Connect with us
https://ronascent.biz/wp-content/uploads/2017/07/ronascent-adv-copy.jpg

FEATURES

[Ekskusif] Interview Cyrus Bolooki Tentang 20 Tahun New Found Glory & Album Makes Me Sick

Published

on

New Found Glory: Lengkapi perayaan 20 tahun dengan album ‘Makes Me Sick’. (Source: Billboard)

New Found Glory terbentuk pada tahun 1997 yang kemunculannya mengiringi kejayaan Warped Tour, meledaknya Blink-182 dan Green Day. Nothing Gold Can Stay dan Self-titled seolah album perkenalan yang magis, sementara Catalyst dan Sticks & Stones adalah 2 album terlaris. Lalu Coming Home merupakan momen dimana piano dan lagu cinta puitis beres ditulis. Namun sejak itu, New Found Glory terdengar tidak sama lagi, sound mereka selalu tidak bisa diprediksi.

Cyrus Bolooki. (Source: listenherereviews)

20 tahun berselang, ternyata kuartet ini tidak sedikitpun mengendorkan produktivitas. Mereka tetap membawa signature manisnya melodi dan lirik yang uplifting. Semanis kontribusi mereka terhadap kanon modern pop-punk. Band Florida Selatan itu kini sedang merayakan pencapaian eksistensi dengan cara mereka sendiri, merayakan album klasik dan album ke-9 berjudul Makes Me Sick secara bersamaan.

Berikut wawancara saya dengan Cyrus Bolooki, membicarakan 20 tahun karir bermusik, oxymoron di album baru, mengaku tidak ingin menjual nostalgia hingga pengalaman yang tak terlupakan saat manggung di Indonesia.

Apa rasanya merayakan 20 tahun New Found Glory tahun ini?

Rasanya luar biasa bisa merayakan 20 tahun band kami. Saya rasa tidak ada satupun dari kami yang menyangka bisa bertahan selama ini di saat banyak band lain bertahan paling lama beberapa tahun saja. Ini adalah waktu yang sangat spesial di hidup kami dan karena perayaan 20 tahun hanya terjadi sekali seumur hidup maka kami ingin melakukannya seseru mungkin.

Perayaannya segaris lurus dengan album baru, Make Me Sick. Waktunya seakan tepat sekali. Apakah ini album perayaan karir kalian yang bertahan selama 20 tahun?

Bukan, meski Anda benar kalau waktunya memang tepat sekali, tapi ini bukan album anniversary. Ini adalah album yang terdiri dari 10 lagu baru yang kami sukai, lagu-lagu yang saya rasa tetap dengan sound familiar NFG sementara berusaha membungkusnya dengan tambahan beberapa elemen, seperti bunyi synth dan hal semacamnya.

Cover album ‘Makes Me Sick’

“Happy Being Miserable” adalah single yang sangat menyenangkan dan apa adanya, serta yang terpenting adalah ringan. “Party on Apocalypse juga serupa itu. Saya baru tahu jika single itu punya pesan/kualitas oxymoron. Apakah itu disengaja? Apa pesan di balik album ini?

Saya pikir kami adalah band yang tidak pernah serius, namun lagu-lagu kami memang sarat pesan, jadinya itulah asal oxymoron yang Anda sebut barusan. Albumnya sendiri seperti mengajak pendengar ke dalam suatu perjalanan, dan itu bisa disebut oxymoron juga, dalam arti di awal rekaman ini punya banyak lirik yang menghakimi orang lain, akan tetapi di akhir album liriknya seolah menunjuk pada para pendengar itu sendiri agar tidak mencibir orang lain tanpa melihat dirinya sendiri dan apakah mereka pernah melakukan kesalahan sama seperti yang dituduhkan.

Saya dengar kalian latihan 75 lagu berbeda yang tidak pernah dibawakan live sebelumnya untuk tur anniversary. Ini juga tur yang beda dalam hal setlist, di mana tiap konser kalian memilih 2 album yang ada di katalog 1999-2009. Bagaimana kalian bisa kepikiran dengan pendekatan ini? Dan, bagaimana fans meresponnya sejauh ini?

Sejauh ini dalam tur kami telah memainkan 77 lagu yang mencakup 7 album (2 lagu dari album Makes Me Sick), dan ini pastinya sebuah tantangan, namun banyak keseruan saat menengok lagi dan belajar kembali lagu-lagu yang tidak pernah kami bawakan dalam konser sebelumnya.

Ide memainkan kembali album-album ini karena kami sudah melakukan sejumlah tur di masa lalu di mana kami membawakan 1 album saja hingga beres dan merasa puas, jadinya kami memikirkan untuk tur kali ini kami akan mengambil album rekaman dari 10 tahun pertama band ini, dan karena ada 6 album penuh waktu itu kami putuskan akan konser berulang kali di sejumlah kota dan membagi album-albumnya dengan cara tadi. Yang keren lagi kami tidak memainkan satu album dari awal hingga akhir, tapi sebaliknya kami mencampur dan memasangkan banyak lagu seolah “setlist” sesungguhnya, jadi itu sangat menyenangkan dan menarik bagi fans dan kami sendiri. Responnya luar biasa sejauh ini, dan boleh dibilang tiap konser berhasil sold out!

Soal tur anniversary ini, dalam satu interview, Chad mengatakan New Found Glory tidak menjual sebuah nostalgia. Bisa dijelaskan kenapa tur ini bukan tentang nostalgia?

Ini bukan tentang nostalgia karena menurut kami nostalgia akan mengartikan kalau kami sudah tamat, dan yang kita tahu adalah sebaliknya. Kami masih tetap prima dan terus mengeluarkan album baru, jadinya tidak ada alasan bagi orang-orang berpikir bahwa kami akan segera mandek! Tur ini adalah sebuah perayaan, bukan suatu kenangan!

Apakah kalian akan membawa tur anniversary ini ke Asia?

Kami akan berkunjung ke Jepang dalam waktu dekat, meski begitu di sana kami tampil di sebuah festival bukan menggelar konser album. Sayangnya, kami belum ada rencana membawa tur ini ke Asia sejauh ini. Padahal kami sangat menginginkannya, untuk masa mendatang kami tidak akan melewatkannya. Bahkan jika bukan tahun ini dan sebaliknya adalah tahun depan, kami semua akan tetap membuatnya seolah-seolah ini masih tur anniversary ke-20!

Ada banyak penggemar kalian di Indonesia yang telah mengikuti dari sejak awal karir dan mereka sangat respek serta selalu bangga—ada yang ingin kalian sampaikan untuk mereka?

Saya selalu mengingat konser kami di Indonesia sebagai beberapa konser NFG paling gila yang pernah kami alami—ada fans yang menunggu kami di hotel, dan lebih banyak dari yang sempat kami bayangkan ketika di dalam konser singing along lagu-lagu kami. Ada video di Youtube dari beberapa konser di Indonesia sehingga kalian bisa lihat sendiri apa yang saya ungkapkan tadi. Saya pastinya sangat menghargai semua dukungan yang sudah kami dapatkan dari fans di Indonesia sejak awal dan berharap bisa kembali kesana sesegera mungkin! Kami tidak akan melupakan kalian!

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

EDITOR'S PICK

The Flins Tone dan Sebuah Pembunuhan (Karakter)

Published

on

Formasi terbaru The Flins Tone: Bimo, Ucup, Kiky, Diko & Rudy. (Dok. TFT/Sandy Whisnu)

Sejak pertama melihat artwork dan mendengar intro-nya, Blossom memiliki karakter yang berbeda. Perpindahan chord serta beberapa fill di dalamnya mengingatkan kita pada era kejayaan emo di masa lalu. Bahkan, mereka tak luput menyelipkan sedikit scream di dalamnya. Terbaca sudah, punk yang berlulurkan emo dan rock terpilih jadi karakter baru The Flins Tone (TFT), yang lagi-lagi masih produktif di tahun ke-15 nya. Single Blossom sendiri mereka rilis baru-baru ini (22/2) secara digital. Lagu tersebut merupakan satu dari lima tracklist yang telah disiapkan untuk mini album Epitome.

Jika kita mendengar TFT sejak awal, ada perkembangan referensi dan sound yang terus beranjak dewasa. Dan di EP terbarunya nanti, mereka tampak ingin membunuh karakter lawas-nya yang cenderung energik, jadi lebih dramatik. Hal itu tertuang pada single Blossom, di mana liriknya berkisah tentang pembunuhan Jason Blossom; seorang karakter fiktif dari komik ‘Archie’ yang sempat diangkat ke serial thriller ‘Riverdale’. “Perkenalanku sama komik Archie itu berawal dari Bimo (drummer TFT), penggila sekaligus kolektor komiknya. Nah ketika diangkat ke serial ‘Riverdale’, aku suka banget. Khususnya pas nyari siapa pembunuh si Jason (Blossom),” ujar Kiky, vokalis dari The Flins Tone.

Ketika tercetus mengangkatnya untuk jadi lirik, Kiky pun menggandeng dua rekannya di radio, yakni Hanamay dan Deylon. “Kita bertiga sama-sama suka, dan nyambung. Deylon ngebantu nulis liriknya secara eksplisit, nah si Hanamay banyak bantu untuk perbendaharaan idiom-nya. Sementara di bagian scream, liriknya aku ambil dari dialog di episode terakhir ‘Riverdale’, biar makin klimaks gitu,” sambungnya. Karakter Jason Blossom sendiri muncul di era 90an, tampak pas dengan ambient musik emo punk yang TFT leburkan di lagu, dan juga mini albumnya nanti.

Beberapa nama seperti Alexis on Fire, Story of the Year, The Used, Jimmy Eat World, Billy Talent, Fugazi, hingga The Starting Line menjadi referensi mereka untuk melakuan brainstorm. “Setelah 3 album, sekarang kami mau eksplore lebih jauh. Rudi yang awalnya pengen ngebawa ke vibes emo 2000-an. Nah kebetulan kita semua ini dasarnya anak emo kali ya, akhirnya pas workshop cepet nyambung satu sama lain,” lanjut Kiky. Pria yang juga bersiar di prime time sore salah satu radio di Surabaya itu juga menyebut jika ekspektasi pendengar terhadap Blossom dan deretan track di Epitome bisa saja berubah. “Vibes di tiap lagunya nanti bakalan berbeda, karena cara mengexplore-nya pun beda-beda. Part scream? ada juga hehe,” ucapnya.

 

Siapkan Studio Update, Video Klip & Bersih-Bersih Instagram

Artwork single anyar TFT, Blossom. (Dok. The Flins Tone)

The Flins Tone punya banyak agenda di awal 2019 ini. Beruntung seluruh materi album mereka telah rampung, jadi saat ini tinggal fokus membangun promosi. Belakangan mereka baru saja melempar episode pertama dari Studio Update yang digarap Redixcover. Beberapa pekan sebelumnya malah Kiky, Ucup, Rudy, Bimo dan Diko tampak sibuk melakukan shoot klip Blossom. Dalam klip yang dikerjakan di Skale Creative Space itu, TFT bekerjasama dengan salah satu fotografer panggung Yogie Husein. “Nah, jadi bulan Maret ini kami mau ngeluarin beberapa episode ‘Epitome Studio Update’. Nanti di episode terakhirnya, baru lah kita kasih tanggal rilis video klipnya,” imbuh Kiky.

Selain kesibukan secara audio dan visual, media sosial pun tak luput untuk mereka perhatikan. Instagram milik The Flins Tone yang sudah memiliki lebih dari 5 ribu pengikut itu tiba-tiba di awal Januari nihil postingan. Beberapa pertanyaan dan keheranan sempat menghampiri mereka lantaran akunnya yang tiba-tiba jadi pasif itu. Kiky mewakili rekan-rekannya pun mengakui kalau mereka sengaja ‘bersih-bersih’ Instagram. “Itu cuma buat menyesuaikan sama konsep baru kami sih. Jadi emang kita rebranding gitu lah istilahnya,” perihal apa saja yang akan mereka tampilkan nantinya, Kiky meminta untuk menunggu tanggal mainnya, sembari menikmati gimmick-gimmick yang telah mereka siapkan sampai Epitome resmi dirilis.

Dengan hampir rampungnya mini album Epitome, sekaligus menambah perbendaharaan diskografi mereka. Epitome akan menjadi rilisan keempat The Flins Tone, sekaligus EP kedua setelah debut Flinsnopsis tahun 2010 silam. Sementara dua LP juga telah mereka rilis setelahnya, yaitu He’s The Best Actor For This Episode (2012) yang menjadi album persembahan untuk mendiang drummernya alm. Mahdi dan terakhir ada Good News (2015) yang rilis ke dalam 3 format, CD, kaset dan digital streaming.

Continue Reading

EDITOR'S PICK

Fraud: Release The Beast

Published

on

Fraud ketika tampil di Grand City pertengahan Februari kemarin (16/2) dengan memainkan beberapa materi baru. (Foto: Haryo Bahrul Ilmi)

Seperti yang kita ketahui bersama, selepas album kedua Movement Before Mouthment rilis empat tahun lalu, Fraud tidak berhenti untuk menciptakan karya baru. Dan masuk di 2019 ini, mereka sedikit memberi bocoran tentang album barunya. Mengutip dari statement Kecenk, gitaris dari Fraud, ia sempat mengujarkan niat bandnya untuk tidak lagi menggunakan kata-kata umpatan dalam liriknya.

Lebih lanjut lagi, Kecenk menjelaskan sebagian dari lirik di album ketiganya nanti akan rilis tahun ini. Isinya masih tetap berkutat tentang refleksi mereka terhadap lingkungan sosial dalam bentuk kritik yang membangun. Tak luput beberapa permasalahan yang terjadi di tanah air dalam beberapa waktu lalu, termasuk juga suntikan motivasi untuk para korban bencana alam yang terjadi baru-baru ini. “Jadi di album ketiga ini kami lebih menata kalimat dan diksi. Tidak seperti album-album sebelumnya,” terang Kecenk ketika kami hubungi pekan lalu. Dirinya juga tak lupa menyelipkan pesannya untuk lebih mempertahankan lokalitas Surabaya. “Karena kita harus tetap jadi diri sendiri, mempertahankan esensi kelokalan, supaya bisa memperkuat agar trend dan industrinya tidak tergeser dan berubah-ubah,” sambungnya.

Kini Fraud tengah fokus pada tahap revisi dan evaluasi materi yang telah selesai digarap.  Dengan mengenyampingkan ego, band yang baru saja berpisah dengan drummernya (Edel) akhir tahun kemarin coba memperhatikan hal-hal terkecil untuk album barunya, termasuk urusan menggaet produser. Nantinya, nama produser yang telah mereka pilih akan diumumkan pasca single barunya rilis. Selain itu, pemilihan studio dan sound engineering juga mereka fokuskan. Buktinya, proses rekaman dilakukan di beberapa studio berbeda, khususnya untuk take drum, Fraud menginginkan studio yang nyaman dengan feel akustik yang mumpuni.

Dalam waktu dekat, sembari menunggu menunggu proses album yang berjalan sejak pertengahan 2018 rampung, Fraud akan merilis ulang album pertama dan keduanya. Kali ini, band yang sempat berbagi panggung dengan Sick Of It All ini memlih format kaset untuk merilis kedua album lawas-nya. “Setelah rampung produksinya, kami akan membuat launching atau bahkan secret gigs mungkin,” tutur Kecenk.

Fraud (1)
Fraud (2)
Fraud (3)
Fraud (4)
Fraud (5)
Fraud (6)
Fraud (7)
Fraud (8)
Fraud (9)
Fraud (10)
Fraud (11)
Fraud (12)
Fraud (13)
Fraud (14)
IMG_6929
Continue Reading

EDITOR'S PICK

Berselancarnya The Panturas & Polka Wars di Surabaya

Published

on

Ada sedikit keraguan kala The Panturas gagal berselancar di Surabaya Oktober kemarin. Nuansa surf-rock yang diusung sekelompok alumnus jurnalistik ini tidak memancar, mereka justru hanya terdengar sebagai band rock melayu biasa. Namun ketika Buka Musik Connectified chapter Surabaya membawa mereka ke Nens Corner akhir pekan kemarin (14/12), ceritanya berbeda. The Panturas benar-benar Mabuk Laut bersama ratusan penonton yang merelakan mata perih karena asap rokok hingga kepala puyeng akibat alkohol.

Bagi sebagian besar penonton yang hadir, kami yakin mereka semua mendapat klimaks. Diawali dengan dua band pendatang baru Surabaya yang unjuk gigi; Alter dan Eisen, hingga dibawa membeku bersama Cotswolds dan puncak dari segala kerusuhan ada pada si protagonis Polka Wars. Pemilik album Axis Mundi ini sejatinya menurunkan tempo pasca meliarnya crowd The Panturas. Tapi tak bisa dipungkiri jika musikalitas terus memancarkan aura semangat. Setidaknya, Surabaya telah memberikan kesan manis bagi Polka Wars dan The Panturas yang hingga akhir tahun ini melaksanakan tur di 6 kota di bawah platform musik Buka Musik milik Bukalapak.

Continue Reading

Surabaya