Connect with us
https://ronascent.biz/wp-content/uploads/2017/07/ronascent-adv-copy.jpg

FEATURES

Nuran Wibisono: Menulis Musik Adalah Mimpi Basah

Published

on

Nice Boys: Nuran Wibisono (kedua dari kiri) yang akhirnya merampungkan kumpulan tulisannya dalam buku Nice Boys; Don’t Write Rock N Roll. (Dok. Ronascent)

Nice Boys Don’t Write Rock N Roll; judul buku terbaru Nuran Wibisono ini menyatakan sesuatu yang sejak dulu kala jadi perdebatan: seperti apakah kapasitas seseorang untuk bisa jadi penulis rock n roll? Apakah harus sangar—‘honest and unmerciful’—seperti Lester Bangs di Almost Famous—mengingat William Miller, jurnalis rock cilik di film kesayangan kita itu, sungguh mewakili term ‘nice boys’. Seperti apa seharusnya? Nuran tidak menjawab pertanyaan kita, tapi sudah melakukannya. Whatever, nice boys or bad guys—rock n roll, or anything music in your pocket playlist; semua bisa menulis musik. Nuran bukan tipikal bajingan tengik seperti Bangs atau Thompson—merokok saja tidak. Bukan juga sosok yang terlampau imut untuk bisa dikatakan ‘nice boys’.

Sebagai orang yang biasa-biasa saja, Nuran tanpa kepentingan dan pretensi apapun, tanpa beban dan tanggungan apapun, menulis musik hanya sebagai bentuk kecintaannya mendengarkan Guns N’ Roses, The Doors, dan ribuan band favoritnya. Nuran tidak bisa (atau tidak mau?) dicap sebagai jurnalis musik. Dirinya mungkin bisa disebut pengulas musik ugal-ugalan (sempat baca 5 Album Terburuk Indonesia 2009 dan 2010 di JakartaBeat?). Tapi, disitulah letak serunya buku ini: puluhan esai yang ditulis dengan kecintaan pada musikyang ceplas-ceplos, apa adanya, minim saringan, dan kaya akan kesenangan. Buku ini sangat worthed untuk dimiliki dengan satu alasan bagus: siapapun yang membacanya dipastikan terinspirasi untuk menulis musik juga. Apapun kapasitas mereka.

Tito Hilmawan Reditya, salah satu penulis di Ronascent, berkesempatan menanggapi buku ini di acara bedah buku bersama Nuran, di c2o Library Surabaya, akhir Oktober kemarin. Tito—yang mengaku terinspirasi untuk mulai menulis musik dan membuat zine sesudah membaca esai Nuran yang berjudul “30 Lagu yang Membuat Jembutmu Rontok Satu Persatu”—harus mengakui kalau buku babon ini bisa memicu terbitnya buku-buku sejenis. Selama ini rilisan buku musik di Indonesia amat sangat jarang. Mungkin divisi Elevation Books milik Taufiq Rahman, adalah angin segar untuk permulaan. Elevation sudah merilis tiga buku esai musik, yang salah satunya ditulis Herry Sutresna—pentolan Homicide. Nuran kemudian mulai menyusul, dengan gaya tulisannya sendiri. Kalau Taufiq lebih menyorot hubungan musik dan sosial politik—pun juga Ucok, tapi tulisan Nuran terasa lebih personal dan ringan.

Bersama Ayos Purwoaji (kiri) dan Tito Hilmawan (kanan), Nuran Wibisono membedah bukunya di C2O Library & Collabtive. (Dok. Ronascent)

Esai-esai musik dalam Nice Boys dibuka dengan nama bab yang mengutip lagu-lagu kegemaran Nuran—tentu saja seputaran hair metal dan ‘Almighty’ The Doors. Di bab pertama Nuran menuliskan dengan hangat awal perjumpaannya dengan musik, lalu mengenal jurnalisme musik, lalu bagaimana semua itu bisa mengubah arah hidupnya. Phillips Vermonte—founder Jakarta Beat—tidak sengaja membaca tulisan Nuran saat sedang mencari kontributor untuk website barunya. Perkenalan dengan Nuran dituliskan Phillips di Kata Pengantar buku ini. Lalu di bab kedua dan seterusnya, lebih fokus pada satu bahasan. Membahas hair metal, slank, musik Indonesia—itu diantaranya. Beberapa tulisan tentang Slank belum pernah dimuat dimanapun. Nuran mengaku, proyek menulis Slanknya batal, entah karena apa. Padahal dia sudah selesaikan separuh tulisan.

Untuk tulisan lain kebanyakan sudah dimuat di blog Nuran—nuranwibisono.net—dan di beberapa media. Tito, yang sudah jadi pembaca blog Nuran sejak SMA, menganggap tulisan Nuran selalu tampil apa adanya; ringan, sedikit slebor, agak urakan, dan sangat menyenangkan. Nuran dianggapnya setara Rudolf Dethu, dalam konteks propagandis hair metal nusantara. Keyword hair metal di Google entah bagaimana caranya bisa langsung mendeteksi blog Nuran. Tulisannya tentang Sangkakala ataupun GRIBS atau siapa saja dedengkot rocker gondrong Indonesia sangat-sangat energik. Ada perasaan meluap-luap, dan kecintaan yang tinggi pada objek tulisan.

Ayos Purwoaji moderator diskusi sempat bertanya pada Nuran: apakah ada otokritik untuk buku ini? Nuran menjawab, kekurangannya mungkin buku terlalu tebal: tulisan terlalu banyak. Nuran mengaku terlalu malas untuk mengkurasi, atau mengedit tulisan-tulisannya. Alhasil, buku perdananya terkesan tumplek blek. Sedangkan menurut Tito, buku Nuran mungkin bisa jadi semacam kitab suci bagi pencinta hair metal—atau musik apapun. Atau kalau frasa kitab suci terlalu berat, anggaplah buku ini sebagai buah cinta dari Nuran, pada siapapun yang masih percaya kalau rock n roll belum mati, masih berusaha menggondrongkan rambut, pakai banyak gelang, dan setia pakai DocMart—atau Converse. Meskipun saat bedah bukunya Nuran pakai kaus Seringai, tapi bolehlah itu dimaknai sebagai tanda kalau penulis musik seharusnya terbuka. Nuran sudah membuktikannya: dalam buku yang berlabel rock n roll dan bernuansa sangat glam metal, terselip satu dua tulisan tentang Peter Pan dan… Ahmad Dhani.

Menutup tulisan, Kharis Junandharu dari Silampukau yang sempat hadir di diskusi bertanya pada Nuran dan Tito, tentang pengalaman terbaik yang pernah dialami saat jadi penulis musik. Tapi entah, sepertinya pertanyaan tidak terjawab. Keduanya malah tersenyum dan kemudian tertawa bahagia. Karena seperti kata Nuran:

Bagi orang yang mencintai dunia musik, bekerja sebagai penulis musik adalah mimpi basah… Tapi namanya juga mimpi basah, ketika terbangun setelah merasakan nikmat, kamu akan berdecak kesal. Celana dalammu basah dan lengket. Dan kamu harus mandi besar…”

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

EDITOR'S PICK

The Flins Tone dan Sebuah Pembunuhan (Karakter)

Published

on

Formasi terbaru The Flins Tone: Bimo, Ucup, Kiky, Diko & Rudy. (Dok. TFT/Sandy Whisnu)

Sejak pertama melihat artwork dan mendengar intro-nya, Blossom memiliki karakter yang berbeda. Perpindahan chord serta beberapa fill di dalamnya mengingatkan kita pada era kejayaan emo di masa lalu. Bahkan, mereka tak luput menyelipkan sedikit scream di dalamnya. Terbaca sudah, punk yang berlulurkan emo dan rock terpilih jadi karakter baru The Flins Tone (TFT), yang lagi-lagi masih produktif di tahun ke-15 nya. Single Blossom sendiri mereka rilis baru-baru ini (22/2) secara digital. Lagu tersebut merupakan satu dari lima tracklist yang telah disiapkan untuk mini album Epitome.

Jika kita mendengar TFT sejak awal, ada perkembangan referensi dan sound yang terus beranjak dewasa. Dan di EP terbarunya nanti, mereka tampak ingin membunuh karakter lawas-nya yang cenderung energik, jadi lebih dramatik. Hal itu tertuang pada single Blossom, di mana liriknya berkisah tentang pembunuhan Jason Blossom; seorang karakter fiktif dari komik ‘Archie’ yang sempat diangkat ke serial thriller ‘Riverdale’. “Perkenalanku sama komik Archie itu berawal dari Bimo (drummer TFT), penggila sekaligus kolektor komiknya. Nah ketika diangkat ke serial ‘Riverdale’, aku suka banget. Khususnya pas nyari siapa pembunuh si Jason (Blossom),” ujar Kiky, vokalis dari The Flins Tone.

Ketika tercetus mengangkatnya untuk jadi lirik, Kiky pun menggandeng dua rekannya di radio, yakni Hanamay dan Deylon. “Kita bertiga sama-sama suka, dan nyambung. Deylon ngebantu nulis liriknya secara eksplisit, nah si Hanamay banyak bantu untuk perbendaharaan idiom-nya. Sementara di bagian scream, liriknya aku ambil dari dialog di episode terakhir ‘Riverdale’, biar makin klimaks gitu,” sambungnya. Karakter Jason Blossom sendiri muncul di era 90an, tampak pas dengan ambient musik emo punk yang TFT leburkan di lagu, dan juga mini albumnya nanti.

Beberapa nama seperti Alexis on Fire, Story of the Year, The Used, Jimmy Eat World, Billy Talent, Fugazi, hingga The Starting Line menjadi referensi mereka untuk melakuan brainstorm. “Setelah 3 album, sekarang kami mau eksplore lebih jauh. Rudi yang awalnya pengen ngebawa ke vibes emo 2000-an. Nah kebetulan kita semua ini dasarnya anak emo kali ya, akhirnya pas workshop cepet nyambung satu sama lain,” lanjut Kiky. Pria yang juga bersiar di prime time sore salah satu radio di Surabaya itu juga menyebut jika ekspektasi pendengar terhadap Blossom dan deretan track di Epitome bisa saja berubah. “Vibes di tiap lagunya nanti bakalan berbeda, karena cara mengexplore-nya pun beda-beda. Part scream? ada juga hehe,” ucapnya.

 

Siapkan Studio Update, Video Klip & Bersih-Bersih Instagram

Artwork single anyar TFT, Blossom. (Dok. The Flins Tone)

The Flins Tone punya banyak agenda di awal 2019 ini. Beruntung seluruh materi album mereka telah rampung, jadi saat ini tinggal fokus membangun promosi. Belakangan mereka baru saja melempar episode pertama dari Studio Update yang digarap Redixcover. Beberapa pekan sebelumnya malah Kiky, Ucup, Rudy, Bimo dan Diko tampak sibuk melakukan shoot klip Blossom. Dalam klip yang dikerjakan di Skale Creative Space itu, TFT bekerjasama dengan salah satu fotografer panggung Yogie Husein. “Nah, jadi bulan Maret ini kami mau ngeluarin beberapa episode ‘Epitome Studio Update’. Nanti di episode terakhirnya, baru lah kita kasih tanggal rilis video klipnya,” imbuh Kiky.

Selain kesibukan secara audio dan visual, media sosial pun tak luput untuk mereka perhatikan. Instagram milik The Flins Tone yang sudah memiliki lebih dari 5 ribu pengikut itu tiba-tiba di awal Januari nihil postingan. Beberapa pertanyaan dan keheranan sempat menghampiri mereka lantaran akunnya yang tiba-tiba jadi pasif itu. Kiky mewakili rekan-rekannya pun mengakui kalau mereka sengaja ‘bersih-bersih’ Instagram. “Itu cuma buat menyesuaikan sama konsep baru kami sih. Jadi emang kita rebranding gitu lah istilahnya,” perihal apa saja yang akan mereka tampilkan nantinya, Kiky meminta untuk menunggu tanggal mainnya, sembari menikmati gimmick-gimmick yang telah mereka siapkan sampai Epitome resmi dirilis.

Dengan hampir rampungnya mini album Epitome, sekaligus menambah perbendaharaan diskografi mereka. Epitome akan menjadi rilisan keempat The Flins Tone, sekaligus EP kedua setelah debut Flinsnopsis tahun 2010 silam. Sementara dua LP juga telah mereka rilis setelahnya, yaitu He’s The Best Actor For This Episode (2012) yang menjadi album persembahan untuk mendiang drummernya alm. Mahdi dan terakhir ada Good News (2015) yang rilis ke dalam 3 format, CD, kaset dan digital streaming.

