Connect with us
https://ronascent.biz/wp-content/uploads/2017/07/ronascent-adv-copy.jpg

EVENTS

A Place To Bury Strangers, Nyalakan Kebisingan Tanpa Jeda

Published

on

A Place to Bury Stranger yang tertutup asap sepanjang pertunjukannya kemarin. (Foto: Arina Habaidillah)

Sepuluh hari, enam kota, dan lima negara; tuntas sudah perjalanan melelahkan A Place To Bury Strangers (APTBS) jelang berakhirnya tahun yang ‘adem ayem’ bagi mereka. Sejak pertengahan Desember, kelompok noise rock asal Amerika tersebut berkunjung ke Tokyo, Beijing, Shanghai, Hongkong, dan Manila. Sayang, titik Singapura, serta Kuala Lumpur harus pending karena pesawat yang mereka naiki alami trouble selepas dari Manila. Dan akhirnya, Jumat kemarin (22/12), giliran Rossi Musik Jakarta menjadi destinasi terakhir yang menutup tur Asia mereka.

Kolaborasi tiga kolektif Ibukota, yakni Studiorama, Six Thirty Recordings, dan Noisewhore bertanggungjawab sepenuhnya atas kebisingan sound yang muncul dari trio andalan Dead Oceans ini. Kesuksesan mendatangkan Fazerdaze Oktober lalu sepertinya jadi modal penting untuk membuat pertunjukan serupa, yang kali ini jatuh pada A Place To Bury Strangers. Dan kemarin, Oliver Ackermann cs tidak tampil sendirian, karena ada unit post-punk asal Jakarta Pelteras serta Flukeminimix, kolektif yang musiknya masih bersebelahan dengan APTBS.

A Place To Bury Strangers sendiri datang ke Jakarta berbekal lagu-lagu andalannya, kurang lebih datang dari rilisan terakhirnya Transfixiation yang lahir 2015 lalu. Band milik Oliver Ackermann (gitar, vokal & bass), Dion Lunadon (bass & guitar) dan juga Lia Simone Braswell (drum) naik panggung pukul sepuluh malam lewat 15 menit. Penampilan mereka diawali dengan sebuah announcement yang dikhususkan bagi penonton penderita epilepsi. Yaps, ternyata visual lighting yang digunakan pada gigs ini bisa menyebabkan epilepsi!

Salah satu pembuka APTBS, Pelteras. (Foto: Arina Habaidillah)

Selepas itu, Ackermann mulai memekikkan gitarnya diiringi kepulan asap tebal. Seketika penampilan mereka serasa mistis, terlebih bebunyian noise yang menusuk tajam ke telinga dan mengambil alih mood untuk naik turun mengikuti beat yang dihasilkan Braswell. Tidak perlu hafal lagu mereka, karena bagi yang datang dan mendengar band ini untuk pertama kalinya, hampir pasti akan langsung tergoda. Tidak perlu diragukan lagi, musik yang mereka ramu memang terdengar sederhana, tapi cukup menggoda. Seperti halnya Transfixiation, rasanya seperti dihujani psekedelia, rock, noise, bahkan shoegaze hingga kuping berdarah-darah.

Selama dua jam, Rossi Musik tebal dengan asap-asapnya. Praktis, penonton mulai tidak bisa melihat apapun diatas panggung selain visual lighting dan juga smoke yang tebal. Rasanya pertunjukan malam itu memang ada untuk APTBS; memadamkan keterasingan antar penonton satu dengan lainnya, mengajak untuk masturbasi setinggi-tingginya; Sebuah pertunjukan yang mengesankan untuk mengakhiri tahun 2017.

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

EDITOR'S PICK

Merayakan 14 Tahun Blingsatan & Meroketnya 6 Rilisan Baru Skena Punk

Published

on

14 Tahun Blingsatan (dari kiri): Saka, Amir, Arief. (Foto: Novan Rebellnoise)

Euforia band gaek asal Surabaya, Blingsatan kemarin tak terbendung lagi. Sehari pasca merayakan hari kemerdekaan Indonesia yang ke-74, trio punk yang beranggotakan Arief, Saka, dan Amir itu juga merayakan hari jadinya yang ke-14. Dengan titel event Merocket #1 yang digelar di M-Radio Surabaya kemarin malam (18/8), mereka sekaligus melempar album The Best of Blingsatan, From The Past For The Future. Di tengah penampilannya, Blingsatan menyematkan seremoni pemotongan kue yang menandakan bertambahnya usia mereka. “Kue ini untuk kita semua, terima kasih yang sudah memberi support buat Blingsatan hingga kini!,” ujar Arief di sela-sela penampilannya.

Dalam setlist semalam, Blingsatan membawakan mayoritas lagu lama, seperti I Don’t Know Where, Belia, Si Sexy, Yang Muda Yang Bercinta, Waiting Is Hard Things To Do dan Berbeda Merdeka. Gigs semalam memang menjadi ajang bersenang-senang. Lupakan sejenak segala kesempurnaan di atas panggung, karena yang ada hanyalah sing along, alkohol, dan colekan kue tart yang menghiasi wajah ketiga personil Blingsatan.

Perayaan ulang tahun Blingsatan pun semakin marak dengan rilisan masal yang dilakukan oleh band-band penampil sebelumnya. Seperti Tulipe de Gezner yang akhirnya merilis album Berdiri Untuk Melangkah. Kemudian Melaju yang memperkenalkan mini albumnya Triakan Kebersamaan serta dua single baru yang meluncur masing-masing dari Dindapobia berjudul Overnow dan  Cheers The Punk dari Radiocase. Dan tentunya juga album digital The Best of Blingsatan, From The Past For The Future yang kabarnya akan menjadi pemanasan bagi Blingsatan untuk merilis album keempatnya.

Merocket #1 akhirnya ditutup lewat penampilan kolaboratif dari Hometown Rockers yang menampilkan musisi-musisi punk dari berbagai band seperti Happy Arabika (Pig Face Joe), Biyan (Plester-X), Paul (Give Me Mona), dan Ucup (Tulipe de Gezner). Menampilkan beberapa hits ala punk rock seperti Blitzkrief Bop, Basketcase, hingga When I Come Arround, mereka pun menutup pesta singkat Blingsatan yang selesai tidak lebih dari jam 9 malam, punk rock yang tertib!

 

Continue Reading

EVENTS

SUBNATION VOL.2: Gigs Penutup Ramadhan Klimaks

Published

on

Bagai oase di tengah padang pasir. Setidaknya frase tersebut lah yang menjadi acuan untuk gelaran Subnation Vol.2! Bulan ramadhan tidak membuat teman-teman diam dan malah terus aktif untuk berkarya. Terlebih lagi kegiatan Subnation kemarin jadi klimaks yang kompleks  sebelum ramdhan berakhir, karena Subnation Vol.2 tak hanya menyajikan performer terbaik tapi lengkap dengan sesi diskusi edukatif, hingga marketplace. Subnation pun melibatkan pasarnoise untuk tenant mereka. Sayang karena keterbatasan gear kami bawa, redaksi pun hanya berhasil menangkap para performer. Selebihnya kalian harus datang sendiri untuk menikmati gelaran event Subnation. Tunggu event mereka selanjutnya dan pantau informasinya melalui akun instagram @subnation031 Selamat menikmati.

Continue Reading

EVENTS

Downtown Take Over: Sebuah Upaya Pertemukan Berbagai Generasi

Published

on

Melanjutkan acara sebelumnya, Talk Bus Tour, Paranoise kembali membuat sebuah suguhan yang bermaksud untuk me-recall ingatan kita tentang skena musik di Surabaya. Jika Talk Bus Tour kemarin sempat membawa kita berjalan ke tiga tempat legendaris di dunia permusikan Surabaya, kini acara terbaru mereka Downtown Take Over pun ikut memainkan beberapa band lawas yang tujuannya memperkenalkan dari generasi ke generasi. Ada Noxa, Murphy Radio, Piston, Let’s Go Cmon Baby, Berdikari, Plester-X dan Egon Spengler. Berikut laporan kami.

Continue Reading

Surabaya