Mengudara Hingga Menembus Angkasa di Perayaan 2 Tahun Radiogasm

Penampilan Others di perayaan tahun ke-2 Radiogasm.

Banyak orang bilang kalau industri radio sedang lesu, khususnya radio konvensional. Jika memang terbukti lesu, mungkin itu karena pendengarnya yang sudah beralih mengikuti perkembangan zaman, dimanja dengan segala hal yang berbau online. Kini internet sudah menjadi magnet, radio pemancar yang masih terus mengudara sekalipun harus turun gunung untuk menjelajah ranah maya. Namun sebaliknya, Radiogasm yang berbasis online pun memilih untuk mengudara ke angkasa, meskipun hanya berpura-pura.

Akhir pekan kemarin (21/5), bertempatkan di Happy Puppy Mayjend Sungkono Surabaya, radio online yang fokus pada industri kreatif Surabaya itu merayakan dua tahunnya dengan konsep ‘Pura-Pura di Angkasa’. Apa yang ditampilkan di poster acara, semua sensasinya tertuang sepenuhnya. Band-band bergenre kelam satu per satu membawa penonton seakan menggapai angkasa. Nuansa, Cotswolds, Others, dan juga Hecht; keempat band ambient ini bergantian membius penonton meski harus disadarkan juga dengan banyolan komedi dari Dono dan Karjo, karaoke bersama bintang tamu utama mereka Oomleo hingga sesi happy hour di penghujung acara.

Venue yang masih terbilang dingin karena belum dipadati penonton saat itu mulai dihangatkan dari penampilan band baru, Nuansa. Musik psychedelic ala Pink Floyd mereka suguhkan dengan apa adanya. Seolah tak mau kalah dengan Nuansa, Cotswolds yang didaulat sebagai penampil kedua langsung membawa penonton terbang kembali ke era akhir 70-an dengan menyuguhkan musik post punk. Tidak bisa dipungkiri bahwa musik yang mereka bawa malam itu sangat dekat dengan Joy Division. Membawakan empat lagu, band yang sempat mencetak split album bersama Bedchamber ini mampu menghilangkan kerinduan pendengarnya setelah cukup jarang tampil, dan yang menyenangkan adalah saat Cotswolds membeberkan rencananya untuk merilis album di tahun ini.

Nuansa, band pembuka yang baru tampil kedua kalinya.

Setelah dibawa mengudara oleh Nuansa dan Cotswolds, kali ini para penonton dibangunkan dari bius berdosis sedang melalui punch-line dan ­jokes dari duet komika lokal yang juga menjadi penyiar di Radiogasm, yaitu Dono dan Karjo. Topik yang dekat dengan keseharian selalu jadi senjata ampuh yang mampu membuat penonton menyeringai bahagia, terutama saat punch-line tentang mie setan dikumandangkan. Puas tertawa bersama mereka, acara pun dilanjutkan dengan lagi-lagi suguhan post rock yang kali ini datang dari Others. Band yang dibentuk tahun 2008 ini mampu membuktikan kembali eksistensi mereka dengan eksplorasi sound yang unik. Permainan bunyi yang dihasilkan antara gitar dengan bow atau stik biola masih jadi andalan mereka. Hingga lagu keempat, Others sukses membawa penonton kembali ke angkasa.

Penampil selanjutnya yaitu unit post rock yang sudah tidak asing di Surabaya, Hecht. Band ini memiliki keunikan tersendiri terutama pada barisan personel mereka. Di tiap event, Hecht kerap tampil dengan additional player yang berbeda. Namun itu tidak menjadi penghalang bagi mereka untuk konsisten. Meski beberapa kali terasa ada miscommunication, khususnya di awal penampilan, toh Hecht mampu membayarnya dengan setlist andalan mereka yang berdosis tinggi. Riuh gitar Dimar dan Cupu seolah membawa penonton menaiki roket yang disimbolkan pada logo khas milik band itu sendiri.

Tepat setelah Hecht, giliran anggota Goodnight Electric yang akrab dipanggil Oomleo untuk mengajak penonton menikmati angkasa dengan tembang-tembang pilihannya. Yap, sesi karaoke pun dimulai, dan Oomleo yang sudah beberapa kali main di Surabaya bersiap-siap menutup perayaan tahun kedua Radiogasm. Malam itu merupakan malam yang singkat namun menyenangkan untuk merayakan konsistensi Radiogasm, keep your hopes up high and your head down low. Cheers!

 

Perbincangan Tentang Radio Online, Label, hingga Merch

Sebelum sesi band dimulai, dan sebelum malam datang, sisi lounge Happy Puppy sempat diisi dengan obrolan santai yang bergizi. Meski terbatas waktu, tapi pembahasan tentang radio online, label hingga merch sudah cukup mengintroduksi bagaimana kepedulian dan kegelisahan Radiogasm sebagai media independen. Satu faktor yang paling mendasar dari diundangnya Oomleo tentu adalah kebutuhan sharing, pasalnya pria yang juga eksis bersama Goodnight Electric itu merupakan pegiat radio online yang sudah punya banyak pengalaman bersama Ruru Radio.

Bagi Oomleo, berapapun pendengar radio online, sedikit atau banyak, loyal atau tidak, dia meyakini bahwa jumlah itu adalah orang yang benar-benar mendengarkan. Beda halnya dengan  data pendengar radio konvensional yang dikeluarkan oleh badan riset terkemuka itu belum tentu valid sepenuhnya. Itulah yang menjadi salah satu faktor bertahannya Ruru Radio hingga saat ini. Tak luput, masalah finansial pun juga dibahasnya, bagaimana dia bersama rekan-rekannya di Ruru membangun tim hingga berbagi rejeki.

Tidak ketinggalan, sesi sharing dari dua pelaku underground Surabaya pun ikut menjadi topik yang membuka rangkaian acara ‘Pura-Pura di Angkasa’. Fadly Zakaria, pemilik label Radioactive-Force bercerita banyak tentang bagaimana ia mengeola labelnya. Mulai dari pemilihan artis, proses kerjasama hingga distribusi. Begitupun dengan Samir Inferno, gitaris Tengkorak dan GAS, produser radio, dan juga owner studio musik Inferno itu juga sempat mengelola label di era 90an, dan mereka berdua berbagi cerita tentang perkembangan label lokal mulai era pra-millenium hingga sekarang.

An amateur dilettante | Straight Edge | Star Wars’ die-hard fans | Records Junkie |

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *