Connect with us
https://ronascent.biz/wp-content/uploads/2017/07/ronascent-adv-copy.jpg

EVENTS

Nostalgia & Melankolia di Hari Kedua Jazz Traffic Festival 2017

Published

on

Nostalgia & Melankolia: Tidak sedikit lagu-lagu lawas muncul di JTF 2017, termasuk dari Sammy Simorangkir. (Foto: Agastiko)

Gelaran akbar Jazz Traffic Festival berlanjut hingga hari kedua (19/8) di Grand City Convex Surabaya. Seolah tak mau kalah dengan euphoria hari pertama, jajaran musisi lintas genre juga dihadirkan guna memeriahkan hari pamungkas sebagai penutup JTF tahun ini. Tak tanggung-tanggung, kurang lebih 30 penampil menghiasi line up hari kedua, itu artinya lebih banyak dari hari sebelumnya. Banyaknya penampil serta jadwal perform yang nyaris bersamaan membuat penonton harus memutar otak dan menyusun strategi jika tidak ingin ketinggalan sejengkalpun momen.

Dimulai lebih awal, hari kedua Jazz Traffic Festival langsung terlihat bagaimana segmentasi penonton yang signifikan. Di BNI Stage Convention Hall misalnya, nama-nama seperti Beben Jazz & Friends, Dewa Budjana, dan Dwiky Dharmawan banyak menarik massa yang bisa dibilang sudah senior. Maklum, nama-nama tadi memang sudah sering malang-melintang di skena musik jazz nasional bahkan internasional. Tak heran jika para penonton senior maupun penikmat jazz banyak yang setia duduk berlama-lama di Convention Hall demi menunggu performance mereka. Turun ke lantai 1, di Indiehome Stage Exhibition Hall lebih banyak menarik massa dari kalangan anak muda. Musisi-musisi indie yang mengisi line up di stage ini memang sudah familiar di telinga, sebut saja Float, Stars and Rabbit, Teddy Adhitya, serta LALA.

Indihome Stage, menampilkan beberapa nama yang familiar di kalangan pemuda, seperti LALA. (Foto: Agastiko)

Bergeser keluar, di outdoor area yang terdapat dua stage ini dipenuhi massa dari kalangan senior dan kalangan muda. Terlebih lagi saat Sammy Simorangkir dan Anji mengambil alih panggung. Penonton dari usia yang berbeda terlihat blend in. Di outdoor area, para penonton ramai-ramai diajak bernostalgia oleh Sammy Simorangkir yang sempat menyanyikan tembang lawas dari Kerispatih. Begitupun Anji, eks vokalis Drive ini juga mengajak penonton bernostalgia dengan membawakan lagu-lagu maantan bandnya seperti Tak Terbalas dan Melepasmu. Mungkin sebuah coincidence jika kedua musisi tersebut sama-sama mengajak bernostalgia. Terlebih lagi di beberapa lagu yang mereka bawakan bercerita tentang mantan kekasih. Sebuah kombinasi nostalgia dan melankolia yang tak jarang membuat penonton bersorak jika ditanya soal mantan dan kenangan.

Masih dari panggung outdoor, Jazz Traffic Festival 2017 ditutup oleh penampilan Wildones ft. Denada yang menyuguhkan musik EDM. Jazz Traffic Festival kali ini memang bisa dibilang memberi gebrakan baru dengan menyuguhkan nama-nama di luar genre jazz. Sengaja digelar sehari setelah peringatan Kemerdekaan Republik Indonesia dengan mengusung tema ‘Souls of Freedom’, Jazz Traffic Festival 2017 membuktikan bahwa festival ini mampu memuliakan semua genre dan mampu mengekspresikan kebebasan atau kemerdekaan. Well, dua hari yang sangat berkesan bagi penikmat musik di Surabaya. Sampai jumpa di Jazz Traffic Festival 2018!

An amateur dilettante | Straight Edge | Star Wars’ die-hard fans | Records Junkie |

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

EVENTS

Galeri Foto: Synchronize Fest 2018

Published

on

Selama tiga hari kami berkelana di tengah padatnya Gambir Expo Kemayoran, Jakarta. Baik di atas atau bawah stage terasa sesak. Mata dan telinga kami kenyang terpuaskan oleh penampilan ratusan musisi lintas generasi. Sebuah kenyataan di mana musik Indonesia memang beragam dan menyenangkan. Silahkan menikmati hasil jepretan fotografer kami.

Tukang Foto keliling, yang berusaha segiat mungkin, demi mengisi dompet dan perutnya.

Continue Reading

EDITOR'S PICK

Menengok Wajah Musik Indonesia di Synchronize Fest 2018

Published

on

Sinkronisasi musisi antar generasi masih jadi issue utama di Synchronize Fest ketiganya. (Foto: Agastiko)

“Jika ada orang tanya, seperti apa sih musik Indonesia? Suruh datang aja ke Synchronize Festival.” Begitulah kira-kira celetuk Iga Masardi di sela-sela set Barasuara di event tersebut. Yap, tahun ini salah satu festival musik terbesar di Indo ini kembali menyapa pemuda-pemudi yang haus akan lantunan musik Indonesia dari generasi ke generasi.

Festival musik yang dikerjakan Dyandra Promosindo dan Demajors ini kembali digelar untuk ketiga kalinya di Gambir Expo Kemayoran, Jakarta. Seperti tahun-tahun sebelumnya, signature Synchronize Festival ada deretan pengisi acara yang banyak, hingga ratusan. Lelah? memang. Tapi mood yang terbangun untuk melihat segala macam bentuk dan tampilan musik lintas genre mengalahkan segalanya. Hiperboliknya, event ini sudah cukup menggambarkan wajah musik Indonesia dulu dan sekarang.

.Feast di Synchronize Fest kemarin. (Foto: Agastiko)

Hari pertama, kalau dideskripsikan dengan satu kata sih ya “gendheng”. Deretan aksi panggung yang bikin geleng-geleng hingga ngakak sudah tersaji. Aksi dari Mesin Tempur misalnya. Band grindcore Bandung ini nyeleneh dengan membawa ayam jago ke atas panggung.  Tak mau kalah dengan Mesin Tempur, band bernuansa Betawi, Jiung juga menyuguhkan aksi panggung yang gila. Ajul, sang vokalis dengan enaknya turun panggung lalu mandi ditengah-tengah penonton. Sesudah maghrib, insaf sejenak. aksi panggung yang gila sudah berkurang, namun digantikan dengan set-set menawan. Mooner, yang pertama kalinya main di Synchronize Fest disambut antusias oleh penonton yang  menjadi-jadi. Bergeser ke District Stage, ada Reality Club yang tak kalah histeris-nya disambut. Makin malam makin jadi. Kaki sudah lelah, tubuh berkeringat, rambut lepek, baterai gadget mulai lowbatt. Tapi, jam 21.30 masih ada dua penampil yang sayang untuk dilwati. Di Dynamic Stage ada dominasi anak-anak muda sedang “menunggangi badai” dengan Barasuara. Sedangkan di Forest Stage, para senior indie sedang “menikmati coklat” bersama Pure Saturday”. Puncaknya, penampilan Naif, si tukang sedot keringat penonton.

Lanjut hari kedua, kali ini nuansa nostalgia terasa lebih kental. Deretan pengisi acara seperti Godbless, Sheila On 7, dan Project Pop ada di hari itu. Di set Godbless, penonton dipenuhi  kalangan senior pecinta rock lawas. Tembang-tembang hits seperti Musisi, Kehidupan, Rumah Kita, Semut Hitam, dan Panggung Sandiwara membangun vibes karaoke bersama. Begitupun Sheila On 7 yang penuh sesak oleh penonton lintas generasi. Sementara di Distric Stage, musik jenaka Project Pop begitu merindukan era di mana grup vokal itu tidak harus selalu keren, tapi juga bisa receh nan menyenangkan. Sang Raja Dangdut, Rhoma Irama dan Soneta Group akhirnya menutup hari kedua. Pesonanya yang kharismatik sebagai maestro selalu berhasil menyebarkan penyakit menular; (baca: goyang).

Well, dua hari non-stop berkeliling luasnya venue. Pindah dari satu stage ke stage lain, sebenarnya ada pikiran untuk menyudahinya. Tapi apa daya, nama-nama seperti Snickers And The Chicken Fighters (SATCF), Ramengvrl hingga NOXA terlalu sayang jika terlewatkan. Jamrud pun hadir di Dynamic Stage. Lagu-lagu lawas-nya masih terdengar lantang meski ada perubahan pada karakter suaranya. Lagi-lagi dan lagi-lagi, penonton yang dibesarkan era MTV Ampuh sangat dimanjakan. Kali ini giliran Padi Reborn beserta penutup Synchronize Festival 2018 secara keseluruhan; Dewa 19 bersama Once & Ari Lasso. Fine! ini sebuah pertunjukan langka. Deretan megahits yang versi bajakannya tak kalah laris ini membuat penonton semakin giting. Dua eks vokalis terbaik itu tampil dalam satu stage pertama kalinya. Di tengah nikmatnya mengenang masa muda, kami pun berpikir: bagaimana caranya si organizer melakukan proses negosiasi dengan mereka yah? Ahh sudahlah, sekalipun kami bisa melakukannya, pasti kami tak sanggup membayarnya. Akhir cerita, kami puas dan semua penonton lainnya pun demikian. Harapan kami, semoga konsep acara ini terus berkembang. Jangan sampai termakan jenuh. Karena pada dasarnya, wajah musik nusantara ada di sini (untuk saat ini). See you next year!

An amateur dilettante | Straight Edge | Star Wars’ die-hard fans | Records Junkie |

Continue Reading

EVENTS

Brotherground 2018: Beside Primadona, Down For Life Mempesona & Klimaks Death Vomit

Published

on

Mengadakan festival musik hingga edisi ke-5 bukan perkara mudah. Apalagi dengan line up yang konsisten kencengnya. Tahun ini Beside jadi primadona, namun Down For Life tak kalah mempesona, ditambah tenaga Death Vomit yang tak pernah habis hingga tuan rumah Fraud yang selalu beringas. Kami merangkumnya dalam foto-foto yang bisa memanjakan mata kalian.

Tukang Foto keliling, yang berusaha segiat mungkin, demi mengisi dompet dan perutnya.

Continue Reading

Surabaya