Tentang CELUP & Tindakan Preventif Media

Kisah media partner: cekrek-lapor-upload; cekrek-lapor-upload; dan begitu seterusnya. (Ilustrasi: Syamsur Rijal)

Sebentar lagi kita akan mengucapkan selamat jalan untuk tahun 2017. Namun sebelum beranjak, ada sedikit gemerlap fenomena yang sedang viral dari kota kelahiran media kami, Surabaya. CELUP; cekrek, lapor dan upload. Aplikasi yang mengusung kampanye anti tindak asusila dengan tagline ‘menyelamatkan ruang publik’ ini selama beberapa hari ke belakang sedang hangat jadi obrolan para ‘pewarta’ internet. Bukan karena aplikasinya yang berjalan sebagaimana fungsinya. Bukan juga tentang kampanye mereka yang bergelora di mana-mana. Melainkan… yah tentang pencantuman logo beberapa media, organisasi, dan instansi yang tanpa izin alias bodong di poster kampanye milik CELUP.

Seperti yang sudah diberitakan oleh beberapa media, dan berdasarkan fakta yang ada, CELUP sendiri diinisiasi oleh beberpa mahasiswa DKV UPN Jatim. Sayang, kami tidak mengenal mereka, dan kebetulan kami juga tidak tercatut di sana. Namun ada beberapa rekan kami yang logonya dipasang oleh para penggagas CELUP dengan ‘seenak udelnya’.  Meski tidak ada sangkut pautnya, namun kami merasa kejadian seperti ini memang tidak seperlunya terjadi. Apalagi ketika bersangkutan dengan media bahkan instansi kepemerintahan.

Refleksi Pencatutan Logo dan Menjadi Profesional

Sejak 2012 Ronascent muncul sebagai media independen. Salah satu jalannya berangkat dari memberikan support ke gigs-gigs yang ada disekitar. Kala itu, tidak ada detail perjanjian kerjasama yang sesuai standar. Perjanjiannya biasanya berupa verbal dan (herbal); karena tujuannya untuk kemajuan dan kesehatan skena bersama. Seiring berjalannya waktu, menjamur hingga berlumutnya gigs di Surabaya diimbangi dengan kepedulian publikasi yang tinggi dari para pegiatnya. Dan untuk kebutuhan publikasi, selalu dipercayakan kepada banyak media, Ronascent jadi salah satunya.

Balik lagi, sebagai media independen yang kurang tenar, pencantuman logo di beberapa  poster event secara tidak langsung  memberikan impresi yang tinggi. Biasanya kami pun memberikan imbalan berupa value sosial media blasting dan tulisan reportase untuk melengkapi bentuk kerjasama yang biasanya bersifat full barter tersebut. Pada titik ini, kami merasa puas karena sudah bisa menerapkan satu dari sekian banyak fungsi media yang ada.

Namun, semuanya tidak selalu berjalan normal. Mungkin media-media independen semenjana kami pun kerap merasakannya. Proses peminangan untuk jadi media partner seringkali lewat jalan pintas. Mau itu lewat telepon, aplikasi chat, atau ketemuan langsung. It’s ok, bagi kami itu tidak masalah, karena sekaliber media independen yang non-profit kami tetap butuh konten untuk terus bernafas. Tetapi ketika mendapati pemasangan logo tanpa sepengetahuan itulah yang pada akhirnya membunuh kami secara perlahan.

Poster CELUP yang kini viral di internet. (Source: Google)

Berangkat dari refleksi kasus CELUP, di ranah industri musik paling bawah (baca: underground), kejadian seperti ini acap kali terjadi. Mau itu gigs dengan penonton tidak lebih dari 20, hingga penonton yang mencapai ratusan sekalipun. Kami sering mendapati kejadian ini berkali-kali, entah datangnya dari dalam ataupun luar kota. Memang itu bisa jadi impresi tersendiri, tapi perlu diketahui jika pertanggungjawaban dibalik pemasangan logo itu juga tidak mudah. Mau protes pun mungkin hanya buang-buang tenaga, karena sejatinya kami juga paham acara-acara seperti itu butuh blow up.

Guna menghindari intervensi antar kedua pihak nantinya, tidak ada salahnya jika proses kerjasama di ranah ‘indie’ ini tertulis dengan rapi. Jangan ribet untuk menyerahkan proposal jika skala gigs-nya memang hanya untuk hura-hura. Yang penting cukup mendetail poin-poin kerjasamanya. Hal ini guna mengantisipasi adanya ketidaksesuaian antara ekspektasi dan realisasi. Mungkin lebih menarik juga ketika komplimen yang ditawarkan bukan sekadar akses dan pencantuman logo. Karena sejatinya, tiap media selalu punya value yang perlu dihargai, khususnya media pinggiran tanpa investor.

Sebagai media sidestream dengan keterbatasan sumber daya, Ronascent pun belum tentu bisa selalu hadir atau memberikan blasting di sosial media sekalipun, bahkan kami sesekali luput mempublikasikannya. Bayangkan ketika pemasangan logo ilegal itu juga terjadi, pastinya semakin memperkeruh, dan jadi boomerang.

Sekalipun sedang jadi tren bulying, perkara kejadian CELUP ini juga punya dampak positif. Terlebih pada tindakan preventif media saat mengalami, khususnya yang bergerak secara independen. “Hey, logo kami bukan logo sosial media yang bisa dipampang kapanpun tanpa izin,”. Biarkan tulisan ini jadi kontemplasi, bagi kita semua yang (mungkin) sempat salah paham terkait kasus seperti ini.

Melepas lajang di dunia tarik pena dengan menyandang lulusan sastra yang tidak sastrawi, musisi gagal, penimbun berita pil koplo, dan buruh radio.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *