Merasakan Gebukan Termuda Hingga Teriakan Tertua di Brotherground 2017

Kolektif black metal Dry, jadi salah satu band tertua yang tampil di Brotherground 2017. (Foto: Agastiko)

Jika ditanya apa yang berbeda di tiap edisi Brotherground, tentu yang terdepan ialah deretan performernya. Kemudian, tanggal penyelenggaraan, sampai harga tiketnya: hal minor untuk gelaran acara musik ter-major di Surabaya saat ini. Masih mengusung spirit persaudaraan bawah tanah (baca: brotherground), festival ini tak habisnya merotasi potensi-potensi terbaik yang ada di kotanya. Tak berhenti di metal-HC, punk hingga hip-hop pun ditampilkan dengan satu syarat, yakni karya. Cocaine Crimes dan Grounderz Records tidak menerima band bodong, alias hanya ada personil tanpa musikalitas. Setidaknya satu single saja sudah bisa jadi modal untuk naik ke stage dan di tonton ratusan hingga ribuan penoton.

Seperti biasa, warga Surabaya sangat menyukai suasana rindang. Ketika ada siluet pohon di tengah siang bolong, spot itulah yang paling menarik di banding apapun.  Suhu di Surabaya saat Brotherground 2017 kemarin (10/9) yang mencapai 33⁰C sedikit membuat kesal. Tidak disangka, banyak yang rela merogoh kocek Rp 40 ribu hanya untuk berteduh. Padahal, ini bukan pertunjukan Payung Teduh yang musiknya tanpa gaduh. Alhasil, pemandangan Parkir Timur Delta Plaza kemarin agak lowong di tengah karenanya, klise. Tapi tetap, apapun yang terjadi, atraksi musik bawah tanah tetap berlangsung. Dibuka oleh kolektif HC energik Strength Of Change, veteran hip-hop Point Blank, band punk diambang sadar Pig Face Joe, Tikam hingga death metal anyar Unscarred.

Vokalis Dandelions, Njet dengan gimmick andalannya di stage: menyuarakan (bukan) playboy. (Foto: Agastiko)

Suasana sempat adem kala rombongan generasi bunga maju merajut lirik demi lirik milik Dandelions. Gimmick band satu ini masih bisa ditebak kala sang vokalis Njet berdiri di barikade dan menyodorkan mic-nya ke penonton, kemudian: “Bisa Saja / Kumiliki Kamu / Jika Aku Lelaki / Playboy”. Setelah itu, siluet pohon kembali ramai digemari. “Kayaknya temen-temen di sini harus banyak di edukasi. Soalnya, mereka semua masuk sini bayar, jadi harusnya mereka bisa bebas menikmati acara ini. Jangan takut panas, terus kalo bandnya gak kenal gak mau maju. Kan aneh,” celetuk Simon, gitaris Burning yang tampil setelah Dandelions. Memang ketika Burning on stage, tidak sedikit penonton yang maju dan tenggor sana-sini, tapi setelah itu lagi-lagi tunduk pada teriknya matahari.

Break Maghrib datang, penonton pun senang. Ditambah lagi band-band yang tampil semakin brutal. Dimulai dari Daging, Neurosick, Wolf Feet, hingga dedengkot black metal berusia 27 tahun, Dry yang tampil paling mencolok dengan tampilan dan energi pedal-nya. Tak ketinggalan Plester-X, Crucial Conflict, dan Fraud: salah satu penyebab terselenggaranya acara ini. Yang ditunggu-tunggu pun hadir, band yang sedang sibuk meledakan album Mazmur: 187, yess Siksa Kubur tak henti-hentinya menggiling crowd yang makin malam makin ramai. Begitupun dengan GAS hingga Deadsquad yang didapuk sebagai penutup padatnya Brotherground 2017.

Dibalik riuhnya puncak acara, banyaknya penampil, ramainya penonton, hingga ajang reunian di backstage, Brotherground 2017 juga menyimpan tontonan yang (mungkin) banyak dilewati. Jika di edisi-edisi sebelumnya Brotherground gencar melakukan regenerasi, hal itu mulai terasa dengan munculnya nama-nama baru. Sebut saja Unscarred yang jadi band termuda. Sama juga dengan Metallion. Memang band ini bukan wajah lama, tapi juga tidak bisa dibilang baru. Band bermuatan thrash yang sangat menjiwai Sepulutura ini cukup menarik perhatian. Gebukan drum yang muncul dari mereka berasal dari keringat seorang anak kelas 5 SD. Kekuatan dan kecepatan skill-nya bersanding langsung dengan vokalis veteran, yakni Bonie vokalis Metallion yang berduet dengan eks vokalis band metal yang sempat menggema di era 90an, Retry Beauty. Sepertinya ini jadi regenerasi yang cukup ekstrim. Penonton benar-benar diajak merasakan gebukan dari yang termuda hingga teriakan dari yang tertua.

Melepas lajang di dunia tarik pena dengan menyandang lulusan sastra yang tidak sastrawi, musisi gagal, penimbun berita pil koplo, dan buruh radio.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *