Connect with us
https://ronascent.biz/wp-content/uploads/2017/07/ronascent-adv-copy.jpg

EVENTS

Maaf (Bukan) Muhrim Yang Terakhir

Published

on

Molotov Muda: Crowd penonton yang dibuat berkeringat oleh Egon Spengler di ‘Maaf Bukan Muhrim 4’. (Foto: Agastiko)

Seperti biasa, Eri Rukmana selalu dipercaya jadi pintu bagi band-band luar kota yang sedang tur. Melalui gigs buatanya ‘Maaf Bukan Muhrim’, pria pemegang tuts kibor Hi Mom! itu selalu berbaik hati menampung band yang tengah tur. Tapi itu dulu, karena sekarang Eri yang baik hati itu berubah seperti nama akun-akun sosial media-nya; @erirukmanajahat. Ya, Eri sedang jahat karena untuk setahun ke depan dirinya berencana tidak buat gigs lagi, khususnya ‘Maaf Bukan Muhrim’. “Ini (Maaf Bukan Muhrim #4,red) terakhir dulu. Habis gitu gak buat-buat gigs lagi, paling nggak sampe setahun ke depan, soalnya gak punya duit,” kata Eri, dengan bercanda sambil sesekali menanyakan jam karena acaranya yang molor.

Terlepas dari yang terakhir atau tidak, tentunya seorang Eri atau sosok-sosok semacam dia tidak akan pernah kehabisan akal. Mau minim dana, minim tempat, minim band, atau publikasi, yang namanya gigs tetap saja bisa diorganisir selama masih ada yang mengapresiasi. Seperti di ‘Maaf Bukan Muhrim #4’ kemarin (23/7) yang digelar di kafe anyar Kedai 222 di kawasan Jagir, Wonokromo. Berseberangan langsung dengan Sungai Jagir, kali ini gigs yang berlokasi di lantai 2 itu cukup seru, selain bandnya yang tampil, angin sepoi-sepoi ditambah kawasan padat penduduk membuat penyelenggara, band, dan penonton sedikit waswas, takut jika acara berhenti di tengah-tengah karena sudah larut malam, apalagi  acara sempat molor satu jam lebih.

Seperti gigs-gigs lainnya, semua berakhir happy ending. Penyelenggara lega, performer lemas, dan penonton pun bahagia. The Classhat, Others, Egon Spengler, 1234!, dan Morganostic semuanya bergantian main sesuai rundown, hingga Piston yang sedang menjalani ibadah tur promo albumnya Titik Nol finish di delapan lagunya. Lagi, lagi, dan lagi, lagi, mayoritas penonton tetap dikuasai kaum adam. Tapi inilah yang ternyata coba disentil oleh Eri, “Di tiap gig isinya cowok semua, pada ke mana ini cewek-cewek indie pop,” celetuk Eri.

1234! , selalu energik selama ada alkohol. (Foto: Agastiko)

Oke, band yang punya andil memanaskan sound adalah The Classhat. Band yang belakangan sibuk nge-gigs ini tampil bersama Bayu, gitaris Dandelions. Kemudian Others, kelompok post rock yang  tidak banyak berkata-kata, tapi banyak memberikan klimaks. ‘Maaf Bukan Muhrim #4’ makin berwarna saat Egon Spengler tampil bersama vokalisnya yang kekar, meski hanya kostum. Sayang, Egon cuma  menggelontor tiga lagu yang ditutup Mustang Rambo. Project anyar yang berawal dari cover-mengcover lagu, 1234! melanjutkan gemuruh moshpit di lahan venue yang tidak seberapa besar itu.

Sampai akhirnya Morganostic mengambil alih. Band yang baru melempar mini album Paradox itu tampil dengan setlist albumnya, termasuk SHOA dan To Conceive yang merupakan single-single andalan mereka. Terakhir, ada Piston dengan formasi lengkapnya. Lagu-lagu macam The War, Adrenaline, Hakim Tak Berpalu, dan tentunya Titik Nol dibawakan dengan apa adanya. Mengutip Felix Dass, menurutnya Piston memang penuh kesleboran, jujur, dan apa adanya. “Dua gitarnya meraung seruntulan. Kadang tidak dikocok dengan pakem yang benar. Mengalir saja, seperti cara bernyanyinya yang juga semena-mena. Tapi, di situlah bentuk paling murni dari musik rock berwujud,”.

Akhirnya, sekitar pukul 11 kurang, Piston menyudahi penampilannya. Acara tetap berlangsung meski kami yakin penduduk sekitar sedikit kesal karena jam istirahatnya terganggu. Sampai acara berakhir pun kaum hawa terhitung tak lebih dari 10, bahkan 5. Memang sudah kodratnya seperti itu, karena memang tajuk acaranya ‘Maaf Bukan Muhrim’, beda lagi kalau titelnya ‘Maaf Sudah Muhrim’.

