Connect with us
https://ronascent.biz/wp-content/uploads/2017/07/ronascent-adv-copy.jpg

NEWS

Kejutan Baru Foo Fighters

Published

on

Rami Jaffee melengkapi personil Foo Fighters yang kini jadi berenam. (Dok. Billboard)

Industri musik dunia dihebohkan dengan berita gembira yang datang dari band alternative rock asal Seattle, Foo Fighters. Setelah mengumumkan jadwal tur mereka bulan Mei lalu, Foo Fighters secara mengejutkan merilis single terbaru beserta video klip yang bertajuk Run awal Juni kemarin. Sontak kabar itu pun disambut gembira oleh para penggemarnya yang rindu akan karya-karya mereka pasca album Sonic Highways tahun 2014 sebelum akhirnya memutuskan hiatus setahun setelahnya.

Tiga tahun merupakan waktu yang cukup bagi Foo Fighters untuk beristirahat. Lewat rilisnya Run, mereka seolah ingin membangunkan para penggemarnya melalui petikan gitar yang soft serta ketukan bass drum yang padu sebelum memberi part untuk Dave Grohl memperdengarkan scream voice khas miliknya.

Selain dari segi musikalitas, Foo Fighters juga menyuguhkan sesuatu yang baru melalui video klip Run. Seperti biasa, disutradarai sendiri oleh Dave Grohl, konsep klip tersebut menceritakan tentang para lansia yang berperilaku tidak wajar. Para lansia yang diperankan sendiri oleh personil Foo Fighters itu tampil brutal dengan memainkan musik Foo Fighters, sementara lansia lainnya bertindak anarkis sembari menikmati penampilan Grohl cs.

Rami Jaffee (kanan) saat tampil bersama Daryl Hannah. (Foto: Erik Philbrook)

Di dalam video itu juga ada sebuah fakta menarik, di mana kini formasi mereka tidak lagi berlima, namun berenam. Di program radio, Zane Lowe’s Beast 1 Show, Grohl mengklarifikasi kebenaran berita tersebut. Dia membenarkan bahwa Rami Jaffee telah mengisi posisi tetap sebagai keyboardist Foo Fighters. Rami Jaffee sendiri bukanlah orang baru di tubuh Foo Fighters. Pria kelahiran Los Angeles yang sempat bergabung di The Wallflowers dan Coheed and Cambria itu sudah menjadi additional kibor Foo Fighters sejak album In Your Honor (2005). Meski begitu, posisinya baru ditetapkan sebagai personil per 2017 ini.

Tak lama setelah single mereka rilis, Foo Fighters juga mengumuman album baru bertajuk Concrete and Gold. Album tersebut akan berisikan 11 track dan salah satunya adalah RunConcrete and Gold dijadwalkan rilis pada 15 September 2017 melalui Columbia Records.

Cover album Concrete and Gold

Tracklist:
01.T-Shirt
02.Run
03.Make it Right
04.The Sky is a Neighborhood
05.La Dee Da
06.Dirty Water
07.Arrows
08.Happy Ever After (Zero Hour)
09.Sunday Rain
10.The Line

 

 

An amateur dilettante | Straight Edge | Star Wars’ die-hard fans | Records Junkie |

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

NEWS

Kenistaan Layar Laca di Mata Hockey Hook

Published

on

Artwork single terbaru Hockey Hook, Layar Nista. (dok. Hockey Hook)

Cerita tentang kekesalan terhadap tayangan televisi di Indonesia memang belum ada habisnya. Banyak musisi yang menumpahkan keluhannya lewat lagu, tak terkecuali dengan unit ska punk asal Kota Kembang, Hockey Hook. Kenistaan layar kaca mereka nyanyikan lewat single baru yang diberi judul Layar Nista.

Single yang rilis digital akhir November kemarin ini digarap sendiri oleh Hockey Hook dengan bantuan Ako selaku sound engineering di Red Studio Bandung. Lewat rilis persnya, Hockey Hook menyebut konten televisi di Indonesia sampai saat ini masih jauh dari kata edukatif. “Konten televisi di Indonesia dipenuhi program-program tidak mendidik seperti sinetron yang ditayangkan siang hari, pengemasan variety show di beberapa kanal media yang penuh gosip selebriti, diwarnai juga cemoohan antar satu sama lain host. Tidak ketinggalan pula kampanye hitam politik di media Televisi yang tentunya saling menjatuhkan lawan,” sebut mereka.

Layar Nista ini dikemas lebih ke reggae dub ala California era 90an. Mereka juga menggandeng DJ Eone Cronik dari Eye Feel Six guna membangun nuansa scratch di lagu tersebut. Dan setelah ini, Hockey Hook kabarnya akan melempar mini album berisikan lima lagu yang sekaligus melanjutkan debut album yang rilis dua tahun lalu.

Melepas lajang di dunia tarik pena dengan menyandang lulusan sastra yang tidak sastrawi, musisi gagal, penimbun berita pil koplo, dan buruh radio.

Continue Reading

NEWS

Humi Dumi Tinggalkan Akustik & Perluas Dimensi Musik

Published

on

Artwork single baru Humi Dumi karya Bagus ‘Bagong’ Priyo. (Dok. Humi Dumi)

Meninggalkan nuansa akustik dan memperluas dimensi musik; selamat datang kembali Humi Dumi! Salah satu serpihan band pop Surabaya di medio 2014 ini beranjak kembali ke permukaan. Sematan folk yang sempat diberi oleh kebanyakan pendengarnya coba dimentahkan, karena sejatinya Humi Dumi kini tengah membangun entitas indie pop lewat single barunya, Pathless.

Meskipun mencoba untuk jadi lebih dewasa dan kompleks, tapi Humi Dumi tetap menaruh ciri khasnya, di mana imajinasi tetap menyelimuti tiap bait yang dinyanyikan syahdu. “Kami masih bermain-main dengan imajinasi, tentang sebuah wacana eskpais atas sang waktu dan merakit kembali fragmen demi fragmen tentang ingatan, demi berdamai dengan masa lalu,” ujar vokalis mereka Qanita Hasinah.

Terkait dimensi musik, Humi Dumi kini tak hanya terpaku pada Angus & Julia Stone, yang konon kerap disandingkan sebagai influence terbesarnya. Dalam lagu Pathless, kalian bisa mendengar bagaimana Qanita dkk punya banyak rasa dan referensi. Cukup terasa bagaimana pengaruh british yang datang dari The Smith, riff-riff Thom Yorke hingga luapan emosi ala Saosin.

Dengan rilisnya Pathless, Humi Dumi juga berencana melahirkan anak keduanya di awal 2019 nanti. Jika sesuai timeline, maka album tersebut akan menjadi rilisan kedua mereka setelah debut I Am Ij Sin A yang rilis empat tahun lalu.

Melepas lajang di dunia tarik pena dengan menyandang lulusan sastra yang tidak sastrawi, musisi gagal, penimbun berita pil koplo, dan buruh radio.

Continue Reading

NEWS

Monkey to Millionaire Sindir Orang Yang Gila Popularitas

Published

on

Artwork Monkey to Millionaire – Envy. (Source: Desire Music)

Monkey to Millionaire sedang melanju dengan kecepatan tinggi. Setahun setelah album Tanpa Koma, Aghan Sudrajat dan Wisnu Aji lanjut tancap gas lewat single baru Envy. Mengamati dengan kritis lalu menyindir dengan sarkartis; MTM masih tetap sama. Di lagu ini, sasaran mereka ada pada orang-orang yang gila popularitas hingga nekat melakukan apapun untuk bisa dikenal. “Bahkan sampai ngejual kehidupan pribadi cuma buat kebutuhan promosi dan naikin nama. Entah itu mengumbar atau diumbar,” ujar Aghan. Mereka mempertanyakan tentang orang-orang yang gila popularitas dengan beragam cara yang bisa dibilang nyaris tidak masuk akal.

Single Envy sendiri dijadikan single pertama yang akan mewakili album keempatnya. Jika dibanding Titik Koma atau Lantai Merah, Monkey to Millionaire terdengar seperti ingin menunjukan betapa easy listening-nya lagu mereka. Nada-nadanya terasa manis dan menyenangkan, tidak sarat emosi atau eksperimen sound seperti beberapa lagu terdahulu. “Kita ngerasain banget berkembang dari segi aransemen untuk lagu-lagu baru. Karena ternyata untuk membuat lagu terdengar sederhana dan catchy itu susah ya. Rasanya udah lama sekali nggak ngelakuin hal itu,” lanjut Aghan seraya tertawa.

Berbicara proses album terbarunya, Monkey to Millionaire memilih untuk fokus dalam penggodokan materinya. Bahkan untuk judul, mereka memilihi untuk tidak membicarakannya lebih dulu. Yang pasti, mereka sudah menyiapkan beberapa hal baru, seperti logo dan juga additional drum.

Media musik online yang berbasis di Surabaya. Mengamati gejolak dan gairah industri musik independen yang kerap menjadi sokongan musik berkualitas. Kontak kami di [email protected] untuk berbagi informasi.

Continue Reading

Surabaya