Sinkronisasi Synchronize Fest & Asian Para Games Hadirkan Festival Ramah Difabel

Ebiet G. Ade, salah satu penampil yang paling senior di Synchronize Fest 2017. (Foto: Arina Habaidillah)

Bagi sebagian orang, Synchronize Festival jadi agenda wajib untuk menikmati sederet musisi nasional dalam satu venue. Tapi bagi sebagiannya lagi, acara milik Demajors dan Dyandra Promosindo ini menjadi ajang hitung mundur Asian Para Games; pesta olahraga kaum difabel yang digelar tahun depan di Indonesia. Sesuai dengan namanya, selain menyinkronisasikan musisi dari berbagai generasi dan genre, di tahun ini Synchronize pun tersinkronisasikan dengan tujuan negeri ini, yaitu menjadikan Indonesia negara ramah difabel.

Lupakan sejenak tentang bagaimana Ebiet G. Ade menyapa ramah pendengar-pendengar kecilnya yang kini sudah dewasa, Tulus yang mulus berselancar di urat melankolis penonton, hingga Seringai yang selalu menyeringai demi moshpit idaman semua band cadas. Mari kita menengok ke arah lain, arah di mana banyak para atlet difabel berkumpul untuk bersiap-siap mengupas 365 hari terhitung sejak hari pertama Synchronize Fest 2017 digelar (6/10) di Gambir Expo Kemayoran, Jakarta.

Berbeda dari tahun sebelumnya, kali ini Synchronize Fest coba berkomitmen untuk jadi festival musik yang ramah untuk sahabat difabel. Dari mata penulis, komitmen itu terbukti dengan disediakannya area khusus difabel hingga signage sebagai petunjuk bagi mereka untuk menikmati acara. Pada hari pertama, penulis sempat melihat seorang difabel memecah penonton yang ditemani guard menuju area khusus mereka di depan FOH Audio Mixer. Maka dari itu, tak heran jika kemudian Asian Para Games 2018 memilih Synchronize Fest 2017 sebagai representasi pesta olahraga tersebut.

Area khusus difabel yang disediakan oleh penyelengara Synchronize Fest 2017. (Foto: Arina Habaidillah)

Aulia Mahariza selaku Director of Ceremonies Indonesia 2018 Asian Para Games mengatakan bahwa Synchronize Fest adalah festival musik di Indonesia yang difabel friendly, “Saya nggak expect kalo akan seperti ini, sampe ada signage di lantai juga dan beberpa tempat untuk para difabel. Saya sih baru lihat ini ada festival musik yang difabel friendly. Kalo di luar negeri mungkin sudah banyak, dan bahkan standarnya memang mustinya harus begitu sih. Kita aja yang ketinggalan,” ujarnya.

Synchronize Festival tahun ini berhak dapat pujian, salah satu faktornya karena lokasi venue yang selalu bersih hingga equipment para musisi yang sangat memadai. Sejauh mata memandang, memang Synchronize Festival berhasil memadupadankan berbagai musisi, dari yang rajin hingga jarang perform, dari musisi muda hingga senior, dari ketukan paling lambat hingga paling kencang; semua melebur jadi satu festival dengan lebih dari 100 musisi nasional yang jadi line up.

Menariknya lagi, penampilan semua artis yang dibagi ke lima panggung dapat di dengar audio-nya melalui empat radio online. District Stage diwakili Radio Kemarin Sore, Dynamic Stage oleh Demajors Radio, Lake Stage disiarkan Ruru Radio, dan Forest Stage bersama Pamit Yang2an. Ini sekaligus juga membuktikan bagaimana Synchronize Fest coba mengajak banyak orang untuk kembali mendengarkan radio sembari mengenal pemain-pemain di radio online saat ini, sekaligus juga untuk menjangkau penonton yang lebih luas. Memang benar jika sinkronisasi merupakan kunci untuk mengembangkan musik nasional, dan Synchronize Fest pun menerapkannya.

Jadi, jika festival lain sibuk mengundang artis internasional, membuat award, dan membesar-besarkan logo sponsor, maka Synchronize Fest cukup memberikan contoh simpel; yakni menyinergikan semua pelaku dan penikmat musik dengan porsinya masing-masing. Ya, karena itu adalah kunci utama untuk menumbuh kembangkan musik nasional.

 

Rakjat Djelatah yang tak segan untuk mengepul ilmu dari panggung ke panggung bebunyian. Suka menggagungkan katakata pada limit kepsyen instagram belaka. Akhir-akhir ini, ia sedang belajar menulis yang baik dan benar untuk kemaslahatan umat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *