Filastine & Nova Yang Berkeliling Dunia Untuk Drapetomania

Grey Filastine & Nova Ruth. (Foto: Julieta Feroz)

Mungkin bagi sebagian orang, album Drapetomania hanyalah sebuah kumpulan musik eksprimental yang meleburkan unsur pop dan elektronik. Tapi bagi Filastine dan Nova, Drapetomania ialah sebuah jurnal perjalanan panjang mereka di beberapa negara yang sempat dikunjungi. Banyak hal yang mereka dapati saat berlayar di Samudera Hindia. Begitu pun saat mereka mengunjungi dusun yang penuh debu di Sahara, hingga pengamatan mereka di beberapa ruang urban di Brooklyn sampai Barcelona.

Grey Filastine menyebut kalau sebenarnya album ini terbentuk dengan sendirinya. Mereka secara tidak langsung mengerjakan secara nomaden, tergantung di negara mana mereka berada saat itu. “Pengalaman saat melintasi berbagai batas negara itu lah yang kemudian membentuk lirik-lirik kami, bahkan mempengaruhi seluruh proses pengerjaan album ini,” ungkapnya. Suara dari kaum-kaum terpinggirkan banyak menjadi inspirasi Filastine & Nova, termasuk titel Drapetomania yang di abad ke-18 merupakan istilah diagnosa medis bagi budak atau buruh yang berontak atau kabur, sehingga dianggap memiliki penyakit mental.

Secara musikal, Drapetomania berisikan komposisi elektronik dan akustik yang bunyinya berasal dari berbagai sumber, istilahnya: from pop and wildly experimental, from roots music to future bass. Mereka memang mencoba membangun komposisi lagu dan kolase sound dengan pendekatan kontemporer yang multi budaya. Grey sendiri memasukkan unsur bebunyian khas dari beberapa negara, seperti Afrika, Asia, Arabik, hingga gamelan Jawa yang terdengar di antara deru musik elektronik, drum & bass, industrial, bahkan dubstep.

Sementara Nova Ruth, ia bernyanyi sekaligus menulis lirik yang menafsirkan sensibilitas pop. Tak jarang nyanyiannya multi bahasa, ada yang berbahasa Inggris, Indonesia, bahkan langgam Jawa. Rasanya Drapetomania makin komplit, karena di dalamnya ikut terlibat juga sejumlah musisi yang berkolaborasi. Ada Brent Arnold (cello), Safril (suling), Gondrong Gunarto (sitar, kendang, ukelele), Scott Adams (akordion), dan Totok Tewel (gitar) yang juga merupakan Ayah dari Nova.

Dalam Album yang berisi total 12 track ini, Filastine & Nova juga memuat empat karya audio-visual, yakni ‘The Miner’, ‘The Cleaner’, ‘The Salarymen’, dan ‘Los Chatarreros’ yang sempat rilis sebagai episode dari serial Abandon. Abandon sendiri merupakan serial video musik yang mengambil satu tema utama yaitu tarian pembebasan dari kelas pekerja atau buruh yang tertindas (dances of liberation from degrading work). Konsep pembebasan buruh itulah yang kemudian dibawa juga ke dalam sesi tur dan pertunjukan Drapetomania yang selalu menggabungkan performa live music, video sinematik, dan tarian.

Setelah terlebih dahulu dirilis secara internasional melalui label rekaman Post World Industries, pada 28 April kemarin album Drapetomania mulai dipasarkan di Indonesia melalui Omuniuum (Bandung). Dan di bulan yang sama, Filastine & Nova telah berkeliling ke wilayah Eropa dan Amerika Utara. Selanjutnya, mereka juga berencana untuk menyambangi Indonesia di bulan September, dan kemudian Australia.

Rakjat Djelatah yang tak segan untuk mengepul ilmu dari panggung ke panggung bebunyian. Suka menggagungkan katakata pada limit kepsyen instagram belaka. Akhir-akhir ini, ia sedang belajar menulis yang baik dan benar untuk kemaslahatan umat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *