Memento 2016: Mulai Bersinerginya Para Pelaku-Pelaku Scene

Memento 2016. (Foto: Rido Ramadhan)

Singkat saja, tahun 2016 adalah tahun di mana mulai banyak sinergitas yang menghubungkan antar sesama pelaku scene musik di Surabaya. Bukan cuma sekadar musisi dan pendengarnya. Tapi juga media, organizer event, hingga venue.

 

 

Rumah Gemah Ripah: Gerbang Tur Bagi Band Luar Kota

Dengan spirit kolektif, Rumah Gemah Ripah berhasil membawa band-band luar kota tur di Surabaya, Teman Sebangku salah satunya. (Foto: Nadia Maya Ardiani)

Disaat banyak yang bilang kalau Surabaya hanya mendatangkan band luar kota itu-itu saja, muncullah sebuah organizer kecil-kecil yang dinamai Rumah Gemah Ripah. Dengan membawa spirit kolektif, Rumah Gemah Ripah membuat event bertajuk Boja Krama yang diadakannya rutin, meski tidak selalu ada di tiap bulannya. Februari 2016 menjadi titik awal bagi mereka dengan mendatangkan band dari Malaysia, Dirgahayu yang disandingkan dengan band-band lokal.

Hingga kini sudah sembilan kali Boja Krama dihelat. Deretan musisi sidestream macam Sigmun, Kaveman, Teman Sebangku, Littlelue, Ari Reda, Lust, Low Pink, Peonies, Lightcraft, Ikkubaru, Kaveh Kanes, Bin Idris, hingga Annie Hall begantian datang dan memberi testimoni manis untuk kota ini. “Boja Krama ini konsepnya bagus, sangat membantu band-band dari luar kota untuk tur dan ketemu temen-temen baru di Surabaya,” ujar Jody, pemilik Nanaba Records sekaligus pentolan Peonies yang berkesempatan tampil di Boja Krama #7 November lalu.

 

 

M-Radio: Venue Alternatif

Gigable: Suasana gallery art M-Radio cukup nyaman disinggahi gig model apapun. (Foto: Dimas Setiawan)

Dari “100% Musik Indonesia” bertransfromasi jadi “M Powering You”. Dari format hits playing ke live on air, hingga perpindahannya dari kawasan Wonokitri menuju Ngagel. Dalam setahun M-Radio melakukan banyak perubahan konsep, termasuk membuat art gallery di lantai dasar kantornya. Skena Surabaya patut berterima kasih terhadap venue tersebut. Pasalnya, hampir tiap pekan tempat itu jadi titik temu para scenester dalam sebuah gig. Mulai dari Cassette Store Day, launching album Amonra, The Flins Tone, Hold, My Mother Is Hero tempat reunian The Gamblezz.

Regulasi yang mereka tawarkan juga tidaklah rumit. Venue yang mereka sediakan gratis ditambah dekorasi yang mumpuni untuk menumpahkan kreativitas. Dengan begitu, M-Radio muncul sebagai alternatif venue yang belakangan seret di kota ini. Ya, semoga saja ke depannya tempat ini masih akan ada, dan bisa dijaga dengan baik oleh para penontonnya.

 

 

Cakram CD Makin Mencekam

Masih CD yang mendominasi bentuk rilisan di Surabaya. (Foto: Rido Ramadhan)

Toko-toko kaset boleh saja gulung tikar. Streaming digital juga boleh makin merajalela. Tapi, eksistensi kepingan CD nyatanya masih sulit digeser. Di Surabaya, format itu merupakan alternatif bagi kebanyakan musisi. Meski kaset tape belakangan makin meriah, tetap saja CD belum tergantikan.

Bahkan, Cassette Store Day (CSD) 2016 yang tahun ini untuk kedua kalinya diadakan di Surabaya lebih di dominasi cakram CD.  Dulu Roy Jeconiah sempat berujar jika rilisan fisik, utamanya CD merupakan kewajiban bagi tiap musisi untuk membuatnya. Ternyata itu bukan isapan jempol belaka, dalam setahun ke belakang di Surabaya muncul 31 album. Mini album Sleep milik The Evening Wolves adalah yang rilis dalam bentuk kaset tape. Sisanya, meluncur dalam bentuk CD semua.

 

 

Local Heroes: Apresiasi Berujung Depresi

e-Flyer Local Heroes yang diadakan oleh Hard Rock FM Surabaya. (Source: Google).

Bukan rahasia lagi ketika media massa mulai melirik tentang gemilangnya kiprah band-band lokal. Sayang, pendekatan-pendekatan yang dilakukan kadangkali terlalu instan. Singkatnya, penilaian hanya sekadar bermain pada permukaan yang nampak, seperti melihat sebuah hasil bukan proses. Sampai pada akhirnya, Hardrock FM Surabaya sempat mendapat cercaan dari kalangan musisi lokal yang sebagian besar mengatasnamakan underground.

Program ‘Local Heroes’ yang awalnya ditujukan sebagai bentuk apresiasi ternyata malah berujung depresi. Selama hampir empat hari akun Instagram Hard Rock dihujani lebih dari ratusan bahkan ribuan komentar sinis. Intinya, kebanyakan dari hanya mempertanyakan titel program yang dirasa bias hingga parameter pemilihan band. Bagi kami tidak ada yang salah di sini, hanya saja seperti yang tertulis diawal: pendekatan memang tidak ada yang instan.

 

 

Kembalinya Eksistensi Punk

Salah satu sesi Punk on TV yang dikerjakan oleh Pop Punk Sub dan SBO TV. (Dok. Give Me Mona)

Dalam email yang dibuat bersama teman-temanya, Arief mendapati dalam sebulan email tersebut diserbu oleh puluhan attachment profil dan lagu. “Jumlahnya kalo gak salah ada sekitar 50an,” ceritanya sesaat setelah talkshow di Radiogasm Juni silam. Email tersebut merupakan milik Pop Punk Sub yang digagas oleh musisi-musisi punk di Surabaya. Arief merupakan satu dari sekian banyak musisi yang berinisiatif membentuknya, tanpa ada tendensi mengotak-ngotakan scene. “Intinya adalah untuk mempopulerkan kembali musik punk di Surabaya,” lanjutnya.

Bassis sekaligus vokalis Blingsatan itu sempat prihatin dengan perkembangan punk di kotanya yang begitu-begitu saja. Maka dari itu, dirinya sempat kaget saat menemukan banyak attachment band-band baru di email. Beruntung bagi Pop Punk Sub, mereka berkesempatan membuat program khusus ‘Punk On TV’ yang bekerjasama dengan SBO TV. Band-band sekaliber Plester-X, Tulipe De Gezner, Dindapobia, The Flins Tone, Egon Spengler, Give Me Mona, Straight At Venue, Pig Face Joe sampai nama teranyar Rebel Soelastri dan Garfield bergantian tampil di sana tiap minggunya. Mungkin dari movement macam ini, punk bisa menemukan eksistensinya lagi. semoga.

 

2 Pertunjukan Tunggal Silampukau Dalam Setahun

Salam perpisahan dari Silampukau dan Kawan-Kawan yang menyudahi konser apiknya di Gedung Cak Durasim Surabaya. (Foto: Rido Ramadhan)

Satu tahun berkeliling membawa cerita Dosa, Kota, & Kenangan, akhirnya Silampukau kembali berlabuh di Surabaya. Dengan kepala tegak, duo Kharis Junandharu dan Eki Tresnowening berhasil merealisasikan impian lamanya, yakni mengadakan konser tunggal di kota asalnya Agustus kemarin. Capaian yang makin sempurna, karena empat bulan sebelumnya mereka sukses menggelar konser di Cikini. Dengan tetap berkolaborasi bersama musisi-musisi dari Surabaya. Selepas konser tersebut Silampukau pun menurunkan intensitas manggungnya. Band yang baru saja bereuni di awal 2014 kemarin ini memilih untuk beristirahat sambil menyiapkan materi-materi baru lagi.

 

 

 

Pentingnya Kemasan Visual

Proses shoot Live Session, salah satu kemasan visual untuk band-band di Surabaya. (Foto: Rido Ramadhan)

Dengan menggandeng Quickart Production, Fraud melempar klip keduanya Giant Slayer. Sekilas terlihat biasa, tapi jika diamati lebih detail, terasa benar sentuhan-sentuhan matte painting di dalamnya, ditambah lagi dengan resolusi 4k yang diterapkan juga di klip tersebut. Begitupun Heavy Monster yang kembali berkolaborasi dengan seniman streetart X-Go. Kali ini kolaborasi mereka berbuah penerapan teknik stencil yang dikerjakan secara kolektif. Hasilnya, video klip Got No Job milik Heavy Monster begitu orisinil bahkan belum banyak yang melakukannya.

Fraud dan Heavy Monster masih sebagian kecil dari banyak band yang kini lebih peduli pada kemasan visual, terutama video klip. Di akhir bulan Desember, band gaek Klepto Opera langsung menggelontor dua klipnya, begitu juga Valerian dan My Mother Is Hero. Belum lagi RHNK, Pig Face Joe, Casanuestra, Give Me Mona, hingga Flowdown. Kondisi ini bertolak belakang dengan dua tahun lalu, di mana dalam majalah kami ‘Surabaya Footnote 2014’, ada satu rubrik yang membahas tentang konten visual macam ini. Tapi kami kesulitan karena belum banyak band yang serius mengemas sisi visualnya.

Melepas lajang di dunia tarik pena dengan menyandang lulusan sastra yang tidak sastrawi, musisi gagal, penimbun berita pil koplo, dan buruh radio.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *