Connect with us
https://ronascent.biz/wp-content/uploads/2017/07/ronascent-adv-copy.jpg

ROOKIES

Christianto Ario Yang Pedulikan Alter Ego-nya

Published

on

Peduli pada alter-ego, Christianto Ario lahirkan Kurosuke. (Dok. Christianto Ario)

Christianto Ario, gitaris sekaligus vokalis dari band Anomalyst ini tampak begitu tertarik dengan alter ego-nya. Terlihat memang, pasalnya ia merasa banyak hal yang jauh lebih menarik dari apa yang orang lain belum ketahui tentangnya; baik Anomalyst maupun hal pribadinya. Maka dari itu, akhirnya muncul Kurosuke; diadaptasi dari makanan kegemaran Ario yang berarti: Kuro, Susu dan Keju. Nama tersebut didapuk menjadi alter egonya, yakni sebuah project musik baru. Dalam proyek ini, Ario menyelesaikannya dalam waktu yang cukup singkat, hanya sekitar 2 minggu saja dan semua diselesaikan dengan spontan dan cepat.

Kurosuke sendiri lahir akibat kegelisahan yang membuat Ario tidak bisa tidur dan memutuskan untuk membuat album ‘alter ego-nya’. Semua instrumen pada album ini, baik vokal, gitar, bass, drum, hingga kibor dimainkannya sendiri, begitupun story dibaliknya. Ario menggambarkan kehidupannya di atas pukul 12 dinihari, tepatnya ketika fase insomnia muncul.

Jadi album ini berisikan tujuh lagu, dan yang menarik terdapat pada dua soundscape yang direkam sendiri oleh Ario di flyover Antasari pada pukul tiga pagi. Lagu lagu yang disajikkan dalam album Kurosuke banyak bercerita tentang kegelisahan perasaan dan fantasi. Sehingga dari lagu ke lagu, kita seperti dibawa untuk menyimak dan merasakan sensasi insomnia si Ario. Musiknya ringan, ceritanya pun ringan, tentunya pendengar tidak perlu berpikir terlalu dalam untuk memaknainya. Dalam album ini Christianto Ario banyak dibantu oleh Indisyazy dan Lafa Pratomo yang dikenal sebagai gitaris cadas sekaligus produser handal.

Pada akhirnya, Kurosuke pun menjadi sebuah proyek perdana Christianto Ario sebagai solois dan juga produser. Album ini yang menyajikkan sisi lain dari apa yang disajikkanya pada album Segara oleh Anomalyst yang juga masuk ke dalam jajaran album terbaik Indonesia tahun 2017.

Rakjat Djelatah yang tak segan untuk mengepul ilmu dari panggung ke panggung bebunyian. Suka menggagungkan katakata pada limit kepsyen instagram belaka. Akhir-akhir ini, ia sedang belajar menulis yang baik dan benar untuk kemaslahatan umat.

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

FEATURES

Sebuah Perkenalan: Rayssa Dynta

Published

on

Source: ryassadynta.com

Bila mendengarkan Something About Us milik Rayssa Dynta, beberapa orang mungkin masih asing dengan namanya. Rayssa Dynta adalah musisi muda asal Jakarta yang berhasil merilis EP berjudul Prolog dibawah naungan Double Deer Records. Dalam EP-nya, Rayssa memasukkan lima lagu dengan energi dan karakter yang soul-bearing bernuansa electro-pop. Lirik yang ditulis oleh Rayssa sendiri tak selalu bicara tentang romansa percintaan antar pasangan. Seperti pada lagu Best Tonight, Rayssa merefleksikan kemampuan berjuang untuk dirinya sendiri. Lalu bagaimana menjawab pertanyaan siapa Rayssa Dynta? “Rayssa Dynta is Rayssa Dynta. I don’t know what to say exactly — I’m a person, I’m a musician, I sometimes write. It’s always changing.” Rayssa sebenarnya sosok perempuan yang sederhana. Ia suka mendengarkan satu album hingga lelah sendiri, menggemari kartun, dan memilih untuk menggunakan warna hitam atau netral karena tak mau pusing perkara penampilan sebelum beraktifitas.

Wanita yang mulai menulis lagu sejak 2007 ini memutuskan jadi musisi karena dari semua hal yang telah ia coba, musik merupakan rewarding untuknya. “But I’m new so let’s see how this goes”, jawabnya sambil tertawa. Rayssa Dynta sebenarnya tak bisa dibilang sangat baru di dunia musik. Ia pernah beberapa kali berkolaborasi dengan musisi dari Double Deer, seperti Arrio di lagu Drown Me dan Artificial di lagu Rationale. Ia juga sempat berkolaborasi dengan Emir Hermono di lagu Call On U. Beberapa kolaborasi itulah yang akhirnya mendorong Rayssa mengerjakan EP Prolog dengan Double Deer. “I knew them from a friend, then I started helping them out with some projects and I guess that led to this whole thing”, jelasnya.

Walaupun sudah terbiasa mengerjakan beberapa proyek musik dan bekerjasama dengan musisi lain, bukan berarti Rayssa tak menemukan tantangan ketika mengerjakan mini albumnya tersebut. Sebagai musisi yang perdana mengerjakan EP-nya sendiri dan berhasil menyelesaikannya, Rayssa belajar banyak hal baru. Prosesnya tentu tak mudah dan tak sebentar. Hal ini menjadi menarik bagi Rayssa karena setting yang digunakan benar-benar berbeda dari biasanya. “With all off these electronic gizmos, music comes differently to me. At least that’s how I felt”, jawabnya. Solois yang sempat terjun di dunia modelling ini sebelumnya terbiasa menggunakan alat musik gitar akustik dan piano namun di sini ia harus beradaptasi dengan setting yang serba elektronik.

Bicara tentang EP, tentu juga tak lepas dengan karya seni visual yang digunakan sebagai identitas musisi itu sendiri. Cover-nya sendiri pun dikonsep dengan menarik. Bekerja sama dengan beberapa seniman visual, seperi Contempt Studio, Josephine Irene, dan Farah Shafia, buah apel menjadi sangat ikonik baik di EP hingga situs pribadinya. Ketika ditanya apa relasi buah apel dengan dirinya, Ryssa menyebut itu hanya art director dari EP Prolog ini yang mampu menginterpretasikan. “But if you ask me, it might portray my love for food”, tukasnya sambil tertawa. Bagaimana pun tak perlu banyak alasan untuk menjalin korelasi dengan Rayssa Dynta. EP Prolog dapat dinikmati di iTunes atau Spotify.

Kind of girl you won’t remember by the next 5 minutes. An endless river. I’m sorry, I’m not really good in self-description. But that’s all that I can write 🙂 Regards

Continue Reading

REVIEW

Selamat Berpetualang Serona Senja!

Published

on

Serona Senja, memulai pertualangannya di skena sidestream Surabaya. (dok. Serona Senja)

Layaknya musik pop yang dibawakan untuk mengiringi wedding, Serona Senja terdengar sempurna. Membawa nada-nada ritmis untuk momen-momen yang manis. Kombinasi kibor, saxophone, dan contrabass sedikit memberikan kesan ‘elegan’, atau identik dengan jazz. Tapi dari namanya, ada kecenderungan seperti nama-nama band folk terkini: teduh; temaram; senja; taman; senandung; dsb. Pada kenyataanya, tidak dua-duanya. Simpel, Serona Senja hanya mencoba mengusung musik pop dengan sedikit sentuhan urban.

Kadang memang nama selalu menjadi antrian nomor satu untuk memberikan penilaian. Tapi lewat single ‘Menyambut Mentari’, tak ada salahnya jika unsur folk sejenak disingkirkan. Band ini murni membawa musik pop yang generik. Apalagi basic dari tiap personilnya memang penghuni panggung pernikahan, jadi bisa ditebak jika lagu pertamanya terdengar demikian. “Selama jadi band wedding, kami selalu ngebawain lagu orang. Nah, dari situ akhirnya mikir kenapa gak dicoba aja untuk ngebuat lagu sendiri,” cerita Yoga Prasetya, pemain contrabass yang juga lulusan SMKN 9 Surabaya.

Perjalanan Serona Senja pun perlahan berbelok menengok ke ranah sidestream. Penyebabnya ada pada pertemuan mereka dengan Harmawansyah di Kedai Ujung Galuh. Ex-vokalis Heavy Monster itu melihat adanya kualitas dan kejujuran musik mereka. “Serona Senja itu adalah pertualangan. Mereka punya pondasi, kemampuan bermusik yang baik, jujur, dan sehat. Tinggal bagaimana mereka memperkenalkannya ke pendengar yang lebih luas, di luar lingkungan mereka selama ini,” imbuh Herman. Lanjutnya, Herman yang juga mempunyai studio kecil-kecilan untuk berlatih seringkali digunakan Serona Senja untuk membuat materi lagu. Dari situlah akhirnya dia tertarik untuk membantu. “Ketika bertemu mereka (Serona Senja,red), saya seperti merasakan kembali apa yang delapan tahun lalu pernah saya rasakan,” lanjutnya.

Untuk urusan musik, Herman menyerahkan seluruhnya kepada Ignatius Edwin (Saxophone), Arif Prasetyo (Gitar), Taufiq Hidayat (Drum), Yoga Prasetya (Contrabass), Edo Praditya (Keyboard), dan Andini Anastasia (Vokal). Ddirinya hanya membantu untuk memperkenalkan musik mereka ke media-media serta ke pendengar yang lebih luas. Seperti pekan lalu, mereka berkunjung ke Malang untuk interview dengan salah satu radio swasta di sana. Sebelumnya, Serona Senja yang baru aktif per Januari 2017 ini juga sudah melakukan promo di beberapa radio dan TV lokal.

Berbicara materi, meski masih berbekal satu lagu, mereka terbilang cukup produktif. Buktinya, tujuh lagu mampu diselesaikan dalam kurun waktu dua bulan. Materi-materi itu rencananya akan dibungkus dalam kemasan mini album di awal tahun depan. “Daripada cuma jadi rencana dan gak tau kapan bisa kewujud. Makanya mulai Mei kemarin kami susah payah ngebut nyelesein tujuh lagu baru,” sambung Yoga sambil sedikit memberi bocoran mini albumnya yang masuk tahap revisi untuk beberapa part lagu.

Dalam waktu dekat juga Serona Senja akan merilis video klip ‘Menyambut Mentari’ akhir Agustus ini. Klip yang sudah dikerjakan sejak beberapa bulan lalu itu menampilkan sudut-sudut Kota Pahlawan, tujuannya supaya orang-orang paham kalau Serona Senja adalah band Surabaya. Senada dengan itu, Herman menyebut jika mereka bisa jadi warna baru di kota ini. Mengutip ucapan Herman yang menyebut Serona Senja sebagai sebuah pertualangan. Maka kini mereka baru memulai delapan bulan perjalanannya setelah meretas dari panggung wedding. Jadi, selamat berpertualang di ranah sidestream Serona Senja!

Melepas lajang di dunia tarik pena dengan menyandang lulusan sastra yang tidak sastrawi, musisi gagal, penimbun berita pil koplo, dan buruh radio.