Connect with us
https://ronascent.biz/wp-content/uploads/2017/07/ronascent-adv-copy.jpg

EVENTS

Sensasi Kombo Explosions In The Sky & Unknown Mortal Orchestra

Published

on

Explosions In The Sky yang datang kembali memuaskan hasrat para pendengarnya. Mereka terakhir datang ke negeri Singa pada 2013 lalu. (Foto: Arina Habaidillah/Merdeka FM)

Saya benar-benar lupa kapan persisnya mulai mendengarkan band beraliran Post-Rock. Mungkin sekitar SMA awal, di mana band-band seperti Mono, Sigur Ros dan juga Explosions In The Sky jadi begitu familiar di telinga. Tapi, dari semuanya, sepertinya Explosions In The Sky-lah yang selalu nyantol di iPod saya. Dan akhirnya minggu kemarin (3/17), Saya mendapat kesempatan menonton penampilan mereka secara langsung saat tour konser dari album terakhirnya  The Wilderness di The Coliseum Hard Rock Hotel, Singapura.

Setelah melewati beberapa pertimbangan, mulai dari harga tiket konser yang masih bersahabat, harga tiket pesawat dari Jakarta ke Singapura yang lebih murah dari rute Jakarta-Surabaya hingga munculnya nama Unknown Mortal Orchestra; si penimbun award di negara asalanya yang didaulat jadi pembuka Explosions In The Sky. Pertimbangan-pertimbangan itulah yang akhirnya memastikan saya untuk berangkat tanpa ekspektasi apapun.

Saya datang sengaja sedikit mepet, karena toh tempat saya menginap tak jauh dari venue. Akhirnya memutuskan untuk makan dulu dengan kawan saya tepat di depan quenue line untuk konser malam itu. Saat saya berangkat makan, antriannya masih kosong melompong, itu sekitar dua jam sebelum open gate, antrian langsung mengular dari line quenue untuk VIP dan Media sampai Standart Ticket yang saya beli. Sejauh mata memandang, saat itu tak banyak penggila EITS yang datang dari Indonesia. Tentu ini tidak seperti kebanyakaan konser biasanya, Muse contohnya, waktu itu memang banyak sekali yang datang dari Indonesia. Tapi itu Muse ya, hahahaha!

Unknown Mortal Orchestra yang tampil melengkapi pertunjukan Explosions In The Sky di Singapura. (Foto: Arina Habaidillah/Merdeka FM)

Tepat pukul  19.30 antrian yang sudah mengular itu akhirnya menguai, seiring masuknya mereka ke venue setengah jam dari yang sudah dijadwalkan. Sampai 15 menit kemudian naiklah band pembuka Unknown Mortal Orchestra membawakan beberapa hitsnya seperti The world Is Crowded, Multi-Love, dan tentunya Can’t Keep Cheking My Phone yang sekaligus menjadi lagu pamungkas mereka malam itu. Benar-benar pembuka yang bergizi! Para penonton beberapa kali terlihat ikut bernyanyi dan bahkan tak berhenti untuk Headbaging. WOW!

Dengan turunnya Unknown Mortal Orchestra dari atas panggung, munculah para personil Explosions In The Sky; Munaf Rayani, Christopher Hrasky, Michael James dan Mark Smith dengan membawa set alatnya masing-masing. Ya, mereka tampak mandiri mengatur setting alatnya sendiri tanpa kru, tidak seperti artis pada umumnya. Disela mereka mempersiapkan diri, saya berkali-kali Googling untuk memastikan wajah dan nama mereka; maklum itu juga nanti terkait caption yang akan saya bikin di Instagram saya hahahaha! Maklum, selama ini saya menikmati karya, bukan menikmati personal mereka. Jadi wajar kalo saya belum hafal nama-nama personil beserta wajahnya. Sampai di akhir baru saya mengetahui sosok yang ada di depan saya itu adalah Munaf Rayani, yang selama ini namanya sering nongol di instagram stories temen saya. “Oh.. ini Munaf Rayani” lalu kemudian sudah. Saya biasa aja.

Kurang lebih pukul 21.14 setelah mereka  Self check sound dan sempat meninggalkan panggung untuk bersiap, akhirnya dimainkanlah distorsi yang memekkan telinga sekaligus menusuk ulu hati saya malam itu. Munaf Rayani sempat membuka dengan keheranan karena banyak sekali yang rela datang ke konser mereka “We Didn’t Expect This Many People To Come” ujarnya. Diawali dengan Yasmin The Light, mata saya sudah terpaku dengan sosoknya. Beberapa lagu di awal saya masih rajin memotret, sampai akhirnya saya menyerah, dan memutuskan untuk menghayati dan memaknai pedihnya distorsi dari mereka.

Explosions In The Sky. (Foto: Arina Habaidillah/Merdeka FM)

Total ada 11 lagu dengan komposisi dari album The Wilderness : Logic of The Dream, Colors in Space , Disintegration Anexiety,  dan beberapa  nomor lawas seperti Yasmin The LIght, Catastrophe and the cure, Greet Death, First Birth after Coma, The Birth and Death of The Day, Your Hand in Mine, dan ditutup dengan The Only Moment When We Are Alone . sekitar 90 menit lebih mereka mengombang ambingkan mood penonton tanpa mengeluarkan sepatah katapun.

The Wilderness sendiri adalah album yang keluar setelah 5 tahun lamanya, maka tak heram para penggemarpun begitu menantikan penampilan mereka membawakan album barunya. Seperti salah seorang wanita di depan saya yang tak berhenti ber-Headbagging sampai terkena kepala saya yang ada di belakangnya. Oh sungguh! Saya sendiri mencoba memaknai dengan diam, memejamkan mata, sambil sesekali ikut juga ber-Headbagging ria.  saya cukup puas dengan konser malam itu. Meskipun dengan Simple Lighting, Smoke yang terlalu banyak, tapi semua itu benar-benar melengkapi sosok EITS. Konser yang simple namun bersuara megah menurut saya. Benar-benar saya beruntung bisa datang dan menyaksikan mereka secara langsung. Pecah!

Rakjat Djelatah yang tak segan untuk mengepul ilmu dari panggung ke panggung bebunyian. Suka menggagungkan katakata pada limit kepsyen instagram belaka. Akhir-akhir ini, ia sedang belajar menulis yang baik dan benar untuk kemaslahatan umat.

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

EVENTS

The Panturas & Sky Sucahyo Berselancar di Iklim Tropis Surabaya

Published

on

Sebagai kolektif surf-rock, The Panturas memang pandai membawa suasana pendengarnya menuju hawa pantai yang identik dengan tropis nan sejuk. Seperti yang mereka sajikan pada klip Fisherman’s Slut, di mana nuansa pantai hingga bajak laut memainkan imajinasi. Sayang, vibes tersebut gagal muncul kala mereka bertandang pertama kalinya ke Surabaya. Iklim tropis yang tidak sejuk sama sekali membuat penonton gagal berimajinasi liar.

Tampil di volume ketiga Jayabaya Raya yang berlangsung kemarin Minggu (28/10) di Skale Space, keempat pemuda ini memainkan nomor-nomor andalannya, termasuk Sunshine yang berkolaborasi dengan solois cantik Sky Sucahyo. Nama terakhir pun juga ikut menampilkan lagu-lagu andalan di iklim yang sama. Sky Suchayo yang melejit lewat Lejar nampak sedikit kurang menggairahkan kala setting panggung yang kurang sesuai untuk menampilkan musik-musik sederhananya. Namun siapa yang tidak terkesima oleh paras manisnya? Setelan dress abu-abunya menemani olah vokal, genjrengan ukulele serta tiupan kazoo yang menawan. Cara bernyanyinya mengingatkan kita sejenak pada Zooey Deschanel.

Kemarin juga ada Headcrusher, Beeswax dan Robot yang bergantian tampil menguras keringat penonton (meski tidak moshing). Anehnya, hanya pada saat penampilan Sky Sucahyo bertiup angin kencang cukup lama. Ya, bisa jadi dialah angin segar bagi para penonton yang terlalu lemas menonton pertunjukan musik dominan pria.

Seorang mahasiswa hampir abadi yang menghabiskan sebagian besar waktu di kehidupanya dengan hal hal penuh manfaat seperti mengabadikan wajah wajah ekstase para pemuda pemudi bangsa di atas panggung.

Continue Reading

EVENTS

Galeri Foto: Synchronize Fest 2018

Published

on

Selama tiga hari kami berkelana di tengah padatnya Gambir Expo Kemayoran, Jakarta. Baik di atas atau bawah stage terasa sesak. Mata dan telinga kami kenyang terpuaskan oleh penampilan ratusan musisi lintas generasi. Sebuah kenyataan di mana musik Indonesia memang beragam dan menyenangkan. Silahkan menikmati hasil jepretan fotografer kami.

Tukang Foto keliling, yang berusaha segiat mungkin, demi mengisi dompet dan perutnya.

Continue Reading

EDITOR'S PICK

Menengok Wajah Musik Indonesia di Synchronize Fest 2018

Published

on

Sinkronisasi musisi antar generasi masih jadi issue utama di Synchronize Fest ketiganya. (Foto: Agastiko)

“Jika ada orang tanya, seperti apa sih musik Indonesia? Suruh datang aja ke Synchronize Festival.” Begitulah kira-kira celetuk Iga Masardi di sela-sela set Barasuara di event tersebut. Yap, tahun ini salah satu festival musik terbesar di Indo ini kembali menyapa pemuda-pemudi yang haus akan lantunan musik Indonesia dari generasi ke generasi.

Festival musik yang dikerjakan Dyandra Promosindo dan Demajors ini kembali digelar untuk ketiga kalinya di Gambir Expo Kemayoran, Jakarta. Seperti tahun-tahun sebelumnya, signature Synchronize Festival ada deretan pengisi acara yang banyak, hingga ratusan. Lelah? memang. Tapi mood yang terbangun untuk melihat segala macam bentuk dan tampilan musik lintas genre mengalahkan segalanya. Hiperboliknya, event ini sudah cukup menggambarkan wajah musik Indonesia dulu dan sekarang.

.Feast di Synchronize Fest kemarin. (Foto: Agastiko)

Hari pertama, kalau dideskripsikan dengan satu kata sih ya “gendheng”. Deretan aksi panggung yang bikin geleng-geleng hingga ngakak sudah tersaji. Aksi dari Mesin Tempur misalnya. Band grindcore Bandung ini nyeleneh dengan membawa ayam jago ke atas panggung.  Tak mau kalah dengan Mesin Tempur, band bernuansa Betawi, Jiung juga menyuguhkan aksi panggung yang gila. Ajul, sang vokalis dengan enaknya turun panggung lalu mandi ditengah-tengah penonton. Sesudah maghrib, insaf sejenak. aksi panggung yang gila sudah berkurang, namun digantikan dengan set-set menawan. Mooner, yang pertama kalinya main di Synchronize Fest disambut antusias oleh penonton yang  menjadi-jadi. Bergeser ke District Stage, ada Reality Club yang tak kalah histeris-nya disambut. Makin malam makin jadi. Kaki sudah lelah, tubuh berkeringat, rambut lepek, baterai gadget mulai lowbatt. Tapi, jam 21.30 masih ada dua penampil yang sayang untuk dilwati. Di Dynamic Stage ada dominasi anak-anak muda sedang “menunggangi badai” dengan Barasuara. Sedangkan di Forest Stage, para senior indie sedang “menikmati coklat” bersama Pure Saturday”. Puncaknya, penampilan Naif, si tukang sedot keringat penonton.

Lanjut hari kedua, kali ini nuansa nostalgia terasa lebih kental. Deretan pengisi acara seperti Godbless, Sheila On 7, dan Project Pop ada di hari itu. Di set Godbless, penonton dipenuhi  kalangan senior pecinta rock lawas. Tembang-tembang hits seperti Musisi, Kehidupan, Rumah Kita, Semut Hitam, dan Panggung Sandiwara membangun vibes karaoke bersama. Begitupun Sheila On 7 yang penuh sesak oleh penonton lintas generasi. Sementara di Distric Stage, musik jenaka Project Pop begitu merindukan era di mana grup vokal itu tidak harus selalu keren, tapi juga bisa receh nan menyenangkan. Sang Raja Dangdut, Rhoma Irama dan Soneta Group akhirnya menutup hari kedua. Pesonanya yang kharismatik sebagai maestro selalu berhasil menyebarkan penyakit menular; (baca: goyang).

Well, dua hari non-stop berkeliling luasnya venue. Pindah dari satu stage ke stage lain, sebenarnya ada pikiran untuk menyudahinya. Tapi apa daya, nama-nama seperti Snickers And The Chicken Fighters (SATCF), Ramengvrl hingga NOXA terlalu sayang jika terlewatkan. Jamrud pun hadir di Dynamic Stage. Lagu-lagu lawas-nya masih terdengar lantang meski ada perubahan pada karakter suaranya. Lagi-lagi dan lagi-lagi, penonton yang dibesarkan era MTV Ampuh sangat dimanjakan. Kali ini giliran Padi Reborn beserta penutup Synchronize Festival 2018 secara keseluruhan; Dewa 19 bersama Once & Ari Lasso. Fine! ini sebuah pertunjukan langka. Deretan megahits yang versi bajakannya tak kalah laris ini membuat penonton semakin giting. Dua eks vokalis terbaik itu tampil dalam satu stage pertama kalinya. Di tengah nikmatnya mengenang masa muda, kami pun berpikir: bagaimana caranya si organizer melakukan proses negosiasi dengan mereka yah? Ahh sudahlah, sekalipun kami bisa melakukannya, pasti kami tak sanggup membayarnya. Akhir cerita, kami puas dan semua penonton lainnya pun demikian. Harapan kami, semoga konsep acara ini terus berkembang. Jangan sampai termakan jenuh. Karena pada dasarnya, wajah musik nusantara ada di sini (untuk saat ini). See you next year!

An amateur dilettante | Straight Edge | Star Wars’ die-hard fans | Records Junkie |

Continue Reading

Surabaya