Connect with us
https://ronascent.biz/wp-content/uploads/2017/07/ronascent-adv-copy.jpg

FEATURES

Estetika Trashy Zara Zahrina & Pengaruhnya Terhadap Nonanoskins

Published

on

Cry Baby: Zara Zahrina dan penampilannya yang sedikit banyak dipengaruhi film-film John Waters. (Source: Instagram)

Seperti kebanyakan remaja seusianya, Zara banyak menghabiskan waktunya untuk berada di dekapan internet. Membangun pertemanan, mencari referensi, dan semua hal yang tidak bisa di dapatkan di lingkungannya. Dampaknya, ketika duduk di bangku sekolah dasar, dia mengaku sudah menyukai berbagai atribut yang girly. Beranjak ke jenjang studi berikutnya, Zara mengenal istilah gothic yang di dapatnya dari berbagai jaringan social networks seperti Vampirefreaks, Friendster, hingga Myspace.

Pada titik tersebut, Zara mulai terjerembab pada keeksentrikan Siouxsie Sioux hingga kemuraman The Cure. Baginya, sebuah style ialah hal yang paling berpengaruh dalam pembentukan karakter musik. Jadi ketika sebuah musik tidak punya style yang identik, bisa dibilang mereka belum punya karakter. Makanya, ketika mendapat kesempatan jadi vokalis Nonanoskins, dia pun merubah kemasan band tersebut secara 180 derajat.

Tidak bisa dipungkiri, wanita lulusan Ilmu Komunikasi ini pandai mengkomunikasikan karakter dirinya. Setelah hitam-hitam, tas vinyl, dan sneakers heels; semua atribut tersebut sudah cukup melekat, jadi identitas tersendiri untuk mengenalinya. “Itu kayak semacam standard uniform dressing, bisa jadi formula untuk membangun impresi terhadap orang lain,” jelas Zara yang kini disibukkan menjadi copywriter di salah satu brand Startup di Jakarta.

Zara Zahrina dengan setelah hitam serta sneakers heels-nya. (Source: Instagram)

Terkait impresi, bukan cuma penampilan, nama skeletale juga sudah tersinkronisasi di semua akun media sosialnya. Jadi, jangan berharap kalian akan menemui nama Zara Zahrina di kotak pencari Instagram, Twitter, atau Youtube. Kecuali Facebook, maklum karena di sana selalu mencurigai nama yang bukan nama asli.

Meski terlihat ribet dan nyentrik, Zara sendiri tidak pernah ambil pusing dengan penampilannya itu. Pribadinya lebih menyukai suatu outfit yang tidak terkonstruksi. Estetika trashy, ya, dia menyebut trashy sebagai istilah yang paling pas menggambarkan dirinya. “Aku gak suka rapi, gak suka style yang terkonstruk banget. Aku seadanya aja, tapi kontekstual, pokoknya nyampah, estetika trashy,” imbuhnya. “Satu lagi, kenapa aku suka pake hitam? karena selain match dengan apapun, warna itu juga gampang dicuci,” kelakarnya.

Vivienne Westwood, perancang yang menggabungkan punk dan new wave itu menjadi influence Zara dalam berbusana dan mengumpulkan barang-barang koleksinya. Memang tidak semua, karena pasti butuh effort dan dana besar. Tapi setidakya dia coba mengembangkan dari apa yang dia dapat dari karya-karya Vivienne, yang di era 70an punya andil dalam membentuk scene punk Inggris bersama Sex Pistols. “Semuanya gak perlu mahal. Kalo aku cukup gabungin antara barang-barang hi-lo yang mahal, luxurious dan glamorious sama barang-barang trashy, jelek, murahan, produk ITC lah, itu baru estetika Zara,” ujarnya.

Bukan cuma sebatas outfit, dengan memanfaatkan kanal berbagi video paling populer: Youtube; setahun lalu penikmat film-film John Waters ini mulai berbagi tutorial make up. Vlog tentang make up rutin, make up yang gemerlap hingga make up ala Japanesse hangover berhasil menyedot ribuan hingga belasan ribu viewers.

