Connect with us
https://ronascent.biz/wp-content/uploads/2017/07/ronascent-adv-copy.jpg

FEATURES

Resistensi & Evolusi Give Me Mona Bersama Vokalis Keempat

Published

on

Artwork ‘Resistance’ yang Give Me Mona rilis 28 April kemarin. (Dok. Give Me Mona)

Akhir April kemarin, Give Me Mona (GMM) melempar lagu baru lagi setelah melewati fase promo EP Party Will Be Like This yang rilis tahun lalu. Dalam lagu yang diberi judul Resistance itu, muncul nama Paul Kawinda sebagai vokalis. Paul sendiri juga sebenarnya bukanlah nama baru, ia sempat muncul sebagai vokalis sekaligus bassist di trio punk Weebuns. Selain ada vokalis baru, GMM juga dihuni oleh drummer anyar yang tak lain merupakan penggebuk andalan Crucial Conflict yang baru menginjak sweet seventeen.

Oke, kembali ke Resistance. Ketika pertama kali menekan tombol play di halaman Bandcamp mereka, tempo kencang langsung terdengar stereo yang seketika saja sahutan vokal serak milik Paul menyambut petikan lirik: “Can you tell me how it all started and why?”. Lagu ini berdurasi tidak genap sampai dua menit, agresif sekali mengingatkan pada single Television yang sempat mereka rilis di album Self Titled tiga tahun silam. Tapi tunggu dulu, ada sesuatu yang menarik untuk dibahas terkait dua lagu tadi: Resistance dan Television.

Kedua lagu tadi memiliki pola yang hampir sama, hanya saja berbeda vokalis. Ironisnya, bukan cuma dua lagu tadi, melainkan tiga album yang lahir dari band ini seluruhnya diisi oleh tiga vokalis berbeda. Ogy Khasogi jadi vokalis GMM di era awal yang sempat menghasilkan EP Our Story Become Tragedy (2010). Sempat vakum, kemudian Oscar Lauma masuk dan memberi warna baru di album Self Titled (2014). Lagi-lagi kebersamaan mereka harus berakhir, hingga Nando Pramantha menggantikannya dengan singkat di album Party Will Be Like This (2016), dan kini Paul Kawinda-lah yang mengisi kekosongan vokal di GMM.

Keempat vokalis tadi praktis mewarnai perjalanan 12 tahun band ini yang sampai sekarang masih survive meski musik punk tidaklah lagi menjadi mayoritas di scene-nya. Tapi patut disimak bagaimana musik mereka yang mampu bermanuver dengan halus tanpa meninggalkan roots yang sudah dibawa sejak 2005 silam. Mulai dari pop punk ala New Found Glory hingga punk rock ala NOFX, pendengar yang mengikuti band ini tentu akan dibawa untuk menikmati etalase influence mereka yang secara tidak langsung juga menjadi influence pendengarnya.

Ketika Vokalis Melengkapi, Bukan Mengendalikan

Dalam sebuah band, seringkali sosok vokalis berpengaruh besar, sebesar perputaran musik yang dihasilkan oleh band itu. Bisa jadi yang mulanya bergenre rock, tiba-tiba dengan vokalis baru semua konsepnya berubah 180 derajat. Beruntung kejadian seperti itu tidak muncul pada Give Me Mona. Meski terbilang rajin bergejolak untuk urusan personil, band ini masih konsisten dengan musiknya, bahkan mereka semakin terdengar mantap dan dewasa di lagu terbarunya, Resistance.

Penampilan Give Me Mona dengan vokalis barunya, Paul. (Dok. Give Me Mona)

Di medio 2010-an, Ogy Khasogi membawa band ini terhegemoni oleh pop punk ala New Found Glory. Band ini sempat terdengar seragam, tidak ada yang mencolok dari musiknya. Apalagi di tahun segitu, band-band seperti The Flins Tone, The Gamblezz, atau Zombies Daylight lebih menggoda. Tapi itulah titik awal Give Me Mona, sekaligus formasi awal yang membentuk pondasi band ini. Ketika terdengar seragam dengan cengkok ala Jordan Pundik, kemudian band ini vakum setelah meninggalkan rilisan digital Our Story Become Tragedy.