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

EDITOR'S PICK

Merayakan 14 Tahun Blingsatan & Meroketnya 6 Rilisan Baru Skena Punk

Published

on

14 Tahun Blingsatan (dari kiri): Saka, Amir, Arief. (Foto: Novan Rebellnoise)

Euforia band gaek asal Surabaya, Blingsatan kemarin tak terbendung lagi. Sehari pasca merayakan hari kemerdekaan Indonesia yang ke-74, trio punk yang beranggotakan Arief, Saka, dan Amir itu juga merayakan hari jadinya yang ke-14. Dengan titel event Merocket #1 yang digelar di M-Radio Surabaya kemarin malam (18/8), mereka sekaligus melempar album The Best of Blingsatan, From The Past For The Future. Di tengah penampilannya, Blingsatan menyematkan seremoni pemotongan kue yang menandakan bertambahnya usia mereka. “Kue ini untuk kita semua, terima kasih yang sudah memberi support buat Blingsatan hingga kini!,” ujar Arief di sela-sela penampilannya.

Dalam setlist semalam, Blingsatan membawakan mayoritas lagu lama, seperti I Don’t Know Where, Belia, Si Sexy, Yang Muda Yang Bercinta, Waiting Is Hard Things To Do dan Berbeda Merdeka. Gigs semalam memang menjadi ajang bersenang-senang. Lupakan sejenak segala kesempurnaan di atas panggung, karena yang ada hanyalah sing along, alkohol, dan colekan kue tart yang menghiasi wajah ketiga personil Blingsatan.

Perayaan ulang tahun Blingsatan pun semakin marak dengan rilisan masal yang dilakukan oleh band-band penampil sebelumnya. Seperti Tulipe de Gezner yang akhirnya merilis album Berdiri Untuk Melangkah. Kemudian Melaju yang memperkenalkan mini albumnya Triakan Kebersamaan serta dua single baru yang meluncur masing-masing dari Dindapobia berjudul Overnow dan  Cheers The Punk dari Radiocase. Dan tentunya juga album digital The Best of Blingsatan, From The Past For The Future yang kabarnya akan menjadi pemanasan bagi Blingsatan untuk merilis album keempatnya.

Merocket #1 akhirnya ditutup lewat penampilan kolaboratif dari Hometown Rockers yang menampilkan musisi-musisi punk dari berbagai band seperti Happy Arabika (Pig Face Joe), Biyan (Plester-X), Paul (Give Me Mona), dan Ucup (Tulipe de Gezner). Menampilkan beberapa hits ala punk rock seperti Blitzkrief Bop, Basketcase, hingga When I Come Arround, mereka pun menutup pesta singkat Blingsatan yang selesai tidak lebih dari jam 9 malam, punk rock yang tertib!

 

Continue Reading

EVENTS

SUBNATION VOL.2: Gigs Penutup Ramadhan Klimaks

Published

on

Bagai oase di tengah padang pasir. Setidaknya frase tersebut lah yang menjadi acuan untuk gelaran Subnation Vol.2! Bulan ramadhan tidak membuat teman-teman diam dan malah terus aktif untuk berkarya. Terlebih lagi kegiatan Subnation kemarin jadi klimaks yang kompleks  sebelum ramdhan berakhir, karena Subnation Vol.2 tak hanya menyajikan performer terbaik tapi lengkap dengan sesi diskusi edukatif, hingga marketplace. Subnation pun melibatkan pasarnoise untuk tenant mereka. Sayang karena keterbatasan gear kami bawa, redaksi pun hanya berhasil menangkap para performer. Selebihnya kalian harus datang sendiri untuk menikmati gelaran event Subnation. Tunggu event mereka selanjutnya dan pantau informasinya melalui akun instagram @subnation031 Selamat menikmati.

Continue Reading

EVENTS

Downtown Take Over: Sebuah Upaya Pertemukan Berbagai Generasi

Published

on

Melanjutkan acara sebelumnya, Talk Bus Tour, Paranoise kembali membuat sebuah suguhan yang bermaksud untuk me-recall ingatan kita tentang skena musik di Surabaya. Jika Talk Bus Tour kemarin sempat membawa kita berjalan ke tiga tempat legendaris di dunia permusikan Surabaya, kini acara terbaru mereka Downtown Take Over pun ikut memainkan beberapa band lawas yang tujuannya memperkenalkan dari generasi ke generasi. Ada Noxa, Murphy Radio, Piston, Let’s Go Cmon Baby, Berdikari, Plester-X dan Egon Spengler. Berikut laporan kami.

Continue Reading

Surabaya