Connect with us
https://ronascent.biz/wp-content/uploads/2017/07/ronascent-adv-copy.jpg

EDITOR'S PICK

Tyaga: Kegigihan Rasvan dan Kesabaran Aoki

Published

on

Rasvan Aoki. (Foto: Randy Julyantara)

Sore itu di Qubicle Suropati 84 mulai terlihat kerumunan para pegiat skena. Tidak banyak memang, tapi untuk ukuran wadah open space minimalis yang terletak di kawasan Untung Suropati itu sudah bisa dibilang padat. Agenda malam itu adalah hearing session dari salah satu band paling seksi saat ini; Rasvan Aoki. Mereka seksi dari segi karakter suara si vokalis, dan seksi pula kemasan lagu-lagunya. Sejak tahun lalu sudah banyak yang meramalkan 2018 sebagai panggung mereka untuk unjuk gigi. Tidak berlebihan, pasalnya mereka sudah menunggu hampir lima tahun untuk bisa meretas.

Shofan Kusuma Firdaus, atau lebih dikenal sebagai Rasvan tampak jadi orang paling sibuk di sana. Gitaris sekaligus founder Rasvan Aoki ini sedang sibuk melipat booklet bandnya yang baru kelar dicetak. Di saat bersamaan, pria vegetarian itupun riweh berkoordinasi urusan teknis acaranya. “Mas, kaosnya Rasvan Aoki ada yang warna hitam gak?” tanya salah satu pengunjung yang hadir. Sambil lanjut melipat, ia pun menjawab “Ada, tunggu saya carikan,” jawab Rasvan. Di meja yang sama, dia langsung mencari merch bandnya yang akan dibeli sambil tetap berusaha memegang lipatan booklet di tangan kirinya.

Selesai melakukan transaksi dan menyelesaikan lipatan booklet seadanya, Rasvan beralih ke ruangan tempat berlangsungnya hearing session. Ia melakukan final brief terhadap beberapa rekannya sesaat sebelum acara dimulai. Tampak di sana ada Muhammad Firman, seorang pengamat musik yang didapuk jadi moderator, serta Aoki; vokalis bersuara seksi itu tadi. Berbeda dengan Rasvan, sosok Aoki cenderung lebih santai. Perempuan yang aktif bersama Waft Lab itu sejak di venue lebih banyak bertegur sapa dengan pengunjung yang hadir, sambil sesekali membantu Rasvan yang sibuk menyiapkan berbagai hal di hajatan perdana mereka di 2018 ini. Yes, tepat bulan Februari kemarin Rasvan Aoki menggelar hearing session album debutnya, Tyaga. Acara itu digelar hanya beberapa pekan setelah single ketiganya Untamed Heart rilis.

Rasvan dan Aoki saat hearing session di Qubicle Suropati 84. (Foto: Rona Cendera)

Ada dua hal yang menarik dari Rasvan Aoki; pertama tentang materinya. Band yang terbentuk di lingkungan kampus seni di kawasan Barat Surabaya ini punya sebongkah materi padat dan unik. kombinasi pop dan reggae-nya mampu berasimilasi jadi beberapa warna musik baru yang menggairahkan. Kedua, latar belakang duo pop ini yang sebenarnya kontradiktif; sosok Rasvan yang gigih dan Aoki yang lebih sabar nan santai. Uniknya, itulah yang jadi titik temu mereka. Ketika si Rasvan dominan di balik panggung, sebaliknya Aoki lah yang dominan di depan panggung. Ketika acara berlangsung, Aoki yang memiliki nama lengkap Intan Resta Rini memang lebih vokal dalam mempresentasikan karyanya. Seperti halnya ketika di stage, dialah yang selalu berhasil mencairkan suasana.

Di beberapa situasi, Aoki seringkali jadi protagonis dengan kesabarannya menghadapi tipikal Rasvan yang grusa-grusu. Dan sebaliknya, Aoki pun bisa jadi antagonis takkala kesibukannya tidak bisa di nalar.  Jadi, jika dibanding duo-duo pop lainnya di Surabaya, mungkin Rasvan Aoki bakal punya usia lebih panjang. Faktornya simpel, selama ada salah satu yang mau mengalah diantara mereka. Yah, meskipun dikeseharian sering beradu argumen, tapi nyatanya Tyaga tetap bisa lahir secara normal dan tidak prematur. Awalan yang baik bukan?

Mengutamakan Komposisi, Sisanya Saling Mengisi

Nuansa etnik begitu terasa digenggaman rilisan fisik album Tyaga. Oya, nama album mereka sendiri sebenarnya diambil dari bahasa Sansekerta yang bisa dimaknai sebagai suatu perbuatan atau kegiatan tanpa melihat hasil, atau tanpa mengharap imbal balik. “Bagi kami, Tyaga itu seperti melakukan segala kegiatan (positif) dengan tanpa mengharapkan hasil yang baik-buruk atau berhasil-gagal. Semuanya sama saja,” jelas Rasvan. Lalu, kenapa ‘Tyaga’? “Karena kami berkarya apa adanya. Untuk tanggapan pendengar, suka atau tidak suka, kami memilih pasrah,” lanjutnya lagi.

Di dalam album tersebut ada delapan lagu, tiga diantaranya sudah mereka perkenalkan lebih dulu. Ada Rindu, track legendaris Rasvan Aoki, di mana versi akustiknya lima tahun silam terselip nada dering Blackberry Messagner (BBM). Kemudian yang terbaru, ada When You’re Asleep serta Untamed Heart. Semuanya mereka kerjakan berdua, dengan dibantu oleh beberapa rekan-rekannya yang silih berganti mengisi di balik dan depan layar Rasvan Aoki. Sejak 2014, band ini bertransformasi dari akustik jadi format band yang dilengkapi sederet brass section. Nah, orang-orang itulah yang banyak membantu prosesnya, termasuk juga beberapa nama dibalik layar yang ada di lingkungan mereka. Seperti ketika mengolah When You’re Asleep. Lagu yang mulanya hanya bermuatan suara gitar clean dan vokal itu dirombak jadi lebih berwarna, melodrama, dan spiritual sebelum masuk dapur rekaman.

Rasvan Aoki. (Foto: Randy Julyantara)

Baik Rasvan maupun Aoki mengakui, keberadaan rekan-rekan musisi yang membantunya selama masa rekaman sangat-sangat membantu. Terbukti, di penghujung hearing session, mereka memperkenalkan satu persatu additional player-nya. “Mereka semua merupakan orang-orang yang punya andil besar dibalik proses pembuatan Tyaga,” lanjut Rasvan.

Sayangnya, meski berada di lingkungan yang apresiatif, Rasvan Aoki justru kesulitan mengolah bandnya. Polemik ini mereka namai: sistem. Seperti band pada umumnya, sistem manajemen ialah wajib untuk diolah secara jelas. Ketika memilih untuk diatasi sendiri, tentunya tidak akan optimal. Sudah sewajarnya musisi bekerja untuk membuat komposisi. Dan manajemen, cukup membangun relasi dan promosi. Klise seperti ini seringkali menggiring band pada titik kejenuhan dan pembubaran. Faktornya jelas karena awareness yang kalah bersaing, berujung pemasukan kian kering.

Sejak setahun lalu, Rasvan Aoki sempat mengeluhkan hal itu. Bahkan hingga sekarang, di saat mereka tengah menjalani sesi tur 10 kota, semua harus di handle sendiri. Walhasil, sosok Rasvan dan Aoki di sini dituntut untuk multifungsi. Mereka berbagi membuka networking, mereka juga berbagi membangun tim, mulai soundman, roadman, hingga mereka terlihat seperti stuntman. “Kami sudah beberapa kali ganti manajer, tapi belum ada yang cocok. Jadi, sekarang kami atur sendiri. Di luar urusan komposisi, ya kami saling mengisi,” lanjutnya.