Saat Oscar Lauma masuk, Give Me Mona mencoba mengupgrade kualitas musiknya. Esensi pop punk yang mereka tinggalkan sebelum vakum kembali diangkat namun dengan daya sound dan lirik yang lebih bagus. Patut diakui, album Self Titled memang cukup menarik. Apalagi proses distribusinya menjangkau area nasional. Jika dibandingkan dengan Ogy, jelas karakter Oscar lebih terasa dan yang pasti aksennya jauh lebih bagus. Hanya saja, keinginan mereka untuk terdengar lebih punk rock masih belum sepenuhnya terasa, khususnya pada sosok vokal.

Oscar saat masih bersama Give Me Mona di launching album ‘Self Titled’ di Matchbox Too. (Dok. Give Me Mona)

Tahun 2014 kami sempat berbincang dengan band ini yang saat itu sedang sibuk-sibuknya menyiapkan promo album keduanya. Gitaris mereka, Hara Yudha menyebut jika bandnya tengah berotasi untuk kembali pada masa jaya punk rock di era 90an melalui album tersebut. Namun output yang terasa di 11 lagu Self Titled masih belumlah kental. Dua tahun setelahnya, pemikiran serupa masih mereka genggam, meski sudah berganti vokalis.

Justru peralihan vokalis antara Oscar dan Nando kala itu memberikan dampak yang berbeda. Lewat lagu Black Lies, lagi-lagi Give Me Mona terdengar lebih upgradable, terdengar berbeda, dan yang paling penting adalah mereka lebih terdengar punk rock. Meluncurlah empat lagu yang dikemas dalam EP Party Will Be Like This yang lebih nge-punk dari sebelum-sebelumnya. Sosok Nando yang juga sempat menjadi vokalis di American Rascals nampaknya cukup membantu proses adaptasi. Beruntung di album sebelumnya, Television didapuk sebagai track penutup. Lagu ini notabene jadi satu-satunya lagu GMM yang berhasil lepas dari pengaruh pop punk di album Self Titled. Nah, ketika lagu tersebut dijadikan penutup, pendengar seakan mendapat bridge yang tepat.

Formasi terkini Give Me Mona: Hara, Dika, Paul, & Arya. (Dok. Give Me Mona)

Give Me Mona nampak jenius, seolah-olah mereka sudah bisa menebak apa yang akan terjadi dengan mereka di masa mendatang. Television sangatlah pas disandingkan jadi satu playlist dengan track-track yang ada di EP Party Will Be Like This. Sayang, kebersamaan Nando dengan Give Me Mona tidaklah lama, sampai akhirnya Paul Kawinda masuk dan melakukan finishing touch terhadap beberapa konsep setengah matang yang ada di album sebelumnya. Resistance jadi bukti kedewasaan mereka setelah melewati beberapa fase eksplorasi.

Kini, band yang dihuni oleh Paul (vokal), Hara (gitar), Arya (gitar), dan Dika (drum) telah menapaki masa di mana mereka mulai menemukan bentuk terbaik dari musiknya. Mulai dari pop punk yang seragam berevolusi jadi punk, hingga menyentuh volume optimal dalam punk rock, Give Me Mona masih stabil meski berganti-ganti personil. Sudah selayaknya band ini berterima kasih pada eks vokalis-vokalisnya yang menjadi pilar sekaligus membentuk perlahan karakter band ini. Dan semoga, setelah Resistance ini akan muncul lagi album yang benar-benar merepresentasikan apa yang mereka maksud sejak tiga tahun silam, yakni kembali pada masa kejayaan punk rock!

Melepas lajang di dunia tarik pena dengan menyandang lulusan sastra yang tidak sastrawi, musisi gagal, penimbun berita pil koplo, dan buruh radio.

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

EDITOR'S PICK

Dialog Ibu & Anak Dalam “Berita Kehilangan” Milik Feast

Published

on

Artwork Berita Kehilangan yang dikerjakan Mikael Aldo & Baskara Putra. (Dok. Feast)

.Feast makin memantapkan posisinya sebagai band yang cukup responsif terhadap lingkungan sosial sekitarnya. Usai klip Peradaban yang cukup frontal, kemarin (10/8) mereka kembali melempar lagu sekaligus klip baru berjudul Berita Kehilangan. Secara lirik, apa yang mereka tuliskan masih cukup sarkas, namun implisit. Bedanya, nuansa musik yang diperdengarkan sangat sesuai dengan klipnya; gelap, berduka, dan pemakaman.

Lagu Berita Kehilangan ini ditulis sendiri oleh vokalis mereka, Baskara Putra. Ia terinspirasi dari beberapa kasus kriminalisasi yang telah terjadi, salah satunya yang menimpa mendiang temannya Raafi Aga Winasya Benjamin tujuh tahun silam. Adapun sebuah surat milik orang tua korban kriminalisasi lainnya juga menjadi sumber inspirasi mereka, sekaligus sebagai bentuk empati terhadap kasus-kasus tersebut.

Selain audio dan video yang cukup membangkitkan ambient lagu, kehadiran Rayssa Dynta sebagai kolaborator justru makin mendramatisir. Tiap bait yang dinyanyikan .Feast dan juga Rayssa Dynta dibuat seperti dialog antara Ibu dan Anak. Dialog itu menggambarkan bagaimana seorang Ibu yang berusaha mengikhlaskan kepergian anaknya. Begitupun sebaliknya, sang anak juga coba menguatkan Ibunya.

Single terbaru milik kolektif rock Ibukota ini sudah bisa dinikmati secara digital melalui layanan streaming Spotify, Joox, Apple Music, Deezer dan sejenisnya. Lalu untuk video klipnya bisa dinikmati lewat kanal Youtube ofisial atau IGTV milik .Feast.

Melepas lajang di dunia tarik pena dengan menyandang lulusan sastra yang tidak sastrawi, musisi gagal, penimbun berita pil koplo, dan buruh radio.

Continue Reading

FEATURES

Ternyata Tidak ‘Selamanya’ Seringai Absen Rilis Video Klip

Published

on

Behind the scene pembuatan klip Selamanya. (Foto: Rigel Haryanto)

Pada era album Serigala Militia yang rilis 2007 silam, saat itu Seringai melempar tiga video klip. Ketiganya ialah Citra Natural, Mengadili Persepsi (Bermain Tuhan), dan Serigala Militia. Lima tahun berselang, Arian13 cs absen dalam merilis klip meskipun album saat itu mereka punya gaco baru; album Taring yang cukup melejit. Dan sekarang, setelah 10 tahun absen merilis klip, band Ibukota ini akhirnya kembali menyelesaikan klip yang sekaligus jadi single teranyar mereka berjudul Selamanya.

Selamanya, lagu yang rilis pekan lalu itu mengambil konsep ‘Wahana Pesta Seringai’; gambaran minimalis yang seakan menyampaikan ke pendengar jika Seringai masih akan terus menerus menghibur. Ide itu datangnya dari Surya Adi Susianto, sutradara klip yang juga pernah menangani video musik dari Kunto Aji, Morfem, Ramengvrl, dan Lawless Vomit Crew. “(dalam klip ini) Seringai digambarkan bakal menghibur tiap pengunjung yang naik ke bus dan bersenang-senang bersama mereka sembari berkeliling kota, dan begitu seterusnya,” jelas Seringai melalui rilis pers yang Ronascent terima.

Pasca klip ini, Seringai berencana merilis album keempatnya berjudul Seperti Api yang akan dirilis via High Octance Production. Menurut Wendi Putranto, albumnya akan selesai produksi dalam waktu dekat. Pastinya, akan ada 11 lagu yang diproduseri sendiri oleh gitaris mereka, Ricky Siahaan. Selain diproduseri personil sendiri, cover album Seperti Api juga dikerjakan oleh vokalis mereka, Arian13. Tidak jauh berbeda dengan album sebelumnya, Seringai masih gemar berbicara tentang isu sosial, sambil sesekali berbicara tentang sci-fi. Bahkan mereka juga berkolaborasi dengan solois, Danilla Riyadi. Jadi, silahkan ditunggu. Kemungkinan bulan depan.

Media musik online yang berbasis di Surabaya. Mengamati gejolak dan gairah industri musik independen yang kerap menjadi sokongan musik berkualitas. Kontak kami di [email protected] untuk berbagi informasi.

Continue Reading

BACKSTAGE

Mengejar Deadline Keselamatan & Kesehatan Kerja Pekerja Kreatif

Published

on

Ilustrasi: Syamsur Rijal

Wenak yo jeh, kerjomu mung laptopan tok (enak banget sih kamu, kerjamu cuma main laptop aja).”

Freelance-an gini, pasti tiap hari bisa bangun siang ya.”

“Band-band-an kan seneng-seneng doang, gak ada libur juga gak papa to.”

Pernah dengar kalimat-kalimat nggemesin seperti di atas? Bagi kawan-kawan pekerja industri kreatif, digital, dan media, bait-bait tersebut bisa jadi terasa bagai lagu lama. Banyak orang menganggap pekerjaan kita sebagai pekerjaan impian, karena syukur alhamdulillah banyak dari kita yang mungkin termasuk bajingan beruntung yang berkesempatan memiliki penghidupan dari kegiatan yang disenangi (bahkan merupakan hobi). Proses terjal menuju titik itu adalah cerita lain, yang orang pertama lihat tentu saja tampak luarnya dulu.

Ilusi independensi dan kebebasan yang terpancar dari praktek kerja para pekerja kreatif memang menggiurkan, terlebih jika sang penerima informasi menelan mentah-mentah bumbu gurih yang ditaburkan oleh mas-mbak motivator, bahwasanya “kerja dengan passion akan membuat kita serasa tidak bekerja”. Sebenarnya ungkapan ini keren dan benar, karena dorongan semangat dari rasa suka itu memang tiada duanya, tapi lantas bagaimana kalau passion justru disalahgunakan guna memangkas hak pekerja? Jangan sampai hal tersebut diterus-teruskan keberadaannya.

Sekilas Pekerja Ekonomi Kreatif Indonesia

Sebelum membahas lebih jauh soal hak pekerja kreatif, mari kita samakan pandangan dulu soal siapa saja yang terhitung sebagai pekerja ekonomi kreatif di sini. Diintisarikan dari bekraf.go.id, ekonomi kreatif adalah sektor yang tidak secara langsung bergantung pada mekanisme eksploitasi sumber daya alam, tapi lebih bertumpu pada keunggulan sumber daya manusia yaitu ide-ide kreatif. Ada banyak subsektor di dalamnya, yaitu, Aplikasi & Pengembang Permainan; Arsitektur; Desain Interior; Desain Komunikasi Visual; Desain Produk; Fashion; Film, Animasi, & Video; Fotografi; Kriya; Kuliner; Musik; Penerbitan; Periklanan; Seni Pertunjukan; Seni Rupa; serta Televisi & Radio. Secara jumlah, pada tahun 2015 dari total 114.819.199 penduduk Indonesia yang bekerja 15.959.590 di antaranya bekerja di sektor ekraf (ekonomi kreatif). Jumlah tersebut meningkat hampir 800.000 orang dari tahun sebelumnya (Data Statistik & Hasil Survei Ekonomi Kreatif, kerjasama Badan Ekonomi Kreatif dan Badan Pusat Statistik).

Dari sini bisa terlihat betapa minat masyarakat untuk berkiprah di sektor ini sebenarnya besar. Pun dari pemerintahan sendiri juga memberikan perhatian khusus pada potensi ekraf yang makin tak bisa dikesampingkan (hasil survei tahun 2015 menunjukkan bahwa nilai ekspor dari sektor ini mencapai 19,4 miliar USD dan Produk Domestik Bruto (PDB)-nya mencapai 852,24 triliun rupiah). Ekonomi kreatif digadang-gadang akan menjadi tulang punggung Indonesia di masa depan. Namun setelah ditengok lagi, sepertinya masih banyak PR yang perlu diusahakan bersama. Mulai dari soal perlindungan hukumnya, kesadaran masyarakat akan mekanisme dan hak pekerja kreatif, kesadaran para pekerjanya sendiri untuk melindungi hak kekayaan intelektual yang mereka miliki, dan yang sangat fundamental tapi kerap terlupa: mengadvokasi kesadaran para pekerja ekraf akan hak kesehatan dan keselamatan kerja (K3) yang tentunya berhak mereka dapatkan, layaknya kawan-kawan dari sektor lainnya.

Distorsi “Tak Berwujud”

Selain terlihat ‘senang-senang terus’, salah satu kesalahkaprahan yang kerap dirasakan pekerja kreatif terutama dari ranah digital adalah bahwa pekerjaan mereka dianggap harmless—karena sehari-harinya ‘hanya’ berhadapan dengan komputer. Di mata sebagian besar masyarakat kita, ‘risiko kerja’ masih cenderung seputar kecelakaan akibat mesin besar atau konstruksi; sesuatu yang bersifat tiba-tiba dan akibatnya berupa kerusakan ragawi, bahkan bisa merenggut nyawa. Resiko-resiko laten yang terjadi seiring berjalannya waktu seperti penurunan fungsi mata (desainer grafis, game developer, dll.), gangguan pendengaran (sound engineer), hingga gangguan mental akibat trauma (jurnalis) seperti dianggap tidak cukup penting untuk ditindaklanjuti.

Apalagi jika keluhannya ‘hanya’ terkait jam kerja yang berlebihan. Di atas kertas, sebagian besar kantor mencantumkan di kontrak kerja bahwa jam kerja karyawan adalah sebanyak 8 jam sehari atau 40 jam seminggu. Nyatanya banyak dari pekerja sekarang yang merasa bahwa kerja 10 jam atau lebih dalam sehari itu wajar. Kalau ada yang protes sedikit, salah-salah dicap manja.

Jika dilihat dari hasil survey yang dirilis Badan Ekonomi Kreatif (BEKRAF) pada tahun 2017, ada 26,32% pekerja Indonesia yang mengaku bekerja lebih dari 48 jam seminggu, dan dari jumlah itu 31,98%-nya adalah pekerja dari sektor ekonomi kreatif. Untuk situasi-situasi tertentu, jam kerja tambahan mungkin memang dibutuhkan guna tercapainya suatu target. Tapi bagaimana jika keadaan tersebut terjadi setiap hari nyaris tanpa putus dari tahun ke tahun? Beberapa kantor bahkan menyarankan karyawannya untuk tidak mengambil cuti, agar ‘potensi’ maksimal perusahaan bisa tercapai. Apakah kita sedang menyaksikan era perbudakan glamor, ketika satu orang bisa memegang beban kerja 4 orang, dan yang durasi kerjanya paling lama bangga dielu-elukan sebagai pekerja keras?

Padahal, sudah banyak contoh kasus bekerja melebihi batas yang akhirnya berujung fatal. Masih ingat kejadian meninggalnya seorang copywriter di Jakarta akibat bekerja 30 jam tanpa tidur? Karena belum ada aturan hukum yang jelas terkait pelanggaran unsur K3 yang efeknya bukan berupa celaka fisik yang kasat mata (Almarhumah langsung mendadak koma), pada akhirnya perusahaan tempat Almarhumah bekerja hanya sebatas dipanggil oleh Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia (P3I). Memang sudah ada beberapa undang-undang yang bisa dijadikan acuan seperti UU no 1 tahun 1970 mengenai Keselamatan Kerja dan UU no 18 tahun 2014 tentang Kesehatan Jiwa, tapi kedua UU tersebut tidak mengandung sanksi khusus bagi pelanggaran hak yang tidak meninggalkan bukti ‘kerusakan’ fisik.

Menyadari masih ada situasi seperti ini, sebagai salah satu pekerja yang berkiprah di bidang kreatif Ellena Ekarahendy (Art Director & Desainer Grafis) dan sejumlah kawan pun menginisiasi SINDIKASI (Serikat Pekerja Media dan Industri Kreatif untuk Demokrasi). Tujuan dasarnya, untuk menjadi wadah bagi para pekerja media dan industri kreatif untuk berjejaring lintas profesi, berbagi pengetahuan dan kemampuan lintas disiplin, serta menjalin solidaritas agar bisa berkarya dalam ekosistem yang inklusif dan manusiawi. SINDIKASI sendiri mulai dibangun sejak akhir 2016, dan dalam momentum bulan Kesehatan & Keselamatan Kerja (K3) pertengahan Januari-Februari lalu SINDIKASI menggelar Work Life Balance Festival—sebuah langkah advokasi dan edukasi berbalut selebrasi yang mereka adakan di 4 titik : Jakarta, Surabaya, Bandung, dan Yogyakarta.

Kenapa isu K3 lah yang menjadi menu utama di event besar pertama SINDIKASI ini? Karena persoalan K3 ini masih belum familiar di telinga masyarakat, bahkan di kalangan pekerjanya sendiri—padahal ini adalah hak yang sangat mendasar. Jaminan hukum terkait K3 juga belum memadai. Maka dari itu, SINDIKASI sengaja menghadirkan Work Life Balance Festival ini sebagai ruang temu dan ruang dialog bagi para pekerja dan pemangku kepentingan dari sektor ekonomi kreatif dan sektor lainnya, sehingga elemen-elemen masyarakat ini dapat saling membicarakan kondisi ketenagakerjaan terkini dan bersama-sama mencari kemungkinan-kemungkinan solusinya.

Melawan Sekat, Menyadari Ambang Batas

Selain persoalan jam kerja, tim Riset dan Edukasi serta tim Advokasi SINDIKASI juga telah mengidentifikasi sejumlah tantangan lain yang kerap ditemui pekerja ekraf antara lain upah di bawah garis minimum, kontrak yang tidak jelas, dsb. Isu K3 ini bisa dibilang paling fundamental karena tanpa mental yang sehat kesehatan fisikpun ikut terancam, jika sudah demikian lantas bagaimana seseorang dapat mengerjakan pekerjaannya dengan optimal? Masalahnya, membicarakan soal kesehatan mental masih menjadi hal yang relatif tabu di Indonesia. Bahkan BPJS Ketenagakerjaan pun belum memiliki mekanisme klaim perawatan penyakit mental, padahal kesehatan mental kini telah termasuk risiko utama dari kultur kerja saat ini. Dalam BPJS Kesehatan pun,seseorang baru bisa melakukan klaim penyakit mental jika telah ada dampak fisik pada penderitanya. Dan karena sulitnya akses yang tepat dan memadai, coping mechanism yang dianggap paling mudah diakses pun menjadi jalan keluar, yang tak jarang justru memperburuk kondisi individu itu sendiri, misalnya: pada alhokol atau penyalahgunaan obat-obatan. Kalau sudah begini, rasanya nirfaedah kalau solusinya hanya berkutat sebatas tunjuk-menunjuk siapa yang salah.

Tekanan kerja melewati ambang batas terjadi pula di banyak negara lain, dan dari sini sebenarnya kita bisa mulai membangun solusinya. Jepang, negara dengan tingkat bunuh diri yang tinggi (salah satu penyebabnya adalah tekanan kerja berlebih), memiliki sanksi tegas sebagai konsekuensi dari pelanggaran standar operasional kerja. Pada Oktober 2017, Pengadilan Tokyo menghukum perusahaan periklanan dan public relation Dentsu dengan denda sebesar 500 ribu yen karena seorang pekerjanya memutuskan mengakhiri hidup akibat beban kerja yang berlebih.

Pemerintah harus bisa setegas ini dalam menindak pelanggaran yang ada. Begitupun dengan manajemen perusahaan juga harus lebih bisa berpihak pada pekerjanya sendiri/klien yang menyediakan jasa untuk mereka, antara lain dengan cara mempertegas kewajiban dan hak kerja. Terlebih soal kontrak kerja, yang mana banyak perusahaan berbasis digital seringkali memberi kontrak kerja yang lebih menguntungkan perusahaan—pekerja bahkan bisa diputus kontrak sewaktu-waktu. Di era digital disruption di mana sistem kerja dan persaingan bisa datang dari mana saja dan terjadi pergeseran perilaku ekonomi, kita harus sigap menyesuaikan diri dalam pergeseran yang ada. Dan penyesuaian yang kita lakukan harus sesegera yang kita bisa—agar kesehatan dan keselamatan para pekerja tidak berlarut-larut menjadi ongkosnya.

Perekam momen, penganyam benang, tukang gambar, sekaligus pengamat tulisan di bodi truk. Menghabiskan 9-5 dengan mengasuh dunia maya, sesuai dengan namanya sendiri.

Continue Reading
Advertisement

Zine Archives

Surabaya