Connect with us
https://ronascent.biz/wp-content/uploads/2017/07/ronascent-adv-copy.jpg

BACKSTAGE

Sensasi ‘Adventure Of A Lifetime’ Dalam Pertunjukan Coldplay

Published

on

Background panggung ‘A Head Full Of Dream Tour 2016’. (Foto: Bimowid)

Sejak mendapat pengalaman nonton konser yang pertama, Saya ingat sekali setelah itu langsung inisiatif bikin list band/musisi yang harus harus banget ditonton konsernya, paling enggak sebelum saya mati, kalo kalo ada rejeki,waktu dan kesempatannya. Dan akhir 2016 kemarin, beruntung banget karena saya bisa menyentang salah satu nama band di list yang saya buat waktu itu, nama band yang saya centang adalah Coldplay. Di awal tahun 2016 kemarin emang heboh banget berita tentang ‘A Head Full Of Dream Tour’ Coldplay ke negeri seberang, Australia. Satu momen yg gak bisa dilewatin, secara Australia itu negara paling deket sama Indonesia yang masuk di rangkaian tur mereka (agak sesek juga sih begitu tau ternyata mereka bakal mampir ke Singapura juga, itupun setelah saya udah beli tiket  haha).

Dengan modal nekat, utang sana sini hahaha.. akhirnya berhasil juga saya amankan tiket untuk 2nd show mereka di Allianz Stadium, Sydney pada tanggal 14 Desember 2016. Selama kurang lebih H-2 bulan, tiap hari saya dengerin mixtape Coldplay yang saya bikin sesuai setlist di tur ini, dengan maksud biar bisa sing a long sepanjang konser. Saya tonton juga beberapa DVD live mereka yang ada di Youtube sebagai pemanasan. Sempet ikutan juga gimmick request lagu yang Coldplay adain dengan memposting video berdurasi pendek di Instagram. Yang beruntung nanti request lagunya bakal dimainin langsung pas konser. Pokoknya Saya gak mau masuk ke venue itu gak 100% prepared.

Fast forward ke hari yang ditunggu-tunggu, saya bersiap-siap untuk berangkat ke venue dengan cuaca yang lumayan panas, waktu itu sekitar pukul 12 siang. Dengan sistem transportasi yang super gampang di sana, Saya berhasil sampai di venue setengah jam setelahnya, dan antrian sudah lumayan penuh. Tampak banyak sekali wajah-wajah Asia yang begitu saya lewat dekatnya ternyata ngomong Bahasa Indonesia juga. Well, sebelum masuk antrian, Saya memutuskan mampir ke booth merchandise dulu untuk membeli sebuah kaos turnya, karena sangat tidak sah kalau tidak membawa sesuatu untuk disimpan selama-lamanya dong. setelah itu saya langsung masuk antrian dan menunggu sekitar kurang lebih 4 jam sampai gate dibuka pukul 17.30.

Non Smoking Venue: Tiket konser ‘A Head Full Of Dreams Tour 2016’. (Foto: Bimowid)

Selama menunggu itu tiba tiba cuaca berubah jadi mendung dan gerimis yang rupanya merupakan tipikal perubahan cuaca di Sydney tiap akhir tahun. Di situ juga para kru mulai membagikan xyloband, ya, xyloband akhirnya saya bisa liat langsung. Gelang yang jadi salah faktor penunjang dari show mereka, waaa gila mau nangis ngeliatnya, padahal belom masuk venue hahaha. Waktu menunjukkan pukul 17.30, akhirnya dengan tertib semua antrean mulai masuk satu persatu tanpa rusuh menuju ke gate pengecekan tiket (Btw Saya berhasil dapet Xyloband lagi di sini karena Xyloband yang sebelumnya simpen di tas sambil akting kalo belom kebagian haha).

Akhirnya saya berada di dalam stadium dengan suguhan panggung yang super megah, panggung super gede dengan background layar yang gak kalah besar yang di tutupi dengan tirai bunga-bunga, dan di kanan kiri panggung juga ada layar berbentuk lambang ‘Flower of Life’ yang jadi logo di album terbaru mereka;  logo yang sempat diributkan karena dipakai duluan oleh Bring Me The Horizon di album ‘sempiternal’). Pokoknya epik banget, tapi sayangnya itu semua bersamaan dengan hujan yang tiba-tiba menjadi deras, sehingga crew panggung dengan sigap memasang tenda tenda diatas stage untuk mengamankan alat alat musik dari hujan.

Sekitar pukul 6 tepat, Chris Martin tiba tiba naik panggung dan semua langsung heboh. Ternyata dia menjadi host di konser ini. Dia bilang terima kasih untuk semua yang sudah datang sembari mempersembahkan opening act mereka selama tur Australia ini, ada Jess Kent, penyanyi hip-hop dari Australia serta Lianna La Havas, soloist R&B dari Inggris. Di antara mereka berdua, Lianna La Havas paling menarik perhatian saya. Suaranya enak, jago main gitar dan musiknya oke banget,mengingatkan saya sama mendiang Amy Winehouse.

Masing-masing dari mereka tampil sekitar satu jam, dan selama dua jam itu hujan makin deras. Dengan basah kuyub saya makin semangat ketika melihat crew panggung sudah mulai menyiapkan alat alat musik Coldplay yang sudah standby di panggung dari awal tadi. Alat yang mereka pakai memang selalu bertema, disesuaikan dengan tema album mereka saat ini yang terlihat sekali influence ala Indian. ada bunga di sana-sini dan di kick drum-nya pun ada tulisan berbahasa India yang setelah saya cek di internet, ternyata itu tulisan Coldplay dalam aksara India, mungkin terbawa suasana  video klip Hymn For The Weekend.

Xyloband yang membuat penonton jadi bagian ‘part of the show’. (Foto: Bimowid)

Akhirnya yang ditunggu tunggu tiba, tepat jam 8 malam dengan ajaibnya hujan berhenti seketika dan lampu mulai padam. Di layar super besar muncul humbauan agar segera melepas segel yang ada di xyloband masing masing dan segera memakainya karena itu adalah ‘Part of the show’. Tiba-tiba terdengar suara intro di waktu yang bersamaan dan muncul logo ‘Flower of Life’ di layar hingga akhirnya para personil Coldplay mulai masuk ke panggung dan langgsung menggeber lagu pertama, A Head Full of Dreams. Seketika saja semua xyloband milik penonton langsung nyala bersamaan, satu stadium berubah jadi warna merah. Oke, saya benar-benar merasa menjadi ‘Part of the Show’, terharu banget waktu ngeliat gelangnya nyala bersamaan. Makin histeris saat lagu kedua dibawakan, Yellow. OMG, gila,  ini lagu favorit banget dari jaman masih di sekolah dasar dan sekarang bisa nyanyiin langsung bareng bandnya dengan gelang yang nyala warna kuning; i seriously can’t hold my tears.

Lagu berikutnya ada Every Teardrop Is A Waterfall dari album Mylo Xyloto. Begitu lagu selesai, Chris Martin langsung bergegas menuju Pianonya untuk memainkan intro The Scientist; ini salah satu lagu yang bikin saya ngefans banget sama Coldplay. Surreal banget perasaan saat itu, terutama saat nyanyi bareng satu stadium. Dilanjut dengan lagu baru Birds dan Paradise yang endingnya diselipin versi remix dari Tiesto sehingga seketika venue berubah menjadi venue DWP hahaha. Itu adalah ending dari set pertama di panggung A. Mereka langsung bergegas menuju panggung B yang letaknya ada di tengah stadium yang dijangkau dengan melewati tengah-tengah penonton.

Di Set B ini mereka banyakin bawa lagu dari album Ghost Stories karena memang musiknya minimalis, hanya ada piano, gitar, bass dan satu set drum elektrik. Konon katanya album ini adalah curhatan Chris Martin setelah dia cerai dari mantan istrinya, aktris Gwynethh Paltrow, maka lagu-lagunya emang terkesan sedih banget. Cara memainkan mood penonton yang super apik, dengan menggunakan lampu sorot berwarna biru, jadi bikin suasana makin sedih. Dalam set ini mereka membawakan lagu Always in My Head,Magic, dan diakhiri dengan lagu yang paling saya tunggu, Everglow yang kali ini dibawakan versi minimalis, dengan hanya piano dan gitar sehingga semakin memperdalam suasana dramatis. Ditambah dengan gelangnya yang menyala biru ke ungu secara bergantian.

Setelah selesai, mereka lanjut menuju stage A untuk lagu berikutnya, Clocks. Di lagu ini permainan lighting dan lasernya super duper keren, saya sampe lupa ikutan nyanyi. Lagu berikutnya ada Charlie Brown, di lagu ini xyloband nyala bergantian semua warna, gila keren banget. Sampai di awal lagu Chris minta tolong untuk taro dulu hapenya dan fokus angkat tangan agar efek xyloband-nya lebih bagus dilihat, dan itu beneran. Ada kamera di atas yang menyorot penonton dan langsung di proyeksikan ke layar panggung. Terlihat jelas crowd hari itu secara keseluruhan dengan xyloband yang berwarna warni.

Penampilan memukau Coldplay di Sydney, Australia. (Foto: Bimowid)

Setelah itu secara berurutan lagu-lagu seperti Hymn For The Weekend, dan Fix You langsung membuat satu stadion baper sampai akhirnya dilanjutkan pada lagu Heroes milik David Bowie yang memang selalu dibawakan saat tur ini. Kemudian Viva La Vida dan lagu yang melodi gitarnya lagi nyantol banget di otak saya setaun belakangan ini, Adventure Of A Lifetime. Setelah itu mereka pindah lagi ke set C di mana panggungnya berada jauh di belakang. Untungnya kualitas layar di panggung super bagus sehingga saya masih bisa melihat sangat jelas. Di set ini mereka langsung menggeber lagu yang pada masanya ini sering banget diputer di MTV, In My Place. Saya ingat sekali lagu ini dulu menjadi salah satu beat drum pertama yang saya pelajari. Setelah itu mereka langsung membawakan satu lagu request dari Instagram yang sudah dipilih. Saya sempat berdoa dalam hati semoga lagu yang saya request yang terpilih, tapi ternyata bukan, well i don’t even mind it, still having a wonderfull time haha. Lagu yang terpilih adalah Till Kingdom Come. Di sini juga mereka membawakan satu lagu baru yang ngakunya baru dibikin dua jam sebelum konser dimulai, judulnya  Christmas With the Kangaroos yang liriknya lumayan kocak.

Setelah beres di set C mereka langsung kembali ke panggung utama untuk memainkan dua lagu terakhir, ya, terakhir. Saya masih tidak rela mendengar kata itu. langsung saja dimulai intro lagu Sky Full Of Stars, layar di panggung berubah seketika menjadi langit berbintang dan semburan konfeti berbentuk bintang memenuhi pandangan kala itu, super megah.Tibalah di lagu terakhir malam itu, Up & Up yang menurut saya pribadi kurang klimaks untuk dijadikan penutup. Para personil langsung pamit setalah lagu berakhir dan muncul credit title di layar seperti layaknya film ditutup dengan logo ‘Flower of Life’ yang tayang cukup lama, cukup bagus untuk background foto dan di post di Instagram, sayangnya tidak sempat saya lakukan.

#ColdplaySydney. (Foto: Bimowid)

Sangat-sangat puas dengan show malam itu. Selama konser yang berlangsung kurang lebih dua jam itu tidak henti-hentinya saya bersyukur dalam hati karena bisa merasakan pengalaman ini. The best concert i’ve ever been!. Total ada 23 lagu yang mereka bawakan dengan total malam itu, setlist yang sangat epic. Sampai detik ini saya masih membandingkan konser ini dengen pengalaman konser saya sebelum-sebelumnya. Sepertinya belum ada yang bisa menandingi konser ini. Think about the best concert you’ve been. Multiply it by ten, itulah rasanya menonton konser Coldplay. Terus terang kalau ada rejeki dan kesempatan lagi, saya gak bakal nolak untuk mengulangi momen nonton Coldplay secara live. Menurut saya pribadi, mau kamu fans Coldplay atau bukan, kamu harus datang ke konser mereka. Sekali seumur hidup, i guarantee you’ll have the greatest experience for the rest of your life! Thank you, Coldplay. Thank you for the unforgettable experience.

Di perjalanan keluar venue, ada box yang sebenarnya digunakan untuk mengumpulkan xyloband untuk di recycle. Tapi saya malah ambil beberapa untuk dibawa pulang hahaha ada yang mau? Dan buat yang penasaran mau liat beberapa video yang sempat saya rekam, bisa cek di Instagram saya di Bimowid. Anyway, di dalam minggu yang sama, tepatnya dua hari setelah konser Coldplay, Saya berkesempatan untuk dateng ke ‘Bad Vibration’ tur-nya A Day To Remember. Bakalan saya tulis pengalamannya juga nanti, stay tune!

Cerita selengkapnya bisa cek di sini

Drummer dari The Flins Tone, saudara jauh dari Dave Grohl #HIDUPUNTUKKONSER

Advertisement
2 Comments

2 Comments

  1. hallaa

    19 April 2017 at 13:30

    kak, kalo boleh tau mesen tiket konser yang ada di australia gimana sih? terus transfer uang dan penukaran E-ticketnya gimana? mei nanti ada konser di sana tapi aku gak tau cara belinya gimana :’) sekalian tipsnya ya kak. makasihh~~~ 😀

  2. Adi

    21 April 2017 at 12:49

    Mau xyloband nya dong 😂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

BACKSTAGE

RIP Gibson: Salah Satu Ikon Pembentuk Rock and Roll

Published

on

Jimmy Page (kanan) dengan siganture gitar Gibson double neck-nya. (Foto: Laurance Ratner/Wireimage)

Kita punya hutang yang besar pada Gibson; merek gitar legendaris yang memutuskan mengakhiri bisnisnya bulan ini. Tidak akan ada sound menyalak di Whole Lotta Love-nya Led Zeppelin andaikata Gibson tidak terbentuk 1894 silam. Jimmy Page—guitar hero kita semua—adalah pemakai Gibson Les Paul yang taat. Gibson juga sudah jadi signature Slash, Eric Clapton, sampai Pete Townshend dari The Who. Gibson—tanpa disadari—punya peran membentuk rock and roll, membuatnya bisa semacam agama baru yang pernah diimani hampir jutaan populasi.

Kalian bisa mengeceknya di YouTube, sejauh mana Gibson dan sound-nya yang ikonik, sangat cocok dimainkan gondrongers berjaket kulit dan bersepatu Doc-Mart. Satu lagi, bentuknya—ya Tuhan—lengkungan dan teksturnya membuat kamu sebagai budak rock and roll berpotensi horny; seperti maniak GP saat melihat knalpot Yamaha Rossi; seperti The Gooners yang bernafsu saat melihat trofi Liga Primer.

Cerita soal hancurnya bisnis Gibson dimulai saat perusahaan ini berhutang 1 koma 3 triliun rupiah. Gibson lalu memilih menyerah dan mengaku bangkrut; sebuah sikap yang sebenarnya sangat tidak rock and roll. Meski begitu, Gibson berjanji untuk bangkit, dengan merilis produk headphone dan speaker. Perusahaan asal Nashville ini juga segera merombak ulang susunan perusahaan yang kacau, dan akan menjual kembali alat musik; ini baru rock and roll. Tapi pastinya, kita tetap tidak bisa mengkhianati peran Gibson, membentuk dan mempengaruhi apa yang kita dengar saat ini.

Rekomendasi film soal gitar, sound, and anything like that yang bisa disimak di situs streaming kesayangan kalian: Sound City (2013), It Might Get Loud (2008), HBO Vinyl Series (2016).

Mahasiswa sastra. Kecanduan Tebs dan masih mengimani Billie Joe Armstrong sebagai nabi.

Continue Reading

BACKSTAGE

Mengejar Deadline Keselamatan & Kesehatan Kerja Pekerja Kreatif

Published

on

Ilustrasi: Syamsur Rijal

Wenak yo jeh, kerjomu mung laptopan tok (enak banget sih kamu, kerjamu cuma main laptop aja).”

Freelance-an gini, pasti tiap hari bisa bangun siang ya.”

“Band-band-an kan seneng-seneng doang, gak ada libur juga gak papa to.”

Pernah dengar kalimat-kalimat nggemesin seperti di atas? Bagi kawan-kawan pekerja industri kreatif, digital, dan media, bait-bait tersebut bisa jadi terasa bagai lagu lama. Banyak orang menganggap pekerjaan kita sebagai pekerjaan impian, karena syukur alhamdulillah banyak dari kita yang mungkin termasuk bajingan beruntung yang berkesempatan memiliki penghidupan dari kegiatan yang disenangi (bahkan merupakan hobi). Proses terjal menuju titik itu adalah cerita lain, yang orang pertama lihat tentu saja tampak luarnya dulu.

Ilusi independensi dan kebebasan yang terpancar dari praktek kerja para pekerja kreatif memang menggiurkan, terlebih jika sang penerima informasi menelan mentah-mentah bumbu gurih yang ditaburkan oleh mas-mbak motivator, bahwasanya “kerja dengan passion akan membuat kita serasa tidak bekerja”. Sebenarnya ungkapan ini keren dan benar, karena dorongan semangat dari rasa suka itu memang tiada duanya, tapi lantas bagaimana kalau passion justru disalahgunakan guna memangkas hak pekerja? Jangan sampai hal tersebut diterus-teruskan keberadaannya.

Sekilas Pekerja Ekonomi Kreatif Indonesia

Sebelum membahas lebih jauh soal hak pekerja kreatif, mari kita samakan pandangan dulu soal siapa saja yang terhitung sebagai pekerja ekonomi kreatif di sini. Diintisarikan dari bekraf.go.id, ekonomi kreatif adalah sektor yang tidak secara langsung bergantung pada mekanisme eksploitasi sumber daya alam, tapi lebih bertumpu pada keunggulan sumber daya manusia yaitu ide-ide kreatif. Ada banyak subsektor di dalamnya, yaitu, Aplikasi & Pengembang Permainan; Arsitektur; Desain Interior; Desain Komunikasi Visual; Desain Produk; Fashion; Film, Animasi, & Video; Fotografi; Kriya; Kuliner; Musik; Penerbitan; Periklanan; Seni Pertunjukan; Seni Rupa; serta Televisi & Radio. Secara jumlah, pada tahun 2015 dari total 114.819.199 penduduk Indonesia yang bekerja 15.959.590 di antaranya bekerja di sektor ekraf (ekonomi kreatif). Jumlah tersebut meningkat hampir 800.000 orang dari tahun sebelumnya (Data Statistik & Hasil Survei Ekonomi Kreatif, kerjasama Badan Ekonomi Kreatif dan Badan Pusat Statistik).

Dari sini bisa terlihat betapa minat masyarakat untuk berkiprah di sektor ini sebenarnya besar. Pun dari pemerintahan sendiri juga memberikan perhatian khusus pada potensi ekraf yang makin tak bisa dikesampingkan (hasil survei tahun 2015 menunjukkan bahwa nilai ekspor dari sektor ini mencapai 19,4 miliar USD dan Produk Domestik Bruto (PDB)-nya mencapai 852,24 triliun rupiah). Ekonomi kreatif digadang-gadang akan menjadi tulang punggung Indonesia di masa depan. Namun setelah ditengok lagi, sepertinya masih banyak PR yang perlu diusahakan bersama. Mulai dari soal perlindungan hukumnya, kesadaran masyarakat akan mekanisme dan hak pekerja kreatif, kesadaran para pekerjanya sendiri untuk melindungi hak kekayaan intelektual yang mereka miliki, dan yang sangat fundamental tapi kerap terlupa: mengadvokasi kesadaran para pekerja ekraf akan hak kesehatan dan keselamatan kerja (K3) yang tentunya berhak mereka dapatkan, layaknya kawan-kawan dari sektor lainnya.

Distorsi “Tak Berwujud”

Selain terlihat ‘senang-senang terus’, salah satu kesalahkaprahan yang kerap dirasakan pekerja kreatif terutama dari ranah digital adalah bahwa pekerjaan mereka dianggap harmless—karena sehari-harinya ‘hanya’ berhadapan dengan komputer. Di mata sebagian besar masyarakat kita, ‘risiko kerja’ masih cenderung seputar kecelakaan akibat mesin besar atau konstruksi; sesuatu yang bersifat tiba-tiba dan akibatnya berupa kerusakan ragawi, bahkan bisa merenggut nyawa. Resiko-resiko laten yang terjadi seiring berjalannya waktu seperti penurunan fungsi mata (desainer grafis, game developer, dll.), gangguan pendengaran (sound engineer), hingga gangguan mental akibat trauma (jurnalis) seperti dianggap tidak cukup penting untuk ditindaklanjuti.

Apalagi jika keluhannya ‘hanya’ terkait jam kerja yang berlebihan. Di atas kertas, sebagian besar kantor mencantumkan di kontrak kerja bahwa jam kerja karyawan adalah sebanyak 8 jam sehari atau 40 jam seminggu. Nyatanya banyak dari pekerja sekarang yang merasa bahwa kerja 10 jam atau lebih dalam sehari itu wajar. Kalau ada yang protes sedikit, salah-salah dicap manja.

Jika dilihat dari hasil survey yang dirilis Badan Ekonomi Kreatif (BEKRAF) pada tahun 2017, ada 26,32% pekerja Indonesia yang mengaku bekerja lebih dari 48 jam seminggu, dan dari jumlah itu 31,98%-nya adalah pekerja dari sektor ekonomi kreatif. Untuk situasi-situasi tertentu, jam kerja tambahan mungkin memang dibutuhkan guna tercapainya suatu target. Tapi bagaimana jika keadaan tersebut terjadi setiap hari nyaris tanpa putus dari tahun ke tahun? Beberapa kantor bahkan menyarankan karyawannya untuk tidak mengambil cuti, agar ‘potensi’ maksimal perusahaan bisa tercapai. Apakah kita sedang menyaksikan era perbudakan glamor, ketika satu orang bisa memegang beban kerja 4 orang, dan yang durasi kerjanya paling lama bangga dielu-elukan sebagai pekerja keras?

Padahal, sudah banyak contoh kasus bekerja melebihi batas yang akhirnya berujung fatal. Masih ingat kejadian meninggalnya seorang copywriter di Jakarta akibat bekerja 30 jam tanpa tidur? Karena belum ada aturan hukum yang jelas terkait pelanggaran unsur K3 yang efeknya bukan berupa celaka fisik yang kasat mata (Almarhumah langsung mendadak koma), pada akhirnya perusahaan tempat Almarhumah bekerja hanya sebatas dipanggil oleh Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia (P3I). Memang sudah ada beberapa undang-undang yang bisa dijadikan acuan seperti UU no 1 tahun 1970 mengenai Keselamatan Kerja dan UU no 18 tahun 2014 tentang Kesehatan Jiwa, tapi kedua UU tersebut tidak mengandung sanksi khusus bagi pelanggaran hak yang tidak meninggalkan bukti ‘kerusakan’ fisik.

Menyadari masih ada situasi seperti ini, sebagai salah satu pekerja yang berkiprah di bidang kreatif Ellena Ekarahendy (Art Director & Desainer Grafis) dan sejumlah kawan pun menginisiasi SINDIKASI (Serikat Pekerja Media dan Industri Kreatif untuk Demokrasi). Tujuan dasarnya, untuk menjadi wadah bagi para pekerja media dan industri kreatif untuk berjejaring lintas profesi, berbagi pengetahuan dan kemampuan lintas disiplin, serta menjalin solidaritas agar bisa berkarya dalam ekosistem yang inklusif dan manusiawi. SINDIKASI sendiri mulai dibangun sejak akhir 2016, dan dalam momentum bulan Kesehatan & Keselamatan Kerja (K3) pertengahan Januari-Februari lalu SINDIKASI menggelar Work Life Balance Festival—sebuah langkah advokasi dan edukasi berbalut selebrasi yang mereka adakan di 4 titik : Jakarta, Surabaya, Bandung, dan Yogyakarta.

Kenapa isu K3 lah yang menjadi menu utama di event besar pertama SINDIKASI ini? Karena persoalan K3 ini masih belum familiar di telinga masyarakat, bahkan di kalangan pekerjanya sendiri—padahal ini adalah hak yang sangat mendasar. Jaminan hukum terkait K3 juga belum memadai. Maka dari itu, SINDIKASI sengaja menghadirkan Work Life Balance Festival ini sebagai ruang temu dan ruang dialog bagi para pekerja dan pemangku kepentingan dari sektor ekonomi kreatif dan sektor lainnya, sehingga elemen-elemen masyarakat ini dapat saling membicarakan kondisi ketenagakerjaan terkini dan bersama-sama mencari kemungkinan-kemungkinan solusinya.

Melawan Sekat, Menyadari Ambang Batas

Selain persoalan jam kerja, tim Riset dan Edukasi serta tim Advokasi SINDIKASI juga telah mengidentifikasi sejumlah tantangan lain yang kerap ditemui pekerja ekraf antara lain upah di bawah garis minimum, kontrak yang tidak jelas, dsb. Isu K3 ini bisa dibilang paling fundamental karena tanpa mental yang sehat kesehatan fisikpun ikut terancam, jika sudah demikian lantas bagaimana seseorang dapat mengerjakan pekerjaannya dengan optimal? Masalahnya, membicarakan soal kesehatan mental masih menjadi hal yang relatif tabu di Indonesia. Bahkan BPJS Ketenagakerjaan pun belum memiliki mekanisme klaim perawatan penyakit mental, padahal kesehatan mental kini telah termasuk risiko utama dari kultur kerja saat ini. Dalam BPJS Kesehatan pun,seseorang baru bisa melakukan klaim penyakit mental jika telah ada dampak fisik pada penderitanya. Dan karena sulitnya akses yang tepat dan memadai, coping mechanism yang dianggap paling mudah diakses pun menjadi jalan keluar, yang tak jarang justru memperburuk kondisi individu itu sendiri, misalnya: pada alhokol atau penyalahgunaan obat-obatan. Kalau sudah begini, rasanya nirfaedah kalau solusinya hanya berkutat sebatas tunjuk-menunjuk siapa yang salah.

Tekanan kerja melewati ambang batas terjadi pula di banyak negara lain, dan dari sini sebenarnya kita bisa mulai membangun solusinya. Jepang, negara dengan tingkat bunuh diri yang tinggi (salah satu penyebabnya adalah tekanan kerja berlebih), memiliki sanksi tegas sebagai konsekuensi dari pelanggaran standar operasional kerja. Pada Oktober 2017, Pengadilan Tokyo menghukum perusahaan periklanan dan public relation Dentsu dengan denda sebesar 500 ribu yen karena seorang pekerjanya memutuskan mengakhiri hidup akibat beban kerja yang berlebih.

Pemerintah harus bisa setegas ini dalam menindak pelanggaran yang ada. Begitupun dengan manajemen perusahaan juga harus lebih bisa berpihak pada pekerjanya sendiri/klien yang menyediakan jasa untuk mereka, antara lain dengan cara mempertegas kewajiban dan hak kerja. Terlebih soal kontrak kerja, yang mana banyak perusahaan berbasis digital seringkali memberi kontrak kerja yang lebih menguntungkan perusahaan—pekerja bahkan bisa diputus kontrak sewaktu-waktu. Di era digital disruption di mana sistem kerja dan persaingan bisa datang dari mana saja dan terjadi pergeseran perilaku ekonomi, kita harus sigap menyesuaikan diri dalam pergeseran yang ada. Dan penyesuaian yang kita lakukan harus sesegera yang kita bisa—agar kesehatan dan keselamatan para pekerja tidak berlarut-larut menjadi ongkosnya.

Perekam momen, penganyam benang, tukang gambar, sekaligus pengamat tulisan di bodi truk. Menghabiskan 9-5 dengan mengasuh dunia maya, sesuai dengan namanya sendiri.

Continue Reading

BACKSTAGE

Mesin Drum Daft Punk Resmi Dijual

Published

on

Duo electro pop asal Perancis, Daft Punk, tengah menjual salah satu alat musik pribadinya. Thomas Belgater menjual Roland TR-909 dengan penawaran khusus. Mesin drum bekas tersebut dijual dengan preset yang berisi ‘revolution 909’ dari album Homework.

Menurut Billboard, perusahaan bernama Vintage Analogue Events yang menjual Roland TR-909 sebelumnya dimiliki oleh Bangalter. Penjual langsung memposting pada situs jejaring sosial, Facebook dan mejelaskan bahwa Roland TR-909 merupakan barang kolektor dan akan dijual kepada penawar tertinggi.

“Setelah berpikir panjang, saya memutuskan untuk menjual Roland TR-909 yang terkenal dari Thomas Bangalter dari Daft Punk dengan preset asli,” ucap Vintage & Analog, yang dikutip dari NME. Kabarnya mesin drum Thomas Belgater dijual untuk biaya studi Ibu sang kolektor.

Vintage Analogue Occasion mengatakan mereka tidak tahu bagaimana menetapkan harga pada barang langka ini, jadi akan masuk ke penawar tertinggi. Dengan kata lain, mulailah mencari uang untuk mendapatkan mesin drum Thomas Daft Punk. Pastinya tidak ada tanggal untuk pelelangan yang telah diumumkan, jadi teruslah periksa kembali untuk melihat kapan mesin drum akhirnya resmi terjual.

Pelaku musik yang tak pernah laku di pasaran. Kini sedang belajar menulis demi mencari cerminan diri sendiri.

Continue Reading
Advertisement

Zine Archives

Surabaya