Sirkus Keliling; Coba Membelah Partisi Skena

Datang dari kumpulan belahan skena lain, Sirkus Keliling mencoba untuk menembus partisi skena yang ada di Surabaya. (Foto: Dok. Sirkus Keliling)

Merasa “cukup” dengan banyaknya kabar bahwa scene musik independen di Surabaya terlalu mengkotak-kotakkan diri. Dua hari setelah Hari Pahlawan, menjadi hari gerilya bagi sekelompok musisi. Tepatnya pada 12 November kemarin, di mana beberapa band dan solois bergabung dalam sebuah gigs berjudul: Sirkus Keliling Vol. 1. Acara tersebut diadakan sebagai hasil dari gagasan untuk merangkul seluruh musisi demi menghilangkan pemikiran scene musik yang terbatas atau dibatasi oleh genre. Sirkus Keliling Vol. 1 diselenggarakan mulai pukul tujuh malam, di Rodo Pizza & Bar, sebuah tongkrongan bergaya klasik modern di bilangan Arief Rahman Hakim Surabaya.

Fikar The Cook membuka acara dengan baik. Lagu-lagunya yang ringan, sangat mudah di nikmati sebagai pengantar suasana agar lebih hangat. Disusul oleh Seorang one-man show berpenampilan old-west 1619’s, lengkap dengan aroma Whiskey yang melekat di tubuhnya. Mr. Tube Ice a.k.a Yesi. Ia berhasil membius audience untuk larut ke dalam kelamnya “Deep-Down Delta Blues” (begitu beliau menyebutkan jenis musiknya).

Keseruan terus berlanjut di mana Burning Idea, kolektif Rockabilly asal Surabaya memasuki stage dengan keceriaan dan kegilaan mereka. Satu hal yang tidak boleh dilupakan dari band ini adalah cara mereka untuk meliar di atas panggung. Line-up berganti ke ranah musik ‘gypsy’, ‘dixie’. Monster Pengerat Wortel dinilai cukup berhasil menyihir audience dengan lirik-lirik yang mudah di hafal dalam performance mereka malam itu.

Dhewo, vokalis dari The Dance Going On. (Foto: Dok. Sirkus Keliling)

Perjalanan jauh dan melelahkan tidak membuat semangat para Sindikat Bergitar, garage rock asal Kota Malang ini tak berkurang sedikit pun. Tidak ingin kehilangan momentum, mereka menggebrak panggung Sirkus Keliling dengan nada-nada dinamis di tiap lagunya. “Untuk memulai sesuatu bisa di lakukan kapan saja dan di mana saja…” begitulah ucap frontman dari Astvla. Band selanjutnya ini mengusung progresive post-punk dan berhasil membuktikan perkataanya. Musik mereka yang biasa di sebut art-rock ini langsung mendapat respon positif di panggung pertamanya itu.

Tepat pada pukul 10 malam, giliran The Dance Going On yang sukses memeriahkan puncak acara dengan ‘jamaican noise music’ yang mereka suguhkan. Seluruh audience berdiri dari kursi mereka masing masing untuk memenuhi lantai utama tempat tersebut dan berdansa bersama.

Sirkus Keliling yang baru digelar untuk pertama kalinya itu terbukti mampu menampilkan beberapa referensi baru di skena yang kabarnya memang terpartisi sejak dahulu kala. Di akhir acara, seluruh panitia dan kru Sirkus Keliling juga mendeklarasikan jika pergerakan Sirkus Keliling Volume 2 akan segera di mulai dalam waktu dekat. Semoga, dengan adanya pergerakan ini, mitos tersebut bisa segera lengser. (Dhewo)

Media musik online yang berbasis di Surabaya. Mengamati gejolak dan gairah industri musik independen yang kerap menjadi sokongan musik berkualitas. Kontak kami di [email protected] untuk berbagi informasi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *