Connect with us
https://ronascent.biz/wp-content/uploads/2017/07/ronascent-adv-copy.jpg

EVENTS

Nothing Gonna Hurt You, Baby!: Cukup Bingung dan Menghibur

Published

on

Mendadak, singkat, dan penuh kejutan; gig ‘Nothing Gonna Hurt You Baby’ yang menampilkan Dizzyhead, pendatang baru dari Malang. (Foto: Ivan Darski/Zetizen)

Kita mendapatkan info penting malam ini—khususnya bagi kalian wahai tukang puja-puji band indie cult yang gemar jadi kolektor rilisan: Hawk akan merilis album split bersama Dhurma, sahabatnya yang sama-sama hobi mengangkat knalpot di atas panggung; para pengikut oktan-oktan Tomi Iommi secara khusyuk, metal back-to-basic yang dimainkan se-Sabbath mungkin. Terserah apapun sebutanya: doom, stoner, rock mabuk, rock kepul asap, rock geng motor,  musik macam begini bila dimainkan live seperti ini agaknya siap mengangkat kalian tinggi-tinggi ke neraka. Dan di sela Hawk mengumumkan informasi tersebut di panggung kecil Kaya Resto, penonton sudah terlihat menyemut di depan. Lalu mulailah lagi hentak-menghentak memabukkan itu. Sebagai band tuan rumah, Hawk diletakkan sebagai pembuka. Sajian yang romantis dengan panasnya lampu panggung menyorot kita semua, membuat gerah—dan pasokan anggur merah yang sudah hampir tandas tak bersisa—dan kita akan menyadari bahwa tiga orang anak Hawk tampak seperti bajingan berkeringat yang memainkan musik teler. Energi itu, ya ampun. Menjalar meski harus kita akui penonton tidak terlalu ramai.

Duo Purba, Adit dan Sipenk saat tampil bersama Hawk. (Foto: Ivan Darski/Zetizen)

Set kedua dibuka oleh Dizzyhead, yang sesungguhnya dari segi nama terdengar seperti sekumpulan punkers bajingan yang memainkan Exploited secara rusuh. Tapi setelah memelototi siapakah mereka di YouTube kita akan mendengar Geisha (ya, band itu) dalam versi lebih manis dan lebih power-pop. Atau Mocca dalam versi tidak jazz-jazz amat. Ya terserah. Apalagi setelah berjumpa dengan Hani, si vokalis berambut pendek yang berusaha menjelaskan apa influence musik mereka. “Kami banyak terinspirasi dari twee-pop,” ujarnya. Dia juga berusaha menjelaskan band-band yang mungkin kami lalai menjadikannya referensi hingga kami tidak sanggup menghafal namanya. “Kemungkinan tahun ini album Dizzyhead rilis, tunggu saja.” ujar Hani sesaat sebelum naik pentas dan membagikan setlist ke kawan-kawannya. “Kami baru pertama kali main di luar kota, pertama kali juga main di Surabaya,” ujar Hanie sopan kepada hadirin-hadirat sekalian, menunjukkan bahwa band asal Malang ini benar-benar baru. “Shiver,” yang klipnya sudah beredar di YouTube, dimainkan bersama dengan empat lagu lainnya. Total lima lagu tipikal muda-mudi kasmaran yang manis, imut, dan suka boneka dibawakan dengan prima. Sebuah penampilan yang singkat, padat dan menggemaskan. Tapi sesungguhnya kita belum terpuaskan. Tinggal tunggu debut album band ini dan membandingkannya dengan debut Mocca.

Menggila: Benjamin Andrews dari My Disco, indie-rock asal Australia. (Foto: Ivan Darski/Zetizen)

My Disco dari Australia sebagai line-up utama menjalani sesi checksound rumit yang cukup menghibur. Sang basis bahkan sampai turun langsung mengomandoi mamang-mamang check sound dengan bahasa Inggris dan bukan Suroboyoan. Teknisi tentu hanya mengangguk-angguk sementara itu panggung penuh dentuman tom-tom yang dipukul bertalu. Drummer yang berperawakan seperti Taylor Hawkins menggebuknya konstan bersamaan dengan si gitaris yang bolak-balik mengotak-atik efek dan ampli. Saat lampu padam itu berarti checksound telah usai. Mereka menampilkan LCD Proyektor yang membuat penasaran gitaris Tuan Tanah, Ojik alias Glaop. “Itu gambarnya kok bisa nyesuain gerakan mereka, apa kemungkinan besar pakai sensor gitu ya,” ujarnya. Tiga orang pria tinggi besar yang tampaknya sudah lumayan berumur adalah sosok dibalik My Disco. Penampilan yang mengedepankan atmosfer gelap, mengingatkan pada momen-momen saat post-rock melakukan aksi panggung. Tampak bayangan mereka yang memantul di LCD, menyuguhkan efek dramatis seperti layaknya pertunjukan besar Godspeed You! Black Emperor yang hanya butuh cahaya sedikit saja demi memproyeksikan bayangan mereka. Drummer memegang pemukul drum tidak dengan cara lazim: ia membalik pegangannya sebagai pucuk pemukul hingga hasilnya lebih berat dan menggelegar. Basis sekaligus vokalis melakukan banyak perbuatan yang membuat ngeri: beat-beat horror dilempar dengan nyanyian yang sukar dijelaskan. Gitaris mengumandangkan noise—secara harfiah—menjadi gila dengan memukul-mukul gitarnya sebagai cara lain untuk menggenjreng. Jreng di sini adalah berarti suara hampir mendekati supersonik dan kita kemungkinan besar akan berakhir di rumah sakit jiwa jika seharian suntuk mendengarkan yang begini ini. Noise, ambience, atmosfer, post-rock, post-punk, keparat. Dilebur tanpa ampun. Tidak ada disko dan bar-bar catchy pada My Disco. Tidak ada dikso dan anthem-anthem danceable pada My Disco. Nama selalu menipu. Dan hasilnya kita yang baru saja menerima referensi musik macam begini menikmatinya dengan caranya sendiri. Berdiri, memejamkan mata, kemudian melihat bayangan dan animasi muram di layar, mengusap ingus tanda pusing mulai melanda kepala.

My Disco tidak bermain buruk hanya saja untuk awam, musik macam beginian adalah konsumsi para hipster kelas kakap. Tidak ada tanda-tanda kejelasan kapan mulai dan berakhirnya lagu yang menyebabkan hadirin-hadirat bingung memberi applaus. Alhasil nuansa bingung dan cenut-cenut pada kepala berhasil mereka berikan. Tapi setidaknya, ini bingung yang nikmat. Karena proses satu-satunya menuju jalan paham adalah melewati kebingungan. Thanks, My Disco!

Mahasiswa sastra. Kecanduan Tebs dan masih mengimani Billie Joe Armstrong sebagai nabi.

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

EVENTS

Folk Music Festival 2018: Beradaptasi Dengan Cuaca, Berkontemplasi Dengan Musik

Published

on

Tampak seorang penonton menggosokkan kedua tangan, sambil sesekali ditiup dengan nafasnya agar terasa hangat. Terlihat dari kejauhan, ia berbicara dengan rahang sedikit bergetar. Lawan bicaranya pun demikian, lipatan syal berbahan katun tampak memenuhi lehernya. Lalu kedua tangannya masuk ke kantung jaket tebal. Kemudian dari atas panggung, terdengar rintihan Danilla; “Awali dengan merintih dan tertawa/Menuai kenangan yang tak hentikanku jua”. Musiknya lirih, seketika membius semua penonton bersama cuaca yang mencapai 13° menyelimuti malam di kawasan Kusuma Agrowisata, Batu-Jawa Timur akhir pekan kemarin di Folk Music Festival (FMF).

FMF ke-4 berlangsung dingin. Bagi penikmat musik non-folk, pop atau sejenisnya, bisa dipastikan mereka akan membeku. Sebaliknya, para pengikut musikalisasi puisi-nya Reda, orasi Jason Ranti, Instrumentalia Gerald Situmorang, atau melankolisnya Mondo Gascaro tentu berasa hangat. Namun di situlah esensinya. FMF keempat masih konsisten menawarkan pengalaman menikmati musik yang beda; berada di dataran tinggi, dua panggung berjejer seperti menikmati festival dalam headphone, hingga bertemunya musik dan literasi; kandungan gizi yang pas dikala cuaca dingin seringkali membekukan daya intelektual. Selain itu, festival ini benar-benar mengajak penontonnya untuk beradaptasi dengan cuaca demi berkontemplasi bersama deretan menu-menu musik yang syahdu.

Kesampingkan ego lokalitas yang mengharapkan tumpukan musisi lokal kota setempat tampil di dua panggung megah, itu sudah terlalu butut. Kali ini FMF punya rekomendasi baru dalam Gang of Folk yang berhasil mendatangkan empat musisi potensial. Mereka datang cukup jauh, ada Diroad (Palembang), Sepertigamalam (Palembang), Holaspica (Bandar Lampung), dan Arief S. Pramono (Parepare). Keempatnya bisa disebut sebagai jati diri festival folk satu ini. Sementara lainnya, mulai dari Efek Rumah Kaca, Pohon Tua, Fourtwnty, dan juga White Shoes & Couples Company telah menjadi nyawa yang paling pandai membuat penonton melupakan dingin.

Tahun ini Folk Music Festival berbicara tentang segala macam pertemuan. Dan akhir pekan kemarin, tim kami dipertemukan kembali oleh Folk Music Festival, dan kami merekam beberapa pertemuan, perbincangan, hingga pertunjukan yang tersaji di sana. Silahkan menikmati!

Teks: Rona Cendera
Foto: Adven Wicaksono

Seorang mahasiswa hampir abadi yang menghabiskan sebagian besar waktu di kehidupanya dengan hal hal penuh manfaat seperti mengabadikan wajah wajah ekstase para pemuda pemudi bangsa di atas panggung.

Continue Reading

EVENTS

Pesta Anak-Anak Bunga Yang Berusaha Jaga Lingkungan

Published

on

Tampilan mereka tidak rapi. Omongan mereka juga seenak udelnya. Mereka pemabuk, bermain musik keras, dan sarat akan konten dewasa. Ya, Dandelions sebenarnya bukan band yang ramah lingkungan, justru sebaliknya. Murni rock n roll, slengean. Seringkali, vokalis mereka, Njet menyuarakan “koruptor itu anjing” di tiap performnya. Bukan tanpa sebab, karena dari perilaku para tikus itu mereka menghasilkan beberapa lagu, sebut saja Impor. Suara-suara itulah yang jadi power bagi mereka untuk menyelematkan lingkungannya agar bebas doktrin dari segala perbuatan negatif.

Album penuh pertamanya Anak-Anak Bunga yang baru dirilis kemarin bermuatan pesan-pesan moral yang bagus untuk dicerna. Maka dari itu, akhir pekan kemarin (29/7) Dandelions berinisiatif menyambangi tiga tempat krusial; yakni Kampung Dupak Bangunrejo yang bekas lokalisasi, kemudian Kampung Seni THR dan puncaknya di tanah sengketa Tambak Bayan Tengah. Di tempat terakhir, band yang belum lama ini baru melempar klip (Bukan) Playboy tersebut benar-benar jadi tuan rumah yang baik. Selain mengundang tuan rumah yang sesungguhnya (warga Tambak Bayan), mereka juga mengundang beberapa gitaris untuk berkolaborasi, seperti Bima (Timeless), Rasvan (Rasvan Aoki), Wawa (Ampun Women), Adiee (Portal Addict/ex Dandelions), serta Happy Arabika (Pig Face Joe).

Tambak Bayan, tempat ini mengingatkan kita pada titik awal Silampukau yang melaunching debut albumnya Dosa, Kota, & Kenangan tahun 2015 silam. Penuh kesederhanaan, namun lagu-lagunya bermuatan banyak kritik yang satire, begitupun Dandelions. Dan semoga Tambak Bayan juga bisa menjadi titik awal yang bagu dari album terbaru mereka.

Seorang mahasiswa hampir abadi yang menghabiskan sebagian besar waktu di kehidupanya dengan hal hal penuh manfaat seperti mengabadikan wajah wajah ekstase para pemuda pemudi bangsa di atas panggung.

Continue Reading

EVENTS

Holy Skateboard Video Premiere; Wahana Skate Yang Multisegmen

Published

on

Akibat tragedi bom yang terjadi di tiga Gereja di Surabaya Mei silam, pemutaran perdana video dari Holy Skateboard ikut kena imbasnya. Event yang seharusnya berlangsung beberapa jam setelah kejadian itu harus dibatalkan, lantaran venue M-Radio yang berdekatan dengan lokasi peledakan.

Dua bulan setelahnya, tepatnya kemarin Sabtu (28/7), acara tersebut akhirnya dilaksanakan. Venue pun bergeser ke Grand Dharmahusada Lagoon. Pergeseran cemerlang, karena vibes acara lebih terasa. Mulai dari anak-anak hingga orang tua melebur jadi satu di taman yang luas, hijau, dengan cuaca mendukung, serta lingkungan perumahan yang nyaman; seperti berada di taman keluarga, menikmati akhir pekan, berburu keringat agar sehat. Ada yang bermain skate, atau sekadar lari-lari kecil mengejar anaknya, atau cuma duduk malas dengan mulut berasap sambil menunggu pemutaran video skate dari Holy Skateboard.

Jadi, skate itu bukan lagi tentang anak muda yang energik, tapi sangat multisegmen. Sekalipun band model The Gamblezz, Timeless, hingga Egon Spengler yang atraktif dengan kostum yang … (lihat di foto), pada intinya, semua membaur dalam wahana skate yang multisegmen ini.

Seorang mahasiswa hampir abadi yang menghabiskan sebagian besar waktu di kehidupanya dengan hal hal penuh manfaat seperti mengabadikan wajah wajah ekstase para pemuda pemudi bangsa di atas panggung.

Continue Reading
Advertisement

Zine Archives

Surabaya