Gardika Gigih: Me-Nyala dalam Hujan Kejenuhan

Gardika Gigih saat tampil di Supersonik #22 di Institut Francaise d’Indonesie (IFI) Jakarta. (Foto: Agastiko)

Selepas albumnya rilis, Gardika Gigih berkesempatan berkeliling kota untuk memamerkan karyanya itu. Nyala; satu kemasan menarik yang hadir dari musisi sederhana dengan suguhan musik penuh warna. Perbendaharaan karya dari musisi satu ini makin lengkap juga dengan lahirnya buku ‘Mendengar di Bali’. Setali tiga uang, selepas menggelar showcase di Institut Francaise d’Indonesie (IFI) Jakarta, tepatnya dalam pagelaran Supersonik #22, Gigih melanjutkan perjalanannya ke Malang dan Surabaya untuk memamerkan album sekaligus bukunya.

Dibalik kesyahduan dan keramahan Gardika Gigih, musiknya benar-benar mengajak kita untuk memasuki dimensi imajinasinya. Bahkan, musisi-musisi lain seperti Ananda Badudu (vokal, eks-Banda Neira), Remedy Waloni (gitar, The Trees And the Wild), Luthfi Kurniadi (gitar, Elemental Gaze), Suta Suma (violin, Rockja), dan Jeremia Kimosabe (cello) dan Monita Tahalea, turut melebur dalam pertunjukannya di Jakarta beberapa waktu lalu. Membuktikan betapa berisinya album Nyala ini, meskipun Gigih sendiri terlihat canggung.

Di sela-sela tanya jawabnya, Gigih bercerita jika semua materi lagunya itu dibuat sendiri di rumah. Terkait album Nyala, dia juga bercerita tentang besarnya pengaruh hujan atas terciptanya lagu-lagu dia. “Ide sangat banyak ketika musim-musim hujan seperti saat ini, nah kalau musim panas agak susah, tapi ya, tergantung juga sih” ujarnya. Gigih juga mengaku jika dirinya memang pecinta hujan. Maka di album Nyala yang berisi 13 Lagu, empat diantaranya menggunakan kata-kata Hujan. Selain itu, ketertarikannya pada cahaya, kunang-kunang, dan juga matahari, disebutnya sebagai representasi sebuah harapan dan semangat, “Jadi, ya Nyala itu memang tentang harapan,” ujarnya.

Pembuatan materinya pun bersifat sketching,namun tetap berstruktur. Gigih dibantu oleh teman-teman musisi lainnya berdiskusi bersama, membangun komposisi yang sesuai dengan apa yang ingin disampaikan. Gigih tidak pernah membatasi proses kreatif. Ia juga tidak membuatnya sesulit mungkin. Seperti penentuan lagu mana yang Instrumental dan mana yang berlirik, gigih cukup berujar, “Prosesnya sangat organik, ya ikutin apa kata hati aja, jadi benar-benar sangat alami,” tambahnya. Seperti apa yang dibilang oleh influence-nya, Toru Takemitsu. Katanya; “Music is the art of time (musik adalah seni waktu), jadi ya, just believe the sound”.

Selain musik, Gardika Gigih juga cukup spesifik dalam memvisualkan karya-nya. Ia pun menggandeng seniman muda asal Yogyakarta Gata Mahardika. “Saya memposisikan diri saya netral, nggak ngebawa gagasan sendiri ke karya ini, karena saya disini mencoba menerjemahkan musik Gigih ke sebuah karya visual,”. Lebih lanjut, Gata menyebut prosesnya terjadi mengalir begitu saja, “Natural banget, intinya gambar-gagal-buang, gambar lagi-gagal lagi, sampai akhirnya jadi karya visual yang sesuai,” pungkasnya.

Tukang Foto keliling, yang berusaha segiat mungkin, demi mengisi dompet dan perutnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *