Connect with us
https://ronascent.biz/wp-content/uploads/2017/07/ronascent-adv-copy.jpg

NEWS

Metanoia & Prelude Awali Perjalanan Hidup Wake Up Iris!

Published

on

Wake Up Iris!: Vania Marisca dan Bie Paksi mulai menatapkan progress album pertamanya tahun ini.

Sesuai dengan janji sebelumnya, Wake Up Iris! Benar-benar akan menjadikan tahun 2017 ini sebagai tahun yang produktif bagi mereka. Januari kemarin, duo Bie Paksi dan Vania Marisca baru saja melepas video live dari Rain’s Tale dengan konsepnya yang ada di alam terbuka. Dan sekarang, selepas Record Store Day kemarin, mereka kembali melepas lagu baru berjudul Metanoia. Lagu itu sekaligus jadi single studio version pertama mereka setelah dua tahun fokus dari panggung ke panggung.

“Rilisnya single ini (Metanoia,red) menjadi salah satu pemenuhan janji kami di awal tahun. Kami akan terus berkarya dan sedang mempersiapkan album yang semoga dapat dinikmati oleh pendengar dalam waktu dekat.” terang Bie Paksi melalui press relase yang Ronascent terima. Sambungnya lagi, selain sudah bisa di dengar secara masal melalui Soundcloud, mereka juga akan memperluas jangkauan pendengarnya, salah satunya melalui Spotify.

Secara lirik, Metanoia sendiri bercerita tentang perjalanan hidup, khususnya tentang apa yang terjadi saat ini dan pengaruhnya di masa depan. “Lagu ini merupakan cerita pengalaman dan harapan kami. Dalam lagu ini, ada pesan bahwa sebuah keputusan, sekecil apapun itu, akan memberi impact yang besar pada waktunya. Jadi, jika dapat mengambil sebuah keputusan sekarang, lakukanlah. Diri kita di masa depan pasti akan berterimakasih atas keputusan yang kita ambil hari ini,” jelas Vania Marisca.

Selain itu, Metanoia juga menjadi penanda persiapan keberangkatan mereka ke Jakarta dan Bandung untuk bermain di beberapa tempat dan memperkenalkan karya kepada pendengar yang lebih luas. “Pertama tama tujuan kami adalah Ruang Putih Bandung dan Rumah Bonita di Depok. Tetapi kami memanfaatkan hari diantaranya untuk sekalian bermain di beberapa kafe, radio dan kantor media online” sambung Bie Paksi.

Dan hari ini (26/4), showcase yang mereka nami ‘Prelude’ akan dimulai. Dua titik pertama bertempatkan di Jakarta, yakni di Demajors Radio dan Coffee War Jakarta. Total ada 11 titik di Jakarta dan Bandung yang akan Wake Up Iris! singgahi sampai awal Mei nanti. “Seperti makna dari Metanoia yang artinya merujuk dari sebuah kata yang menggambarkan perjalanan untuk merubah hidup, pemikiran dan hati seseorang. Perjalanan kami selama ini sangat mengubah kami dan tentunya, showcase yang akan kami jalani setelah ini akan membawa perubahan yang lebih signifikan dalam hidup kami. Kami percaya, ucapan dan lagu yang kami nyanyikan adalah doa,” tutup mereka.

 


 

Melepas lajang di dunia tarik pena dengan menyandang lulusan sastra yang tidak sastrawi, musisi gagal, penimbun berita pil koplo, dan buruh radio.

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

NEWS

Kenistaan Layar Laca di Mata Hockey Hook

Published

on

Artwork single terbaru Hockey Hook, Layar Nista. (dok. Hockey Hook)

Cerita tentang kekesalan terhadap tayangan televisi di Indonesia memang belum ada habisnya. Banyak musisi yang menumpahkan keluhannya lewat lagu, tak terkecuali dengan unit ska punk asal Kota Kembang, Hockey Hook. Kenistaan layar kaca mereka nyanyikan lewat single baru yang diberi judul Layar Nista.

Single yang rilis digital akhir November kemarin ini digarap sendiri oleh Hockey Hook dengan bantuan Ako selaku sound engineering di Red Studio Bandung. Lewat rilis persnya, Hockey Hook menyebut konten televisi di Indonesia sampai saat ini masih jauh dari kata edukatif. “Konten televisi di Indonesia dipenuhi program-program tidak mendidik seperti sinetron yang ditayangkan siang hari, pengemasan variety show di beberapa kanal media yang penuh gosip selebriti, diwarnai juga cemoohan antar satu sama lain host. Tidak ketinggalan pula kampanye hitam politik di media Televisi yang tentunya saling menjatuhkan lawan,” sebut mereka.

Layar Nista ini dikemas lebih ke reggae dub ala California era 90an. Mereka juga menggandeng DJ Eone Cronik dari Eye Feel Six guna membangun nuansa scratch di lagu tersebut. Dan setelah ini, Hockey Hook kabarnya akan melempar mini album berisikan lima lagu yang sekaligus melanjutkan debut album yang rilis dua tahun lalu.

Melepas lajang di dunia tarik pena dengan menyandang lulusan sastra yang tidak sastrawi, musisi gagal, penimbun berita pil koplo, dan buruh radio.

Continue Reading

NEWS

Humi Dumi Tinggalkan Akustik & Perluas Dimensi Musik

Published

on

Artwork single baru Humi Dumi karya Bagus ‘Bagong’ Priyo. (Dok. Humi Dumi)

Meninggalkan nuansa akustik dan memperluas dimensi musik; selamat datang kembali Humi Dumi! Salah satu serpihan band pop Surabaya di medio 2014 ini beranjak kembali ke permukaan. Sematan folk yang sempat diberi oleh kebanyakan pendengarnya coba dimentahkan, karena sejatinya Humi Dumi kini tengah membangun entitas indie pop lewat single barunya, Pathless.

Meskipun mencoba untuk jadi lebih dewasa dan kompleks, tapi Humi Dumi tetap menaruh ciri khasnya, di mana imajinasi tetap menyelimuti tiap bait yang dinyanyikan syahdu. “Kami masih bermain-main dengan imajinasi, tentang sebuah wacana eskpais atas sang waktu dan merakit kembali fragmen demi fragmen tentang ingatan, demi berdamai dengan masa lalu,” ujar vokalis mereka Qanita Hasinah.

Terkait dimensi musik, Humi Dumi kini tak hanya terpaku pada Angus & Julia Stone, yang konon kerap disandingkan sebagai influence terbesarnya. Dalam lagu Pathless, kalian bisa mendengar bagaimana Qanita dkk punya banyak rasa dan referensi. Cukup terasa bagaimana pengaruh british yang datang dari The Smith, riff-riff Thom Yorke hingga luapan emosi ala Saosin.

Dengan rilisnya Pathless, Humi Dumi juga berencana melahirkan anak keduanya di awal 2019 nanti. Jika sesuai timeline, maka album tersebut akan menjadi rilisan kedua mereka setelah debut I Am Ij Sin A yang rilis empat tahun lalu.

Melepas lajang di dunia tarik pena dengan menyandang lulusan sastra yang tidak sastrawi, musisi gagal, penimbun berita pil koplo, dan buruh radio.

Continue Reading

NEWS

Monkey to Millionaire Sindir Orang Yang Gila Popularitas

Published

on

Artwork Monkey to Millionaire – Envy. (Source: Desire Music)

Monkey to Millionaire sedang melanju dengan kecepatan tinggi. Setahun setelah album Tanpa Koma, Aghan Sudrajat dan Wisnu Aji lanjut tancap gas lewat single baru Envy. Mengamati dengan kritis lalu menyindir dengan sarkartis; MTM masih tetap sama. Di lagu ini, sasaran mereka ada pada orang-orang yang gila popularitas hingga nekat melakukan apapun untuk bisa dikenal. “Bahkan sampai ngejual kehidupan pribadi cuma buat kebutuhan promosi dan naikin nama. Entah itu mengumbar atau diumbar,” ujar Aghan. Mereka mempertanyakan tentang orang-orang yang gila popularitas dengan beragam cara yang bisa dibilang nyaris tidak masuk akal.

Single Envy sendiri dijadikan single pertama yang akan mewakili album keempatnya. Jika dibanding Titik Koma atau Lantai Merah, Monkey to Millionaire terdengar seperti ingin menunjukan betapa easy listening-nya lagu mereka. Nada-nadanya terasa manis dan menyenangkan, tidak sarat emosi atau eksperimen sound seperti beberapa lagu terdahulu. “Kita ngerasain banget berkembang dari segi aransemen untuk lagu-lagu baru. Karena ternyata untuk membuat lagu terdengar sederhana dan catchy itu susah ya. Rasanya udah lama sekali nggak ngelakuin hal itu,” lanjut Aghan seraya tertawa.

Berbicara proses album terbarunya, Monkey to Millionaire memilih untuk fokus dalam penggodokan materinya. Bahkan untuk judul, mereka memilihi untuk tidak membicarakannya lebih dulu. Yang pasti, mereka sudah menyiapkan beberapa hal baru, seperti logo dan juga additional drum.

Media musik online yang berbasis di Surabaya. Mengamati gejolak dan gairah industri musik independen yang kerap menjadi sokongan musik berkualitas. Kontak kami di [email protected] untuk berbagi informasi.

Continue Reading

Surabaya