Bvas – Muara Murka; Agresi Kedua Bersumbu Pendek

Cover artwork ‘Muara Murka’ yang dikerjakan Dwi Prassetyo.

Sejak menjadi pendatang baru yang sempat menderu, Bvas tak ubahnya seperti kelelawar; bersembunyi dalam gua dan menetap untuk waktu yang lama. Persepektif itu menguat ketika di dua mini albumnya mereka menampilkan karakter hewan tersebut dengan perangai penghancur. Pengintepretasian yang sempurna. Bvas tampak mendalami perannya sebagai kelelawar yang merupakan mamalia dengan akselerasi terbang tercepat, namun rentan akan kepunahan. Itu tandanya, Bvas memang sangat cepat jadi perbincangan, tapi juga dapat menjadi kenangan.

Tahun 2017 ini Bvas berhasil merampungkan EP kedua yang dinamai Muara Murka. Simpel, berisikan tiga lagu, lebih cepat, dan agresif. Berbalik ke tiga tahun lalu, masa awal munculnya band ini juga diwarnai hal serupa: mini album dengan setlist terbatas. Sepertinya Bvas mencoba untuk menjadi tak cuma agresif, tapi juga eksklusif. Karena biasanya, makin minim karya maka makin ditunggu. Contohlah Koil atau The Adams sekalipun.

Kali ini Bvas menawarkan komposisi yang tidak lagi low-mid. Si penggebuk drum, Fadly Zakaria terdengar lebih powerful. Ketukan-ketukannya kencang dan hanya bisa disamai oleh kerasnya vokal Bayu Hastutama. Retorika Dosa menjadi transisi yang pas untuk memperlihatkan lebih agresifnya mereka untuk urusan tempo. Begitu halnya dengan Muara Murka di lagu kedua  hingga si pamungkas, Tikam Menikam. Dari segi lirik, Bvas masih cukup memperhatikan rima, jadi tidak kaget jika semua lagu-lagu mereka yang notabene berbahasa Indonesia, secara pelafalan enak di dengar, melebur halus dengan musiknya, tidak banyak konjungsi tapi semua diksi berfungsi.

Durasi sepuluh menit untuk tiga lagu, album pendek rilisan Resting Hell Records ini benar-benar bersumbu pendek. Menyajikan amarah di tiap lagunya, namun sekelibat saja hilang. Bagi mereka yang mengikuti perkembangan band ini, tentu akan merasa kurang puas. Penantian tiga tahun terbayar melalui tiga lagu. Jadi, si kelelawar penghancur ini lagi-lagi terbang cepat. Namun apakah mereka juga akan menghilang cepat?

Melepas lajang di dunia tarik pena dengan menyandang lulusan sastra yang tidak sastrawi, musisi gagal, penimbun berita pil koplo, dan buruh radio.

1 Comment

  1. Wahyu Firmansyah

    24 August 2017 at 18:36

    Assseeek. Endingnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *