Connect with us
https://ronascent.biz/wp-content/uploads/2017/07/ronascent-adv-copy.jpg

SURABAYA

Sudden Pleasure: Para Rookie Yang Siap Dinikmati

Published

on

Flyer event Sudden Pleasure. (Artowrk oleh Syamsur Rijal)

Satu faktor yang berpengaruh dalam perkembangan sebuah scene tentu tidak lepas dari regenerasi. Ketika hal tersebut tidak terjadi, bisa jadi scene akan ada kecenderungan stagnan. Media juga punya fungsi besar dalam mencari nama-nama baru untuk ikut terlibat dalam konsep sinergitas sebuah industri musik bawah tanah. Maka dari itu, ketika musisi, komunitas, media dan elemen lainnya tumpul, lebih baik tutup buku daripada terkungkung dengan kedigdayaan scene di kota lain.

Seperti halnya kota lain, Surabaya juga punya banyak potensi baru yang menjanjikan. Beberapa diantaranya sudah mulai unjuk gigi, dan sisanya bahkan ada yang masih belum terjamah. Melalui pendekatan itu, Friends Family Syndicate dan Ronascent mengonsep satu event yang bertujuan mencari potensi-potensi baru untuk diperlihatkan dalam satu gigs kolektif. Dengan titel ‘Sudden Pleasure’, 10 band lintas genre siap menggempur Kaya Resto pada 29 April 2017 besok dengan esensi “kenikmatan yang serba mendadak”. Kenapa mendadak? Karena 10 band yang dipilih saat ini ‘mendadak’ jadi perhatian berkat karya-karyanya. Maka dari itu, berpikirlah bahwa sesuatu yang mendadak tidak selalu buruk, tapi juga baik.

Siapa yang tidak memperbincangkan Dandelions? Baru saja melepas debut EP Mantra Sakti bulan lalu, band ini mulai melekat di telingan dengan musik rock ‘n roll-nya. Kemudian RHNK, meski sudah lima tahun dibentuk, band ini punya semangat membara di 2017. Banyak target dan fokus yang sedang mereka kerjakan demi karya terbarunya. Begitupun dengan Tikam, album pertamanya Jurnal Amarah masih hangat setelah rilis tepat di Record Store Day (RSD) kemarin (23/4).

Nuansa post-rock juga makin membuat gig besok memiliki dinamika musik yang epik, Hecht siap untuk memegang kendali bersama The Dance Going On yang berhasil menkombinasikan antara psychedelic dengan ska. Belum lagi folk-pop pendatang baru Layung Temaram yang siap mensyahdukan susana dengan lagu-lagunya. Satu band yang juga sedang menjadi obrolan sejak awal tahun, Longest pun sudah siap membawa kembali referensi musik alternatif 90an, dan makin lengkap dengan dua kolektif hardcore War Fighters, Black Diamond, dan Children School.

Kecenk, salah satu penggagas acara ini melihat betapa pentingnya kolaborasi antara komunitas dan media untuk melahirkan movement baru. “Acara kolektif ini intinya untuk silahturahim biar lebih guyub antara satu sama lain,” ujar gitaris Fraud yang sudah brainstorm denggan Ronascent sejak Desember kemarin. Tertarik dengan wacana ini? semua dapat hadir di Kaya Resto pada 29 April mendatang. Cukup membawa uang saku Rp 20.000 sebagai biaya kolektif produksi kegiatan, selebihnya mari kita menikmati kesegaran karya dan warna musik beragam skena independent Surabaya.

Media musik online yang berbasis di Surabaya. Mengamati gejolak dan gairah industri musik independen yang kerap menjadi sokongan musik berkualitas. Kontak kami di [email protected] untuk berbagi informasi.

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

EVENTS

The Panturas & Sky Sucahyo Berselancar di Iklim Tropis Surabaya

Published

on

Sebagai kolektif surf-rock, The Panturas memang pandai membawa suasana pendengarnya menuju hawa pantai yang identik dengan tropis nan sejuk. Seperti yang mereka sajikan pada klip Fisherman’s Slut, di mana nuansa pantai hingga bajak laut memainkan imajinasi. Sayang, vibes tersebut gagal muncul kala mereka bertandang pertama kalinya ke Surabaya. Iklim tropis yang tidak sejuk sama sekali membuat penonton gagal berimajinasi liar.

Tampil di volume ketiga Jayabaya Raya yang berlangsung kemarin Minggu (28/10) di Skale Space, keempat pemuda ini memainkan nomor-nomor andalannya, termasuk Sunshine yang berkolaborasi dengan solois cantik Sky Sucahyo. Nama terakhir pun juga ikut menampilkan lagu-lagu andalan di iklim yang sama. Sky Suchayo yang melejit lewat Lejar nampak sedikit kurang menggairahkan kala setting panggung yang kurang sesuai untuk menampilkan musik-musik sederhananya. Namun siapa yang tidak terkesima oleh paras manisnya? Setelan dress abu-abunya menemani olah vokal, genjrengan ukulele serta tiupan kazoo yang menawan. Cara bernyanyinya mengingatkan kita sejenak pada Zooey Deschanel.

Kemarin juga ada Headcrusher, Beeswax dan Robot yang bergantian tampil menguras keringat penonton (meski tidak moshing). Anehnya, hanya pada saat penampilan Sky Sucahyo bertiup angin kencang cukup lama. Ya, bisa jadi dialah angin segar bagi para penonton yang terlalu lemas menonton pertunjukan musik dominan pria.

Seorang mahasiswa hampir abadi yang menghabiskan sebagian besar waktu di kehidupanya dengan hal hal penuh manfaat seperti mengabadikan wajah wajah ekstase para pemuda pemudi bangsa di atas panggung.

Continue Reading

EVENTS

Brotherground 2018: Beside Primadona, Down For Life Mempesona & Klimaks Death Vomit

Published

on

Mengadakan festival musik hingga edisi ke-5 bukan perkara mudah. Apalagi dengan line up yang konsisten kencengnya. Tahun ini Beside jadi primadona, namun Down For Life tak kalah mempesona, ditambah tenaga Death Vomit yang tak pernah habis hingga tuan rumah Fraud yang selalu beringas. Kami merangkumnya dalam foto-foto yang bisa memanjakan mata kalian.

Tukang Foto keliling, yang berusaha segiat mungkin, demi mengisi dompet dan perutnya.

Continue Reading

EVENTS

Galeri Foto: Mlete Sejak Maba

Published

on

Istilah gigs kampus saat ini lebih sering dijadikan obrolan saja, sebab sudah jarang dilakukan. Sampai akhirnya, dua edisi Mlete Sejak Maba berupaya membangkitkan lagi semangatnya. Masih bertempatkan di area FISIP UNAIR Kampus B Surabaya, kali ini spirit sosial-lah yang memanggil mereka. Sembari ngegigs, acara ini juga mengumpulkan donasi untuk tragedi gempa Lombok. Dari harga tiket kemarin, terkumpul sekitar Rp. 2.210.000 yang akan dibelikan kebutuhan logistik untuk dikirim ke Lombok.

Didukung oleh Plester-X, Wolf Feet, Kuda Poni 168, Hold, Taman Nada, Ndemo & Pepet, Relics, serta Starving Nomad yang tampil. Dan, satu kata untuk acara ini; keos! Yah, buat kalian yang familiar dateng ke gigs-gigs kampus pasti paham betul bagaimana situasinya. Dan acara kemarin, mungkin  jauh lebih ganas dari biasanya. Silahkan menikmati foto-foto dari rekan kami, Luqman Darwis.

Anak muda penuh semangat tapi tidak bergairah, suka melakukan banyak hal baru dan sedang berstatus mahasiswa aktif dengan doa semoga lulus tepat waktu dan segera mempunyai penghasilan.

Continue Reading

Surabaya