Maaf (Bukan) Muhrim Yang Terakhir

Molotov Muda: Crowd penonton yang dibuat berkeringat oleh Egon Spengler di ‘Maaf Bukan Muhrim 4’. (Foto: Agastiko)

Seperti biasa, Eri Rukmana selalu dipercaya jadi pintu bagi band-band luar kota yang sedang tur. Melalui gigs buatanya ‘Maaf Bukan Muhrim’, pria pemegang tuts kibor Hi Mom! itu selalu berbaik hati menampung band yang tengah tur. Tapi itu dulu, karena sekarang Eri yang baik hati itu berubah seperti nama akun-akun sosial media-nya; @erirukmanajahat. Ya, Eri sedang jahat karena untuk setahun ke depan dirinya berencana tidak buat gigs lagi, khususnya ‘Maaf Bukan Muhrim’. “Ini (Maaf Bukan Muhrim #4,red) terakhir dulu. Habis gitu gak buat-buat gigs lagi, paling nggak sampe setahun ke depan, soalnya gak punya duit,” kata Eri, dengan bercanda sambil sesekali menanyakan jam karena acaranya yang molor.

Terlepas dari yang terakhir atau tidak, tentunya seorang Eri atau sosok-sosok semacam dia tidak akan pernah kehabisan akal. Mau minim dana, minim tempat, minim band, atau publikasi, yang namanya gigs tetap saja bisa diorganisir selama masih ada yang mengapresiasi. Seperti di ‘Maaf Bukan Muhrim #4’ kemarin (23/7) yang digelar di kafe anyar Kedai 222 di kawasan Jagir, Wonokromo. Berseberangan langsung dengan Sungai Jagir, kali ini gigs yang berlokasi di lantai 2 itu cukup seru, selain bandnya yang tampil, angin sepoi-sepoi ditambah kawasan padat penduduk membuat penyelenggara, band, dan penonton sedikit waswas, takut jika acara berhenti di tengah-tengah karena sudah larut malam, apalagi  acara sempat molor satu jam lebih.

Seperti gigs-gigs lainnya, semua berakhir happy ending. Penyelenggara lega, performer lemas, dan penonton pun bahagia. The Classhat, Others, Egon Spengler, 1234!, dan Morganostic semuanya bergantian main sesuai rundown, hingga Piston yang sedang menjalani ibadah tur promo albumnya Titik Nol finish di delapan lagunya. Lagi, lagi, dan lagi, lagi, mayoritas penonton tetap dikuasai kaum adam. Tapi inilah yang ternyata coba disentil oleh Eri, “Di tiap gig isinya cowok semua, pada ke mana ini cewek-cewek indie pop,” celetuk Eri.

1234! , selalu energik selama ada alkohol. (Foto: Agastiko)

Oke, band yang punya andil memanaskan sound adalah The Classhat. Band yang belakangan sibuk nge-gigs ini tampil bersama Bayu, gitaris Dandelions. Kemudian Others, kelompok post rock yang  tidak banyak berkata-kata, tapi banyak memberikan klimaks. ‘Maaf Bukan Muhrim #4’ makin berwarna saat Egon Spengler tampil bersama vokalisnya yang kekar, meski hanya kostum. Sayang, Egon cuma  menggelontor tiga lagu yang ditutup Mustang Rambo. Project anyar yang berawal dari cover-mengcover lagu, 1234! melanjutkan gemuruh moshpit di lahan venue yang tidak seberapa besar itu.

Sampai akhirnya Morganostic mengambil alih. Band yang baru melempar mini album Paradox itu tampil dengan setlist albumnya, termasuk SHOA dan To Conceive yang merupakan single-single andalan mereka. Terakhir, ada Piston dengan formasi lengkapnya. Lagu-lagu macam The War, Adrenaline, Hakim Tak Berpalu, dan tentunya Titik Nol dibawakan dengan apa adanya. Mengutip Felix Dass, menurutnya Piston memang penuh kesleboran, jujur, dan apa adanya. “Dua gitarnya meraung seruntulan. Kadang tidak dikocok dengan pakem yang benar. Mengalir saja, seperti cara bernyanyinya yang juga semena-mena. Tapi, di situlah bentuk paling murni dari musik rock berwujud,”.

Akhirnya, sekitar pukul 11 kurang, Piston menyudahi penampilannya. Acara tetap berlangsung meski kami yakin penduduk sekitar sedikit kesal karena jam istirahatnya terganggu. Sampai acara berakhir pun kaum hawa terhitung tak lebih dari 10, bahkan 5. Memang sudah kodratnya seperti itu, karena memang tajuk acaranya ‘Maaf Bukan Muhrim’, beda lagi kalau titelnya ‘Maaf Sudah Muhrim’.

Melepas lajang di dunia tarik pena dengan menyandang lulusan sastra yang tidak sastrawi, musisi gagal, penimbun berita pil koplo, dan buruh radio.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *