Connect with us
https://ronascent.biz/wp-content/uploads/2017/07/ronascent-adv-copy.jpg

EVENTS

Gastronout; Menggiring Pegiat Kreatif Sidoarjo Untuk Produktif (Lagi)

Published

on

Penampilan Silampukau di Gastronout. (Dok. AAA)

Selama setahun ke belakang, Sidoarjo terus berbenah. Mempercantik tiap sudut kota dengan taman hingga tempat hiburan. Baru-baru ini malah toko ofisial milik klub sepakbola Persebaya muncul di pusat keramaian kota Udang. Selain itu, dibangunnya mall dengan signature rollercoaster yang menembus kaca ruangan juga punya andil memadatkan salah satu kota Industri di Jawa Timur tersebut. Alhasil, Sidoarjo makin ramai, namun apakah industri kreatif-nya juga demikian?

Ya, mungkin banyak yang bertanya pada ke mana kehidupan seni di Sidoarjo? Coba mengerucut ke musik. Ke mana nama-nama seperti Relics, Remaja Tanpa Cinta, Pingpongdash, Mahkota Jaya Abadi, The Shantoso, Zombie vs Plants, Westfall, atau Dracula Omnivora? Beberapa mungkin memang sudah istirahat dengan tenang, namun ada diantaranya yang masih menggantung tanpa arah. Beberapa waktu silam kami juga sempat menyaksikan gig dari band-band grunge Sidoarjo di JJ Park, yang sayangnya tempat itu sudah ditutup.

Sampai di pekan lalu (13-15 Juli), sebuah acara bertajuk Gastronout digelar di Cannopi; kafe yang berada juga di pusat Sidoarjo tampak menyedot banyak muda-mudi setempat. Tidak kaget memang, pasalnya ada nama Silampukau di sana. Band yang sukses menarik perhatian penyuka folk itu berkesempatan tampil untuk kesekian kalinya di Sidoarjo. Hadir juga The Suku Dalu, pemain lama di skena kota tersebut. Kafe yang seharusnya minimalis pun terlihat sesak. Begitupun keesokan harinya, takkala dua band Malang; Young Savages dan Beeswax berbagi panggung dengan dua band Surabaya; Humi Dumi dan Cotswolds.

Selain pertunjukan musik, terdapat juga aktivitas cukil serta beberapa aktivitas lainnya. (Dok. AAA)

Gastronout sendiri merupakan event yang diinisiasi oleh AAA (Andasih; Alangen; Adamar). Kalau tidak salah, dalam Bahasa Jawa, ketiga kosa kata itu merujuk pada makna mengabdi dan bersenang-senang. Sejak Mei kemarin, AAA mulai membuat pergerakan kecil yang dinamai Palapa. Bukan sekadar pertunjukan musik, tapi juga berbagi ilmu serta pengalaman, mengadakan pameran, hingga workshop dalam satu acara.

Dan Gastronout sendiri ialah event ketiga mereka. Gastronout pun bukan sembarang nama. Kata ini jika dipenggal memiliki dua fonem; yakni Gas sebagai aksen atau kata yang biasanya digunakan untuk mengiyakan, “ayo budal nang sumur welot? gas, budal tok!”. Sementara astronout, tentu memaknai tentang menjelajah jauh melewati batas. Terendus sebercak aroma movement yang tulus dari anak-anak di kota ini. Meskipun di beberapa event ini mereka mendapat dukungan sponsor, tidak menutup kemungkinan ke depannya mereka berani berdiri mandiri meskipun dengan dana seadanya. Memang sudah seperlunya industri kreatif di Sidoarjo mulai mengikuti perkembangan kotanya yang kian maju dan terus berbenah. Mungkin, kolektif AAA inilah insiator barunya, menggiring para pegiat di kota ini untuk kembali produktif.

Media musik online yang berbasis di Surabaya. Mengamati gejolak dan gairah industri musik independen yang kerap menjadi sokongan musik berkualitas. Kontak kami di [email protected] untuk berbagi informasi.

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

EVENTS

Galeri Foto: Synchronize Fest 2018

Published

on

Selama tiga hari kami berkelana di tengah padatnya Gambir Expo Kemayoran, Jakarta. Baik di atas atau bawah stage terasa sesak. Mata dan telinga kami kenyang terpuaskan oleh penampilan ratusan musisi lintas generasi. Sebuah kenyataan di mana musik Indonesia memang beragam dan menyenangkan. Silahkan menikmati hasil jepretan fotografer kami.

Tukang Foto keliling, yang berusaha segiat mungkin, demi mengisi dompet dan perutnya.

Continue Reading

EDITOR'S PICK

Menengok Wajah Musik Indonesia di Synchronize Fest 2018

Published

on

Sinkronisasi musisi antar generasi masih jadi issue utama di Synchronize Fest ketiganya. (Foto: Agastiko)

“Jika ada orang tanya, seperti apa sih musik Indonesia? Suruh datang aja ke Synchronize Festival.” Begitulah kira-kira celetuk Iga Masardi di sela-sela set Barasuara di event tersebut. Yap, tahun ini salah satu festival musik terbesar di Indo ini kembali menyapa pemuda-pemudi yang haus akan lantunan musik Indonesia dari generasi ke generasi.

Festival musik yang dikerjakan Dyandra Promosindo dan Demajors ini kembali digelar untuk ketiga kalinya di Gambir Expo Kemayoran, Jakarta. Seperti tahun-tahun sebelumnya, signature Synchronize Festival ada deretan pengisi acara yang banyak, hingga ratusan. Lelah? memang. Tapi mood yang terbangun untuk melihat segala macam bentuk dan tampilan musik lintas genre mengalahkan segalanya. Hiperboliknya, event ini sudah cukup menggambarkan wajah musik Indonesia dulu dan sekarang.

.Feast di Synchronize Fest kemarin. (Foto: Agastiko)

Hari pertama, kalau dideskripsikan dengan satu kata sih ya “gendheng”. Deretan aksi panggung yang bikin geleng-geleng hingga ngakak sudah tersaji. Aksi dari Mesin Tempur misalnya. Band grindcore Bandung ini nyeleneh dengan membawa ayam jago ke atas panggung.  Tak mau kalah dengan Mesin Tempur, band bernuansa Betawi, Jiung juga menyuguhkan aksi panggung yang gila. Ajul, sang vokalis dengan enaknya turun panggung lalu mandi ditengah-tengah penonton. Sesudah maghrib, insaf sejenak. aksi panggung yang gila sudah berkurang, namun digantikan dengan set-set menawan. Mooner, yang pertama kalinya main di Synchronize Fest disambut antusias oleh penonton yang  menjadi-jadi. Bergeser ke District Stage, ada Reality Club yang tak kalah histeris-nya disambut. Makin malam makin jadi. Kaki sudah lelah, tubuh berkeringat, rambut lepek, baterai gadget mulai lowbatt. Tapi, jam 21.30 masih ada dua penampil yang sayang untuk dilwati. Di Dynamic Stage ada dominasi anak-anak muda sedang “menunggangi badai” dengan Barasuara. Sedangkan di Forest Stage, para senior indie sedang “menikmati coklat” bersama Pure Saturday”. Puncaknya, penampilan Naif, si tukang sedot keringat penonton.

Lanjut hari kedua, kali ini nuansa nostalgia terasa lebih kental. Deretan pengisi acara seperti Godbless, Sheila On 7, dan Project Pop ada di hari itu. Di set Godbless, penonton dipenuhi  kalangan senior pecinta rock lawas. Tembang-tembang hits seperti Musisi, Kehidupan, Rumah Kita, Semut Hitam, dan Panggung Sandiwara membangun vibes karaoke bersama. Begitupun Sheila On 7 yang penuh sesak oleh penonton lintas generasi. Sementara di Distric Stage, musik jenaka Project Pop begitu merindukan era di mana grup vokal itu tidak harus selalu keren, tapi juga bisa receh nan menyenangkan. Sang Raja Dangdut, Rhoma Irama dan Soneta Group akhirnya menutup hari kedua. Pesonanya yang kharismatik sebagai maestro selalu berhasil menyebarkan penyakit menular; (baca: goyang).

Well, dua hari non-stop berkeliling luasnya venue. Pindah dari satu stage ke stage lain, sebenarnya ada pikiran untuk menyudahinya. Tapi apa daya, nama-nama seperti Snickers And The Chicken Fighters (SATCF), Ramengvrl hingga NOXA terlalu sayang jika terlewatkan. Jamrud pun hadir di Dynamic Stage. Lagu-lagu lawas-nya masih terdengar lantang meski ada perubahan pada karakter suaranya. Lagi-lagi dan lagi-lagi, penonton yang dibesarkan era MTV Ampuh sangat dimanjakan. Kali ini giliran Padi Reborn beserta penutup Synchronize Festival 2018 secara keseluruhan; Dewa 19 bersama Once & Ari Lasso. Fine! ini sebuah pertunjukan langka. Deretan megahits yang versi bajakannya tak kalah laris ini membuat penonton semakin giting. Dua eks vokalis terbaik itu tampil dalam satu stage pertama kalinya. Di tengah nikmatnya mengenang masa muda, kami pun berpikir: bagaimana caranya si organizer melakukan proses negosiasi dengan mereka yah? Ahh sudahlah, sekalipun kami bisa melakukannya, pasti kami tak sanggup membayarnya. Akhir cerita, kami puas dan semua penonton lainnya pun demikian. Harapan kami, semoga konsep acara ini terus berkembang. Jangan sampai termakan jenuh. Karena pada dasarnya, wajah musik nusantara ada di sini (untuk saat ini). See you next year!

An amateur dilettante | Straight Edge | Star Wars’ die-hard fans | Records Junkie |

Continue Reading

EVENTS

Brotherground 2018: Beside Primadona, Down For Life Mempesona & Klimaks Death Vomit

Published

on

Mengadakan festival musik hingga edisi ke-5 bukan perkara mudah. Apalagi dengan line up yang konsisten kencengnya. Tahun ini Beside jadi primadona, namun Down For Life tak kalah mempesona, ditambah tenaga Death Vomit yang tak pernah habis hingga tuan rumah Fraud yang selalu beringas. Kami merangkumnya dalam foto-foto yang bisa memanjakan mata kalian.

Tukang Foto keliling, yang berusaha segiat mungkin, demi mengisi dompet dan perutnya.

Continue Reading

Surabaya