Sensasi Kombo Explosions In The Sky & Unknown Mortal Orchestra

Explosions In The Sky yang datang kembali memuaskan hasrat para pendengarnya. Mereka terakhir datang ke negeri Singa pada 2013 lalu. (Foto: Arina Habaidillah/Merdeka FM)

Saya benar-benar lupa kapan persisnya mulai mendengarkan band beraliran Post-Rock. Mungkin sekitar SMA awal, di mana band-band seperti Mono, Sigur Ros dan juga Explosions In The Sky jadi begitu familiar di telinga. Tapi, dari semuanya, sepertinya Explosions In The Sky-lah yang selalu nyantol di iPod saya. Dan akhirnya minggu kemarin (3/17), Saya mendapat kesempatan menonton penampilan mereka secara langsung saat tour konser dari album terakhirnya  The Wilderness di The Coliseum Hard Rock Hotel, Singapura.

Setelah melewati beberapa pertimbangan, mulai dari harga tiket konser yang masih bersahabat, harga tiket pesawat dari Jakarta ke Singapura yang lebih murah dari rute Jakarta-Surabaya hingga munculnya nama Unknown Mortal Orchestra; si penimbun award di negara asalanya yang didaulat jadi pembuka Explosions In The Sky. Pertimbangan-pertimbangan itulah yang akhirnya memastikan saya untuk berangkat tanpa ekspektasi apapun.

Saya datang sengaja sedikit mepet, karena toh tempat saya menginap tak jauh dari venue. Akhirnya memutuskan untuk makan dulu dengan kawan saya tepat di depan quenue line untuk konser malam itu. Saat saya berangkat makan, antriannya masih kosong melompong, itu sekitar dua jam sebelum open gate, antrian langsung mengular dari line quenue untuk VIP dan Media sampai Standart Ticket yang saya beli. Sejauh mata memandang, saat itu tak banyak penggila EITS yang datang dari Indonesia. Tentu ini tidak seperti kebanyakaan konser biasanya, Muse contohnya, waktu itu memang banyak sekali yang datang dari Indonesia. Tapi itu Muse ya, hahahaha!

Unknown Mortal Orchestra yang tampil melengkapi pertunjukan Explosions In The Sky di Singapura. (Foto: Arina Habaidillah/Merdeka FM)

Tepat pukul  19.30 antrian yang sudah mengular itu akhirnya menguai, seiring masuknya mereka ke venue setengah jam dari yang sudah dijadwalkan. Sampai 15 menit kemudian naiklah band pembuka Unknown Mortal Orchestra membawakan beberapa hitsnya seperti The world Is Crowded, Multi-Love, dan tentunya Can’t Keep Cheking My Phone yang sekaligus menjadi lagu pamungkas mereka malam itu. Benar-benar pembuka yang bergizi! Para penonton beberapa kali terlihat ikut bernyanyi dan bahkan tak berhenti untuk Headbaging. WOW!

Dengan turunnya Unknown Mortal Orchestra dari atas panggung, munculah para personil Explosions In The Sky; Munaf Rayani, Christopher Hrasky, Michael James dan Mark Smith dengan membawa set alatnya masing-masing. Ya, mereka tampak mandiri mengatur setting alatnya sendiri tanpa kru, tidak seperti artis pada umumnya. Disela mereka mempersiapkan diri, saya berkali-kali Googling untuk memastikan wajah dan nama mereka; maklum itu juga nanti terkait caption yang akan saya bikin di Instagram saya hahahaha! Maklum, selama ini saya menikmati karya, bukan menikmati personal mereka. Jadi wajar kalo saya belum hafal nama-nama personil beserta wajahnya. Sampai di akhir baru saya mengetahui sosok yang ada di depan saya itu adalah Munaf Rayani, yang selama ini namanya sering nongol di instagram stories temen saya. “Oh.. ini Munaf Rayani” lalu kemudian sudah. Saya biasa aja.

Kurang lebih pukul 21.14 setelah mereka  Self check sound dan sempat meninggalkan panggung untuk bersiap, akhirnya dimainkanlah distorsi yang memekkan telinga sekaligus menusuk ulu hati saya malam itu. Munaf Rayani sempat membuka dengan keheranan karena banyak sekali yang rela datang ke konser mereka “We Didn’t Expect This Many People To Come” ujarnya. Diawali dengan Yasmin The Light, mata saya sudah terpaku dengan sosoknya. Beberapa lagu di awal saya masih rajin memotret, sampai akhirnya saya menyerah, dan memutuskan untuk menghayati dan memaknai pedihnya distorsi dari mereka.

Explosions In The Sky. (Foto: Arina Habaidillah/Merdeka FM)

Total ada 11 lagu dengan komposisi dari album The Wilderness : Logic of The Dream, Colors in Space , Disintegration Anexiety,  dan beberapa  nomor lawas seperti Yasmin The LIght, Catastrophe and the cure, Greet Death, First Birth after Coma, The Birth and Death of The Day, Your Hand in Mine, dan ditutup dengan The Only Moment When We Are Alone . sekitar 90 menit lebih mereka mengombang ambingkan mood penonton tanpa mengeluarkan sepatah katapun.

The Wilderness sendiri adalah album yang keluar setelah 5 tahun lamanya, maka tak heram para penggemarpun begitu menantikan penampilan mereka membawakan album barunya. Seperti salah seorang wanita di depan saya yang tak berhenti ber-Headbagging sampai terkena kepala saya yang ada di belakangnya. Oh sungguh! Saya sendiri mencoba memaknai dengan diam, memejamkan mata, sambil sesekali ikut juga ber-Headbagging ria.  saya cukup puas dengan konser malam itu. Meskipun dengan Simple Lighting, Smoke yang terlalu banyak, tapi semua itu benar-benar melengkapi sosok EITS. Konser yang simple namun bersuara megah menurut saya. Benar-benar saya beruntung bisa datang dan menyaksikan mereka secara langsung. Pecah!

Rakjat Djelatah yang Menjadi tukang lapor untuk Radio Merdeka. ia juga tak segan untuk mengepul ilmu dari panggung ke panggung bebunyian. Suka menggagungkan katakata pada limit kepsyen instagram belaka. Akhir-akhir ini, ia sedang belajar menulis yang baik dan benar untuk kemaslahatan umat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *