Connect with us
https://ronascent.biz/wp-content/uploads/2017/07/ronascent-adv-copy.jpg

FEATURES

Filastine & Nova Yang Berkeliling Dunia Untuk Drapetomania

Published

on

Grey Filastine & Nova Ruth. (Foto: Julieta Feroz)

Mungkin bagi sebagian orang, album Drapetomania hanyalah sebuah kumpulan musik eksprimental yang meleburkan unsur pop dan elektronik. Tapi bagi Filastine dan Nova, Drapetomania ialah sebuah jurnal perjalanan panjang mereka di beberapa negara yang sempat dikunjungi. Banyak hal yang mereka dapati saat berlayar di Samudera Hindia. Begitu pun saat mereka mengunjungi dusun yang penuh debu di Sahara, hingga pengamatan mereka di beberapa ruang urban di Brooklyn sampai Barcelona.

Grey Filastine menyebut kalau sebenarnya album ini terbentuk dengan sendirinya. Mereka secara tidak langsung mengerjakan secara nomaden, tergantung di negara mana mereka berada saat itu. “Pengalaman saat melintasi berbagai batas negara itu lah yang kemudian membentuk lirik-lirik kami, bahkan mempengaruhi seluruh proses pengerjaan album ini,” ungkapnya. Suara dari kaum-kaum terpinggirkan banyak menjadi inspirasi Filastine & Nova, termasuk titel Drapetomania yang di abad ke-18 merupakan istilah diagnosa medis bagi budak atau buruh yang berontak atau kabur, sehingga dianggap memiliki penyakit mental.

Secara musikal, Drapetomania berisikan komposisi elektronik dan akustik yang bunyinya berasal dari berbagai sumber, istilahnya: from pop and wildly experimental, from roots music to future bass. Mereka memang mencoba membangun komposisi lagu dan kolase sound dengan pendekatan kontemporer yang multi budaya. Grey sendiri memasukkan unsur bebunyian khas dari beberapa negara, seperti Afrika, Asia, Arabik, hingga gamelan Jawa yang terdengar di antara deru musik elektronik, drum & bass, industrial, bahkan dubstep.

Sementara Nova Ruth, ia bernyanyi sekaligus menulis lirik yang menafsirkan sensibilitas pop. Tak jarang nyanyiannya multi bahasa, ada yang berbahasa Inggris, Indonesia, bahkan langgam Jawa. Rasanya Drapetomania makin komplit, karena di dalamnya ikut terlibat juga sejumlah musisi yang berkolaborasi. Ada Brent Arnold (cello), Safril (suling), Gondrong Gunarto (sitar, kendang, ukelele), Scott Adams (akordion), dan Totok Tewel (gitar) yang juga merupakan Ayah dari Nova.

Dalam Album yang berisi total 12 track ini, Filastine & Nova juga memuat empat karya audio-visual, yakni ‘The Miner’, ‘The Cleaner’, ‘The Salarymen’, dan ‘Los Chatarreros’ yang sempat rilis sebagai episode dari serial Abandon. Abandon sendiri merupakan serial video musik yang mengambil satu tema utama yaitu tarian pembebasan dari kelas pekerja atau buruh yang tertindas (dances of liberation from degrading work). Konsep pembebasan buruh itulah yang kemudian dibawa juga ke dalam sesi tur dan pertunjukan Drapetomania yang selalu menggabungkan performa live music, video sinematik, dan tarian.

Setelah terlebih dahulu dirilis secara internasional melalui label rekaman Post World Industries, pada 28 April kemarin album Drapetomania mulai dipasarkan di Indonesia melalui Omuniuum (Bandung). Dan di bulan yang sama, Filastine & Nova telah berkeliling ke wilayah Eropa dan Amerika Utara. Selanjutnya, mereka juga berencana untuk menyambangi Indonesia di bulan September, dan kemudian Australia.

Rakjat Djelatah yang tak segan untuk mengepul ilmu dari panggung ke panggung bebunyian. Suka menggagungkan katakata pada limit kepsyen instagram belaka. Akhir-akhir ini, ia sedang belajar menulis yang baik dan benar untuk kemaslahatan umat.

