Nothing Gonna Hurt You, Baby!: Cukup Bingung dan Menghibur

Mendadak, singkat, dan penuh kejutan; gig ‘Nothing Gonna Hurt You Baby’ yang menampilkan Dizzyhead, pendatang baru dari Malang. (Foto: Ivan Darski/Zetizen)

Kita mendapatkan info penting malam ini—khususnya bagi kalian wahai tukang puja-puji band indie cult yang gemar jadi kolektor rilisan: Hawk akan merilis album split bersama Dhurma, sahabatnya yang sama-sama hobi mengangkat knalpot di atas panggung; para pengikut oktan-oktan Tomi Iommi secara khusyuk, metal back-to-basic yang dimainkan se-Sabbath mungkin. Terserah apapun sebutanya: doom, stoner, rock mabuk, rock kepul asap, rock geng motor,  musik macam begini bila dimainkan live seperti ini agaknya siap mengangkat kalian tinggi-tinggi ke neraka. Dan di sela Hawk mengumumkan informasi tersebut di panggung kecil Kaya Resto, penonton sudah terlihat menyemut di depan. Lalu mulailah lagi hentak-menghentak memabukkan itu. Sebagai band tuan rumah, Hawk diletakkan sebagai pembuka. Sajian yang romantis dengan panasnya lampu panggung menyorot kita semua, membuat gerah—dan pasokan anggur merah yang sudah hampir tandas tak bersisa—dan kita akan menyadari bahwa tiga orang anak Hawk tampak seperti bajingan berkeringat yang memainkan musik teler. Energi itu, ya ampun. Menjalar meski harus kita akui penonton tidak terlalu ramai.

Duo Purba, Adit dan Sipenk saat tampil bersama Hawk. (Foto: Ivan Darski/Zetizen)

Set kedua dibuka oleh Dizzyhead, yang sesungguhnya dari segi nama terdengar seperti sekumpulan punkers bajingan yang memainkan Exploited secara rusuh. Tapi setelah memelototi siapakah mereka di YouTube kita akan mendengar Geisha (ya, band itu) dalam versi lebih manis dan lebih power-pop. Atau Mocca dalam versi tidak jazz-jazz amat. Ya terserah. Apalagi setelah berjumpa dengan Hani, si vokalis berambut pendek yang berusaha menjelaskan apa influence musik mereka. “Kami banyak terinspirasi dari twee-pop,” ujarnya. Dia juga berusaha menjelaskan band-band yang mungkin kami lalai menjadikannya referensi hingga kami tidak sanggup menghafal namanya. “Kemungkinan tahun ini album Dizzyhead rilis, tunggu saja.” ujar Hani sesaat sebelum naik pentas dan membagikan setlist ke kawan-kawannya. “Kami baru pertama kali main di luar kota, pertama kali juga main di Surabaya,” ujar Hanie sopan kepada hadirin-hadirat sekalian, menunjukkan bahwa band asal Malang ini benar-benar baru. “Shiver,” yang klipnya sudah beredar di YouTube, dimainkan bersama dengan empat lagu lainnya. Total lima lagu tipikal muda-mudi kasmaran yang manis, imut, dan suka boneka dibawakan dengan prima. Sebuah penampilan yang singkat, padat dan menggemaskan. Tapi sesungguhnya kita belum terpuaskan. Tinggal tunggu debut album band ini dan membandingkannya dengan debut Mocca.

Menggila: Benjamin Andrews dari My Disco, indie-rock asal Australia. (Foto: Ivan Darski/Zetizen)

My Disco dari Australia sebagai line-up utama menjalani sesi checksound rumit yang cukup menghibur. Sang basis bahkan sampai turun langsung mengomandoi mamang-mamang check sound dengan bahasa Inggris dan bukan Suroboyoan. Teknisi tentu hanya mengangguk-angguk sementara itu panggung penuh dentuman tom-tom yang dipukul bertalu. Drummer yang berperawakan seperti Taylor Hawkins menggebuknya konstan bersamaan dengan si gitaris yang bolak-balik mengotak-atik efek dan ampli. Saat lampu padam itu berarti checksound telah usai. Mereka menampilkan LCD Proyektor yang membuat penasaran gitaris Tuan Tanah, Ojik alias Glaop. “Itu gambarnya kok bisa nyesuain gerakan mereka, apa kemungkinan besar pakai sensor gitu ya,” ujarnya. Tiga orang pria tinggi besar yang tampaknya sudah lumayan berumur adalah sosok dibalik My Disco. Penampilan yang mengedepankan atmosfer gelap, mengingatkan pada momen-momen saat post-rock melakukan aksi panggung. Tampak bayangan mereka yang memantul di LCD, menyuguhkan efek dramatis seperti layaknya pertunjukan besar Godspeed You! Black Emperor yang hanya butuh cahaya sedikit saja demi memproyeksikan bayangan mereka. Drummer memegang pemukul drum tidak dengan cara lazim: ia membalik pegangannya sebagai pucuk pemukul hingga hasilnya lebih berat dan menggelegar. Basis sekaligus vokalis melakukan banyak perbuatan yang membuat ngeri: beat-beat horror dilempar dengan nyanyian yang sukar dijelaskan. Gitaris mengumandangkan noise—secara harfiah—menjadi gila dengan memukul-mukul gitarnya sebagai cara lain untuk menggenjreng. Jreng di sini adalah berarti suara hampir mendekati supersonik dan kita kemungkinan besar akan berakhir di rumah sakit jiwa jika seharian suntuk mendengarkan yang begini ini. Noise, ambience, atmosfer, post-rock, post-punk, keparat. Dilebur tanpa ampun. Tidak ada disko dan bar-bar catchy pada My Disco. Tidak ada dikso dan anthem-anthem danceable pada My Disco. Nama selalu menipu. Dan hasilnya kita yang baru saja menerima referensi musik macam begini menikmatinya dengan caranya sendiri. Berdiri, memejamkan mata, kemudian melihat bayangan dan animasi muram di layar, mengusap ingus tanda pusing mulai melanda kepala.

My Disco tidak bermain buruk hanya saja untuk awam, musik macam beginian adalah konsumsi para hipster kelas kakap. Tidak ada tanda-tanda kejelasan kapan mulai dan berakhirnya lagu yang menyebabkan hadirin-hadirat bingung memberi applaus. Alhasil nuansa bingung dan cenut-cenut pada kepala berhasil mereka berikan. Tapi setidaknya, ini bingung yang nikmat. Karena proses satu-satunya menuju jalan paham adalah melewati kebingungan. Thanks, My Disco!

Mahasiswa sastra. Kecanduan Tebs dan masih mengimani Billie Joe Armstrong sebagai nabi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *