Dandelions – Mantra Sakti; Bangkitnya Lagi Generasi Bunga

Cover EP Mantra Sakti yang dikerjakan Redi Murti dan Rakhmat Dwi Septian. (Dok. Dandelions)

Mundur sejenak ke empat dekade silam, era di mana pemakai narkoba jenis LSD menjamur, dengan pemikiran anti-kemapanan, musik rock n roll hingga munculnya pop culture. Mereka adalah generasi bunga, generasi yang menandai era keemasan rock and roll dan psychedelic. The Rolling Stones dan Jimi Hendrix, sepertinya dua nama tersebut sulit dipisahkan dari generasi yang berduka saat Jimi Hendrix tutup usia di angka belia, 27 tahun.

Meskipun spirit itu sudah lenyap sejak tahun 70an, salah satu band muda di Surabaya, Dandelions coba untuk menumbuhkannya kembali. Sangat terlihat jelas, atraksi hingga penampilan mereka saat perform, hingga lagu demi lagu yang mereka dengarkan. Tidak jauh-jauh dari hal yang terjadi di lingkungannya. Jadi tidak kaget ketika EP Mantra Sakti muncul, mulai cover hingga track-nya perlahan membawa kita ke era generasi bunga.

Cerita tentang melankoli percintaan, inspirasi bermusik, hingga kritik sosial tidak sedikitpun luput untuk dituliskan oleh Njet, vokalis eksentrik Dandelions. Butuh waktu panjang bagi band ini merealisasikan debut mini albumnya. pergantian personil, hingga proses pembuatan album yang memakan waktu lama. Kurang lebih tiga tahun setelah band ini dibentuk, tepatnya di awal 2017 mereka resmi merilis EP-nya di bawah bendera label lokal, Beautiful Terror Records.

Album Mantra Sakti ini seolah-olah mensugestikan pendengar untuk kembali mengarungi era 70an. Dengan komposisi lima lagu, Mantra Sakti jadi yang paling diandalkan dengan ekspresi melankolia cinta yang beralunkan psychedelic rock. Simpel, intinya adalah bagaimana mereka mengemas mantra untuk memenangkan hati wanita pujaan. Kemudian ada Blues Boring dengan irama blues yang mengekspresikan perasaan jenuh.

Lagu Impor, lagu yang sarat akan kritik sosial yang mengingatkan kita pada lagu Purple Haze yang dibawakan oleh Jim Hendrix. Sampai di track pamungkas, track yang selalu jadi nomor terakhir saat perform; Bukan Playboy. Dandelions coba bermenye-menye dengan dilema cinta yang sebenarnya tidak dilematis ketika tak terpengaruh alkohol. Album ini rasanya makin lengkap saat Seperti Rolling Stone yang didaulat jadi klimaks memuaskan sekaligus jadi lambang pemujaan dari Dandelions untuk The Rolling Stones. Band ini punya konsep yang bagus, cukup eksentrik sehingga Mantra Sakti bisa membuktikan bahwa mereka bukan sekadar band kemarin sore yang cuma mengandalkan embel-embel Generasi Bunga sebagai spiritnya, tapi mereka coba menumbuhkannya kembali.


Artikel ini merupakan salah satu pemenang submission “Diskusi Musikal 2017-The Excusic” yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Hubungan Mahasiswa (HIMAHI) Universitas Airlangga.  Teks ditulis oleh Idan Hariz  dari Universitas Airlangga. Salah satu peserta album review submission yang terpilih untuk ditampilkan saat acara Diskusi Musikal The Excusic bulan Mei 2017. 


 

Media musik online yang berbasis di Surabaya. Mengamati gejolak dan gairah industri musik independen yang kerap menjadi sokongan musik berkualitas. Kontak kami di [email protected] untuk berbagi informasi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *