Sinleto: Warna Baru Atau Analogi Kembang Seroja?

Sinleto, warna baru di skena musik Surabaya. (Foto: Ari Rachman)

Di bulan Oktober kemarin, Thariq Marten bersama band barunya Sinleto merilis single Colourfull Tonight. Lagu itu rilis sekitar dua minggu dari launching album sekaligus perpisahan Thariq dengan band sebelumnya, Amonra. Begitu juga dengan Fritz Joe, bassis yang menunggangi tiga band aktif di Surabaya ini dua bulan sebelumnya bersama Hold melaunching album pertamanya. Dua bulan berselang setelah Colourfull Tonight rilis, giliran Thariq dan Fritz mengadakan release party bersama Sinleto tepat di awal Januari 2017.

Sebuah akhir dan awal yang baik bagi mereka, pasalnya sebelum memulai lembaran baru dengan band yang baru, Thariq dan Fritz telah menuntaskan tanggungan karya mereka dengan project musik lainnya. Maka dari itu, Colourfull Tonight terdengar seperti lagu kebebasan, impresif dan lumayan fresh. Apalagi jika melihat rekam jejak drummer dan bassis Sinleto itu yang berputar 180 derajat dari kiblat musik di band sebelumnya. Thariq dengan Amonra-nya yang bereaksi cepat dengan ketukan-ketukan metalnya, sementara Fritz yang kental dengan beat-beat hardcore-nya bersama Hold dan Exterminalos.

Ialah Dwi Pramono (vokal, kibor, & gitar) serta Rizky Yudhistira (gitar & ambience) yang bertanggung jawab atas terbentuknya Sinleto pada 2014 silam. Konsep awal yang hanya berjalan dari satu kafe ke kafe lain dengan membawakan lagu populer, kini ikut berubah dengan masuknya Thariq dan Fritz. Musik-musik ambient dengan paduan alternatif rock-nya mencoba dibentuk sebagai karakter Sinleto. Pertemuan yang tidak sengaja di salah satu studio yang terletak di kawasan Surabaya Selatan membawa band ini ke babak baru, di mana jalur independen mulai menguasai ideologinya.

Sampul album pertama Sinleto yang berjudul ‘Seroja’.

Tidak butuh waktu lama bagi mereka. Selama kurang lebih merekam enam lagu di tahun 2015 kemarin, Sinleto membungkusnya dalam kemasan fisik bertitel Seroja. Mungkin ini jadi salah satu ketertarikan sekaligus kejanggalan; ya, ketika nama band dan judul album terasa kontradiktif. Tapi bukan hal penting, karena tetap saja kemunculan mereka ada di saat yang tepat. Khususnya ketika scene kota ini selalu di dominasi musik keras yang tanpa ampun. Kerennya lagi, band ini dibantu oleh label lokal George Rekords yang selama ini identik dengan rilisan-rilisan musik dark-nya.

Dari segi musik, memang masih terlalu dini untuk menilainya. Karena album mereka adalah debut, bahkan chemistry dari keempat personilnya juga baru terbentuk dalam setahun ke belakang. Jadi sangat mungkin jika di album-album berikutnya Sinleto bakal terdengar lebih matang. Semoga saja Sinleto tetap menjadi warna baru, bukan menjadi analogi Seroja yang menjadi kembang musiman dan sulit ditemui.

Melepas lajang di dunia tarik pena dengan menyandang lulusan sastra yang tidak sastrawi, musisi gagal, penimbun berita pil koplo, dan buruh radio.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *