Connect with us
https://ronascent.biz/wp-content/uploads/2017/07/ronascent-adv-copy.jpg

EDITOR'S PICK

Tentang CELUP & Tindakan Preventif Media

Published

on

Kisah media partner: cekrek-lapor-upload; cekrek-lapor-upload; dan begitu seterusnya. (Ilustrasi: Syamsur Rijal)

Sebentar lagi kita akan mengucapkan selamat jalan untuk tahun 2017. Namun sebelum beranjak, ada sedikit gemerlap fenomena yang sedang viral dari kota kelahiran media kami, Surabaya. CELUP; cekrek, lapor dan upload. Aplikasi yang mengusung kampanye anti tindak asusila dengan tagline ‘menyelamatkan ruang publik’ ini selama beberapa hari ke belakang sedang hangat jadi obrolan para ‘pewarta’ internet. Bukan karena aplikasinya yang berjalan sebagaimana fungsinya. Bukan juga tentang kampanye mereka yang bergelora di mana-mana. Melainkan… yah tentang pencantuman logo beberapa media, organisasi, dan instansi yang tanpa izin alias bodong di poster kampanye milik CELUP.

Seperti yang sudah diberitakan oleh beberapa media, dan berdasarkan fakta yang ada, CELUP sendiri diinisiasi oleh beberpa mahasiswa DKV UPN Jatim. Sayang, kami tidak mengenal mereka, dan kebetulan kami juga tidak tercatut di sana. Namun ada beberapa rekan kami yang logonya dipasang oleh para penggagas CELUP dengan ‘seenak udelnya’.  Meski tidak ada sangkut pautnya, namun kami merasa kejadian seperti ini memang tidak seperlunya terjadi. Apalagi ketika bersangkutan dengan media bahkan instansi kepemerintahan.

Refleksi Pencatutan Logo dan Menjadi Profesional

Sejak 2012 Ronascent muncul sebagai media independen. Salah satu jalannya berangkat dari memberikan support ke gigs-gigs yang ada disekitar. Kala itu, tidak ada detail perjanjian kerjasama yang sesuai standar. Perjanjiannya biasanya berupa verbal dan (herbal); karena tujuannya untuk kemajuan dan kesehatan skena bersama. Seiring berjalannya waktu, menjamur hingga berlumutnya gigs di Surabaya diimbangi dengan kepedulian publikasi yang tinggi dari para pegiatnya. Dan untuk kebutuhan publikasi, selalu dipercayakan kepada banyak media, Ronascent jadi salah satunya.

Balik lagi, sebagai media independen yang kurang tenar, pencantuman logo di beberapa  poster event secara tidak langsung  memberikan impresi yang tinggi. Biasanya kami pun memberikan imbalan berupa value sosial media blasting dan tulisan reportase untuk melengkapi bentuk kerjasama yang biasanya bersifat full barter tersebut. Pada titik ini, kami merasa puas karena sudah bisa menerapkan satu dari sekian banyak fungsi media yang ada.

Namun, semuanya tidak selalu berjalan normal. Mungkin media-media independen semenjana kami pun kerap merasakannya. Proses peminangan untuk jadi media partner seringkali lewat jalan pintas. Mau itu lewat telepon, aplikasi chat, atau ketemuan langsung. It’s ok, bagi kami itu tidak masalah, karena sekaliber media independen yang non-profit kami tetap butuh konten untuk terus bernafas. Tetapi ketika mendapati pemasangan logo tanpa sepengetahuan itulah yang pada akhirnya membunuh kami secara perlahan.

Poster CELUP yang kini viral di internet. (Source: Google)

Berangkat dari refleksi kasus CELUP, di ranah industri musik paling bawah (baca: underground), kejadian seperti ini acap kali terjadi. Mau itu gigs dengan penonton tidak lebih dari 20, hingga penonton yang mencapai ratusan sekalipun. Kami sering mendapati kejadian ini berkali-kali, entah datangnya dari dalam ataupun luar kota. Memang itu bisa jadi impresi tersendiri, tapi perlu diketahui jika pertanggungjawaban dibalik pemasangan logo itu juga tidak mudah. Mau protes pun mungkin hanya buang-buang tenaga, karena sejatinya kami juga paham acara-acara seperti itu butuh blow up.

Guna menghindari intervensi antar kedua pihak nantinya, tidak ada salahnya jika proses kerjasama di ranah ‘indie’ ini tertulis dengan rapi. Jangan ribet untuk menyerahkan proposal jika skala gigs-nya memang hanya untuk hura-hura. Yang penting cukup mendetail poin-poin kerjasamanya. Hal ini guna mengantisipasi adanya ketidaksesuaian antara ekspektasi dan realisasi. Mungkin lebih menarik juga ketika komplimen yang ditawarkan bukan sekadar akses dan pencantuman logo. Karena sejatinya, tiap media selalu punya value yang perlu dihargai, khususnya media pinggiran tanpa investor.

Sebagai media sidestream dengan keterbatasan sumber daya, Ronascent pun belum tentu bisa selalu hadir atau memberikan blasting di sosial media sekalipun, bahkan kami sesekali luput mempublikasikannya. Bayangkan ketika pemasangan logo ilegal itu juga terjadi, pastinya semakin memperkeruh, dan jadi boomerang.

Sekalipun sedang jadi tren bulying, perkara kejadian CELUP ini juga punya dampak positif. Terlebih pada tindakan preventif media saat mengalami, khususnya yang bergerak secara independen. “Hey, logo kami bukan logo sosial media yang bisa dipampang kapanpun tanpa izin,”. Biarkan tulisan ini jadi kontemplasi, bagi kita semua yang (mungkin) sempat salah paham terkait kasus seperti ini.

Melepas lajang di dunia tarik pena dengan menyandang lulusan sastra yang tidak sastrawi, musisi gagal, penimbun berita pil koplo, dan buruh radio.

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

EDITOR'S PICK

Berselancarnya The Panturas & Polka Wars di Surabaya

Published

on

Ada sedikit keraguan kala The Panturas gagal berselancar di Surabaya Oktober kemarin. Nuansa surf-rock yang diusung sekelompok alumnus jurnalistik ini tidak memancar, mereka justru hanya terdengar sebagai band rock melayu biasa. Namun ketika Buka Musik Connectified chapter Surabaya membawa mereka ke Nens Corner akhir pekan kemarin (14/12), ceritanya berbeda. The Panturas benar-benar Mabuk Laut bersama ratusan penonton yang merelakan mata perih karena asap rokok hingga kepala puyeng akibat alkohol.

Bagi sebagian besar penonton yang hadir, kami yakin mereka semua mendapat klimaks. Diawali dengan dua band pendatang baru Surabaya yang unjuk gigi; Alter dan Eisen, hingga dibawa membeku bersama Cotswolds dan puncak dari segala kerusuhan ada pada si protagonis Polka Wars. Pemilik album Axis Mundi ini sejatinya menurunkan tempo pasca meliarnya crowd The Panturas. Tapi tak bisa dipungkiri jika musikalitas terus memancarkan aura semangat. Setidaknya, Surabaya telah memberikan kesan manis bagi Polka Wars dan The Panturas yang hingga akhir tahun ini melaksanakan tur di 6 kota di bawah platform musik Buka Musik milik Bukalapak.

Anak muda penuh semangat tapi tidak bergairah, suka melakukan banyak hal baru dan sedang berstatus mahasiswa aktif dengan doa semoga lulus tepat waktu dan segera mempunyai penghasilan.

Continue Reading

FEATURES

Not Sad, Not Fulfilled; Album Cinta Anak Muda yang Akan Terbang se-Asia Tenggara

Published

on

Grrrl Gang (Photo: Nadine Hanisya)

Grrrl Gang dengan jiwa mudanya semakin kental terasa. Kita bisa mendengarnya di debut mini album Not Sad, Not Fulfilled yang baru saja di rilis digital pekan lalu (9/10) via label Kolibri Rekords. Angeeta Sentana (vokal, gitar), Edo Alventa (gitar, vokal), dan Akbar Rumandung (bass, vokal) menyebut jika romansa cinta anak muda masih jadi tajuk utama di album mereka. “Album ini berkutat di kehidupan picisan anak muda yang penuh intrik, cinta, dan pencarian jati diri. Begitupun pada departemen musik, di mana pengaruh indiepop, indierock, punk, hingga sentuhan blues serta country diolah jadi balutan nuansa segar dan dekat dengan generasi muda.” tulis mereka di rilis pers yang Ronascent terima.

Proses pembuatan album ini terbilang singkat. Grrrl Gang menghabiskan sekitar lima bulan sejak April kemarin di Lahan Erros Studio. Band asal Yogyakarta ini dibantu Tutoet Daru saat proses rekaman, serta Ferry Kurniawan di bagian mixing dan mastering. Nama terakhir juga punya andil dalam melesatkan single Film Favorit milik Sheila On 7. Total ada lima lagu yang mereka suguhkan, termasuk Dream Grrrl yang digubah ulang. Dari kesemuanya, Grrrl Gang memilih Pop Princess sebagai single pertama yang mengisahkan tentang toxic relationship. “Lagu ini berupaya mendorong para wanita muda untuk berani meninggalkan hubungan yang tidak sehat demi hidup yang lebih bahagia,” ujar penulis lagu Angeeta.

Grrrl Gang beserta Kolibri Rekords pun tidak perlu menunggu lama untuk menyebarluaskan album ini. Kelar berkeliling mengunjungi Semarang, Surabaya, Malang, Malaysia, Singapura, dan Filipina pada semester awal 2018 lalu, trio indiepop ini siap melanjutkan turnya lagi. 20 kota di Indonesia dan Asia Tenggara sudah dipastikan akan menggelar tur promo EP Not Sad, Not Fulfilled selama Oktober hingga November. Grrrl Gang diagendakan tampil untuk jadi pembuka grup indierock muda Amerika Serikat, Snail Mail di Jakarta. Menunggu kemudian, dua pertunjukan di Bangkok, Thailand, serta dua pertunjukan di gelaran rutin Rocking the Region oleh Esplanade, Singapura. Jadwal lainnya pun akan diumumkan dalam waktu dekat.

Media musik online yang berbasis di Surabaya. Mengamati gejolak dan gairah industri musik independen yang kerap menjadi sokongan musik berkualitas. Kontak kami di [email protected] untuk berbagi informasi.

Continue Reading

EDITOR'S PICK

Menengok Wajah Musik Indonesia di Synchronize Fest 2018

Published

on

Sinkronisasi musisi antar generasi masih jadi issue utama di Synchronize Fest ketiganya. (Foto: Agastiko)

“Jika ada orang tanya, seperti apa sih musik Indonesia? Suruh datang aja ke Synchronize Festival.” Begitulah kira-kira celetuk Iga Masardi di sela-sela set Barasuara di event tersebut. Yap, tahun ini salah satu festival musik terbesar di Indo ini kembali menyapa pemuda-pemudi yang haus akan lantunan musik Indonesia dari generasi ke generasi.

Festival musik yang dikerjakan Dyandra Promosindo dan Demajors ini kembali digelar untuk ketiga kalinya di Gambir Expo Kemayoran, Jakarta. Seperti tahun-tahun sebelumnya, signature Synchronize Festival ada deretan pengisi acara yang banyak, hingga ratusan. Lelah? memang. Tapi mood yang terbangun untuk melihat segala macam bentuk dan tampilan musik lintas genre mengalahkan segalanya. Hiperboliknya, event ini sudah cukup menggambarkan wajah musik Indonesia dulu dan sekarang.

.Feast di Synchronize Fest kemarin. (Foto: Agastiko)

Hari pertama, kalau dideskripsikan dengan satu kata sih ya “gendheng”. Deretan aksi panggung yang bikin geleng-geleng hingga ngakak sudah tersaji. Aksi dari Mesin Tempur misalnya. Band grindcore Bandung ini nyeleneh dengan membawa ayam jago ke atas panggung.  Tak mau kalah dengan Mesin Tempur, band bernuansa Betawi, Jiung juga menyuguhkan aksi panggung yang gila. Ajul, sang vokalis dengan enaknya turun panggung lalu mandi ditengah-tengah penonton. Sesudah maghrib, insaf sejenak. aksi panggung yang gila sudah berkurang, namun digantikan dengan set-set menawan. Mooner, yang pertama kalinya main di Synchronize Fest disambut antusias oleh penonton yang  menjadi-jadi. Bergeser ke District Stage, ada Reality Club yang tak kalah histeris-nya disambut. Makin malam makin jadi. Kaki sudah lelah, tubuh berkeringat, rambut lepek, baterai gadget mulai lowbatt. Tapi, jam 21.30 masih ada dua penampil yang sayang untuk dilwati. Di Dynamic Stage ada dominasi anak-anak muda sedang “menunggangi badai” dengan Barasuara. Sedangkan di Forest Stage, para senior indie sedang “menikmati coklat” bersama Pure Saturday”. Puncaknya, penampilan Naif, si tukang sedot keringat penonton.

Lanjut hari kedua, kali ini nuansa nostalgia terasa lebih kental. Deretan pengisi acara seperti Godbless, Sheila On 7, dan Project Pop ada di hari itu. Di set Godbless, penonton dipenuhi  kalangan senior pecinta rock lawas. Tembang-tembang hits seperti Musisi, Kehidupan, Rumah Kita, Semut Hitam, dan Panggung Sandiwara membangun vibes karaoke bersama. Begitupun Sheila On 7 yang penuh sesak oleh penonton lintas generasi. Sementara di Distric Stage, musik jenaka Project Pop begitu merindukan era di mana grup vokal itu tidak harus selalu keren, tapi juga bisa receh nan menyenangkan. Sang Raja Dangdut, Rhoma Irama dan Soneta Group akhirnya menutup hari kedua. Pesonanya yang kharismatik sebagai maestro selalu berhasil menyebarkan penyakit menular; (baca: goyang).

Well, dua hari non-stop berkeliling luasnya venue. Pindah dari satu stage ke stage lain, sebenarnya ada pikiran untuk menyudahinya. Tapi apa daya, nama-nama seperti Snickers And The Chicken Fighters (SATCF), Ramengvrl hingga NOXA terlalu sayang jika terlewatkan. Jamrud pun hadir di Dynamic Stage. Lagu-lagu lawas-nya masih terdengar lantang meski ada perubahan pada karakter suaranya. Lagi-lagi dan lagi-lagi, penonton yang dibesarkan era MTV Ampuh sangat dimanjakan. Kali ini giliran Padi Reborn beserta penutup Synchronize Festival 2018 secara keseluruhan; Dewa 19 bersama Once & Ari Lasso. Fine! ini sebuah pertunjukan langka. Deretan megahits yang versi bajakannya tak kalah laris ini membuat penonton semakin giting. Dua eks vokalis terbaik itu tampil dalam satu stage pertama kalinya. Di tengah nikmatnya mengenang masa muda, kami pun berpikir: bagaimana caranya si organizer melakukan proses negosiasi dengan mereka yah? Ahh sudahlah, sekalipun kami bisa melakukannya, pasti kami tak sanggup membayarnya. Akhir cerita, kami puas dan semua penonton lainnya pun demikian. Harapan kami, semoga konsep acara ini terus berkembang. Jangan sampai termakan jenuh. Karena pada dasarnya, wajah musik nusantara ada di sini (untuk saat ini). See you next year!

An amateur dilettante | Straight Edge | Star Wars’ die-hard fans | Records Junkie |

Continue Reading

Surabaya