Connect with us
https://ronascent.biz/wp-content/uploads/2017/07/ronascent-adv-copy.jpg

EVENTS

1.015 Musicians: Pecahnya Rekor Baru di Surabaya

Published

on

Rekor Baru: 1.094 Musisi se-Jawa Timur yang berhasil memecahkan rekor. (Foto: Agastiko)

Tata lampu yang indah, deretan barikade besi gagah, dan sound raksasa harus berbanding dengan kekosongan penonton pada area tengah. Pemandangan itu terus jadi suguhan sejak Heavy Monster mulai berskankin, hingga Goodnight Electric yang berdisko ria di kala senja. Sedikit gambaran tentang suasana rangkaian event Road to Soundrenaline pekan lalu yang digelar selama dua hari (12-13 Agustus) di Lapangan V Kodam Brawijaya, Surabaya. Sepi memang di awal, tapi selalu begitu. Mungkin karena Sabtu siang belum sepenuhnya orang selesai beraktivitas, sehingga baru selepas Maghrib venue tampak penuh.

Lambat laun, barisan pemuda mulai berdatangan. Sedikit demi sedikit hingga waktu menunjukkan pukul 20.00 WIB. Sedikit perkenalan dari MC, Timeless pun masuk menghujam venue dengan sayatan overdrive-nya yang khas. Sebagai pemanasan, intro masuk lebih dulu. Tepat waktu itu juga barisan penonton mulai membentuk shaf. Meski tidak terlalu rapat tapi setidaknya kuantitas pengunjung baru terlihat mulai padat. Bima memulai dengan track Lonesome Street dan lanjut ke Ride Into The Sun dan terus menggelontorkan track track pamungkas seperti Golden Age, Genuine Heart, Motown Crush, hingga Cold Summer.

Usai Timeless Lapangan Kodam V Brawijaya, Surabaya tidak langsung padam. Giliran kaum romantisme datang melebur ke depan stage. Betul, dewa lagu cinta si Glenn Fredly masuk dengan membuka pertunjukannya melalui nomor Youre My Everything sambil menguatkan barisan penonton. Gitar bolong  yang renyah benar membuat crowd makin hangat. Terutana ketika tembang cinta andalan Glenn keluar dan sukses membuat penonton sing along.

Malam semakin larut, setelah beromantis ria tongkat estafet dilempar ke Kelompok Penerbang Roket.  Crowd pun mendadak liar. Terutama pada nomor Dimana Merdeka koor massal semakin kompak sambil diselipi stage diving hingga permainan Coky, cs selesai. Hari pertama event ini pun usai dengan pertunjukan estafet kolaborasi musisi lokal dan nasional. Tapi itu hanya pemanasan, karena pemecahan rekor 1.015 musisi baru akan dilakukan setelahnya. (ian/ron)

Rekor & Jumlah Musisi Yang Di Luar Ekspetasi

Lanjut di hari kedua, sebuah misi memecahkan rekor baru akhirnya terwujud. Dibarengi oleh ide gila beberapa Musisi Senior Surabaya seperti Arief (Blingsatan) dan Samir (GAS/Tengkorak) ditambah momen Kemerdekaan Indonesia ke-72, Minggu kemarin (13/8) rekor tersebut pecah dan berhasil membuat musisi-musisi se-Jawa Timur jadi lebih ‘berisik’. Yes, target awal yang ingin mengumpulkan 1.015 musisi untuk jamming dan bermain bersama-sama ternyata keluar dari ekspektasi. Overall, acara yang mengusung tagline ‘Be Part Of Breaking The Rercord In World’s Largest band Performance’ ini diikuti oleh 1.094 musisi.

Masih bertempat di Lapangan Kodam V Brawijaya Surabaya, semua musisi yang sudah terdaftar secara bersama-sama memainkan dua lagu yang sudah disepakati, yakni Gebyar-Gebyar dan Rumah Kita secara serempak. Semangat dan rasa nasionalisme pun terlampiaskan melalui 1.094 musisi tersebut. “Dengan Semangat dan harapan yang sama, yaitu mempersatukan seluruh musisi di Jawa Timur, perhelatan ini menjadi sebuah kebanggaan tersendiri,” ujar Ega, gitaris band Karat Malang yang juga turut serta dalam acara 1.015 Musicians Breaking The Record. (aga/ron)

Media musik online yang berbasis di Surabaya. Mengamati gejolak dan gairah industri musik independen yang kerap menjadi sokongan musik berkualitas. Kontak kami di [email protected] untuk berbagi informasi.

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

EVENTS

Gallery: Perayaan Drowning In Sadness War Fighters

Published

on

Perayaan Drowning In Sadness, album pertama War Fighters berlangsung di Rumah Jaman Now (OJN) Surabaya. Kami menangkap beberapa momen bahagia dari hubungan para performer dengan penonton. Alhasil, inilah sajian visual bagi kalian yang tak sempat datang pada pesta perayaan War Fighters.

Seorang mahasiswa hampir abadi yang menghabiskan sebagian besar waktu di kehidupanya dengan hal hal penuh manfaat seperti mengabadikan wajah wajah ekstase para pemuda pemudi bangsa di atas panggung.

Continue Reading

EDITOR'S PICK

Berselancarnya The Panturas & Polka Wars di Surabaya

Published

on

Ada sedikit keraguan kala The Panturas gagal berselancar di Surabaya Oktober kemarin. Nuansa surf-rock yang diusung sekelompok alumnus jurnalistik ini tidak memancar, mereka justru hanya terdengar sebagai band rock melayu biasa. Namun ketika Buka Musik Connectified chapter Surabaya membawa mereka ke Nens Corner akhir pekan kemarin (14/12), ceritanya berbeda. The Panturas benar-benar Mabuk Laut bersama ratusan penonton yang merelakan mata perih karena asap rokok hingga kepala puyeng akibat alkohol.

Bagi sebagian besar penonton yang hadir, kami yakin mereka semua mendapat klimaks. Diawali dengan dua band pendatang baru Surabaya yang unjuk gigi; Alter dan Eisen, hingga dibawa membeku bersama Cotswolds dan puncak dari segala kerusuhan ada pada si protagonis Polka Wars. Pemilik album Axis Mundi ini sejatinya menurunkan tempo pasca meliarnya crowd The Panturas. Tapi tak bisa dipungkiri jika musikalitas terus memancarkan aura semangat. Setidaknya, Surabaya telah memberikan kesan manis bagi Polka Wars dan The Panturas yang hingga akhir tahun ini melaksanakan tur di 6 kota di bawah platform musik Buka Musik milik Bukalapak.

Anak muda penuh semangat tapi tidak bergairah, suka melakukan banyak hal baru dan sedang berstatus mahasiswa aktif dengan doa semoga lulus tepat waktu dan segera mempunyai penghasilan.

Continue Reading

EVENTS

The 41st Jazz Goes to Campus: Kejayaan Musik Jazz Masih Dimulai Dari Kampus

Published

on

Jika menengok kembali sejarah musik jazz di Indonesia, dunia kampus memang berperan penting dalam perkembangan musik ini. Salah satunya adalah Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia. Lewat Jazz Goes to Campus, musik jazz bisa dikenal dan mendapat tempat tersendiri di telinga mahasiswa. Tahun ini, JGTC sudah memasuki tahun ke-41. Sebuah perjalanan yang tak singkat memang. Konsistensi JGTC dalam menghadirkan sajian musik jazz yang segar mampu membuat acara ini bertahan hingga lebih dari empat dekade.

Minggu, 2 Desember 2018, 41stJazz Goes to Campus yang mengusung tema“Bring The Jazz On” kembali digelar di lingkungan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia. Sama seperti tahun-tahun sebelumnya, JGTC selalu berhasil menyedot animo yang luar biasa. Sejak pukul 12.30 antrean sudah mulai penuh sesak untuk memasuki kawasan acara. Sekitar pukul 13.00 acara dimulai dan dibuka oleh penampilan dari beberapa band kampus dan pemenang JGTC Band Competition.

Menjelang sore, penonton mulai memadati Sprite Stage untuk menyaksikan Maliq & D’Essentials. Antusiasme penonton sangat liar sore itu. Sprite Stage penuh sesak dengan penonton yang ingin menyaksikan Maliq & D’Essentials. Membawakan tembang-tembang hits seperti Dia dan Untitled, Maliq & D’Essentials sukses memanaskan sore yang mendung kemarin. Bergeser ke Kopiko Stage, grup musik parodi asal Bandung, Project Pop juga mampu menyedot animo penonton yang ingin bernostalgia dengan lagu-lagu lawas mereka. Track andalan seperti Gara-gara Kahitna, Metal vs. Dugem, dan Ingatlah Hari Ini sukses membuat penonton bernyanyi bersama. Disela-sela lagu lama yang nangkring di setlists, Project Pop juga sempat membawakan lagubaru yang berjudul Coconut dan sukses mengajak penonton untuk bergoyang bersama.

Menjelang maghrib, JGTC sempat diguyur hujan yang cukup deras dan sempat membuat penonton yang tidak membawa jas hujan kocar-kacir mencari tempat berteduh. Untungnya hujan tidak berlangsung lama, karena di Indofood Stage, Vira Talisa sudah bersiap untuk menghangatkan malam setelah hujan. Walaupun tidak terlalu ramai, karena banyak penonton yang sudah memenuhi Kopiko Stage untuk menunggu Boyzlife, set Vira Talisa malam itu tetap syahdu. Pindah ke Kopiko Stage, Boyzlife dengan mudahnya membuat para penonton histeris. Hanya bermodalkan rekaman lawas lagu-lagu Boyzone dan Westlife, Keith Duffy dan Brian McFadden sukses berkaraoke bersama penonton. Set yang minimalis, tanpa band pengiring, dan hanya bermodal rekaman minus one membuat Boyzlife tidak memiliki daya tarik yang lebih selain hanya lagu-lagu hits lawas mantan boyband mereka dulu.

Kembali ke Sprite Stage, kali ini giliran Glenn Fredly yang menghangatkan malam para pecinta jazz di JGTC. Penuh dan lantang. Begitulah kira-kira gambaran crowd yang menonton Glenn Fredly kemarin. Dari awal set hingga akhir, semua penonton sangat kompak menyanyikan lagu-lagu Glenn Fredly. Terlebih lagi ketika lagu Terserah, koor massal yang gila bisa terdengar dari depan hingga belakang. Dan di panggung yang sama sebagai penutup JGTC, Reza Artamevia juga berhasil membawa para penonton bernostalgia dengan tembang-tembang lawas miliknya. Walaupun sudah tak muda lagi, Reza tetap energik dan interaktif dengan penonton JGTC.

Dengan tema yang diusung, pagelaran JGTC tahun ini cukup sukses membawa kembali musik jazz. Bermodal track record yang bagus JGTC menjadi salah satu festival jazz yang ditunggu-tunggu setiap tahunnya. Seperti apakah kejutan JGTC tahun depan. We’ll see!

 

Teks: Agita Bela | Foto:  Adrian Daniarsyah

An amateur dilettante | Straight Edge | Star Wars’ die-hard fans | Records Junkie |

Continue Reading

Surabaya