Mempengaruhi Nonanoskins

Tahun 2016, entah masih berhasrat membuat lagu-lagu punk, atau sedang bosan dengan band folk-nya. Harian Brilyan atau Ian; satu-satunya perosnil lawas Nonanoskins berupaya membangun kembali band masa mudanya. Dari empat personil yang ditarik, satu diantaranya ialah sosok Zara Zahrina. Berbekal referensi musik punk yang luas, Ian tidak pikir panjang. Proyek jangka panjang pun sudah menanti, yakni debut album.

This Song Is Totally About You: Noskins di Record Store Day Jakarta.

Perkenalan lewat single Catwalk mulus berjalan. Meski beberapa saat setelah itu, Zara harus berangkat ke Jepang untuk program studi kampusnya. Tapi semua sudah ter-planning dengan baik, di mana awal 2017 jadi momentum perilisan materi album pertama yang utuh.

Sepulang dari Jepang, Zara memaksimalkan bulan madunya bersama Nonanoskins; band yang sukses memerawani olah vokalnya. Bulan madunya berjalan sempurna. Enam bulan vakum, Nonanoskins langsung melencer ke Jakarta untuk tampil di perayaan Record Store Day dengan membawa kemasan fisik Ricochet Baby. Kemudian, mereka balik ke Surabaya dengan deretan gig yang sudah menumpuk. Meski baru pertama kali bermusik, Zara tampak terbiasa untuk jadi representasi bandnya. Terlebih, tampilannya yang eksentrik seringkali memukau penonton. Memunculkan tanya sana-sini tentang siapa dan latar belakangnya.

Nonanoskins yang dulu dikenal sebagai band pop punk dengan embel-embel ‘melodramatic popular song’ kini berubah total. Sosok Zara-lah yang bertanggungjawab atas perubahan tersebut. Memilih sebagai penulis lirik sekaligus art director, Noskins fix menjadi band yang oldskul, feminim secara lirik, maskulin secara musik. Zara yang cukup mengilhami Misfits, Black Flag, dan Dead Kennedy ini membangun image baru yang tersirat dari gaya penampilannya.

 

Melepas lajang di dunia tarik pena dengan menyandang lulusan sastra yang tidak sastrawi, musisi gagal, penimbun berita pil koplo, dan buruh radio.

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

EDITOR'S PICK

Berselancarnya The Panturas & Polka Wars di Surabaya

Published

on

Ada sedikit keraguan kala The Panturas gagal berselancar di Surabaya Oktober kemarin. Nuansa surf-rock yang diusung sekelompok alumnus jurnalistik ini tidak memancar, mereka justru hanya terdengar sebagai band rock melayu biasa. Namun ketika Buka Musik Connectified chapter Surabaya membawa mereka ke Nens Corner akhir pekan kemarin (14/12), ceritanya berbeda. The Panturas benar-benar Mabuk Laut bersama ratusan penonton yang merelakan mata perih karena asap rokok hingga kepala puyeng akibat alkohol.

Bagi sebagian besar penonton yang hadir, kami yakin mereka semua mendapat klimaks. Diawali dengan dua band pendatang baru Surabaya yang unjuk gigi; Alter dan Eisen, hingga dibawa membeku bersama Cotswolds dan puncak dari segala kerusuhan ada pada si protagonis Polka Wars. Pemilik album Axis Mundi ini sejatinya menurunkan tempo pasca meliarnya crowd The Panturas. Tapi tak bisa dipungkiri jika musikalitas terus memancarkan aura semangat. Setidaknya, Surabaya telah memberikan kesan manis bagi Polka Wars dan The Panturas yang hingga akhir tahun ini melaksanakan tur di 6 kota di bawah platform musik Buka Musik milik Bukalapak.

Anak muda penuh semangat tapi tidak bergairah, suka melakukan banyak hal baru dan sedang berstatus mahasiswa aktif dengan doa semoga lulus tepat waktu dan segera mempunyai penghasilan.

Continue Reading

FEATURES

Not Sad, Not Fulfilled; Album Cinta Anak Muda yang Akan Terbang se-Asia Tenggara

Published

on

Grrrl Gang (Photo: Nadine Hanisya)

Grrrl Gang dengan jiwa mudanya semakin kental terasa. Kita bisa mendengarnya di debut mini album Not Sad, Not Fulfilled yang baru saja di rilis digital pekan lalu (9/10) via label Kolibri Rekords. Angeeta Sentana (vokal, gitar), Edo Alventa (gitar, vokal), dan Akbar Rumandung (bass, vokal) menyebut jika romansa cinta anak muda masih jadi tajuk utama di album mereka. “Album ini berkutat di kehidupan picisan anak muda yang penuh intrik, cinta, dan pencarian jati diri. Begitupun pada departemen musik, di mana pengaruh indiepop, indierock, punk, hingga sentuhan blues serta country diolah jadi balutan nuansa segar dan dekat dengan generasi muda.” tulis mereka di rilis pers yang Ronascent terima.

Proses pembuatan album ini terbilang singkat. Grrrl Gang menghabiskan sekitar lima bulan sejak April kemarin di Lahan Erros Studio. Band asal Yogyakarta ini dibantu Tutoet Daru saat proses rekaman, serta Ferry Kurniawan di bagian mixing dan mastering. Nama terakhir juga punya andil dalam melesatkan single Film Favorit milik Sheila On 7. Total ada lima lagu yang mereka suguhkan, termasuk Dream Grrrl yang digubah ulang. Dari kesemuanya, Grrrl Gang memilih Pop Princess sebagai single pertama yang mengisahkan tentang toxic relationship. “Lagu ini berupaya mendorong para wanita muda untuk berani meninggalkan hubungan yang tidak sehat demi hidup yang lebih bahagia,” ujar penulis lagu Angeeta.

Grrrl Gang beserta Kolibri Rekords pun tidak perlu menunggu lama untuk menyebarluaskan album ini. Kelar berkeliling mengunjungi Semarang, Surabaya, Malang, Malaysia, Singapura, dan Filipina pada semester awal 2018 lalu, trio indiepop ini siap melanjutkan turnya lagi. 20 kota di Indonesia dan Asia Tenggara sudah dipastikan akan menggelar tur promo EP Not Sad, Not Fulfilled selama Oktober hingga November. Grrrl Gang diagendakan tampil untuk jadi pembuka grup indierock muda Amerika Serikat, Snail Mail di Jakarta. Menunggu kemudian, dua pertunjukan di Bangkok, Thailand, serta dua pertunjukan di gelaran rutin Rocking the Region oleh Esplanade, Singapura. Jadwal lainnya pun akan diumumkan dalam waktu dekat.

Media musik online yang berbasis di Surabaya. Mengamati gejolak dan gairah industri musik independen yang kerap menjadi sokongan musik berkualitas. Kontak kami di [email protected] untuk berbagi informasi.

Continue Reading

EDITOR'S PICK

Menengok Wajah Musik Indonesia di Synchronize Fest 2018

Published

on

Sinkronisasi musisi antar generasi masih jadi issue utama di Synchronize Fest ketiganya. (Foto: Agastiko)

“Jika ada orang tanya, seperti apa sih musik Indonesia? Suruh datang aja ke Synchronize Festival.” Begitulah kira-kira celetuk Iga Masardi di sela-sela set Barasuara di event tersebut. Yap, tahun ini salah satu festival musik terbesar di Indo ini kembali menyapa pemuda-pemudi yang haus akan lantunan musik Indonesia dari generasi ke generasi.

Festival musik yang dikerjakan Dyandra Promosindo dan Demajors ini kembali digelar untuk ketiga kalinya di Gambir Expo Kemayoran, Jakarta. Seperti tahun-tahun sebelumnya, signature Synchronize Festival ada deretan pengisi acara yang banyak, hingga ratusan. Lelah? memang. Tapi mood yang terbangun untuk melihat segala macam bentuk dan tampilan musik lintas genre mengalahkan segalanya. Hiperboliknya, event ini sudah cukup menggambarkan wajah musik Indonesia dulu dan sekarang.

.Feast di Synchronize Fest kemarin. (Foto: Agastiko)

Hari pertama, kalau dideskripsikan dengan satu kata sih ya “gendheng”. Deretan aksi panggung yang bikin geleng-geleng hingga ngakak sudah tersaji. Aksi dari Mesin Tempur misalnya. Band grindcore Bandung ini nyeleneh dengan membawa ayam jago ke atas panggung.  Tak mau kalah dengan Mesin Tempur, band bernuansa Betawi, Jiung juga menyuguhkan aksi panggung yang gila. Ajul, sang vokalis dengan enaknya turun panggung lalu mandi ditengah-tengah penonton. Sesudah maghrib, insaf sejenak. aksi panggung yang gila sudah berkurang, namun digantikan dengan set-set menawan. Mooner, yang pertama kalinya main di Synchronize Fest disambut antusias oleh penonton yang  menjadi-jadi. Bergeser ke District Stage, ada Reality Club yang tak kalah histeris-nya disambut. Makin malam makin jadi. Kaki sudah lelah, tubuh berkeringat, rambut lepek, baterai gadget mulai lowbatt. Tapi, jam 21.30 masih ada dua penampil yang sayang untuk dilwati. Di Dynamic Stage ada dominasi anak-anak muda sedang “menunggangi badai” dengan Barasuara. Sedangkan di Forest Stage, para senior indie sedang “menikmati coklat” bersama Pure Saturday”. Puncaknya, penampilan Naif, si tukang sedot keringat penonton.

Lanjut hari kedua, kali ini nuansa nostalgia terasa lebih kental. Deretan pengisi acara seperti Godbless, Sheila On 7, dan Project Pop ada di hari itu. Di set Godbless, penonton dipenuhi  kalangan senior pecinta rock lawas. Tembang-tembang hits seperti Musisi, Kehidupan, Rumah Kita, Semut Hitam, dan Panggung Sandiwara membangun vibes karaoke bersama. Begitupun Sheila On 7 yang penuh sesak oleh penonton lintas generasi. Sementara di Distric Stage, musik jenaka Project Pop begitu merindukan era di mana grup vokal itu tidak harus selalu keren, tapi juga bisa receh nan menyenangkan. Sang Raja Dangdut, Rhoma Irama dan Soneta Group akhirnya menutup hari kedua. Pesonanya yang kharismatik sebagai maestro selalu berhasil menyebarkan penyakit menular; (baca: goyang).

Well, dua hari non-stop berkeliling luasnya venue. Pindah dari satu stage ke stage lain, sebenarnya ada pikiran untuk menyudahinya. Tapi apa daya, nama-nama seperti Snickers And The Chicken Fighters (SATCF), Ramengvrl hingga NOXA terlalu sayang jika terlewatkan. Jamrud pun hadir di Dynamic Stage. Lagu-lagu lawas-nya masih terdengar lantang meski ada perubahan pada karakter suaranya. Lagi-lagi dan lagi-lagi, penonton yang dibesarkan era MTV Ampuh sangat dimanjakan. Kali ini giliran Padi Reborn beserta penutup Synchronize Festival 2018 secara keseluruhan; Dewa 19 bersama Once & Ari Lasso. Fine! ini sebuah pertunjukan langka. Deretan megahits yang versi bajakannya tak kalah laris ini membuat penonton semakin giting. Dua eks vokalis terbaik itu tampil dalam satu stage pertama kalinya. Di tengah nikmatnya mengenang masa muda, kami pun berpikir: bagaimana caranya si organizer melakukan proses negosiasi dengan mereka yah? Ahh sudahlah, sekalipun kami bisa melakukannya, pasti kami tak sanggup membayarnya. Akhir cerita, kami puas dan semua penonton lainnya pun demikian. Harapan kami, semoga konsep acara ini terus berkembang. Jangan sampai termakan jenuh. Karena pada dasarnya, wajah musik nusantara ada di sini (untuk saat ini). See you next year!

An amateur dilettante | Straight Edge | Star Wars’ die-hard fans | Records Junkie |

Continue Reading

Surabaya