Connect with us
https://ronascent.biz/wp-content/uploads/2017/07/ronascent-adv-copy.jpg

EDITOR'S PICK

Memento 2016: Mulai Bersinerginya Para Pelaku-Pelaku Scene

Published

on

Memento 2016. (Foto: Rido Ramadhan)

Singkat saja, tahun 2016 adalah tahun di mana mulai banyak sinergitas yang menghubungkan antar sesama pelaku scene musik di Surabaya. Bukan cuma sekadar musisi dan pendengarnya. Tapi juga media, organizer event, hingga venue.

 

 

Rumah Gemah Ripah: Gerbang Tur Bagi Band Luar Kota

Dengan spirit kolektif, Rumah Gemah Ripah berhasil membawa band-band luar kota tur di Surabaya, Teman Sebangku salah satunya. (Foto: Nadia Maya Ardiani)

Disaat banyak yang bilang kalau Surabaya hanya mendatangkan band luar kota itu-itu saja, muncullah sebuah organizer kecil-kecil yang dinamai Rumah Gemah Ripah. Dengan membawa spirit kolektif, Rumah Gemah Ripah membuat event bertajuk Boja Krama yang diadakannya rutin, meski tidak selalu ada di tiap bulannya. Februari 2016 menjadi titik awal bagi mereka dengan mendatangkan band dari Malaysia, Dirgahayu yang disandingkan dengan band-band lokal.

Hingga kini sudah sembilan kali Boja Krama dihelat. Deretan musisi sidestream macam Sigmun, Kaveman, Teman Sebangku, Littlelue, Ari Reda, Lust, Low Pink, Peonies, Lightcraft, Ikkubaru, Kaveh Kanes, Bin Idris, hingga Annie Hall begantian datang dan memberi testimoni manis untuk kota ini. “Boja Krama ini konsepnya bagus, sangat membantu band-band dari luar kota untuk tur dan ketemu temen-temen baru di Surabaya,” ujar Jody, pemilik Nanaba Records sekaligus pentolan Peonies yang berkesempatan tampil di Boja Krama #7 November lalu.

 

 

M-Radio: Venue Alternatif

Gigable: Suasana gallery art M-Radio cukup nyaman disinggahi gig model apapun. (Foto: Dimas Setiawan)

Dari “100% Musik Indonesia” bertransfromasi jadi “M Powering You”. Dari format hits playing ke live on air, hingga perpindahannya dari kawasan Wonokitri menuju Ngagel. Dalam setahun M-Radio melakukan banyak perubahan konsep, termasuk membuat art gallery di lantai dasar kantornya. Skena Surabaya patut berterima kasih terhadap venue tersebut. Pasalnya, hampir tiap pekan tempat itu jadi titik temu para scenester dalam sebuah gig. Mulai dari Cassette Store Day, launching album Amonra, The Flins Tone, Hold, My Mother Is Hero tempat reunian The Gamblezz.

Regulasi yang mereka tawarkan juga tidaklah rumit. Venue yang mereka sediakan gratis ditambah dekorasi yang mumpuni untuk menumpahkan kreativitas. Dengan begitu, M-Radio muncul sebagai alternatif venue yang belakangan seret di kota ini. Ya, semoga saja ke depannya tempat ini masih akan ada, dan bisa dijaga dengan baik oleh para penontonnya.

 

 

Cakram CD Makin Mencekam

Masih CD yang mendominasi bentuk rilisan di Surabaya. (Foto: Rido Ramadhan)

Toko-toko kaset boleh saja gulung tikar. Streaming digital juga boleh makin merajalela. Tapi, eksistensi kepingan CD nyatanya masih sulit digeser. Di Surabaya, format itu merupakan alternatif bagi kebanyakan musisi. Meski kaset tape belakangan makin meriah, tetap saja CD belum tergantikan.

Bahkan, Cassette Store Day (CSD) 2016 yang tahun ini untuk kedua kalinya diadakan di Surabaya lebih di dominasi cakram CD.  Dulu Roy Jeconiah sempat berujar jika rilisan fisik, utamanya CD merupakan kewajiban bagi tiap musisi untuk membuatnya. Ternyata itu bukan isapan jempol belaka, dalam setahun ke belakang di Surabaya muncul 31 album. Mini album Sleep milik The Evening Wolves adalah yang rilis dalam bentuk kaset tape. Sisanya, meluncur dalam bentuk CD semua.

 

 

Local Heroes: Apresiasi Berujung Depresi

e-Flyer Local Heroes yang diadakan oleh Hard Rock FM Surabaya. (Source: Google).

Bukan rahasia lagi ketika media massa mulai melirik tentang gemilangnya kiprah band-band lokal. Sayang, pendekatan-pendekatan yang dilakukan kadangkali terlalu instan. Singkatnya, penilaian hanya sekadar bermain pada permukaan yang nampak, seperti melihat sebuah hasil bukan proses. Sampai pada akhirnya, Hardrock FM Surabaya sempat mendapat cercaan dari kalangan musisi lokal yang sebagian besar mengatasnamakan underground.

Program ‘Local Heroes’ yang awalnya ditujukan sebagai bentuk apresiasi ternyata malah berujung depresi. Selama hampir empat hari akun Instagram Hard Rock dihujani lebih dari ratusan bahkan ribuan komentar sinis. Intinya, kebanyakan dari hanya mempertanyakan titel program yang dirasa bias hingga parameter pemilihan band. Bagi kami tidak ada yang salah di sini, hanya saja seperti yang tertulis diawal: pendekatan memang tidak ada yang instan.

 

 

Kembalinya Eksistensi Punk

Salah satu sesi Punk on TV yang dikerjakan oleh Pop Punk Sub dan SBO TV. (Dok. Give Me Mona)

Dalam email yang dibuat bersama teman-temanya, Arief mendapati dalam sebulan email tersebut diserbu oleh puluhan attachment profil dan lagu. “Jumlahnya kalo gak salah ada sekitar 50an,” ceritanya sesaat setelah talkshow di Radiogasm Juni silam. Email tersebut merupakan milik Pop Punk Sub yang digagas oleh musisi-musisi punk di Surabaya. Arief merupakan satu dari sekian banyak musisi yang berinisiatif membentuknya, tanpa ada tendensi mengotak-ngotakan scene. “Intinya adalah untuk mempopulerkan kembali musik punk di Surabaya,” lanjutnya.

Bassis sekaligus vokalis Blingsatan itu sempat prihatin dengan perkembangan punk di kotanya yang begitu-begitu saja. Maka dari itu, dirinya sempat kaget saat menemukan banyak attachment band-band baru di email. Beruntung bagi Pop Punk Sub, mereka berkesempatan membuat program khusus ‘Punk On TV’ yang bekerjasama dengan SBO TV. Band-band sekaliber Plester-X, Tulipe De Gezner, Dindapobia, The Flins Tone, Egon Spengler, Give Me Mona, Straight At Venue, Pig Face Joe sampai nama teranyar Rebel Soelastri dan Garfield bergantian tampil di sana tiap minggunya. Mungkin dari movement macam ini, punk bisa menemukan eksistensinya lagi. semoga.

 

2 Pertunjukan Tunggal Silampukau Dalam Setahun

Salam perpisahan dari Silampukau dan Kawan-Kawan yang menyudahi konser apiknya di Gedung Cak Durasim Surabaya. (Foto: Rido Ramadhan)

Satu tahun berkeliling membawa cerita Dosa, Kota, & Kenangan, akhirnya Silampukau kembali berlabuh di Surabaya. Dengan kepala tegak, duo Kharis Junandharu dan Eki Tresnowening berhasil merealisasikan impian lamanya, yakni mengadakan konser tunggal di kota asalnya Agustus kemarin. Capaian yang makin sempurna, karena empat bulan sebelumnya mereka sukses menggelar konser di Cikini. Dengan tetap berkolaborasi bersama musisi-musisi dari Surabaya. Selepas konser tersebut Silampukau pun menurunkan intensitas manggungnya. Band yang baru saja bereuni di awal 2014 kemarin ini memilih untuk beristirahat sambil menyiapkan materi-materi baru lagi.

 

 

 

Pentingnya Kemasan Visual

Proses shoot Live Session, salah satu kemasan visual untuk band-band di Surabaya. (Foto: Rido Ramadhan)

Dengan menggandeng Quickart Production, Fraud melempar klip keduanya Giant Slayer. Sekilas terlihat biasa, tapi jika diamati lebih detail, terasa benar sentuhan-sentuhan matte painting di dalamnya, ditambah lagi dengan resolusi 4k yang diterapkan juga di klip tersebut. Begitupun Heavy Monster yang kembali berkolaborasi dengan seniman streetart X-Go. Kali ini kolaborasi mereka berbuah penerapan teknik stencil yang dikerjakan secara kolektif. Hasilnya, video klip Got No Job milik Heavy Monster begitu orisinil bahkan belum banyak yang melakukannya.

Fraud dan Heavy Monster masih sebagian kecil dari banyak band yang kini lebih peduli pada kemasan visual, terutama video klip. Di akhir bulan Desember, band gaek Klepto Opera langsung menggelontor dua klipnya, begitu juga Valerian dan My Mother Is Hero. Belum lagi RHNK, Pig Face Joe, Casanuestra, Give Me Mona, hingga Flowdown. Kondisi ini bertolak belakang dengan dua tahun lalu, di mana dalam majalah kami ‘Surabaya Footnote 2014’, ada satu rubrik yang membahas tentang konten visual macam ini. Tapi kami kesulitan karena belum banyak band yang serius mengemas sisi visualnya.

Melepas lajang di dunia tarik pena dengan menyandang lulusan sastra yang tidak sastrawi, musisi gagal, penimbun berita pil koplo, dan buruh radio.

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

EDITOR'S PICK

Berselancarnya The Panturas & Polka Wars di Surabaya

Published

on

Ada sedikit keraguan kala The Panturas gagal berselancar di Surabaya Oktober kemarin. Nuansa surf-rock yang diusung sekelompok alumnus jurnalistik ini tidak memancar, mereka justru hanya terdengar sebagai band rock melayu biasa. Namun ketika Buka Musik Connectified chapter Surabaya membawa mereka ke Nens Corner akhir pekan kemarin (14/12), ceritanya berbeda. The Panturas benar-benar Mabuk Laut bersama ratusan penonton yang merelakan mata perih karena asap rokok hingga kepala puyeng akibat alkohol.

Bagi sebagian besar penonton yang hadir, kami yakin mereka semua mendapat klimaks. Diawali dengan dua band pendatang baru Surabaya yang unjuk gigi; Alter dan Eisen, hingga dibawa membeku bersama Cotswolds dan puncak dari segala kerusuhan ada pada si protagonis Polka Wars. Pemilik album Axis Mundi ini sejatinya menurunkan tempo pasca meliarnya crowd The Panturas. Tapi tak bisa dipungkiri jika musikalitas terus memancarkan aura semangat. Setidaknya, Surabaya telah memberikan kesan manis bagi Polka Wars dan The Panturas yang hingga akhir tahun ini melaksanakan tur di 6 kota di bawah platform musik Buka Musik milik Bukalapak.

Anak muda penuh semangat tapi tidak bergairah, suka melakukan banyak hal baru dan sedang berstatus mahasiswa aktif dengan doa semoga lulus tepat waktu dan segera mempunyai penghasilan.

Continue Reading

FEATURES

Not Sad, Not Fulfilled; Album Cinta Anak Muda yang Akan Terbang se-Asia Tenggara

Published

on

Grrrl Gang (Photo: Nadine Hanisya)

Grrrl Gang dengan jiwa mudanya semakin kental terasa. Kita bisa mendengarnya di debut mini album Not Sad, Not Fulfilled yang baru saja di rilis digital pekan lalu (9/10) via label Kolibri Rekords. Angeeta Sentana (vokal, gitar), Edo Alventa (gitar, vokal), dan Akbar Rumandung (bass, vokal) menyebut jika romansa cinta anak muda masih jadi tajuk utama di album mereka. “Album ini berkutat di kehidupan picisan anak muda yang penuh intrik, cinta, dan pencarian jati diri. Begitupun pada departemen musik, di mana pengaruh indiepop, indierock, punk, hingga sentuhan blues serta country diolah jadi balutan nuansa segar dan dekat dengan generasi muda.” tulis mereka di rilis pers yang Ronascent terima.

Proses pembuatan album ini terbilang singkat. Grrrl Gang menghabiskan sekitar lima bulan sejak April kemarin di Lahan Erros Studio. Band asal Yogyakarta ini dibantu Tutoet Daru saat proses rekaman, serta Ferry Kurniawan di bagian mixing dan mastering. Nama terakhir juga punya andil dalam melesatkan single Film Favorit milik Sheila On 7. Total ada lima lagu yang mereka suguhkan, termasuk Dream Grrrl yang digubah ulang. Dari kesemuanya, Grrrl Gang memilih Pop Princess sebagai single pertama yang mengisahkan tentang toxic relationship. “Lagu ini berupaya mendorong para wanita muda untuk berani meninggalkan hubungan yang tidak sehat demi hidup yang lebih bahagia,” ujar penulis lagu Angeeta.

Grrrl Gang beserta Kolibri Rekords pun tidak perlu menunggu lama untuk menyebarluaskan album ini. Kelar berkeliling mengunjungi Semarang, Surabaya, Malang, Malaysia, Singapura, dan Filipina pada semester awal 2018 lalu, trio indiepop ini siap melanjutkan turnya lagi. 20 kota di Indonesia dan Asia Tenggara sudah dipastikan akan menggelar tur promo EP Not Sad, Not Fulfilled selama Oktober hingga November. Grrrl Gang diagendakan tampil untuk jadi pembuka grup indierock muda Amerika Serikat, Snail Mail di Jakarta. Menunggu kemudian, dua pertunjukan di Bangkok, Thailand, serta dua pertunjukan di gelaran rutin Rocking the Region oleh Esplanade, Singapura. Jadwal lainnya pun akan diumumkan dalam waktu dekat.

Media musik online yang berbasis di Surabaya. Mengamati gejolak dan gairah industri musik independen yang kerap menjadi sokongan musik berkualitas. Kontak kami di [email protected] untuk berbagi informasi.

Continue Reading

EDITOR'S PICK

Menengok Wajah Musik Indonesia di Synchronize Fest 2018

Published

on

Sinkronisasi musisi antar generasi masih jadi issue utama di Synchronize Fest ketiganya. (Foto: Agastiko)

“Jika ada orang tanya, seperti apa sih musik Indonesia? Suruh datang aja ke Synchronize Festival.” Begitulah kira-kira celetuk Iga Masardi di sela-sela set Barasuara di event tersebut. Yap, tahun ini salah satu festival musik terbesar di Indo ini kembali menyapa pemuda-pemudi yang haus akan lantunan musik Indonesia dari generasi ke generasi.

Festival musik yang dikerjakan Dyandra Promosindo dan Demajors ini kembali digelar untuk ketiga kalinya di Gambir Expo Kemayoran, Jakarta. Seperti tahun-tahun sebelumnya, signature Synchronize Festival ada deretan pengisi acara yang banyak, hingga ratusan. Lelah? memang. Tapi mood yang terbangun untuk melihat segala macam bentuk dan tampilan musik lintas genre mengalahkan segalanya. Hiperboliknya, event ini sudah cukup menggambarkan wajah musik Indonesia dulu dan sekarang.

.Feast di Synchronize Fest kemarin. (Foto: Agastiko)

Hari pertama, kalau dideskripsikan dengan satu kata sih ya “gendheng”. Deretan aksi panggung yang bikin geleng-geleng hingga ngakak sudah tersaji. Aksi dari Mesin Tempur misalnya. Band grindcore Bandung ini nyeleneh dengan membawa ayam jago ke atas panggung.  Tak mau kalah dengan Mesin Tempur, band bernuansa Betawi, Jiung juga menyuguhkan aksi panggung yang gila. Ajul, sang vokalis dengan enaknya turun panggung lalu mandi ditengah-tengah penonton. Sesudah maghrib, insaf sejenak. aksi panggung yang gila sudah berkurang, namun digantikan dengan set-set menawan. Mooner, yang pertama kalinya main di Synchronize Fest disambut antusias oleh penonton yang  menjadi-jadi. Bergeser ke District Stage, ada Reality Club yang tak kalah histeris-nya disambut. Makin malam makin jadi. Kaki sudah lelah, tubuh berkeringat, rambut lepek, baterai gadget mulai lowbatt. Tapi, jam 21.30 masih ada dua penampil yang sayang untuk dilwati. Di Dynamic Stage ada dominasi anak-anak muda sedang “menunggangi badai” dengan Barasuara. Sedangkan di Forest Stage, para senior indie sedang “menikmati coklat” bersama Pure Saturday”. Puncaknya, penampilan Naif, si tukang sedot keringat penonton.

Lanjut hari kedua, kali ini nuansa nostalgia terasa lebih kental. Deretan pengisi acara seperti Godbless, Sheila On 7, dan Project Pop ada di hari itu. Di set Godbless, penonton dipenuhi  kalangan senior pecinta rock lawas. Tembang-tembang hits seperti Musisi, Kehidupan, Rumah Kita, Semut Hitam, dan Panggung Sandiwara membangun vibes karaoke bersama. Begitupun Sheila On 7 yang penuh sesak oleh penonton lintas generasi. Sementara di Distric Stage, musik jenaka Project Pop begitu merindukan era di mana grup vokal itu tidak harus selalu keren, tapi juga bisa receh nan menyenangkan. Sang Raja Dangdut, Rhoma Irama dan Soneta Group akhirnya menutup hari kedua. Pesonanya yang kharismatik sebagai maestro selalu berhasil menyebarkan penyakit menular; (baca: goyang).

Well, dua hari non-stop berkeliling luasnya venue. Pindah dari satu stage ke stage lain, sebenarnya ada pikiran untuk menyudahinya. Tapi apa daya, nama-nama seperti Snickers And The Chicken Fighters (SATCF), Ramengvrl hingga NOXA terlalu sayang jika terlewatkan. Jamrud pun hadir di Dynamic Stage. Lagu-lagu lawas-nya masih terdengar lantang meski ada perubahan pada karakter suaranya. Lagi-lagi dan lagi-lagi, penonton yang dibesarkan era MTV Ampuh sangat dimanjakan. Kali ini giliran Padi Reborn beserta penutup Synchronize Festival 2018 secara keseluruhan; Dewa 19 bersama Once & Ari Lasso. Fine! ini sebuah pertunjukan langka. Deretan megahits yang versi bajakannya tak kalah laris ini membuat penonton semakin giting. Dua eks vokalis terbaik itu tampil dalam satu stage pertama kalinya. Di tengah nikmatnya mengenang masa muda, kami pun berpikir: bagaimana caranya si organizer melakukan proses negosiasi dengan mereka yah? Ahh sudahlah, sekalipun kami bisa melakukannya, pasti kami tak sanggup membayarnya. Akhir cerita, kami puas dan semua penonton lainnya pun demikian. Harapan kami, semoga konsep acara ini terus berkembang. Jangan sampai termakan jenuh. Karena pada dasarnya, wajah musik nusantara ada di sini (untuk saat ini). See you next year!

An amateur dilettante | Straight Edge | Star Wars’ die-hard fans | Records Junkie |

Continue Reading

Surabaya