Estetika Trashy Zara Zahrina & Pengaruhnya Terhadap Nonanoskins

Cry Baby: Zara Zahrina dan penampilannya yang sedikit banyak dipengaruhi film-film John Waters. (Source: Instagram)

Seperti kebanyakan remaja seusianya, Zara banyak menghabiskan waktunya untuk berada di dekapan internet. Membangun pertemanan, mencari referensi, dan semua hal yang tidak bisa di dapatkan di lingkungannya. Dampaknya, ketika duduk di bangku sekolah dasar, dia mengaku sudah menyukai berbagai atribut yang girly. Beranjak ke jenjang studi berikutnya, Zara mengenal istilah gothic yang di dapatnya dari berbagai jaringan social networks seperti Vampirefreaks, Friendster, hingga Myspace.

Pada titik tersebut, Zara mulai terjerembab pada keeksentrikan Siouxsie Sioux hingga kemuraman The Cure. Baginya, sebuah style ialah hal yang paling berpengaruh dalam pembentukan karakter musik. Jadi ketika sebuah musik tidak punya style yang identik, bisa dibilang mereka belum punya karakter. Makanya, ketika mendapat kesempatan jadi vokalis Nonanoskins, dia pun merubah kemasan band tersebut secara 180 derajat.

Tidak bisa dipungkiri, wanita lulusan Ilmu Komunikasi ini pandai mengkomunikasikan karakter dirinya. Setelah hitam-hitam, tas vinyl, dan sneakers heels; semua atribut tersebut sudah cukup melekat, jadi identitas tersendiri untuk mengenalinya. “Itu kayak semacam standard uniform dressing, bisa jadi formula untuk membangun impresi terhadap orang lain,” jelas Zara yang kini disibukkan menjadi copywriter di salah satu brand Startup di Jakarta.

Zara Zahrina dengan setelah hitam serta sneakers heels-nya. (Source: Instagram)

Terkait impresi, bukan cuma penampilan, nama skeletale juga sudah tersinkronisasi di semua akun media sosialnya. Jadi, jangan berharap kalian akan menemui nama Zara Zahrina di kotak pencari Instagram, Twitter, atau Youtube. Kecuali Facebook, maklum karena di sana selalu mencurigai nama yang bukan nama asli.

Meski terlihat ribet dan nyentrik, Zara sendiri tidak pernah ambil pusing dengan penampilannya itu. Pribadinya lebih menyukai suatu outfit yang tidak terkonstruksi. Estetika trashy, ya, dia menyebut trashy sebagai istilah yang paling pas menggambarkan dirinya. “Aku gak suka rapi, gak suka style yang terkonstruk banget. Aku seadanya aja, tapi kontekstual, pokoknya nyampah, estetika trashy,” imbuhnya. “Satu lagi, kenapa aku suka pake hitam? karena selain match dengan apapun, warna itu juga gampang dicuci,” kelakarnya.

Vivienne Westwood, perancang yang menggabungkan punk dan new wave itu menjadi influence Zara dalam berbusana dan mengumpulkan barang-barang koleksinya. Memang tidak semua, karena pasti butuh effort dan dana besar. Tapi setidakya dia coba mengembangkan dari apa yang dia dapat dari karya-karya Vivienne, yang di era 70an punya andil dalam membentuk scene punk Inggris bersama Sex Pistols. “Semuanya gak perlu mahal. Kalo aku cukup gabungin antara barang-barang hi-lo yang mahal, luxurious dan glamorious sama barang-barang trashy, jelek, murahan, produk ITC lah, itu baru estetika Zara,” ujarnya.

Bukan cuma sebatas outfit, dengan memanfaatkan kanal berbagi video paling populer: Youtube; setahun lalu penikmat film-film John Waters ini mulai berbagi tutorial make up. Vlog tentang make up rutin, make up yang gemerlap hingga make up ala Japanesse hangover berhasil menyedot ribuan hingga belasan ribu viewers.

Mempengaruhi Nonanoskins

Tahun 2016, entah masih berhasrat membuat lagu-lagu punk, atau sedang bosan dengan band folk-nya. Harian Brilyan atau Ian; satu-satunya perosnil lawas Nonanoskins berupaya membangun kembali band masa mudanya. Dari empat personil yang ditarik, satu diantaranya ialah sosok Zara Zahrina. Berbekal referensi musik punk yang luas, Ian tidak pikir panjang. Proyek jangka panjang pun sudah menanti, yakni debut album.

This Song Is Totally About You: Noskins di Record Store Day Jakarta.

Perkenalan lewat single Catwalk mulus berjalan. Meski beberapa saat setelah itu, Zara harus berangkat ke Jepang untuk program studi kampusnya. Tapi semua sudah ter-planning dengan baik, di mana awal 2017 jadi momentum perilisan materi album pertama yang utuh.

Sepulang dari Jepang, Zara memaksimalkan bulan madunya bersama Nonanoskins; band yang sukses memerawani olah vokalnya. Bulan madunya berjalan sempurna. Enam bulan vakum, Nonanoskins langsung melencer ke Jakarta untuk tampil di perayaan Record Store Day dengan membawa kemasan fisik Ricochet Baby. Kemudian, mereka balik ke Surabaya dengan deretan gig yang sudah menumpuk. Meski baru pertama kali bermusik, Zara tampak terbiasa untuk jadi representasi bandnya. Terlebih, tampilannya yang eksentrik seringkali memukau penonton. Memunculkan tanya sana-sini tentang siapa dan latar belakangnya.

Nonanoskins yang dulu dikenal sebagai band pop punk dengan embel-embel ‘melodramatic popular song’ kini berubah total. Sosok Zara-lah yang bertanggungjawab atas perubahan tersebut. Memilih sebagai penulis lirik sekaligus art director, Noskins fix menjadi band yang oldskul, feminim secara lirik, maskulin secara musik. Zara yang cukup mengilhami Misfits, Black Flag, dan Dead Kennedy ini membangun image baru yang tersirat dari gaya penampilannya.

 

Melepas lajang di dunia tarik pena dengan menyandang lulusan sastra yang tidak sastrawi, musisi gagal, penimbun berita pil koplo, dan buruh radio.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *