A Place To Bury Strangers, Nyalakan Kebisingan Tanpa Jeda

A Place to Bury Stranger yang tertutup asap sepanjang pertunjukannya kemarin. (Foto: Arina Habaidillah)

Sepuluh hari, enam kota, dan lima negara; tuntas sudah perjalanan melelahkan A Place To Bury Strangers (APTBS) jelang berakhirnya tahun yang ‘adem ayem’ bagi mereka. Sejak pertengahan Desember, kelompok noise rock asal Amerika tersebut berkunjung ke Tokyo, Beijing, Shanghai, Hongkong, dan Manila. Sayang, titik Singapura, serta Kuala Lumpur harus pending karena pesawat yang mereka naiki alami trouble selepas dari Manila. Dan akhirnya, Jumat kemarin (22/12), giliran Rossi Musik Jakarta menjadi destinasi terakhir yang menutup tur Asia mereka.

Kolaborasi tiga kolektif Ibukota, yakni Studiorama, Six Thirty Recordings, dan Noisewhore bertanggungjawab sepenuhnya atas kebisingan sound yang muncul dari trio andalan Dead Oceans ini. Kesuksesan mendatangkan Fazerdaze Oktober lalu sepertinya jadi modal penting untuk membuat pertunjukan serupa, yang kali ini jatuh pada A Place To Bury Strangers. Dan kemarin, Oliver Ackermann cs tidak tampil sendirian, karena ada unit post-punk asal Jakarta Pelteras serta Flukeminimix, kolektif yang musiknya masih bersebelahan dengan APTBS.

A Place To Bury Strangers sendiri datang ke Jakarta berbekal lagu-lagu andalannya, kurang lebih datang dari rilisan terakhirnya Transfixiation yang lahir 2015 lalu. Band milik Oliver Ackermann (gitar, vokal & bass), Dion Lunadon (bass & guitar) dan juga Lia Simone Braswell (drum) naik panggung pukul sepuluh malam lewat 15 menit. Penampilan mereka diawali dengan sebuah announcement yang dikhususkan bagi penonton penderita epilepsi. Yaps, ternyata visual lighting yang digunakan pada gigs ini bisa menyebabkan epilepsi!

Salah satu pembuka APTBS, Pelteras. (Foto: Arina Habaidillah)

Selepas itu, Ackermann mulai memekikkan gitarnya diiringi kepulan asap tebal. Seketika penampilan mereka serasa mistis, terlebih bebunyian noise yang menusuk tajam ke telinga dan mengambil alih mood untuk naik turun mengikuti beat yang dihasilkan Braswell. Tidak perlu hafal lagu mereka, karena bagi yang datang dan mendengar band ini untuk pertama kalinya, hampir pasti akan langsung tergoda. Tidak perlu diragukan lagi, musik yang mereka ramu memang terdengar sederhana, tapi cukup menggoda. Seperti halnya Transfixiation, rasanya seperti dihujani psekedelia, rock, noise, bahkan shoegaze hingga kuping berdarah-darah.

Selama dua jam, Rossi Musik tebal dengan asap-asapnya. Praktis, penonton mulai tidak bisa melihat apapun diatas panggung selain visual lighting dan juga smoke yang tebal. Rasanya pertunjukan malam itu memang ada untuk APTBS; memadamkan keterasingan antar penonton satu dengan lainnya, mengajak untuk masturbasi setinggi-tingginya; Sebuah pertunjukan yang mengesankan untuk mengakhiri tahun 2017.

Rakjat Djelatah yang tak segan untuk mengepul ilmu dari panggung ke panggung bebunyian. Suka menggagungkan katakata pada limit kepsyen instagram belaka. Akhir-akhir ini, ia sedang belajar menulis yang baik dan benar untuk kemaslahatan umat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *