RHNK Yang Berkomunikasi Lewat Rahang

RHNK: Band baru yang masih dihuni oleh wajah-wajah lama. (Source: Youtube)

Secara definitif, rahang punya fungsi untuk membuka dan menutup mulut. Sedangkan mulut sendiri merupakan media bagi mahluk hidup untuk berkomunikasi. Itu artinya, rahang punya peran penting dalam menyampaikan sebuah pesan. Singkat cerita, ketika huruf vokal dalam kata rahang dihilangkan dan sedikit diubah, maka jadilah RHNK. Dengan membawa analogi sederhana itu, RHNK muncul sebagai band dengan memberikan warna baru di scene musik Surabaya.

Meski sudah memasuki tahun kelimanya, band ini baru benar-benar menarik perhatian di tahun 2016 kemarin. Tiga lagu dan tiga video klip mereka gelontor di kanal Youtube milik Klutik Media yang sebenarnya sulit dicari jika hanya bermodal keyword nama band beserta judul lagunya. Tapi jika berangkat dari rasa penasaran, maka kalian pasti akan berusaha keras menemukannya.

Pertama kali mendengar Tong Edan, band ini rasanya langsung mencuri perhatian. Distorsi gitar dan karakter vokalnya yang berat sangat merepresentasikan musik-musik rock, nu metal, alternative, heavy metal, atau hard rock yang ada di era 90an. Entah mereka seperti RATM, SOAD, Sepultura, atau sekaliber Metallica; yang pasti sampai di titik ini RHNK masih tetap terdengar seperti RHNK, bukan yang lain.

RHNK

Masih tentang lagu Tong Edan, di sela perbincangan santai dengan Ronascent, mereka sempat berkeluh kesah tentang bagaimana kondisi sosial yang terjadi saat ini. Memang klise, hampir banyak band yang menulis lagu tentang itu. Tapi yang membuat band ini berbeda ialah dari sudut pandang dan cara penyampaiannya. Ibaratkan tong sebagai tempat kita semua berada saat ini. Namanya tong, sekali bergemuruh pasti akan mengganggu dengan suaranya yang nyaring. Itulah yang mendasari mereka menamai lagu tersebut sebagai Tong Edan. Lagu yang multitafsir ini bisa juga di analogikan ke fenomena tong edan yang lekat dengan pasar malam lengkap dengan atraksi motor ekstrim. “Intinya RHNK coba mengajak pendengar untuk mengamati tong dari berbagai sisi, bukan cuma dari satu sisi,” cerita Hugo, drummer dari RHNK.

Selain itu mereka juga punya single berjudul Badai Pasir. Lagu ini ditulis berdasarkan rasa prihatin mereka terhadap kerusakan alam. “Pas itu kami ngerasa prihatin dengan kemelut tambang pasir yang ada di Lumajang,” sambung Damis. Di tiga lagu demonya, band ini lebih suka berbicara tentang isu-isu sosial dan kemanusiaan. Dan tidak menutup kemungkinan juga jika di beberapa karya selanjutnya mereka akan berbicara demikian. “Kita gak mematok harus membuat lagu tentang apa. Yang penting kami menulis tentang apa yang sekiranya perlu disampaikan,” lanjutnya.

Dibentuk sejak tahun 2012, RHNK sebenarnya bukanlah tipikal band yang aktif. Tapi di tahun 2017 ini, mereka berupaya lebih masif. “Selama ini kami lebih banyak ketemu, membuat materi, membenahi internal, menyamakan visi dan misi ke depannya. Nah, tahun ini lah RHNK bakal mulai start untuk lebih serius,” tambah Hugo. Mereka juga belum ingin sesumbar kapan album pertamanya rilis. Yang pasti, beberapa materi sudah ada, bahkan sudah siap diperdengarkan.

 

Melepas lajang di dunia tarik pena dengan menyandang lulusan sastra yang tidak sastrawi, musisi gagal, penimbun berita pil koplo, dan buruh radio.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *