Connect with us
https://ronascent.biz/wp-content/uploads/2017/07/ronascent-adv-copy.jpg

NEWS UPDATES

Jazz Traffic 2017: Suarakan Kebebasan Lintas Genre

Published

on

Dok. JazzTraffic

Munculnya beberapa line-up yang di luar jazz sempat memberikan tanda tanya tentang esensi yang coba diangkat Jazz Traffic tahun ini. Nama-nama seperti Efek Rumah Kaca, Barasuara, Stars And Rabbit, Lala Karmela hingga Virgoun memang bukan berasal dari ranah jazz. Tapi, konsep ‘Souls of Freedom’ yang diangkat mengerucut pada kebebasan, di mana Suara Surabaya coba memperjelas orientasi Jazz Traffic sebagai festival musik yang memuliakan semua genre.

“Tentu saja porsi musik jazz tetap lebih kental di JTF 2017. Inilah keistimewaan JTF yang memerdekakan selera khalayak yang leluasa memilih artis favoritnya,” kata Errol Jonathans, direktur utama Suara Surabaya Media. Jazz Traffic Festival 2017 yang dihelat persis satu hari pasca perayaan kemerdekaan RI juga tak luput dari spirit kebebasan yang disuarakan dalam festival ini. Mengutip perkataan seorang composer dan pianis, Dave Burbeck : “Jazz Stands for Freedom”.

Jazz Traffic tahun ini diadakan pada tanggal 18-19 Agustus 2017 di Grand City, Surabaya. Salah satu yang membuat Jazz Traffic 2017 kali ini berbeda dari sebelumnya adalah penambahan set panggung yang sebelumnya ada tiga, kini menjadi lima panggung. Satu panggung ada di Convention Hall lantai tiga (indoor), satu panggung di Exhibition Hall lantai dasar (indoor) dan tiga panggung di area parkir (outdoor). Dengan lima panggung tersebut, JTF 2017 akan menyajikan hari penuh musik dengan sekitar 300 musisi yang tampil selama dua hari. “Sejak pukul 16.00 WIB di hari Jumat dan pukul 14.00 WIB di hari Sabtu, pengunjung akan nonstop mendapatkan alunan jazz, tidak ada jeda,” kata Rudy Hartono, Sekretaris Eksekutif JTF 2017.

Berawal dari sebuah program radio yang diasuh oleh Bubi Chen pada tahun 1985-2012, Jazz Traffic kemudian menjadi sebuah konser perhelatan Jazz yang ditunggu-tunggu oleh sebagian besar penikmat Jazz tanah air. Pada tahun ke- 7 ini Jazz Traffic membawa tema “Souls of Freedom” yang berarti kebabasan atau kemerdekaan jiwa. Maka tak heran jika dalam list Artist terdapat banyak sekali genre yang tidak melulu datang dari Jazz. “Tentu saja porsi musik jazz tetap lebih kental di JTF 2017. Inilah keistimewaan JTF yang memerdekakan selera khalayak yang leluasa memilih artis favoritnya,” tutup Errol Jonathans.

 

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

NEWS UPDATES

Dopest Dope Pertanyakan Tujuan Hidup

Published

on

Dopest Dope (dari kiri): Ricky Mahardhika, Rifki Hidayat, Hengki Arisando & Sasmito Prawiro. (Dok. Artventure Management)

Setiap manusia di dunia tentu punya tujuan hidupnya masing-masing. Tujuan itupun beragam, bisa duniawi atau akhirat. Namun jika dimaknai lebih dalam, apakah semua manusia paham dengan tujuan dari kehidupan ini? Sebuah kebingungan pun menghinggapi Dopest Dope. Lewat single barunya Tuju, kelompok alternatif dari Surabaya ini mempertanyakan maksud dari pertanyaan tersebut.

Melalui rilis pers yang kami terima kemarin (30/8), Dopest Dope mengumumkan rilisnya single baru mereka sekaligus bercerita tentang kebingungannya. “Lagu ini (Tuju,red) berisi tentang kegelisahan seseorang yang bertanya-tanya mengenai tujuan sebenarnya dalam hidup. Apakah kematian adalah akhir? atau kehidupan sebenarnya dimulai setelah kematian? atau setelah mati akan dihidupkan kembali ke dunia dan begitu seterusnya?” tulis mereka melalui Artventure Management. Dalam lagu tersebut, Dopest Dope tampak mengajak pendengarnya untuk sedikit merenung dan mendapatkan jawabannya masing-masing.

Selain tentang lagu barunya, band yang tiga tahun lalu bekerjasama dengan Demajors untuk merilis debut album Close to Death ini juga memperkenalkan penggebuk drum barunya. Posisi Oldy Pandu Nugraha kini diganti oleh Hengki Arisando atau Sipenk yang sebelumnya lebih dikenal bersama unit stoner Hawk. Dalam single baru ini, Sipenk langsung terlibar dalam proses rekamannya. Begitupun Rifki Hidayat, gitaris anyar yang masuk setelah Close to Death rilis.

Continue Reading

NEWS UPDATES

Sengatan Electric Bird di RSD 2019

Published

on

Electric Bird, trio garage pendatang baru di Surabaya. (Dok. Electric Bird)

Electric Bird punya kemampuan untuk menyengat. Ya, nama yang mereka miliki bukanlah sekadar tekstual belaka. Dibalik itu, tertanam sebuah representasi musik yang menyengat bagaikan listrik. Dengan tegangan tinggi, musik mereka mampu bertransformasi jadi sebuah musik. Sentuhan garage serta muatan rock yang berapi-api memperlihatkan tiga pemuda energik ini tengah bersiap terbang tinggi seperti pheonix.

Selama ini publik baru mengenal Electric Bird lewat single perdananya Wardogs. Lagu yang dilempar melalui kanal digital streaming akhir tahun lalu itu mendapat respon baik. Ditambah dengan kerinduan Surabaya akan band seperti ini, posisi mereka pun aman. Hingga memasuki awal 2019, tepatnya di Record Store Day (RSD) 2019 kemarin (28/4) Electric Bird memberanikan diri keluar kandang. Sebuah album bertitel Stings You Hard baru saja mereka rilis.

Bersama Let’s Go Cmon Baby (LGCD), Eisen, Rasvan Aoki dan beberapa band lain, momentum RSD 2019 Surabaya kemarin jadi hari perilisan karya fisik pertama Electric Bird, Stings You Hard. Album yang menghadirkan 11 lagu ini sudah mereka kerjakan sejak tahun lalu. Keseluruhannya mereka kerjakan sendiri, mulai rekaman hingga produksi rilisan fisiknya. Bahkan band yang dimotori oleh Danu (vokal & bass); Vicky (gitar); & Ari (bass) ini juga tengah menyiapkan perjalanan tur yang nantinya akan dijadikan alat promo album mereka.

Tidak berbeda jauh dengan single pertamanya, Wardogs. Dalam album yang berdurasi 45 menit ini Electric Bird banyak berbicara tentang situasi sosial yang masih menarik untuk di sentil. Seperti halnya Wardogs, lagu yang menyenggol tentang individu, kritik dan tanpa solusi. “Kami juga menulis beberapa fenomena, salah satunya genosida di Timur Tengah yang kami tuangkan dalam lagi East,” cerita Danu. Lanjutnya, tak luput band ini pun menggambarkan situasi berapi-apinya dalam berkarya lewat lagu Raging Fire. Pengaruh The Datsuns, Wolfmother, Soundgarden, hingga Jimi Hendrix ikut membentuk part demi part lagu mereka.

Pasca RSD, album Stings You Hard ini nantinya akan di distribusikan ke beberapa kota di luar Surabaya. Sementara untuk digital streaming masih bakal menyusul.

Continue Reading

NEWS UPDATES

Looking For, Perkenalan dari Kayman

Published

on

Mira Jasmine dan Kayman. (Dok. Pon Your Tone)

Rasa hambar dalam suatu hubungan, sebuah penantian tak berujung, hingga menunggu kesempatan kedua; ungkapan-ungkapan itu mengendap tersembunyi dalam percakapan antar pasangan yang terasa dingin dan penuh kecanggungan. Seperti halnya Looking For menembus dimensi kedua pasangan itu untuk menentukan ujungnya.

Pekan lalu, produser muda Kayman memperdengarkan karya bernuansa R&B/Neo-Soul dengan menggaet penyanyi muda Mira Jasmine. Kolaborasi keduanya cukup mengena, sekalipun ini merupakan debut bagi Kayman dalam merilis karya orisinil. Selama ini, produser yang dinaungi Pon Your Tone itu lebih dikenal sebagai DJ bergenre House, Afro-Beat dan Baile-Funk, dirinya juga lebih banyak menghabiskan waktu sebagai co-producer Dipha Barus.

Sebelum melempar debut Looking For, Kayman lebih aktif dalam urusan aransemen ulang, seperti lagu How Many Drinks milik Miguel atau Oye Como Va milik Tito Puente yang pernah di remix. Pria yang menekuni bidang Audio Engineering sejak usia 16 tahun ini juga sempat menggubah lagu Chasing Time milik Azelia Banks yang masuk di album kolaborasi antara Pon Your Tine dan De La Hous ‘Tone House’.

Continue Reading

Surabaya