Connect with us
https://ronascent.biz/wp-content/uploads/2017/07/ronascent-adv-copy.jpg

EVENTS

Sirkus Keliling; Coba Membelah Partisi Skena

Published

on

Datang dari kumpulan belahan skena lain, Sirkus Keliling mencoba untuk menembus partisi skena yang ada di Surabaya. (Foto: Dok. Sirkus Keliling)

Merasa “cukup” dengan banyaknya kabar bahwa scene musik independen di Surabaya terlalu mengkotak-kotakkan diri. Dua hari setelah Hari Pahlawan, menjadi hari gerilya bagi sekelompok musisi. Tepatnya pada 12 November kemarin, di mana beberapa band dan solois bergabung dalam sebuah gigs berjudul: Sirkus Keliling Vol. 1. Acara tersebut diadakan sebagai hasil dari gagasan untuk merangkul seluruh musisi demi menghilangkan pemikiran scene musik yang terbatas atau dibatasi oleh genre. Sirkus Keliling Vol. 1 diselenggarakan mulai pukul tujuh malam, di Rodo Pizza & Bar, sebuah tongkrongan bergaya klasik modern di bilangan Arief Rahman Hakim Surabaya.

Fikar The Cook membuka acara dengan baik. Lagu-lagunya yang ringan, sangat mudah di nikmati sebagai pengantar suasana agar lebih hangat. Disusul oleh Seorang one-man show berpenampilan old-west 1619’s, lengkap dengan aroma Whiskey yang melekat di tubuhnya. Mr. Tube Ice a.k.a Yesi. Ia berhasil membius audience untuk larut ke dalam kelamnya “Deep-Down Delta Blues” (begitu beliau menyebutkan jenis musiknya).

Keseruan terus berlanjut di mana Burning Idea, kolektif Rockabilly asal Surabaya memasuki stage dengan keceriaan dan kegilaan mereka. Satu hal yang tidak boleh dilupakan dari band ini adalah cara mereka untuk meliar di atas panggung. Line-up berganti ke ranah musik ‘gypsy’, ‘dixie’. Monster Pengerat Wortel dinilai cukup berhasil menyihir audience dengan lirik-lirik yang mudah di hafal dalam performance mereka malam itu.

Dhewo, vokalis dari The Dance Going On. (Foto: Dok. Sirkus Keliling)

Perjalanan jauh dan melelahkan tidak membuat semangat para Sindikat Bergitar, garage rock asal Kota Malang ini tak berkurang sedikit pun. Tidak ingin kehilangan momentum, mereka menggebrak panggung Sirkus Keliling dengan nada-nada dinamis di tiap lagunya. “Untuk memulai sesuatu bisa di lakukan kapan saja dan di mana saja…” begitulah ucap frontman dari Astvla. Band selanjutnya ini mengusung progresive post-punk dan berhasil membuktikan perkataanya. Musik mereka yang biasa di sebut art-rock ini langsung mendapat respon positif di panggung pertamanya itu.

Tepat pada pukul 10 malam, giliran The Dance Going On yang sukses memeriahkan puncak acara dengan ‘jamaican noise music’ yang mereka suguhkan. Seluruh audience berdiri dari kursi mereka masing masing untuk memenuhi lantai utama tempat tersebut dan berdansa bersama.

Sirkus Keliling yang baru digelar untuk pertama kalinya itu terbukti mampu menampilkan beberapa referensi baru di skena yang kabarnya memang terpartisi sejak dahulu kala. Di akhir acara, seluruh panitia dan kru Sirkus Keliling juga mendeklarasikan jika pergerakan Sirkus Keliling Volume 2 akan segera di mulai dalam waktu dekat. Semoga, dengan adanya pergerakan ini, mitos tersebut bisa segera lengser. (Dhewo)

Media musik online yang berbasis di Surabaya. Mengamati gejolak dan gairah industri musik independen yang kerap menjadi sokongan musik berkualitas. Kontak kami di [email protected] untuk berbagi informasi.

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

EDITOR'S PICK

Berselancarnya The Panturas & Polka Wars di Surabaya

Published

on

Ada sedikit keraguan kala The Panturas gagal berselancar di Surabaya Oktober kemarin. Nuansa surf-rock yang diusung sekelompok alumnus jurnalistik ini tidak memancar, mereka justru hanya terdengar sebagai band rock melayu biasa. Namun ketika Buka Musik Connectified chapter Surabaya membawa mereka ke Nens Corner akhir pekan kemarin (14/12), ceritanya berbeda. The Panturas benar-benar Mabuk Laut bersama ratusan penonton yang merelakan mata perih karena asap rokok hingga kepala puyeng akibat alkohol.

Bagi sebagian besar penonton yang hadir, kami yakin mereka semua mendapat klimaks. Diawali dengan dua band pendatang baru Surabaya yang unjuk gigi; Alter dan Eisen, hingga dibawa membeku bersama Cotswolds dan puncak dari segala kerusuhan ada pada si protagonis Polka Wars. Pemilik album Axis Mundi ini sejatinya menurunkan tempo pasca meliarnya crowd The Panturas. Tapi tak bisa dipungkiri jika musikalitas terus memancarkan aura semangat. Setidaknya, Surabaya telah memberikan kesan manis bagi Polka Wars dan The Panturas yang hingga akhir tahun ini melaksanakan tur di 6 kota di bawah platform musik Buka Musik milik Bukalapak.

Anak muda penuh semangat tapi tidak bergairah, suka melakukan banyak hal baru dan sedang berstatus mahasiswa aktif dengan doa semoga lulus tepat waktu dan segera mempunyai penghasilan.

Continue Reading

EVENTS

The 41st Jazz Goes to Campus: Kejayaan Musik Jazz Masih Dimulai Dari Kampus

Published

on

Jika menengok kembali sejarah musik jazz di Indonesia, dunia kampus memang berperan penting dalam perkembangan musik ini. Salah satunya adalah Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia. Lewat Jazz Goes to Campus, musik jazz bisa dikenal dan mendapat tempat tersendiri di telinga mahasiswa. Tahun ini, JGTC sudah memasuki tahun ke-41. Sebuah perjalanan yang tak singkat memang. Konsistensi JGTC dalam menghadirkan sajian musik jazz yang segar mampu membuat acara ini bertahan hingga lebih dari empat dekade.

Minggu, 2 Desember 2018, 41stJazz Goes to Campus yang mengusung tema“Bring The Jazz On” kembali digelar di lingkungan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia. Sama seperti tahun-tahun sebelumnya, JGTC selalu berhasil menyedot animo yang luar biasa. Sejak pukul 12.30 antrean sudah mulai penuh sesak untuk memasuki kawasan acara. Sekitar pukul 13.00 acara dimulai dan dibuka oleh penampilan dari beberapa band kampus dan pemenang JGTC Band Competition.

Menjelang sore, penonton mulai memadati Sprite Stage untuk menyaksikan Maliq & D’Essentials. Antusiasme penonton sangat liar sore itu. Sprite Stage penuh sesak dengan penonton yang ingin menyaksikan Maliq & D’Essentials. Membawakan tembang-tembang hits seperti Dia dan Untitled, Maliq & D’Essentials sukses memanaskan sore yang mendung kemarin. Bergeser ke Kopiko Stage, grup musik parodi asal Bandung, Project Pop juga mampu menyedot animo penonton yang ingin bernostalgia dengan lagu-lagu lawas mereka. Track andalan seperti Gara-gara Kahitna, Metal vs. Dugem, dan Ingatlah Hari Ini sukses membuat penonton bernyanyi bersama. Disela-sela lagu lama yang nangkring di setlists, Project Pop juga sempat membawakan lagubaru yang berjudul Coconut dan sukses mengajak penonton untuk bergoyang bersama.

Menjelang maghrib, JGTC sempat diguyur hujan yang cukup deras dan sempat membuat penonton yang tidak membawa jas hujan kocar-kacir mencari tempat berteduh. Untungnya hujan tidak berlangsung lama, karena di Indofood Stage, Vira Talisa sudah bersiap untuk menghangatkan malam setelah hujan. Walaupun tidak terlalu ramai, karena banyak penonton yang sudah memenuhi Kopiko Stage untuk menunggu Boyzlife, set Vira Talisa malam itu tetap syahdu. Pindah ke Kopiko Stage, Boyzlife dengan mudahnya membuat para penonton histeris. Hanya bermodalkan rekaman lawas lagu-lagu Boyzone dan Westlife, Keith Duffy dan Brian McFadden sukses berkaraoke bersama penonton. Set yang minimalis, tanpa band pengiring, dan hanya bermodal rekaman minus one membuat Boyzlife tidak memiliki daya tarik yang lebih selain hanya lagu-lagu hits lawas mantan boyband mereka dulu.

Kembali ke Sprite Stage, kali ini giliran Glenn Fredly yang menghangatkan malam para pecinta jazz di JGTC. Penuh dan lantang. Begitulah kira-kira gambaran crowd yang menonton Glenn Fredly kemarin. Dari awal set hingga akhir, semua penonton sangat kompak menyanyikan lagu-lagu Glenn Fredly. Terlebih lagi ketika lagu Terserah, koor massal yang gila bisa terdengar dari depan hingga belakang. Dan di panggung yang sama sebagai penutup JGTC, Reza Artamevia juga berhasil membawa para penonton bernostalgia dengan tembang-tembang lawas miliknya. Walaupun sudah tak muda lagi, Reza tetap energik dan interaktif dengan penonton JGTC.

Dengan tema yang diusung, pagelaran JGTC tahun ini cukup sukses membawa kembali musik jazz. Bermodal track record yang bagus JGTC menjadi salah satu festival jazz yang ditunggu-tunggu setiap tahunnya. Seperti apakah kejutan JGTC tahun depan. We’ll see!

 

Teks: Agita Bela | Foto:  Adrian Daniarsyah

An amateur dilettante | Straight Edge | Star Wars’ die-hard fans | Records Junkie |

Continue Reading

EVENTS

Impresional Made J Music di Launching Album Tiger Blood

Published

on

Akhir pekan kemarin (28/11), Gimme Shelter mendapat kesempatan untuk menjadi tuan rumah bagi Made J Music yang baru saja merilis album barunya berisikan 12 materi baru dengan titel Tiger Blood. Launching party ini turut menghadirkan kolaborasi serta perform dari beberapa musisi lain seperti  The Dissland, The Hydrant, dan The Eastbay. 

a free soul sun chaser who’s addict to experiment something beyond . Adore nature’s living material. Get her some food and no one’s hurt

Continue Reading

Surabaya