Connect with us
https://ronascent.biz/wp-content/uploads/2017/07/ronascent-adv-copy.jpg

EVENTS

Sinkronisasi Synchronize Fest & Asian Para Games Hadirkan Festival Ramah Difabel

Published

on

Ebiet G. Ade, salah satu penampil yang paling senior di Synchronize Fest 2017. (Foto: Arina Habaidillah)

Bagi sebagian orang, Synchronize Festival jadi agenda wajib untuk menikmati sederet musisi nasional dalam satu venue. Tapi bagi sebagiannya lagi, acara milik Demajors dan Dyandra Promosindo ini menjadi ajang hitung mundur Asian Para Games; pesta olahraga kaum difabel yang digelar tahun depan di Indonesia. Sesuai dengan namanya, selain menyinkronisasikan musisi dari berbagai generasi dan genre, di tahun ini Synchronize pun tersinkronisasikan dengan tujuan negeri ini, yaitu menjadikan Indonesia negara ramah difabel.

Lupakan sejenak tentang bagaimana Ebiet G. Ade menyapa ramah pendengar-pendengar kecilnya yang kini sudah dewasa, Tulus yang mulus berselancar di urat melankolis penonton, hingga Seringai yang selalu menyeringai demi moshpit idaman semua band cadas. Mari kita menengok ke arah lain, arah di mana banyak para atlet difabel berkumpul untuk bersiap-siap mengupas 365 hari terhitung sejak hari pertama Synchronize Fest 2017 digelar (6/10) di Gambir Expo Kemayoran, Jakarta.

Berbeda dari tahun sebelumnya, kali ini Synchronize Fest coba berkomitmen untuk jadi festival musik yang ramah untuk sahabat difabel. Dari mata penulis, komitmen itu terbukti dengan disediakannya area khusus difabel hingga signage sebagai petunjuk bagi mereka untuk menikmati acara. Pada hari pertama, penulis sempat melihat seorang difabel memecah penonton yang ditemani guard menuju area khusus mereka di depan FOH Audio Mixer. Maka dari itu, tak heran jika kemudian Asian Para Games 2018 memilih Synchronize Fest 2017 sebagai representasi pesta olahraga tersebut.

Area khusus difabel yang disediakan oleh penyelengara Synchronize Fest 2017. (Foto: Arina Habaidillah)

Aulia Mahariza selaku Director of Ceremonies Indonesia 2018 Asian Para Games mengatakan bahwa Synchronize Fest adalah festival musik di Indonesia yang difabel friendly, “Saya nggak expect kalo akan seperti ini, sampe ada signage di lantai juga dan beberpa tempat untuk para difabel. Saya sih baru lihat ini ada festival musik yang difabel friendly. Kalo di luar negeri mungkin sudah banyak, dan bahkan standarnya memang mustinya harus begitu sih. Kita aja yang ketinggalan,” ujarnya.

Synchronize Festival tahun ini berhak dapat pujian, salah satu faktornya karena lokasi venue yang selalu bersih hingga equipment para musisi yang sangat memadai. Sejauh mata memandang, memang Synchronize Festival berhasil memadupadankan berbagai musisi, dari yang rajin hingga jarang perform, dari musisi muda hingga senior, dari ketukan paling lambat hingga paling kencang; semua melebur jadi satu festival dengan lebih dari 100 musisi nasional yang jadi line up.

Menariknya lagi, penampilan semua artis yang dibagi ke lima panggung dapat di dengar audio-nya melalui empat radio online. District Stage diwakili Radio Kemarin Sore, Dynamic Stage oleh Demajors Radio, Lake Stage disiarkan Ruru Radio, dan Forest Stage bersama Pamit Yang2an. Ini sekaligus juga membuktikan bagaimana Synchronize Fest coba mengajak banyak orang untuk kembali mendengarkan radio sembari mengenal pemain-pemain di radio online saat ini, sekaligus juga untuk menjangkau penonton yang lebih luas. Memang benar jika sinkronisasi merupakan kunci untuk mengembangkan musik nasional, dan Synchronize Fest pun menerapkannya.

Jadi, jika festival lain sibuk mengundang artis internasional, membuat award, dan membesar-besarkan logo sponsor, maka Synchronize Fest cukup memberikan contoh simpel; yakni menyinergikan semua pelaku dan penikmat musik dengan porsinya masing-masing. Ya, karena itu adalah kunci utama untuk menumbuh kembangkan musik nasional.

 

Rakjat Djelatah yang tak segan untuk mengepul ilmu dari panggung ke panggung bebunyian. Suka menggagungkan katakata pada limit kepsyen instagram belaka. Akhir-akhir ini, ia sedang belajar menulis yang baik dan benar untuk kemaslahatan umat.

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

EVENTS

Galeri Foto: Synchronize Fest 2018

Published

on

Selama tiga hari kami berkelana di tengah padatnya Gambir Expo Kemayoran, Jakarta. Baik di atas atau bawah stage terasa sesak. Mata dan telinga kami kenyang terpuaskan oleh penampilan ratusan musisi lintas generasi. Sebuah kenyataan di mana musik Indonesia memang beragam dan menyenangkan. Silahkan menikmati hasil jepretan fotografer kami.

Tukang Foto keliling, yang berusaha segiat mungkin, demi mengisi dompet dan perutnya.

Continue Reading

EDITOR'S PICK

Menengok Wajah Musik Indonesia di Synchronize Fest 2018

Published

on

Sinkronisasi musisi antar generasi masih jadi issue utama di Synchronize Fest ketiganya. (Foto: Agastiko)

“Jika ada orang tanya, seperti apa sih musik Indonesia? Suruh datang aja ke Synchronize Festival.” Begitulah kira-kira celetuk Iga Masardi di sela-sela set Barasuara di event tersebut. Yap, tahun ini salah satu festival musik terbesar di Indo ini kembali menyapa pemuda-pemudi yang haus akan lantunan musik Indonesia dari generasi ke generasi.

Festival musik yang dikerjakan Dyandra Promosindo dan Demajors ini kembali digelar untuk ketiga kalinya di Gambir Expo Kemayoran, Jakarta. Seperti tahun-tahun sebelumnya, signature Synchronize Festival ada deretan pengisi acara yang banyak, hingga ratusan. Lelah? memang. Tapi mood yang terbangun untuk melihat segala macam bentuk dan tampilan musik lintas genre mengalahkan segalanya. Hiperboliknya, event ini sudah cukup menggambarkan wajah musik Indonesia dulu dan sekarang.

.Feast di Synchronize Fest kemarin. (Foto: Agastiko)

Hari pertama, kalau dideskripsikan dengan satu kata sih ya “gendheng”. Deretan aksi panggung yang bikin geleng-geleng hingga ngakak sudah tersaji. Aksi dari Mesin Tempur misalnya. Band grindcore Bandung ini nyeleneh dengan membawa ayam jago ke atas panggung.  Tak mau kalah dengan Mesin Tempur, band bernuansa Betawi, Jiung juga menyuguhkan aksi panggung yang gila. Ajul, sang vokalis dengan enaknya turun panggung lalu mandi ditengah-tengah penonton. Sesudah maghrib, insaf sejenak. aksi panggung yang gila sudah berkurang, namun digantikan dengan set-set menawan. Mooner, yang pertama kalinya main di Synchronize Fest disambut antusias oleh penonton yang  menjadi-jadi. Bergeser ke District Stage, ada Reality Club yang tak kalah histeris-nya disambut. Makin malam makin jadi. Kaki sudah lelah, tubuh berkeringat, rambut lepek, baterai gadget mulai lowbatt. Tapi, jam 21.30 masih ada dua penampil yang sayang untuk dilwati. Di Dynamic Stage ada dominasi anak-anak muda sedang “menunggangi badai” dengan Barasuara. Sedangkan di Forest Stage, para senior indie sedang “menikmati coklat” bersama Pure Saturday”. Puncaknya, penampilan Naif, si tukang sedot keringat penonton.

Lanjut hari kedua, kali ini nuansa nostalgia terasa lebih kental. Deretan pengisi acara seperti Godbless, Sheila On 7, dan Project Pop ada di hari itu. Di set Godbless, penonton dipenuhi  kalangan senior pecinta rock lawas. Tembang-tembang hits seperti Musisi, Kehidupan, Rumah Kita, Semut Hitam, dan Panggung Sandiwara membangun vibes karaoke bersama. Begitupun Sheila On 7 yang penuh sesak oleh penonton lintas generasi. Sementara di Distric Stage, musik jenaka Project Pop begitu merindukan era di mana grup vokal itu tidak harus selalu keren, tapi juga bisa receh nan menyenangkan. Sang Raja Dangdut, Rhoma Irama dan Soneta Group akhirnya menutup hari kedua. Pesonanya yang kharismatik sebagai maestro selalu berhasil menyebarkan penyakit menular; (baca: goyang).

Well, dua hari non-stop berkeliling luasnya venue. Pindah dari satu stage ke stage lain, sebenarnya ada pikiran untuk menyudahinya. Tapi apa daya, nama-nama seperti Snickers And The Chicken Fighters (SATCF), Ramengvrl hingga NOXA terlalu sayang jika terlewatkan. Jamrud pun hadir di Dynamic Stage. Lagu-lagu lawas-nya masih terdengar lantang meski ada perubahan pada karakter suaranya. Lagi-lagi dan lagi-lagi, penonton yang dibesarkan era MTV Ampuh sangat dimanjakan. Kali ini giliran Padi Reborn beserta penutup Synchronize Festival 2018 secara keseluruhan; Dewa 19 bersama Once & Ari Lasso. Fine! ini sebuah pertunjukan langka. Deretan megahits yang versi bajakannya tak kalah laris ini membuat penonton semakin giting. Dua eks vokalis terbaik itu tampil dalam satu stage pertama kalinya. Di tengah nikmatnya mengenang masa muda, kami pun berpikir: bagaimana caranya si organizer melakukan proses negosiasi dengan mereka yah? Ahh sudahlah, sekalipun kami bisa melakukannya, pasti kami tak sanggup membayarnya. Akhir cerita, kami puas dan semua penonton lainnya pun demikian. Harapan kami, semoga konsep acara ini terus berkembang. Jangan sampai termakan jenuh. Karena pada dasarnya, wajah musik nusantara ada di sini (untuk saat ini). See you next year!

An amateur dilettante | Straight Edge | Star Wars’ die-hard fans | Records Junkie |

Continue Reading

EVENTS

Brotherground 2018: Beside Primadona, Down For Life Mempesona & Klimaks Death Vomit

Published

on

Mengadakan festival musik hingga edisi ke-5 bukan perkara mudah. Apalagi dengan line up yang konsisten kencengnya. Tahun ini Beside jadi primadona, namun Down For Life tak kalah mempesona, ditambah tenaga Death Vomit yang tak pernah habis hingga tuan rumah Fraud yang selalu beringas. Kami merangkumnya dalam foto-foto yang bisa memanjakan mata kalian.

Tukang Foto keliling, yang berusaha segiat mungkin, demi mengisi dompet dan perutnya.

Continue Reading

Surabaya