Resistensi & Evolusi Give Me Mona Bersama Vokalis Keempat

Artwork ‘Resistance’ yang Give Me Mona rilis 28 April kemarin. (Dok. Give Me Mona)

Akhir April kemarin, Give Me Mona (GMM) melempar lagu baru lagi setelah melewati fase promo EP Party Will Be Like This yang rilis tahun lalu. Dalam lagu yang diberi judul Resistance itu, muncul nama Paul Kawinda sebagai vokalis. Paul sendiri juga sebenarnya bukanlah nama baru, ia sempat muncul sebagai vokalis sekaligus bassist di trio punk Weebuns. Selain ada vokalis baru, GMM juga dihuni oleh drummer anyar yang tak lain merupakan penggebuk andalan Crucial Conflict yang baru menginjak sweet seventeen.

Oke, kembali ke Resistance. Ketika pertama kali menekan tombol play di halaman Bandcamp mereka, tempo kencang langsung terdengar stereo yang seketika saja sahutan vokal serak milik Paul menyambut petikan lirik: “Can you tell me how it all started and why?”. Lagu ini berdurasi tidak genap sampai dua menit, agresif sekali mengingatkan pada single Television yang sempat mereka rilis di album Self Titled tiga tahun silam. Tapi tunggu dulu, ada sesuatu yang menarik untuk dibahas terkait dua lagu tadi: Resistance dan Television.

Kedua lagu tadi memiliki pola yang hampir sama, hanya saja berbeda vokalis. Ironisnya, bukan cuma dua lagu tadi, melainkan tiga album yang lahir dari band ini seluruhnya diisi oleh tiga vokalis berbeda. Ogy Khasogi jadi vokalis GMM di era awal yang sempat menghasilkan EP Our Story Become Tragedy (2010). Sempat vakum, kemudian Oscar Lauma masuk dan memberi warna baru di album Self Titled (2014). Lagi-lagi kebersamaan mereka harus berakhir, hingga Nando Pramantha menggantikannya dengan singkat di album Party Will Be Like This (2016), dan kini Paul Kawinda-lah yang mengisi kekosongan vokal di GMM.

Keempat vokalis tadi praktis mewarnai perjalanan 12 tahun band ini yang sampai sekarang masih survive meski musik punk tidaklah lagi menjadi mayoritas di scene-nya. Tapi patut disimak bagaimana musik mereka yang mampu bermanuver dengan halus tanpa meninggalkan roots yang sudah dibawa sejak 2005 silam. Mulai dari pop punk ala New Found Glory hingga punk rock ala NOFX, pendengar yang mengikuti band ini tentu akan dibawa untuk menikmati etalase influence mereka yang secara tidak langsung juga menjadi influence pendengarnya.

Ketika Vokalis Melengkapi, Bukan Mengendalikan

Dalam sebuah band, seringkali sosok vokalis berpengaruh besar, sebesar perputaran musik yang dihasilkan oleh band itu. Bisa jadi yang mulanya bergenre rock, tiba-tiba dengan vokalis baru semua konsepnya berubah 180 derajat. Beruntung kejadian seperti itu tidak muncul pada Give Me Mona. Meski terbilang rajin bergejolak untuk urusan personil, band ini masih konsisten dengan musiknya, bahkan mereka semakin terdengar mantap dan dewasa di lagu terbarunya, Resistance.

Penampilan Give Me Mona dengan vokalis barunya, Paul. (Dok. Give Me Mona)

Di medio 2010-an, Ogy Khasogi membawa band ini terhegemoni oleh pop punk ala New Found Glory. Band ini sempat terdengar seragam, tidak ada yang mencolok dari musiknya. Apalagi di tahun segitu, band-band seperti The Flins Tone, The Gamblezz, atau Zombies Daylight lebih menggoda. Tapi itulah titik awal Give Me Mona, sekaligus formasi awal yang membentuk pondasi band ini. Ketika terdengar seragam dengan cengkok ala Jordan Pundik, kemudian band ini vakum setelah meninggalkan rilisan digital Our Story Become Tragedy.

Saat Oscar Lauma masuk, Give Me Mona mencoba mengupgrade kualitas musiknya. Esensi pop punk yang mereka tinggalkan sebelum vakum kembali diangkat namun dengan daya sound dan lirik yang lebih bagus. Patut diakui, album Self Titled memang cukup menarik. Apalagi proses distribusinya menjangkau area nasional. Jika dibandingkan dengan Ogy, jelas karakter Oscar lebih terasa dan yang pasti aksennya jauh lebih bagus. Hanya saja, keinginan mereka untuk terdengar lebih punk rock masih belum sepenuhnya terasa, khususnya pada sosok vokal.

Oscar saat masih bersama Give Me Mona di launching album ‘Self Titled’ di Matchbox Too. (Dok. Give Me Mona)

Tahun 2014 kami sempat berbincang dengan band ini yang saat itu sedang sibuk-sibuknya menyiapkan promo album keduanya. Gitaris mereka, Hara Yudha menyebut jika bandnya tengah berotasi untuk kembali pada masa jaya punk rock di era 90an melalui album tersebut. Namun output yang terasa di 11 lagu Self Titled masih belumlah kental. Dua tahun setelahnya, pemikiran serupa masih mereka genggam, meski sudah berganti vokalis.

Justru peralihan vokalis antara Oscar dan Nando kala itu memberikan dampak yang berbeda. Lewat lagu Black Lies, lagi-lagi Give Me Mona terdengar lebih upgradable, terdengar berbeda, dan yang paling penting adalah mereka lebih terdengar punk rock. Meluncurlah empat lagu yang dikemas dalam EP Party Will Be Like This yang lebih nge-punk dari sebelum-sebelumnya. Sosok Nando yang juga sempat menjadi vokalis di American Rascals nampaknya cukup membantu proses adaptasi. Beruntung di album sebelumnya, Television didapuk sebagai track penutup. Lagu ini notabene jadi satu-satunya lagu GMM yang berhasil lepas dari pengaruh pop punk di album Self Titled. Nah, ketika lagu tersebut dijadikan penutup, pendengar seakan mendapat bridge yang tepat.

Formasi terkini Give Me Mona: Hara, Dika, Paul, & Arya. (Dok. Give Me Mona)

Give Me Mona nampak jenius, seolah-olah mereka sudah bisa menebak apa yang akan terjadi dengan mereka di masa mendatang. Television sangatlah pas disandingkan jadi satu playlist dengan track-track yang ada di EP Party Will Be Like This. Sayang, kebersamaan Nando dengan Give Me Mona tidaklah lama, sampai akhirnya Paul Kawinda masuk dan melakukan finishing touch terhadap beberapa konsep setengah matang yang ada di album sebelumnya. Resistance jadi bukti kedewasaan mereka setelah melewati beberapa fase eksplorasi.

Kini, band yang dihuni oleh Paul (vokal), Hara (gitar), Arya (gitar), dan Dika (drum) telah menapaki masa di mana mereka mulai menemukan bentuk terbaik dari musiknya. Mulai dari pop punk yang seragam berevolusi jadi punk, hingga menyentuh volume optimal dalam punk rock, Give Me Mona masih stabil meski berganti-ganti personil. Sudah selayaknya band ini berterima kasih pada eks vokalis-vokalisnya yang menjadi pilar sekaligus membentuk perlahan karakter band ini. Dan semoga, setelah Resistance ini akan muncul lagi album yang benar-benar merepresentasikan apa yang mereka maksud sejak tiga tahun silam, yakni kembali pada masa kejayaan punk rock!

Melepas lajang di dunia tarik pena dengan menyandang lulusan sastra yang tidak sastrawi, musisi gagal, penimbun berita pil koplo, dan buruh radio.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *