Selamat Berpetualang Serona Senja!

Serona Senja, memulai pertualangannya di skena sidestream Surabaya. (dok. Serona Senja)

Layaknya musik pop yang dibawakan untuk mengiringi wedding, Serona Senja terdengar sempurna. Membawa nada-nada ritmis untuk momen-momen yang manis. Kombinasi kibor, saxophone, dan contrabass sedikit memberikan kesan ‘elegan’, atau identik dengan jazz. Tapi dari namanya, ada kecenderungan seperti nama-nama band folk terkini: teduh; temaram; senja; taman; senandung; dsb. Pada kenyataanya, tidak dua-duanya. Simpel, Serona Senja hanya mencoba mengusung musik pop dengan sedikit sentuhan urban.

Kadang memang nama selalu menjadi antrian nomor satu untuk memberikan penilaian. Tapi lewat single ‘Menyambut Mentari’, tak ada salahnya jika unsur folk sejenak disingkirkan. Band ini murni membawa musik pop yang generik. Apalagi basic dari tiap personilnya memang penghuni panggung pernikahan, jadi bisa ditebak jika lagu pertamanya terdengar demikian. “Selama jadi band wedding, kami selalu ngebawain lagu orang. Nah, dari situ akhirnya mikir kenapa gak dicoba aja untuk ngebuat lagu sendiri,” cerita Yoga Prasetya, pemain contrabass yang juga lulusan SMKN 9 Surabaya.

Perjalanan Serona Senja pun perlahan berbelok menengok ke ranah sidestream. Penyebabnya ada pada pertemuan mereka dengan Harmawansyah di Kedai Ujung Galuh. Ex-vokalis Heavy Monster itu melihat adanya kualitas dan kejujuran musik mereka. “Serona Senja itu adalah pertualangan. Mereka punya pondasi, kemampuan bermusik yang baik, jujur, dan sehat. Tinggal bagaimana mereka memperkenalkannya ke pendengar yang lebih luas, di luar lingkungan mereka selama ini,” imbuh Herman. Lanjutnya, Herman yang juga mempunyai studio kecil-kecilan untuk berlatih seringkali digunakan Serona Senja untuk membuat materi lagu. Dari situlah akhirnya dia tertarik untuk membantu. “Ketika bertemu mereka (Serona Senja,red), saya seperti merasakan kembali apa yang delapan tahun lalu pernah saya rasakan,” lanjutnya.

Untuk urusan musik, Herman menyerahkan seluruhnya kepada Ignatius Edwin (Saxophone), Arif Prasetyo (Gitar), Taufiq Hidayat (Drum), Yoga Prasetya (Contrabass), Edo Praditya (Keyboard), dan Andini Anastasia (Vokal). Ddirinya hanya membantu untuk memperkenalkan musik mereka ke media-media serta ke pendengar yang lebih luas. Seperti pekan lalu, mereka berkunjung ke Malang untuk interview dengan salah satu radio swasta di sana. Sebelumnya, Serona Senja yang baru aktif per Januari 2017 ini juga sudah melakukan promo di beberapa radio dan TV lokal.

Berbicara materi, meski masih berbekal satu lagu, mereka terbilang cukup produktif. Buktinya, tujuh lagu mampu diselesaikan dalam kurun waktu dua bulan. Materi-materi itu rencananya akan dibungkus dalam kemasan mini album di awal tahun depan. “Daripada cuma jadi rencana dan gak tau kapan bisa kewujud. Makanya mulai Mei kemarin kami susah payah ngebut nyelesein tujuh lagu baru,” sambung Yoga sambil sedikit memberi bocoran mini albumnya yang masuk tahap revisi untuk beberapa part lagu.

Dalam waktu dekat juga Serona Senja akan merilis video klip ‘Menyambut Mentari’ akhir Agustus ini. Klip yang sudah dikerjakan sejak beberapa bulan lalu itu menampilkan sudut-sudut Kota Pahlawan, tujuannya supaya orang-orang paham kalau Serona Senja adalah band Surabaya. Senada dengan itu, Herman menyebut jika mereka bisa jadi warna baru di kota ini. Mengutip ucapan Herman yang menyebut Serona Senja sebagai sebuah pertualangan. Maka kini mereka baru memulai delapan bulan perjalanannya setelah meretas dari panggung wedding. Jadi, selamat berpertualang di ranah sidestream Serona Senja!

Melepas lajang di dunia tarik pena dengan menyandang lulusan sastra yang tidak sastrawi, musisi gagal, penimbun berita pil koplo, dan buruh radio.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *