10 Band Surabaya Pengoleksi 3 Album

Prev1 of 12
Use your ← → (arrow) keys to browse

Jika ditarik 2 dekade ke belakang, maka Dry jadi band dengan jumlah rilisan terbanyak di Surabaya. (Foto: Yogie Husien)

Pengemasan karya, itu selalu menjadi permasalahan paling klise dan sejujurnya memang kompleks. Intinya hanya mengemas karya jadi album, kemudian diperdengarkan, dan untung-untung bisa meraup duit tambahan; alur sederhana yang ternyata tidak semudah membalikkan tangan. Kenyataannya, membuat rilisan seringkali terkendala waktu, dana, tenaga, dan pikiran. Jika semuanya bisa terlewati, tentu akan mudah bagi musisi untuk mengetahui seberapa disukai musik yang mereka buat. Namun jika keempat hal itu gagal terpenuhi, akan lebih baik untuk kembali hidup realistis yang ujung-ujungnya karya akan statis.

Orang-orang boleh menganggap industri independen di Surabaya cukup produktif. Nyatanya memang benar, khususnya jika dibandingkan di era-era jauh sebelum tulisan ini terbit. Namun di tengah produktivitas yang tanpa henti itu, muncul sesuatu yang cukup unik. Dari sekian banyak band yang ada dan pernah ada, ternyata memang tidak mudah bagi mereka menyisihkan waktu, dana, tenaga, dan pikiran. Merilis album seperti menjadi ritual sakral yang tidak sembarang band bisa melakukannya. Padahal, ini adalah lingkup independen. Kawasan di mana tak perlu ada standarisasi khusus yang mengatakan: layak dan tidak layak.

Tahun 2017 ini, Dry dengan formasi terbarunya kembali muncul. Salah satu dedengkot black metal Surabaya ini sedang menikmati usia dewasanya yang perlahan menua: 27 tahun. Dibalik menuanya band ini, ternyata Dry masih memiliki spirit yang tak kunjung berkeriput. Dengan tempo yang tak sedikitpun melambat, beberapa bulan lalu mereka memperdengarkan single Antara Bayangan dan Cahaya. Ternyata itu bukan sekadar single, melainkan warna baru mereka di album keenam berjudul Serpihan Debu yang rilis bulan Maret kemarin.

Setahun sebelumnya, kolektif punk Dindapobia membuat gig spesial. Band yang selalu mengisahkan kisah cinta masa muda ini genap memasuki usia dua dekade. Bedanya, mereka tidak merayakan dengan rilisan baru, tapi cukup dengan gig minimalis bersama band-band seangkatannya. Dindapobia sendiri terakhir merilis album di tahun 2012 bertajuk The Faith yang dirilis oleh Rajawali Megah Vision (RMV). Itu merupakan album keempat mereka sejak dibentuk tahun 1996.

Jika Dindapobia membuat gig ’20 anniversary’ di bulan Juli 2016, Jagal tidak mau ketinggalan. Pada Agustus 2016 mereka melempar mini album berisikan lima lagu. EP tersebut melengkapi diskografi band brutal death metal kenamaan Surabaya ini. Sejak 2005, Endro, Deddy, Rosid, dan Cholis sudah menelurkan empat buah album, yaitu Monster of Insanity (2006), Dangerous Toys (2010), Among the Massacre (2013), dan Jagal EP (2016).

Sampai sejauh ini, untuk urusan produktivitas album baik Dry, Dindapobia ataupun Jagal mungkin hanya kalah dari pendahulu mereka seperti Power Metal atau Boomerang. Akan terlampau panjang jika kita juga membahas band-band itu, karena percaya atau tidak produktivitas mereka masih sulit ditandingi oleh band Surabaya lainnya. Hingga kini Ronascent mencatat Dry jadi band paling produktif dalam 20 tahun ke belakang dengan enam albumnya. Pencapainnya hanya diikuti oleh Dindapobia dan Jagal yang sama-sama telah merilis empat album. Selebihnya? Sekurang-kurangnya ada 10 band yang masih terjebak di tiga rilisan selama bertahun-tahun. Apa memang harus menunggu hingga 10 tahun untuk membuat lebih dari 3 album? atau cuma kebetulan?

Prev1 of 12
Use your ← → (arrow) keys to browse

Melepas lajang di dunia tarik pena dengan menyandang lulusan sastra yang tidak sastrawi, musisi gagal, penimbun berita pil koplo, dan buruh radio.

1 Comment

  1. Lord Morgan

    14 November 2017 at 17:59

    Ralat om admin.. Album DRY titel “SERPIHAN DEBU” bukan Serpihan Hati 😂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *