Connect with us
https://ronascent.biz/wp-content/uploads/2017/07/ronascent-adv-copy.jpg

LIVE REPORT

Mengudara Hingga Menembus Angkasa di Perayaan 2 Tahun Radiogasm

Published

on

Penampilan Others di perayaan tahun ke-2 Radiogasm.

Banyak orang bilang kalau industri radio sedang lesu, khususnya radio konvensional. Jika memang terbukti lesu, mungkin itu karena pendengarnya yang sudah beralih mengikuti perkembangan zaman, dimanja dengan segala hal yang berbau online. Kini internet sudah menjadi magnet, radio pemancar yang masih terus mengudara sekalipun harus turun gunung untuk menjelajah ranah maya. Namun sebaliknya, Radiogasm yang berbasis online pun memilih untuk mengudara ke angkasa, meskipun hanya berpura-pura.

Akhir pekan kemarin (21/5), bertempatkan di Happy Puppy Mayjend Sungkono Surabaya, radio online yang fokus pada industri kreatif Surabaya itu merayakan dua tahunnya dengan konsep ‘Pura-Pura di Angkasa’. Apa yang ditampilkan di poster acara, semua sensasinya tertuang sepenuhnya. Band-band bergenre kelam satu per satu membawa penonton seakan menggapai angkasa. Nuansa, Cotswolds, Others, dan juga Hecht; keempat band ambient ini bergantian membius penonton meski harus disadarkan juga dengan banyolan komedi dari Dono dan Karjo, karaoke bersama bintang tamu utama mereka Oomleo hingga sesi happy hour di penghujung acara.

Venue yang masih terbilang dingin karena belum dipadati penonton saat itu mulai dihangatkan dari penampilan band baru, Nuansa. Musik psychedelic ala Pink Floyd mereka suguhkan dengan apa adanya. Seolah tak mau kalah dengan Nuansa, Cotswolds yang didaulat sebagai penampil kedua langsung membawa penonton terbang kembali ke era akhir 70-an dengan menyuguhkan musik post punk. Tidak bisa dipungkiri bahwa musik yang mereka bawa malam itu sangat dekat dengan Joy Division. Membawakan empat lagu, band yang sempat mencetak split album bersama Bedchamber ini mampu menghilangkan kerinduan pendengarnya setelah cukup jarang tampil, dan yang menyenangkan adalah saat Cotswolds membeberkan rencananya untuk merilis album di tahun ini.

Nuansa, band pembuka yang baru tampil kedua kalinya.

Setelah dibawa mengudara oleh Nuansa dan Cotswolds, kali ini para penonton dibangunkan dari bius berdosis sedang melalui punch-line dan ­jokes dari duet komika lokal yang juga menjadi penyiar di Radiogasm, yaitu Dono dan Karjo. Topik yang dekat dengan keseharian selalu jadi senjata ampuh yang mampu membuat penonton menyeringai bahagia, terutama saat punch-line tentang mie setan dikumandangkan. Puas tertawa bersama mereka, acara pun dilanjutkan dengan lagi-lagi suguhan post rock yang kali ini datang dari Others. Band yang dibentuk tahun 2008 ini mampu membuktikan kembali eksistensi mereka dengan eksplorasi sound yang unik. Permainan bunyi yang dihasilkan antara gitar dengan bow atau stik biola masih jadi andalan mereka. Hingga lagu keempat, Others sukses membawa penonton kembali ke angkasa.

Penampil selanjutnya yaitu unit post rock yang sudah tidak asing di Surabaya, Hecht. Band ini memiliki keunikan tersendiri terutama pada barisan personel mereka. Di tiap event, Hecht kerap tampil dengan additional player yang berbeda. Namun itu tidak menjadi penghalang bagi mereka untuk konsisten. Meski beberapa kali terasa ada miscommunication, khususnya di awal penampilan, toh Hecht mampu membayarnya dengan setlist andalan mereka yang berdosis tinggi. Riuh gitar Dimar dan Cupu seolah membawa penonton menaiki roket yang disimbolkan pada logo khas milik band itu sendiri.

Tepat setelah Hecht, giliran anggota Goodnight Electric yang akrab dipanggil Oomleo untuk mengajak penonton menikmati angkasa dengan tembang-tembang pilihannya. Yap, sesi karaoke pun dimulai, dan Oomleo yang sudah beberapa kali main di Surabaya bersiap-siap menutup perayaan tahun kedua Radiogasm. Malam itu merupakan malam yang singkat namun menyenangkan untuk merayakan konsistensi Radiogasm, keep your hopes up high and your head down low. Cheers!

 

Perbincangan Tentang Radio Online, Label, hingga Merch

Sebelum sesi band dimulai, dan sebelum malam datang, sisi lounge Happy Puppy sempat diisi dengan obrolan santai yang bergizi. Meski terbatas waktu, tapi pembahasan tentang radio online, label hingga merch sudah cukup mengintroduksi bagaimana kepedulian dan kegelisahan Radiogasm sebagai media independen. Satu faktor yang paling mendasar dari diundangnya Oomleo tentu adalah kebutuhan sharing, pasalnya pria yang juga eksis bersama Goodnight Electric itu merupakan pegiat radio online yang sudah punya banyak pengalaman bersama Ruru Radio.

Bagi Oomleo, berapapun pendengar radio online, sedikit atau banyak, loyal atau tidak, dia meyakini bahwa jumlah itu adalah orang yang benar-benar mendengarkan. Beda halnya dengan  data pendengar radio konvensional yang dikeluarkan oleh badan riset terkemuka itu belum tentu valid sepenuhnya. Itulah yang menjadi salah satu faktor bertahannya Ruru Radio hingga saat ini. Tak luput, masalah finansial pun juga dibahasnya, bagaimana dia bersama rekan-rekannya di Ruru membangun tim hingga berbagi rejeki.

Tidak ketinggalan, sesi sharing dari dua pelaku underground Surabaya pun ikut menjadi topik yang membuka rangkaian acara ‘Pura-Pura di Angkasa’. Fadly Zakaria, pemilik label Radioactive-Force bercerita banyak tentang bagaimana ia mengeola labelnya. Mulai dari pemilihan artis, proses kerjasama hingga distribusi. Begitupun dengan Samir Inferno, gitaris Tengkorak dan GAS, produser radio, dan juga owner studio musik Inferno itu juga sempat mengelola label di era 90an, dan mereka berdua berbagi cerita tentang perkembangan label lokal mulai era pra-millenium hingga sekarang.

An amateur dilettante | Straight Edge | Star Wars’ die-hard fans | Records Junkie |

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

EDITOR'S PICK

Berselancarnya The Panturas & Polka Wars di Surabaya

Published

on

Ada sedikit keraguan kala The Panturas gagal berselancar di Surabaya Oktober kemarin. Nuansa surf-rock yang diusung sekelompok alumnus jurnalistik ini tidak memancar, mereka justru hanya terdengar sebagai band rock melayu biasa. Namun ketika Buka Musik Connectified chapter Surabaya membawa mereka ke Nens Corner akhir pekan kemarin (14/12), ceritanya berbeda. The Panturas benar-benar Mabuk Laut bersama ratusan penonton yang merelakan mata perih karena asap rokok hingga kepala puyeng akibat alkohol.

Bagi sebagian besar penonton yang hadir, kami yakin mereka semua mendapat klimaks. Diawali dengan dua band pendatang baru Surabaya yang unjuk gigi; Alter dan Eisen, hingga dibawa membeku bersama Cotswolds dan puncak dari segala kerusuhan ada pada si protagonis Polka Wars. Pemilik album Axis Mundi ini sejatinya menurunkan tempo pasca meliarnya crowd The Panturas. Tapi tak bisa dipungkiri jika musikalitas terus memancarkan aura semangat. Setidaknya, Surabaya telah memberikan kesan manis bagi Polka Wars dan The Panturas yang hingga akhir tahun ini melaksanakan tur di 6 kota di bawah platform musik Buka Musik milik Bukalapak.

Anak muda penuh semangat tapi tidak bergairah, suka melakukan banyak hal baru dan sedang berstatus mahasiswa aktif dengan doa semoga lulus tepat waktu dan segera mempunyai penghasilan.

Continue Reading

EVENTS

The 41st Jazz Goes to Campus: Kejayaan Musik Jazz Masih Dimulai Dari Kampus

Published

on

Jika menengok kembali sejarah musik jazz di Indonesia, dunia kampus memang berperan penting dalam perkembangan musik ini. Salah satunya adalah Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia. Lewat Jazz Goes to Campus, musik jazz bisa dikenal dan mendapat tempat tersendiri di telinga mahasiswa. Tahun ini, JGTC sudah memasuki tahun ke-41. Sebuah perjalanan yang tak singkat memang. Konsistensi JGTC dalam menghadirkan sajian musik jazz yang segar mampu membuat acara ini bertahan hingga lebih dari empat dekade.

Minggu, 2 Desember 2018, 41stJazz Goes to Campus yang mengusung tema“Bring The Jazz On” kembali digelar di lingkungan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia. Sama seperti tahun-tahun sebelumnya, JGTC selalu berhasil menyedot animo yang luar biasa. Sejak pukul 12.30 antrean sudah mulai penuh sesak untuk memasuki kawasan acara. Sekitar pukul 13.00 acara dimulai dan dibuka oleh penampilan dari beberapa band kampus dan pemenang JGTC Band Competition.

Menjelang sore, penonton mulai memadati Sprite Stage untuk menyaksikan Maliq & D’Essentials. Antusiasme penonton sangat liar sore itu. Sprite Stage penuh sesak dengan penonton yang ingin menyaksikan Maliq & D’Essentials. Membawakan tembang-tembang hits seperti Dia dan Untitled, Maliq & D’Essentials sukses memanaskan sore yang mendung kemarin. Bergeser ke Kopiko Stage, grup musik parodi asal Bandung, Project Pop juga mampu menyedot animo penonton yang ingin bernostalgia dengan lagu-lagu lawas mereka. Track andalan seperti Gara-gara Kahitna, Metal vs. Dugem, dan Ingatlah Hari Ini sukses membuat penonton bernyanyi bersama. Disela-sela lagu lama yang nangkring di setlists, Project Pop juga sempat membawakan lagubaru yang berjudul Coconut dan sukses mengajak penonton untuk bergoyang bersama.

Menjelang maghrib, JGTC sempat diguyur hujan yang cukup deras dan sempat membuat penonton yang tidak membawa jas hujan kocar-kacir mencari tempat berteduh. Untungnya hujan tidak berlangsung lama, karena di Indofood Stage, Vira Talisa sudah bersiap untuk menghangatkan malam setelah hujan. Walaupun tidak terlalu ramai, karena banyak penonton yang sudah memenuhi Kopiko Stage untuk menunggu Boyzlife, set Vira Talisa malam itu tetap syahdu. Pindah ke Kopiko Stage, Boyzlife dengan mudahnya membuat para penonton histeris. Hanya bermodalkan rekaman lawas lagu-lagu Boyzone dan Westlife, Keith Duffy dan Brian McFadden sukses berkaraoke bersama penonton. Set yang minimalis, tanpa band pengiring, dan hanya bermodal rekaman minus one membuat Boyzlife tidak memiliki daya tarik yang lebih selain hanya lagu-lagu hits lawas mantan boyband mereka dulu.

Kembali ke Sprite Stage, kali ini giliran Glenn Fredly yang menghangatkan malam para pecinta jazz di JGTC. Penuh dan lantang. Begitulah kira-kira gambaran crowd yang menonton Glenn Fredly kemarin. Dari awal set hingga akhir, semua penonton sangat kompak menyanyikan lagu-lagu Glenn Fredly. Terlebih lagi ketika lagu Terserah, koor massal yang gila bisa terdengar dari depan hingga belakang. Dan di panggung yang sama sebagai penutup JGTC, Reza Artamevia juga berhasil membawa para penonton bernostalgia dengan tembang-tembang lawas miliknya. Walaupun sudah tak muda lagi, Reza tetap energik dan interaktif dengan penonton JGTC.

Dengan tema yang diusung, pagelaran JGTC tahun ini cukup sukses membawa kembali musik jazz. Bermodal track record yang bagus JGTC menjadi salah satu festival jazz yang ditunggu-tunggu setiap tahunnya. Seperti apakah kejutan JGTC tahun depan. We’ll see!

 

Teks: Agita Bela | Foto:  Adrian Daniarsyah

An amateur dilettante | Straight Edge | Star Wars’ die-hard fans | Records Junkie |

Continue Reading

EVENTS

Impresional Made J Music di Launching Album Tiger Blood

Published

on

Akhir pekan kemarin (28/11), Gimme Shelter mendapat kesempatan untuk menjadi tuan rumah bagi Made J Music yang baru saja merilis album barunya berisikan 12 materi baru dengan titel Tiger Blood. Launching party ini turut menghadirkan kolaborasi serta perform dari beberapa musisi lain seperti  The Dissland, The Hydrant, dan The Eastbay. 

a free soul sun chaser who’s addict to experiment something beyond . Adore nature’s living material. Get her some food and no one’s hurt

Continue Reading

Surabaya