Continue Reading

EDITOR'S PICK

Fraud: Release The Beast

Published

on

Fraud ketika tampil di Grand City pertengahan Februari kemarin (16/2) dengan memainkan beberapa materi baru. (Foto: Haryo Bahrul Ilmi)

Seperti yang kita ketahui bersama, selepas album kedua Movement Before Mouthment rilis empat tahun lalu, Fraud tidak berhenti untuk menciptakan karya baru. Dan masuk di 2019 ini, mereka sedikit memberi bocoran tentang album barunya. Mengutip dari statement Kecenk, gitaris dari Fraud, ia sempat mengujarkan niat bandnya untuk tidak lagi menggunakan kata-kata umpatan dalam liriknya.

Lebih lanjut lagi, Kecenk menjelaskan sebagian dari lirik di album ketiganya nanti akan rilis tahun ini. Isinya masih tetap berkutat tentang refleksi mereka terhadap lingkungan sosial dalam bentuk kritik yang membangun. Tak luput beberapa permasalahan yang terjadi di tanah air dalam beberapa waktu lalu, termasuk juga suntikan motivasi untuk para korban bencana alam yang terjadi baru-baru ini. “Jadi di album ketiga ini kami lebih menata kalimat dan diksi. Tidak seperti album-album sebelumnya,” terang Kecenk ketika kami hubungi pekan lalu. Dirinya juga tak lupa menyelipkan pesannya untuk lebih mempertahankan lokalitas Surabaya. “Karena kita harus tetap jadi diri sendiri, mempertahankan esensi kelokalan, supaya bisa memperkuat agar trend dan industrinya tidak tergeser dan berubah-ubah,” sambungnya.

Kini Fraud tengah fokus pada tahap revisi dan evaluasi materi yang telah selesai digarap.  Dengan mengenyampingkan ego, band yang baru saja berpisah dengan drummernya (Edel) akhir tahun kemarin coba memperhatikan hal-hal terkecil untuk album barunya, termasuk urusan menggaet produser. Nantinya, nama produser yang telah mereka pilih akan diumumkan pasca single barunya rilis. Selain itu, pemilihan studio dan sound engineering juga mereka fokuskan. Buktinya, proses rekaman dilakukan di beberapa studio berbeda, khususnya untuk take drum, Fraud menginginkan studio yang nyaman dengan feel akustik yang mumpuni.

Dalam waktu dekat, sembari menunggu menunggu proses album yang berjalan sejak pertengahan 2018 rampung, Fraud akan merilis ulang album pertama dan keduanya. Kali ini, band yang sempat berbagi panggung dengan Sick Of It All ini memlih format kaset untuk merilis kedua album lawas-nya. “Setelah rampung produksinya, kami akan membuat launching atau bahkan secret gigs mungkin,” tutur Kecenk.

Fraud (1)
Fraud (2)
Fraud (3)
Fraud (4)
Fraud (5)
Fraud (6)
Fraud (7)
Fraud (8)
Fraud (9)
Fraud (10)
Fraud (11)
Fraud (12)
Fraud (13)
Fraud (14)
IMG_6929
Continue Reading

EDITOR'S PICK

Berselancarnya The Panturas & Polka Wars di Surabaya

Published

on

Ada sedikit keraguan kala The Panturas gagal berselancar di Surabaya Oktober kemarin. Nuansa surf-rock yang diusung sekelompok alumnus jurnalistik ini tidak memancar, mereka justru hanya terdengar sebagai band rock melayu biasa. Namun ketika Buka Musik Connectified chapter Surabaya membawa mereka ke Nens Corner akhir pekan kemarin (14/12), ceritanya berbeda. The Panturas benar-benar Mabuk Laut bersama ratusan penonton yang merelakan mata perih karena asap rokok hingga kepala puyeng akibat alkohol.

Bagi sebagian besar penonton yang hadir, kami yakin mereka semua mendapat klimaks. Diawali dengan dua band pendatang baru Surabaya yang unjuk gigi; Alter dan Eisen, hingga dibawa membeku bersama Cotswolds dan puncak dari segala kerusuhan ada pada si protagonis Polka Wars. Pemilik album Axis Mundi ini sejatinya menurunkan tempo pasca meliarnya crowd The Panturas. Tapi tak bisa dipungkiri jika musikalitas terus memancarkan aura semangat. Setidaknya, Surabaya telah memberikan kesan manis bagi Polka Wars dan The Panturas yang hingga akhir tahun ini melaksanakan tur di 6 kota di bawah platform musik Buka Musik milik Bukalapak.

Continue Reading

Surabaya