa penampilan selanjutnya dalam naskah ini. Bukan apa-apa, akan terlalu banyak deskripsi yang bisa kami beberkan yang dikhawatirkan akan memusingkan kepala kalian. Karena itu kami langsung mengajak kalian ke tempat di mana hal spesial soal Jazz Traffic ini ditawarkan: Via Vallen Jazz Traffic Project. Ini membuat kalian sedikit gila pada akhirnya karena Via bukan sosok yang lumayan bisa diterima di kalangan pencinta music arus pinggir. Kebanyakan mereka yang suka dan doyan, malu-malu menyetelnya di kamar, atau hanya hafal lagunya yang memang sangat catchy itu tanpa sadar. Tapi selebihnya lagu-lagu Via Vallen—sebagus apapun hanya numpang dengar dan numpang lewat saja. Tidak untuk dihayati dan dibuat hiburan—atau bagi kalian yang menemukan jalan damai lewat musik, lagu Via jelas tidak bisa dipakai bahan renungan atau kontemplasi. Seharusnya kalian juga menyadari juga kalau kebanyakan lagu Via adalah cover song. Dan dengan itu kalian juga harus mengerti kalau cover song itu berhaluan dangdut yang di Jazz Traffic ini dicover lagi jadi bebunyian jazz. Saat mendengarnya memang nuansa dangdutnya agak hilang. Tapi juga tidak jazz-jazz amat. Bagaimana ini? Atau mungkin kimiawi dangdut kalau ditemukan dengan jazz akan bertemu di satu titik tengah bernama pop? Begini saja, kami akhiri tulisan ini biar kalian yang kebingungan bisa mengobrol langsung dengan redaksi kami soal Jazz Traffic. Entah itu soal seberapa hitam eyeliner Eet, kostum Via Vallen, atau… Marion Jola?

Mahasiswa sastra. Kecanduan Tebs dan masih mengimani Billie Joe Armstrong sebagai nabi.

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

EVENTS

Galeri Foto: Synchronize Fest 2018

Published

on

Selama tiga hari kami berkelana di tengah padatnya Gambir Expo Kemayoran, Jakarta. Baik di atas atau bawah stage terasa sesak. Mata dan telinga kami kenyang terpuaskan oleh penampilan ratusan musisi lintas generasi. Sebuah kenyataan di mana musik Indonesia memang beragam dan menyenangkan. Silahkan menikmati hasil jepretan fotografer kami.

Tukang Foto keliling, yang berusaha segiat mungkin, demi mengisi dompet dan perutnya.

Continue Reading

EDITOR'S PICK

Menengok Wajah Musik Indonesia di Synchronize Fest 2018

Published

on

Sinkronisasi musisi antar generasi masih jadi issue utama di Synchronize Fest ketiganya. (Foto: Agastiko)

“Jika ada orang tanya, seperti apa sih musik Indonesia? Suruh datang aja ke Synchronize Festival.” Begitulah kira-kira celetuk Iga Masardi di sela-sela set Barasuara di event tersebut. Yap, tahun ini salah satu festival musik terbesar di Indo ini kembali menyapa pemuda-pemudi yang haus akan lantunan musik Indonesia dari generasi ke generasi.

Festival musik yang dikerjakan Dyandra Promosindo dan Demajors ini kembali digelar untuk ketiga kalinya di Gambir Expo Kemayoran, Jakarta. Seperti tahun-tahun sebelumnya, signature Synchronize Festival ada deretan pengisi acara yang banyak, hingga ratusan. Lelah? memang. Tapi mood yang terbangun untuk melihat segala macam bentuk dan tampilan musik lintas genre mengalahkan segalanya. Hiperboliknya, event ini sudah cukup menggambarkan wajah musik Indonesia dulu dan sekarang.

.Feast di Synchronize Fest kemarin. (Foto: Agastiko)

Hari pertama, kalau dideskripsikan dengan satu kata sih ya “gendheng”. Deretan aksi panggung yang bikin geleng-geleng hingga ngakak sudah tersaji. Aksi dari Mesin Tempur misalnya. Band grindcore Bandung ini nyeleneh dengan membawa ayam jago ke atas panggung.  Tak mau kalah dengan Mesin Tempur, band bernuansa Betawi, Jiung juga menyuguhkan aksi panggung yang gila. Ajul, sang vokalis dengan enaknya turun panggung lalu mandi ditengah-tengah penonton. Sesudah maghrib, insaf sejenak. aksi panggung yang gila sudah berkurang, namun digantikan dengan set-set menawan. Mooner, yang pertama kalinya main di Synchronize Fest disambut antusias oleh penonton yang  menjadi-jadi. Bergeser ke District Stage, ada Reality Club yang tak kalah histeris-nya disambut. Makin malam makin jadi. Kaki sudah lelah, tubuh berkeringat, rambut lepek, baterai gadget mulai lowbatt. Tapi, jam 21.30 masih ada dua penampil yang sayang untuk dilwati. Di Dynamic Stage ada dominasi anak-anak muda sedang “menunggangi badai” dengan Barasuara. Sedangkan di Forest Stage, para senior indie sedang “menikmati coklat” bersama Pure Saturday”. Puncaknya, penampilan Naif, si tukang sedot keringat penonton.

Lanjut hari kedua, kali ini nuansa nostalgia terasa lebih kental. Deretan pengisi acara seperti Godbless, Sheila On 7, dan Project Pop ada di hari itu. Di set Godbless, penonton dipenuhi  kalangan senior pecinta rock lawas. Tembang-tembang hits seperti Musisi, Kehidupan, Rumah Kita, Semut Hitam, dan Panggung Sandiwara membangun vibes karaoke bersama. Begitupun Sheila On 7 yang penuh sesak oleh penonton lintas generasi. Sementara di Distric Stage, musik jenaka Project Pop begitu merindukan era di mana grup vokal itu tidak harus selalu keren, tapi juga bisa receh nan menyenangkan. Sang Raja Dangdut, Rhoma Irama dan Soneta Group akhirnya menutup hari kedua. Pesonanya yang kharismatik sebagai maestro selalu berhasil menyebarkan penyakit menular; (baca: goyang).

Well, dua hari non-stop berkeliling luasnya venue. Pindah dari satu stage ke stage lain, sebenarnya ada pikiran untuk menyudahinya. Tapi apa daya, nama-nama seperti Snickers And The Chicken Fighters (SATCF), Ramengvrl hingga NOXA terlalu sayang jika terlewatkan. Jamrud pun hadir di Dynamic Stage. Lagu-lagu lawas-nya masih terdengar lantang meski ada perubahan pada karakter suaranya. Lagi-lagi dan lagi-lagi, penonton yang dibesarkan era MTV Ampuh sangat dimanjakan. Kali ini giliran Padi Reborn beserta penutup Synchronize Festival 2018 secara keseluruhan; Dewa 19 bersama Once & Ari Lasso. Fine! ini sebuah pertunjukan langka. Deretan megahits yang versi bajakannya tak kalah laris ini membuat penonton semakin giting. Dua eks vokalis terbaik itu tampil dalam satu stage pertama kalinya. Di tengah nikmatnya mengenang masa muda, kami pun berpikir: bagaimana caranya si organizer melakukan proses negosiasi dengan mereka yah? Ahh sudahlah, sekalipun kami bisa melakukannya, pasti kami tak sanggup membayarnya. Akhir cerita, kami puas dan semua penonton lainnya pun demikian. Harapan kami, semoga konsep acara ini terus berkembang. Jangan sampai termakan jenuh. Karena pada dasarnya, wajah musik nusantara ada di sini (untuk saat ini). See you next year!

An amateur dilettante | Straight Edge | Star Wars’ die-hard fans | Records Junkie |

Continue Reading

EVENTS

Brotherground 2018: Beside Primadona, Down For Life Mempesona & Klimaks Death Vomit

Published

on

Mengadakan festival musik hingga edisi ke-5 bukan perkara mudah. Apalagi dengan line up yang konsisten kencengnya. Tahun ini Beside jadi primadona, namun Down For Life tak kalah mempesona, ditambah tenaga Death Vomit yang tak pernah habis hingga tuan rumah Fraud yang selalu beringas. Kami merangkumnya dalam foto-foto yang bisa memanjakan mata kalian.

Tukang Foto keliling, yang berusaha segiat mungkin, demi mengisi dompet dan perutnya.

Continue Reading

Surabaya