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

BACKSTAGE

Mengejar Deadline Keselamatan & Kesehatan Kerja Pekerja Kreatif

Published

on

Ilustrasi: Syamsur Rijal

Wenak yo jeh, kerjomu mung laptopan tok (enak banget sih kamu, kerjamu cuma main laptop aja).”

Freelance-an gini, pasti tiap hari bisa bangun siang ya.”

“Band-band-an kan seneng-seneng doang, gak ada libur juga gak papa to.”

Pernah dengar kalimat-kalimat nggemesin seperti di atas? Bagi kawan-kawan pekerja industri kreatif, digital, dan media, bait-bait tersebut bisa jadi terasa bagai lagu lama. Banyak orang menganggap pekerjaan kita sebagai pekerjaan impian, karena syukur alhamdulillah banyak dari kita yang mungkin termasuk bajingan beruntung yang berkesempatan memiliki penghidupan dari kegiatan yang disenangi (bahkan merupakan hobi). Proses terjal menuju titik itu adalah cerita lain, yang orang pertama lihat tentu saja tampak luarnya dulu.

Ilusi independensi dan kebebasan yang terpancar dari praktek kerja para pekerja kreatif memang menggiurkan, terlebih jika sang penerima informasi menelan mentah-mentah bumbu gurih yang ditaburkan oleh mas-mbak motivator, bahwasanya “kerja dengan passion akan membuat kita serasa tidak bekerja”. Sebenarnya ungkapan ini keren dan benar, karena dorongan semangat dari rasa suka itu memang tiada duanya, tapi lantas bagaimana kalau passion justru disalahgunakan guna memangkas hak pekerja? Jangan sampai hal tersebut diterus-teruskan keberadaannya.

Sekilas Pekerja Ekonomi Kreatif Indonesia

Sebelum membahas lebih jauh soal hak pekerja kreatif, mari kita samakan pandangan dulu soal siapa saja yang terhitung sebagai pekerja ekonomi kreatif di sini. Diintisarikan dari bekraf.go.id, ekonomi kreatif adalah sektor yang tidak secara langsung bergantung pada mekanisme eksploitasi sumber daya alam, tapi lebih bertumpu pada keunggulan sumber daya manusia yaitu ide-ide kreatif. Ada banyak subsektor di dalamnya, yaitu, Aplikasi & Pengembang Permainan; Arsitektur; Desain Interior; Desain Komunikasi Visual; Desain Produk; Fashion; Film, Animasi, & Video; Fotografi; Kriya; Kuliner; Musik; Penerbitan; Periklanan; Seni Pertunjukan; Seni Rupa; serta Televisi & Radio. Secara jumlah, pada tahun 2015 dari total 114.819.199 penduduk Indonesia yang bekerja 15.959.590 di antaranya bekerja di sektor ekraf (ekonomi kreatif). Jumlah tersebut meningkat hampir 800.000 orang dari tahun sebelumnya (Data Statistik & Hasil Survei Ekonomi Kreatif, kerjasama Badan Ekonomi Kreatif dan Badan Pusat Statistik).

Dari sini bisa terlihat betapa minat masyarakat untuk berkiprah di sektor ini sebenarnya besar. Pun dari pemerintahan sendiri juga memberikan perhatian khusus pada potensi ekraf yang makin tak bisa dikesampingkan (hasil survei tahun 2015 menunjukkan bahwa nilai ekspor dari sektor ini mencapai 19,4 miliar USD dan Produk Domestik Bruto (PDB)-nya mencapai 852,24 triliun rupiah). Ekonomi kreatif digadang-gadang akan menjadi tulang punggung Indonesia di masa depan. Namun setelah ditengok lagi, sepertinya masih banyak PR yang perlu diusahakan bersama. Mulai dari soal perlindungan hukumnya, kesadaran masyarakat akan mekanisme dan hak pekerja kreatif, kesadaran para pekerjanya sendiri untuk melindungi hak kekayaan intelektual yang mereka miliki, dan yang sangat fundamental tapi kerap terlupa: mengadvokasi kesadaran para pekerja ekraf akan hak kesehatan dan keselamatan kerja (K3) yang tentunya berhak mereka dapatkan, layaknya kawan-kawan dari sektor lainnya.

Distorsi “Tak Berwujud”

Selain terlihat ‘senang-senang terus’, salah satu kesalahkaprahan yang kerap dirasakan pekerja kreatif terutama dari ranah digital adalah bahwa pekerjaan mereka dianggap harmless—karena sehari-harinya ‘hanya’ berhadapan dengan komputer. Di mata sebagian besar masyarakat kita, ‘risiko kerja’ masih cenderung seputar kecelakaan akibat mesin besar atau konstruksi; sesuatu yang bersifat tiba-tiba dan akibatnya berupa kerusakan ragawi, bahkan bisa merenggut nyawa. Resiko-resiko laten yang terjadi seiring berjalannya waktu seperti penurunan fungsi mata (desainer grafis, game developer, dll.), gangguan pendengaran (sound engineer), hingga gangguan mental akibat trauma (jurnalis) seperti dianggap tidak cukup penting untuk ditindaklanjuti.

Apalagi jika keluhannya ‘hanya’ terkait jam kerja yang berlebihan. Di atas kertas, sebagian besar kantor mencantumkan di kontrak kerja bahwa jam kerja karyawan adalah sebanyak 8 jam sehari atau 40 jam seminggu. Nyatanya banyak dari pekerja sekarang yang merasa bahwa kerja 10 jam atau lebih dalam sehari itu wajar. Kalau ada yang protes sedikit, salah-salah dicap manja.

Jika dilihat dari hasil survey yang dirilis Badan Ekonomi Kreatif (BEKRAF) pada tahun 2017, ada 26,32% pekerja Indonesia yang mengaku bekerja lebih dari 48 jam seminggu, dan dari jumlah itu 31,98%-nya adalah pekerja dari sektor ekonomi kreatif. Untuk situasi-situasi tertentu, jam kerja tambahan mungkin memang dibutuhkan guna tercapainya suatu target. Tapi bagaimana jika keadaan tersebut terjadi setiap hari nyaris tanpa putus dari tahun ke tahun? Beberapa kantor bahkan menyarankan karyawannya untuk tidak mengambil cuti, agar ‘potensi’ maksimal perusahaan bisa tercapai. Apakah kita sedang menyaksikan era perbudakan glamor, ketika satu orang bisa memegang beban kerja 4 orang, dan yang durasi kerjanya paling lama bangga dielu-elukan sebagai pekerja keras?

Padahal, sudah banyak contoh kasus bekerja melebihi batas yang akhirnya berujung fatal. Masih ingat kejadian meninggalnya seorang copywriter di Jakarta akibat bekerja 30 jam tanpa tidur? Karena belum ada aturan hukum yang jelas terkait pelanggaran unsur K3 yang efeknya bukan berupa celaka fisik yang kasat mata (Almarhumah langsung mendadak koma), pada akhirnya perusahaan tempat Almarhumah bekerja hanya sebatas dipanggil oleh Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia (P3I). Memang sudah ada beberapa undang-undang yang bisa dijadikan acuan seperti UU no 1 tahun 1970 mengenai Keselamatan Kerja dan UU no 18 tahun 2014 tentang Kesehatan Jiwa, tapi kedua UU tersebut tidak mengandung sanksi khusus bagi pelanggaran hak yang tidak meninggalkan bukti ‘kerusakan’ fisik.

Menyadari masih ada situasi seperti ini, sebagai salah satu pekerja yang berkiprah di bidang kreatif Ellena Ekarahendy (Art Director & Desainer Grafis) dan sejumlah kawan pun menginisiasi SINDIKASI (Serikat Pekerja Media dan Industri Kreatif untuk Demokrasi). Tujuan dasarnya, untuk menjadi wadah bagi para pekerja media dan industri kreatif untuk berjejaring lintas profesi, berbagi pengetahuan dan kemampuan lintas disiplin, serta menjalin solidaritas agar bisa berkarya dalam ekosistem yang inklusif dan manusiawi. SINDIKASI sendiri mulai dibangun sejak akhir 2016, dan dalam momentum bulan Kesehatan & Keselamatan Kerja (K3) pertengahan Januari-Februari lalu SINDIKASI menggelar Work Life Balance Festival—sebuah langkah advokasi dan edukasi berbalut selebrasi yang mereka adakan di 4 titik : Jakarta, Surabaya, Bandung, dan Yogyakarta.

Kenapa isu K3 lah yang menjadi menu utama di event besar pertama SINDIKASI ini? Karena persoalan K3 ini masih belum familiar di telinga masyarakat, bahkan di kalangan pekerjanya sendiri—padahal ini adalah hak yang sangat mendasar. Jaminan hukum terkait K3 juga belum memadai. Maka dari itu, SINDIKASI sengaja menghadirkan Work Life Balance Festival ini sebagai ruang temu dan ruang dialog bagi para pekerja dan pemangku kepentingan dari sektor ekonomi kreatif dan sektor lainnya, sehingga elemen-elemen masyarakat ini dapat saling membicarakan kondisi ketenagakerjaan terkini dan bersama-sama mencari kemungkinan-kemungkinan solusinya.

Melawan Sekat, Menyadari Ambang Batas

Selain persoalan jam kerja, tim Riset dan Edukasi serta tim Advokasi SINDIKASI juga telah mengidentifikasi sejumlah tantangan lain yang kerap ditemui pekerja ekraf antara lain upah di bawah garis minimum, kontrak yang tidak jelas, dsb. Isu K3 ini bisa dibilang paling fundamental karena tanpa mental yang sehat kesehatan fisikpun ikut terancam, jika sudah demikian lantas bagaimana seseorang dapat mengerjakan pekerjaannya dengan optimal? Masalahnya, membicarakan soal kesehatan mental masih menjadi hal yang relatif tabu di Indonesia. Bahkan BPJS Ketenagakerjaan pun belum memiliki mekanisme klaim perawatan penyakit mental, padahal kesehatan mental kini telah termasuk risiko utama dari kultur kerja saat ini. Dalam BPJS Kesehatan pun,seseorang baru bisa melakukan klaim penyakit mental jika telah ada dampak fisik pada penderitanya. Dan karena sulitnya akses yang tepat dan memadai, coping mechanism yang dianggap paling mudah diakses pun menjadi jalan keluar, yang tak jarang justru memperburuk kondisi individu itu sendiri, misalnya: pada alhokol atau penyalahgunaan obat-obatan. Kalau sudah begini, rasanya nirfaedah kalau solusinya hanya berkutat sebatas tunjuk-menunjuk siapa yang salah.

Tekanan kerja melewati ambang batas terjadi pula di banyak negara lain, dan dari sini sebenarnya kita bisa mulai membangun solusinya. Jepang, negara dengan tingkat bunuh diri yang tinggi (salah satu penyebabnya adalah tekanan kerja berlebih), memiliki sanksi tegas sebagai konsekuensi dari pelanggaran standar operasional kerja. Pada Oktober 2017, Pengadilan Tokyo menghukum perusahaan periklanan dan public relation Dentsu dengan denda sebesar 500 ribu yen karena seorang pekerjanya memutuskan mengakhiri hidup akibat beban kerja yang berlebih.

Pemerintah harus bisa setegas ini dalam menindak pelanggaran yang ada. Begitupun dengan manajemen perusahaan juga harus lebih bisa berpihak pada pekerjanya sendiri/klien yang menyediakan jasa untuk mereka, antara lain dengan cara mempertegas kewajiban dan hak kerja. Terlebih soal kontrak kerja, yang mana banyak perusahaan berbasis digital seringkali memberi kontrak kerja yang lebih menguntungkan perusahaan—pekerja bahkan bisa diputus kontrak sewaktu-waktu. Di era digital disruption di mana sistem kerja dan persaingan bisa datang dari mana saja dan terjadi pergeseran perilaku ekonomi, kita harus sigap menyesuaikan diri dalam pergeseran yang ada. Dan penyesuaian yang kita lakukan harus sesegera yang kita bisa—agar kesehatan dan keselamatan para pekerja tidak berlarut-larut menjadi ongkosnya.

Perekam momen, penganyam benang, tukang gambar, sekaligus pengamat tulisan di bodi truk. Menghabiskan 9-5 dengan mengasuh dunia maya, sesuai dengan namanya sendiri.

Continue Reading

EDITOR'S PICK

Tyaga: Kegigihan Rasvan dan Kesabaran Aoki

Published

on

Rasvan Aoki. (Foto: Randy Julyantara)

Sore itu di Qubicle Suropati 84 mulai terlihat kerumunan para pegiat skena. Tidak banyak memang, tapi untuk ukuran wadah open space minimalis yang terletak di kawasan Untung Suropati itu sudah bisa dibilang padat. Agenda malam itu adalah hearing session dari salah satu band paling seksi saat ini; Rasvan Aoki. Mereka seksi dari segi karakter suara si vokalis, dan seksi pula kemasan lagu-lagunya. Sejak tahun lalu sudah banyak yang meramalkan 2018 sebagai panggung mereka untuk unjuk gigi. Tidak berlebihan, pasalnya mereka sudah menunggu hampir lima tahun untuk bisa meretas.

Shofan Kusuma Firdaus, atau lebih dikenal sebagai Rasvan tampak jadi orang paling sibuk di sana. Gitaris sekaligus founder Rasvan Aoki ini sedang sibuk melipat booklet bandnya yang baru kelar dicetak. Di saat bersamaan, pria vegetarian itupun riweh berkoordinasi urusan teknis acaranya. “Mas, kaosnya Rasvan Aoki ada yang warna hitam gak?” tanya salah satu pengunjung yang hadir. Sambil lanjut melipat, ia pun menjawab “Ada, tunggu saya carikan,” jawab Rasvan. Di meja yang sama, dia langsung mencari merch bandnya yang akan dibeli sambil tetap berusaha memegang lipatan booklet di tangan kirinya.

Selesai melakukan transaksi dan menyelesaikan lipatan booklet seadanya, Rasvan beralih ke ruangan tempat berlangsungnya hearing session. Ia melakukan final brief terhadap beberapa rekannya sesaat sebelum acara dimulai. Tampak di sana ada Muhammad Firman, seorang pengamat musik yang didapuk jadi moderator, serta Aoki; vokalis bersuara seksi itu tadi. Berbeda dengan Rasvan, sosok Aoki cenderung lebih santai. Perempuan yang aktif bersama Waft Lab itu sejak di venue lebih banyak bertegur sapa dengan pengunjung yang hadir, sambil sesekali membantu Rasvan yang sibuk menyiapkan berbagai hal di hajatan perdana mereka di 2018 ini. Yes, tepat bulan Februari kemarin Rasvan Aoki menggelar hearing session album debutnya, Tyaga. Acara itu digelar hanya beberapa pekan setelah single ketiganya Untamed Heart rilis.

Rasvan dan Aoki saat hearing session di Qubicle Suropati 84. (Foto: Rona Cendera)

Ada dua hal yang menarik dari Rasvan Aoki; pertama tentang materinya. Band yang terbentuk di lingkungan kampus seni di kawasan Barat Surabaya ini punya sebongkah materi padat dan unik. kombinasi pop dan reggae-nya mampu berasimilasi jadi beberapa warna musik baru yang menggairahkan. Kedua, latar belakang duo pop ini yang sebenarnya kontradiktif; sosok Rasvan yang gigih dan Aoki yang lebih sabar nan santai. Uniknya, itulah yang jadi titik temu mereka. Ketika si Rasvan dominan di balik panggung, sebaliknya Aoki lah yang dominan di depan panggung. Ketika acara berlangsung, Aoki yang memiliki nama lengkap Intan Resta Rini memang lebih vokal dalam mempresentasikan karyanya. Seperti halnya ketika di stage, dialah yang selalu berhasil mencairkan suasana.

Di beberapa situasi, Aoki seringkali jadi protagonis dengan kesabarannya menghadapi tipikal Rasvan yang grusa-grusu. Dan sebaliknya, Aoki pun bisa jadi antagonis takkala kesibukannya tidak bisa di nalar.  Jadi, jika dibanding duo-duo pop lainnya di Surabaya, mungkin Rasvan Aoki bakal punya usia lebih panjang. Faktornya simpel, selama ada salah satu yang mau mengalah diantara mereka. Yah, meskipun dikeseharian sering beradu argumen, tapi nyatanya Tyaga tetap bisa lahir secara normal dan tidak prematur. Awalan yang baik bukan?

Mengutamakan Komposisi, Sisanya Saling Mengisi

Nuansa etnik begitu terasa digenggaman rilisan fisik album Tyaga. Oya, nama album mereka sendiri sebenarnya diambil dari bahasa Sansekerta yang bisa dimaknai sebagai suatu perbuatan atau kegiatan tanpa melihat hasil, atau tanpa mengharap imbal balik. “Bagi kami, Tyaga itu seperti melakukan segala kegiatan (positif) dengan tanpa mengharapkan hasil yang baik-buruk atau berhasil-gagal. Semuanya sama saja,” jelas Rasvan. Lalu, kenapa ‘Tyaga’? “Karena kami berkarya apa adanya. Untuk tanggapan pendengar, suka atau tidak suka, kami memilih pasrah,” lanjutnya lagi.

Di dalam album tersebut ada delapan lagu, tiga diantaranya sudah mereka perkenalkan lebih dulu. Ada Rindu, track legendaris Rasvan Aoki, di mana versi akustiknya lima tahun silam terselip nada dering Blackberry Messagner (BBM). Kemudian yang terbaru, ada When You’re Asleep serta Untamed Heart. Semuanya mereka kerjakan berdua, dengan dibantu oleh beberapa rekan-rekannya yang silih berganti mengisi di balik dan depan layar Rasvan Aoki. Sejak 2014, band ini bertransformasi dari akustik jadi format band yang dilengkapi sederet brass section. Nah, orang-orang itulah yang banyak membantu prosesnya, termasuk juga beberapa nama dibalik layar yang ada di lingkungan mereka. Seperti ketika mengolah When You’re Asleep. Lagu yang mulanya hanya bermuatan suara gitar clean dan vokal itu dirombak jadi lebih berwarna, melodrama, dan spiritual sebelum masuk dapur rekaman.

Rasvan Aoki. (Foto: Randy Julyantara)

Baik Rasvan maupun Aoki mengakui, keberadaan rekan-rekan musisi yang membantunya selama masa rekaman sangat-sangat membantu. Terbukti, di penghujung hearing session, mereka memperkenalkan satu persatu additional player-nya. “Mereka semua merupakan orang-orang yang punya andil besar dibalik proses pembuatan Tyaga,” lanjut Rasvan.

Sayangnya, meski berada di lingkungan yang apresiatif, Rasvan Aoki justru kesulitan mengolah bandnya. Polemik ini mereka namai: sistem. Seperti band pada umumnya, sistem manajemen ialah wajib untuk diolah secara jelas. Ketika memilih untuk diatasi sendiri, tentunya tidak akan optimal. Sudah sewajarnya musisi bekerja untuk membuat komposisi. Dan manajemen, cukup membangun relasi dan promosi. Klise seperti ini seringkali menggiring band pada titik kejenuhan dan pembubaran. Faktornya jelas karena awareness yang kalah bersaing, berujung pemasukan kian kering.

Sejak setahun lalu, Rasvan Aoki sempat mengeluhkan hal itu. Bahkan hingga sekarang, di saat mereka tengah menjalani sesi tur 10 kota, semua harus di handle sendiri. Walhasil, sosok Rasvan dan Aoki di sini dituntut untuk multifungsi. Mereka berbagi membuka networking, mereka juga berbagi membangun tim, mulai soundman, roadman, hingga mereka terlihat seperti stuntman. “Kami sudah beberapa kali ganti manajer, tapi belum ada yang cocok. Jadi, sekarang kami atur sendiri. Di luar urusan komposisi, ya kami saling mengisi,” lanjutnya.

Meskipun sempat keteteran, sering berselisih paham, pada ujungnya mereka pun mencoba untuk lebih ‘Tyaga’. Ya, mencoba berproses semaksimal mungkin dengan tulus dan ikhlas. Yoshie Nakano dan Masaki Mori menjadi perspektif mereka untuk menjalaninya. “Ego-Wrappin’ bisa melakukannya. Mereka bermusik, mengurus semuanya sendiri tanpa beban, mereka juga berkeluarga dan sampai sekarang masih tetap bermusik. Ya, mereka berdua jadi influence kami,” tambahnya. “Sekarang yang penting kami harus tetap produktif membuat komposisi. Sisanya, cukup saling mengisi,” tutup Rasvan.

Melepas lajang di dunia tarik pena dengan menyandang lulusan sastra yang tidak sastrawi, musisi gagal, penimbun berita pil koplo, dan buruh radio.

Continue Reading

FEATURES

Sebuah Perkenalan: Rayssa Dynta

Published

on

Source: ryassadynta.com

Bila mendengarkan Something About Us milik Rayssa Dynta, beberapa orang mungkin masih asing dengan namanya. Rayssa Dynta adalah musisi muda asal Jakarta yang berhasil merilis EP berjudul Prolog dibawah naungan Double Deer Records. Dalam EP-nya, Rayssa memasukkan lima lagu dengan energi dan karakter yang soul-bearing bernuansa electro-pop. Lirik yang ditulis oleh Rayssa sendiri tak selalu bicara tentang romansa percintaan antar pasangan. Seperti pada lagu Best Tonight, Rayssa merefleksikan kemampuan berjuang untuk dirinya sendiri. Lalu bagaimana menjawab pertanyaan siapa Rayssa Dynta? “Rayssa Dynta is Rayssa Dynta. I don’t know what to say exactly — I’m a person, I’m a musician, I sometimes write. It’s always changing.” Rayssa sebenarnya sosok perempuan yang sederhana. Ia suka mendengarkan satu album hingga lelah sendiri, menggemari kartun, dan memilih untuk menggunakan warna hitam atau netral karena tak mau pusing perkara penampilan sebelum beraktifitas.

Wanita yang mulai menulis lagu sejak 2007 ini memutuskan jadi musisi karena dari semua hal yang telah ia coba, musik merupakan rewarding untuknya. “But I’m new so let’s see how this goes”, jawabnya sambil tertawa. Rayssa Dynta sebenarnya tak bisa dibilang sangat baru di dunia musik. Ia pernah beberapa kali berkolaborasi dengan musisi dari Double Deer, seperti Arrio di lagu Drown Me dan Artificial di lagu Rationale. Ia juga sempat berkolaborasi dengan Emir Hermono di lagu Call On U. Beberapa kolaborasi itulah yang akhirnya mendorong Rayssa mengerjakan EP Prolog dengan Double Deer. “I knew them from a friend, then I started helping them out with some projects and I guess that led to this whole thing”, jelasnya.

Walaupun sudah terbiasa mengerjakan beberapa proyek musik dan bekerjasama dengan musisi lain, bukan berarti Rayssa tak menemukan tantangan ketika mengerjakan mini albumnya tersebut. Sebagai musisi yang perdana mengerjakan EP-nya sendiri dan berhasil menyelesaikannya, Rayssa belajar banyak hal baru. Prosesnya tentu tak mudah dan tak sebentar. Hal ini menjadi menarik bagi Rayssa karena setting yang digunakan benar-benar berbeda dari biasanya. “With all off these electronic gizmos, music comes differently to me. At least that’s how I felt”, jawabnya. Solois yang sempat terjun di dunia modelling ini sebelumnya terbiasa menggunakan alat musik gitar akustik dan piano namun di sini ia harus beradaptasi dengan setting yang serba elektronik.

Bicara tentang EP, tentu juga tak lepas dengan karya seni visual yang digunakan sebagai identitas musisi itu sendiri. Cover-nya sendiri pun dikonsep dengan menarik. Bekerja sama dengan beberapa seniman visual, seperi Contempt Studio, Josephine Irene, dan Farah Shafia, buah apel menjadi sangat ikonik baik di EP hingga situs pribadinya. Ketika ditanya apa relasi buah apel dengan dirinya, Ryssa menyebut itu hanya art director dari EP Prolog ini yang mampu menginterpretasikan. “But if you ask me, it might portray my love for food”, tukasnya sambil tertawa. Bagaimana pun tak perlu banyak alasan untuk menjalin korelasi dengan Rayssa Dynta. EP Prolog dapat dinikmati di iTunes atau Spotify.

Kind of girl you won’t remember by the next 5 minutes. An endless river. I’m sorry, I’m not really good in self-description. But that’s all that I can write 🙂 Regards

Continue Reading
Advertisement

Zine Archives

Surabaya