Connect with us
https://ronascent.biz/wp-content/uploads/2017/07/ronascent-adv-copy.jpg

EVENTS

Momen Manis Fazerdaze di Kampung Halaman Sang Ibu

Published

on

Meski sempat kecewa karena rilisannya habis di Jepang, tapi penonton tidak pernah menyesal melihat penampilan Fazerdaze kemarin di Jakarta. (Foto: Agita Bela)

I know I’m a lucky girl!” Begitulah sepenggal lirik di lagu milik Amelia Murray atau yang dikenal dengan nama panggung Fazerdaze. Well, lucky you (boys and girls). Sabtu lalu (21/10) diprakarsai oleh 630 Records, Studiorama, dan Noise Whore, Fazerdaze untuk pertama kalinya tampil di Jakarta dalam rangkaian tur Asia mereka. Sebelumnya ada beberapa negara di Asia yang terlebih dahulu disinggahi Fazerdaze, seperti Jepang, Filipina, Hong Kong, Taiwan, Malaysia, dan Singapura. Namun, dari beberapa negara di Asia tersebut, Fazerdaze memilih untuk mengakhiri rangkaian tur Asia mereka di Indonesia.

Dihelat di Rossi Musik Fatmawati, venue sudah dipadati penonton sejak pukul 16.00 WIB, padahal acara baru dimulai pukul 19.00 WIB. Maklum, antusias penonton terhadap Fazerdaze memang besar di Indonesia. Terbukti dengan tiket yang sudah sold out di hari ketiga penjualan.

Keseruan malam itu dibuka oleh indie-pop asal Jakarta, Sharesprings. Ada hal unik dari band yang satu ini. Para personel Sharesprings nampak bingung dan terkadang kehabisan kata-kata saat di atas panggung. “Mungkin gara-gara kita jarang main kali ya”, celetuk sang gitaris. Membawakan 11 lagu, Sharesprings sukses mencairkan suasana malam itu sebagai opening act.

Pembuka kedua malam itu dilanjutkan oleh band asal Yogyakarta, Grrrl Gang. Unit Indie-pop yang sudah cukup dikenal ini juga sukses memanaskan malam itu. Membawakan 10 lagu, Grrrl Gang mampu mengajak para penonton untuk sing-a-long di dua single andalan mereka berjudul ‘Bathroom’ dan ‘Thrills’.

Dan penampilan yang ditunggu-tunggu pun tiba. Tepat pukul 21.00, Fazerdaze naik ke atas panggung. Set malam itu dibuka dengan lagu ‘Half-Figured’. Kemudain dilanjut dengan dua track lawas ‘Break Your Walls’ dan ‘Heavenly Sweet’. Sebelum track keempat malam itu, Amelia sempat menyapa penonton dengan Bahasa Indonesia. Maklum, Indonesia merupakan kampung halaman ibunya. Tak heran jika kemarin Amelia nampak tampil lepas, seperti di rumahnya sendiri.

‘Misread’ didaulat sebagai track keempat malam itu dan penonton mulai riuh dan kompak ber-koor masal menyanyikan lagu-lagu Fazerdaze. Ada kejadian unik malam itu. Di tengah-tengah set, terlihat sesekali Amelia meneguk anggur merah cap Orang Tua khas Indonesia. Momen unik lainnya yaitu ketika Fazerdaze membawakan ‘Lucky Girl’. Melihat penonton yang mulai gila, berdansa, dan crowd-surf, Amelia spontan untuk melompat turun ke arah penonton dan ikut bersenang-senang di bawah. Dan layaknya band-band pada umumnya, Fazerdaze juga menyuguhkan encore yang ditutup dengan track ‘Little Uneasy’.

Sebuah penutup rangkaian tur Asia yang manis dari Fazerdaze. Walaupun beberapa penonton sedikit kecewa lantaran semua records (kaset, cd, dan vinyl) Fazerdaze telah sold out di Jepang, namun tetap terbayar dengan kehangatan atmosfer gig. Dan malam itu ditutup dengan sesi foto dan signing merchandise untuk mereka yang beruntung.

An amateur dilettante | Straight Edge | Star Wars’ die-hard fans | Records Junkie |

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

EVENTS

The Panturas & Sky Sucahyo Berselancar di Iklim Tropis Surabaya

Published

on

Sebagai kolektif surf-rock, The Panturas memang pandai membawa suasana pendengarnya menuju hawa pantai yang identik dengan tropis nan sejuk. Seperti yang mereka sajikan pada klip Fisherman’s Slut, di mana nuansa pantai hingga bajak laut memainkan imajinasi. Sayang, vibes tersebut gagal muncul kala mereka bertandang pertama kalinya ke Surabaya. Iklim tropis yang tidak sejuk sama sekali membuat penonton gagal berimajinasi liar.

Tampil di volume ketiga Jayabaya Raya yang berlangsung kemarin Minggu (28/10) di Skale Space, keempat pemuda ini memainkan nomor-nomor andalannya, termasuk Sunshine yang berkolaborasi dengan solois cantik Sky Sucahyo. Nama terakhir pun juga ikut menampilkan lagu-lagu andalan di iklim yang sama. Sky Suchayo yang melejit lewat Lejar nampak sedikit kurang menggairahkan kala setting panggung yang kurang sesuai untuk menampilkan musik-musik sederhananya. Namun siapa yang tidak terkesima oleh paras manisnya? Setelan dress abu-abunya menemani olah vokal, genjrengan ukulele serta tiupan kazoo yang menawan. Cara bernyanyinya mengingatkan kita sejenak pada Zooey Deschanel.

Kemarin juga ada Headcrusher, Beeswax dan Robot yang bergantian tampil menguras keringat penonton (meski tidak moshing). Anehnya, hanya pada saat penampilan Sky Sucahyo bertiup angin kencang cukup lama. Ya, bisa jadi dialah angin segar bagi para penonton yang terlalu lemas menonton pertunjukan musik dominan pria.

Seorang mahasiswa hampir abadi yang menghabiskan sebagian besar waktu di kehidupanya dengan hal hal penuh manfaat seperti mengabadikan wajah wajah ekstase para pemuda pemudi bangsa di atas panggung.

Continue Reading

EVENTS

Galeri Foto: Synchronize Fest 2018

Published

on

Selama tiga hari kami berkelana di tengah padatnya Gambir Expo Kemayoran, Jakarta. Baik di atas atau bawah stage terasa sesak. Mata dan telinga kami kenyang terpuaskan oleh penampilan ratusan musisi lintas generasi. Sebuah kenyataan di mana musik Indonesia memang beragam dan menyenangkan. Silahkan menikmati hasil jepretan fotografer kami.

Tukang Foto keliling, yang berusaha segiat mungkin, demi mengisi dompet dan perutnya.

Continue Reading

EDITOR'S PICK

Menengok Wajah Musik Indonesia di Synchronize Fest 2018

Published

on

Sinkronisasi musisi antar generasi masih jadi issue utama di Synchronize Fest ketiganya. (Foto: Agastiko)

“Jika ada orang tanya, seperti apa sih musik Indonesia? Suruh datang aja ke Synchronize Festival.” Begitulah kira-kira celetuk Iga Masardi di sela-sela set Barasuara di event tersebut. Yap, tahun ini salah satu festival musik terbesar di Indo ini kembali menyapa pemuda-pemudi yang haus akan lantunan musik Indonesia dari generasi ke generasi.

Festival musik yang dikerjakan Dyandra Promosindo dan Demajors ini kembali digelar untuk ketiga kalinya di Gambir Expo Kemayoran, Jakarta. Seperti tahun-tahun sebelumnya, signature Synchronize Festival ada deretan pengisi acara yang banyak, hingga ratusan. Lelah? memang. Tapi mood yang terbangun untuk melihat segala macam bentuk dan tampilan musik lintas genre mengalahkan segalanya. Hiperboliknya, event ini sudah cukup menggambarkan wajah musik Indonesia dulu dan sekarang.

.Feast di Synchronize Fest kemarin. (Foto: Agastiko)

Hari pertama, kalau dideskripsikan dengan satu kata sih ya “gendheng”. Deretan aksi panggung yang bikin geleng-geleng hingga ngakak sudah tersaji. Aksi dari Mesin Tempur misalnya. Band grindcore Bandung ini nyeleneh dengan membawa ayam jago ke atas panggung.  Tak mau kalah dengan Mesin Tempur, band bernuansa Betawi, Jiung juga menyuguhkan aksi panggung yang gila. Ajul, sang vokalis dengan enaknya turun panggung lalu mandi ditengah-tengah penonton. Sesudah maghrib, insaf sejenak. aksi panggung yang gila sudah berkurang, namun digantikan dengan set-set menawan. Mooner, yang pertama kalinya main di Synchronize Fest disambut antusias oleh penonton yang  menjadi-jadi. Bergeser ke District Stage, ada Reality Club yang tak kalah histeris-nya disambut. Makin malam makin jadi. Kaki sudah lelah, tubuh berkeringat, rambut lepek, baterai gadget mulai lowbatt. Tapi, jam 21.30 masih ada dua penampil yang sayang untuk dilwati. Di Dynamic Stage ada dominasi anak-anak muda sedang “menunggangi badai” dengan Barasuara. Sedangkan di Forest Stage, para senior indie sedang “menikmati coklat” bersama Pure Saturday”. Puncaknya, penampilan Naif, si tukang sedot keringat penonton.

Lanjut hari kedua, kali ini nuansa nostalgia terasa lebih kental. Deretan pengisi acara seperti Godbless, Sheila On 7, dan Project Pop ada di hari itu. Di set Godbless, penonton dipenuhi  kalangan senior pecinta rock lawas. Tembang-tembang hits seperti Musisi, Kehidupan, Rumah Kita, Semut Hitam, dan Panggung Sandiwara membangun vibes karaoke bersama. Begitupun Sheila On 7 yang penuh sesak oleh penonton lintas generasi. Sementara di Distric Stage, musik jenaka Project Pop begitu merindukan era di mana grup vokal itu tidak harus selalu keren, tapi juga bisa receh nan menyenangkan. Sang Raja Dangdut, Rhoma Irama dan Soneta Group akhirnya menutup hari kedua. Pesonanya yang kharismatik sebagai maestro selalu berhasil menyebarkan penyakit menular; (baca: goyang).

Well, dua hari non-stop berkeliling luasnya venue. Pindah dari satu stage ke stage lain, sebenarnya ada pikiran untuk menyudahinya. Tapi apa daya, nama-nama seperti Snickers And The Chicken Fighters (SATCF), Ramengvrl hingga NOXA terlalu sayang jika terlewatkan. Jamrud pun hadir di Dynamic Stage. Lagu-lagu lawas-nya masih terdengar lantang meski ada perubahan pada karakter suaranya. Lagi-lagi dan lagi-lagi, penonton yang dibesarkan era MTV Ampuh sangat dimanjakan. Kali ini giliran Padi Reborn beserta penutup Synchronize Festival 2018 secara keseluruhan; Dewa 19 bersama Once & Ari Lasso. Fine! ini sebuah pertunjukan langka. Deretan megahits yang versi bajakannya tak kalah laris ini membuat penonton semakin giting. Dua eks vokalis terbaik itu tampil dalam satu stage pertama kalinya. Di tengah nikmatnya mengenang masa muda, kami pun berpikir: bagaimana caranya si organizer melakukan proses negosiasi dengan mereka yah? Ahh sudahlah, sekalipun kami bisa melakukannya, pasti kami tak sanggup membayarnya. Akhir cerita, kami puas dan semua penonton lainnya pun demikian. Harapan kami, semoga konsep acara ini terus berkembang. Jangan sampai termakan jenuh. Karena pada dasarnya, wajah musik nusantara ada di sini (untuk saat ini). See you next year!

An amateur dilettante | Straight Edge | Star Wars’ die-hard fans | Records Junkie |

Continue Reading

Surabaya