Meskipun sempat keteteran, sering berselisih paham, pada ujungnya mereka pun mencoba untuk lebih ‘Tyaga’. Ya, mencoba berproses semaksimal mungkin dengan tulus dan ikhlas. Yoshie Nakano dan Masaki Mori menjadi perspektif mereka untuk menjalaninya. “Ego-Wrappin’ bisa melakukannya. Mereka bermusik, mengurus semuanya sendiri tanpa beban, mereka juga berkeluarga dan sampai sekarang masih tetap bermusik. Ya, mereka berdua jadi influence kami,” tambahnya. “Sekarang yang penting kami harus tetap produktif membuat komposisi. Sisanya, cukup saling mengisi,” tutup Rasvan.

Melepas lajang di dunia tarik pena dengan menyandang lulusan sastra yang tidak sastrawi, musisi gagal, penimbun berita pil koplo, dan buruh radio.

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

EDITOR'S PICK

Dialog Ibu & Anak Dalam “Berita Kehilangan” Milik Feast

Published

on

Artwork Berita Kehilangan yang dikerjakan Mikael Aldo & Baskara Putra. (Dok. Feast)

.Feast makin memantapkan posisinya sebagai band yang cukup responsif terhadap lingkungan sosial sekitarnya. Usai klip Peradaban yang cukup frontal, kemarin (10/8) mereka kembali melempar lagu sekaligus klip baru berjudul Berita Kehilangan. Secara lirik, apa yang mereka tuliskan masih cukup sarkas, namun implisit. Bedanya, nuansa musik yang diperdengarkan sangat sesuai dengan klipnya; gelap, berduka, dan pemakaman.

Lagu Berita Kehilangan ini ditulis sendiri oleh vokalis mereka, Baskara Putra. Ia terinspirasi dari beberapa kasus kriminalisasi yang telah terjadi, salah satunya yang menimpa mendiang temannya Raafi Aga Winasya Benjamin tujuh tahun silam. Adapun sebuah surat milik orang tua korban kriminalisasi lainnya juga menjadi sumber inspirasi mereka, sekaligus sebagai bentuk empati terhadap kasus-kasus tersebut.

Selain audio dan video yang cukup membangkitkan ambient lagu, kehadiran Rayssa Dynta sebagai kolaborator justru makin mendramatisir. Tiap bait yang dinyanyikan .Feast dan juga Rayssa Dynta dibuat seperti dialog antara Ibu dan Anak. Dialog itu menggambarkan bagaimana seorang Ibu yang berusaha mengikhlaskan kepergian anaknya. Begitupun sebaliknya, sang anak juga coba menguatkan Ibunya.

Single terbaru milik kolektif rock Ibukota ini sudah bisa dinikmati secara digital melalui layanan streaming Spotify, Joox, Apple Music, Deezer dan sejenisnya. Lalu untuk video klipnya bisa dinikmati lewat kanal Youtube ofisial atau IGTV milik .Feast.

Melepas lajang di dunia tarik pena dengan menyandang lulusan sastra yang tidak sastrawi, musisi gagal, penimbun berita pil koplo, dan buruh radio.

Continue Reading

FEATURES

Ternyata Tidak ‘Selamanya’ Seringai Absen Rilis Video Klip

Published

on

Behind the scene pembuatan klip Selamanya. (Foto: Rigel Haryanto)

Pada era album Serigala Militia yang rilis 2007 silam, saat itu Seringai melempar tiga video klip. Ketiganya ialah Citra Natural, Mengadili Persepsi (Bermain Tuhan), dan Serigala Militia. Lima tahun berselang, Arian13 cs absen dalam merilis klip meskipun album saat itu mereka punya gaco baru; album Taring yang cukup melejit. Dan sekarang, setelah 10 tahun absen merilis klip, band Ibukota ini akhirnya kembali menyelesaikan klip yang sekaligus jadi single teranyar mereka berjudul Selamanya.

Selamanya, lagu yang rilis pekan lalu itu mengambil konsep ‘Wahana Pesta Seringai’; gambaran minimalis yang seakan menyampaikan ke pendengar jika Seringai masih akan terus menerus menghibur. Ide itu datangnya dari Surya Adi Susianto, sutradara klip yang juga pernah menangani video musik dari Kunto Aji, Morfem, Ramengvrl, dan Lawless Vomit Crew. “(dalam klip ini) Seringai digambarkan bakal menghibur tiap pengunjung yang naik ke bus dan bersenang-senang bersama mereka sembari berkeliling kota, dan begitu seterusnya,” jelas Seringai melalui rilis pers yang Ronascent terima.

Pasca klip ini, Seringai berencana merilis album keempatnya berjudul Seperti Api yang akan dirilis via High Octance Production. Menurut Wendi Putranto, albumnya akan selesai produksi dalam waktu dekat. Pastinya, akan ada 11 lagu yang diproduseri sendiri oleh gitaris mereka, Ricky Siahaan. Selain diproduseri personil sendiri, cover album Seperti Api juga dikerjakan oleh vokalis mereka, Arian13. Tidak jauh berbeda dengan album sebelumnya, Seringai masih gemar berbicara tentang isu sosial, sambil sesekali berbicara tentang sci-fi. Bahkan mereka juga berkolaborasi dengan solois, Danilla Riyadi. Jadi, silahkan ditunggu. Kemungkinan bulan depan.

Media musik online yang berbasis di Surabaya. Mengamati gejolak dan gairah industri musik independen yang kerap menjadi sokongan musik berkualitas. Kontak kami di [email protected] untuk berbagi informasi.

Continue Reading

BACKSTAGE

RIP Gibson: Salah Satu Ikon Pembentuk Rock and Roll

Published

on

Jimmy Page (kanan) dengan siganture gitar Gibson double neck-nya. (Foto: Laurance Ratner/Wireimage)

Kita punya hutang yang besar pada Gibson; merek gitar legendaris yang memutuskan mengakhiri bisnisnya bulan ini. Tidak akan ada sound menyalak di Whole Lotta Love-nya Led Zeppelin andaikata Gibson tidak terbentuk 1894 silam. Jimmy Page—guitar hero kita semua—adalah pemakai Gibson Les Paul yang taat. Gibson juga sudah jadi signature Slash, Eric Clapton, sampai Pete Townshend dari The Who. Gibson—tanpa disadari—punya peran membentuk rock and roll, membuatnya bisa semacam agama baru yang pernah diimani hampir jutaan populasi.

Kalian bisa mengeceknya di YouTube, sejauh mana Gibson dan sound-nya yang ikonik, sangat cocok dimainkan gondrongers berjaket kulit dan bersepatu Doc-Mart. Satu lagi, bentuknya—ya Tuhan—lengkungan dan teksturnya membuat kamu sebagai budak rock and roll berpotensi horny; seperti maniak GP saat melihat knalpot Yamaha Rossi; seperti The Gooners yang bernafsu saat melihat trofi Liga Primer.

Cerita soal hancurnya bisnis Gibson dimulai saat perusahaan ini berhutang 1 koma 3 triliun rupiah. Gibson lalu memilih menyerah dan mengaku bangkrut; sebuah sikap yang sebenarnya sangat tidak rock and roll. Meski begitu, Gibson berjanji untuk bangkit, dengan merilis produk headphone dan speaker. Perusahaan asal Nashville ini juga segera merombak ulang susunan perusahaan yang kacau, dan akan menjual kembali alat musik; ini baru rock and roll. Tapi pastinya, kita tetap tidak bisa mengkhianati peran Gibson, membentuk dan mempengaruhi apa yang kita dengar saat ini.

Rekomendasi film soal gitar, sound, and anything like that yang bisa disimak di situs streaming kesayangan kalian: Sound City (2013), It Might Get Loud (2008), HBO Vinyl Series (2016).

Mahasiswa sastra. Kecanduan Tebs dan masih mengimani Billie Joe Armstrong sebagai nabi.

Continue Reading
Advertisement

Zine Archives

Surabaya