Gaung – Opus Contra Naturam: Berada Di Ambang Sakit Jiwa

Gaung – Opus Contra Naturam

Opus Contra Naturam, sebuah album yang coba melawan alam dan bla-bla-bla. Khusus untuk duo bernama Gaung, mereka ini post-rock yang meluap-luap, bahaya laten dengan ampli Orange, menabuh genderang sekeras-kerasnya, sampai lampu mati, sampai gerah, sampai biadab, sampai sekarat. Mereka menulis album yang berhulu ledak tinggi—naik, naik, naik, sampai panik dan hancur sendiri—benar-benar ini adalah sebuah keasyikan dan ego pribadi.

Jangan dengarkan album ini di motor pakai headset jelek kalian, atau di audio mobil, atau di manapun yang berpotensi melabrak dan menabrak orang sampai mati. Semenyeramkan yang kalian kira, semenghanyutkan yang kalian bayangkan. Dengan cover mata lebar yang siap menusuk mata, secara pribadi, lagi-lagi kami tekankan ada banyak bahaya berkeliaran di album ini. Secara halus seperti Crimson Eyes-nya Sigmun tapi nir vokal, dengan tetambahan sound-sound gaib yang dipinjam dari air got neraka. Terdengar kasar lagi berisik, kadang apa adanya pula, monoton mempermainkan jalan pikiran.

Track pembuka, Lucinae—seperti mimpi buruk orang keparat usai meminum obat batuk kemenyan. Eridanus Supervoid—jika tidak salah eja—kalian bisa terkapar sambil memintal besi dengan gigi geraham hingga menembus lambung yang terkoyak jadi tinja timah panas. Menantikan si beruntung yang bisa dapatkan sisi halusinatif dalam tepar mabuk ciu saat hampir subuh. Persetan jurnalisme musik paten, persetan Almost Famous—dan impian menjudge semua rockstar di dunia semau gue. Apa bedanya pendengaran dengan puisi; kalau nyatanya Gaung tidak bisa diperjelas dengan bahasa-bahasa abjad manusia. Ini melampaui alam pikir, tanpa berniat hiperbolis.

Old Masters: A Comedy—mau ngomel apalagi? Orang gila, penulis gila bodoh yang dengan gobloknya meracau demi review sisipan, demi mengabadikan apa yang tidak bisa diabadikan oleh waktu?—atau harus mengalah dan jadi budak kehampaan mimpi, tidur sambil ngaceng, dionani oleh pantat-pantat dalam lelap. Bibir-bibir kering yang bau asbak, selama dua ribu empat ratus tiga belas abad, hanya merokok dan merokok, menabung umur di pejagalan nikotin. Lembab, dan hanya esok yang tahu akan seperti apa jadinya.

Evidence Of Extraordinary Bliss, seketika membawa muak yang sudah jadi keseharian. Di sini seakan-akan kebodohan bertebaran di manapun, menyentuh sisi kemanusian yang kadang bikin menangis. Ingin rasanya gorok diri sendiri, putus asa. Namun lebih baik dihunuskan ke perut. Kuncinya, ancaman dan intimidasi. Jurnalis CNN Indonesia melaporkan apa-apa yang perlu dilaporkan dan nantinya akan diolah oleh Gaung jadi bahasa Filipina dengan backsound monoton. Siapa yang sudah belajar bahasa Filipina—atau baiklah tidak usah belajar. Dengarkan irama sudut bibirnya: dia wartawan yang melihat temannya digebuki sampai mati. “Kehidupan sebagai jurnalis tidak pernah tenang,” kata si pembawa berita, melaporkan. Di Filipina sana nasibmu akan empuk seperti bokong para pemimpin yang doyan mengunyah kebebasan. Saat kemanusiaan telah mati, saat nilai-nilai jurnalistik berada di asam lambung yang berkuasa.

“Saya melihat rekan-rekan saya terkapar di tanah, tewas bersimbah darah. Bulu kuduk saya berdiri, air mata saya mengucur. Saya terpukul dan saat itu saya tahu bahwa tidak ada jurnalis yang aman di sini,” Mau apa wahai manusia? Dengarkan saja ini, sampai anggurmu tinggal tetesan yang tak mungkin kau sikat di ujung botol. Lempar botol ke tempat sampah, dan meleset, pecah jadi lima. Tarik nafas dalam-dalam, tidurlah sampai mati…

Mahasiswa sastra. Kecanduan Tebs dan masih mengimani Billie Joe Armstrong sebagai nabi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *