Connect with us
https://ronascent.biz/wp-content/uploads/2017/07/ronascent-adv-copy.jpg

LIVE REPORT

Launching Album Timeless Yang Apresiatif & Kondusif

Published

on

Sembilan lagu yang ada di album baru Timeless tumpah ruah dalam launching party-nya. (Foto: Merlando Yuka)

Jika kebanyakan orang sudah terlihat hilang pada nuansa liburan di seminggu terakhir 2016 kemarin, tidak demikian dengan Timeless. Memang butuh pertimbangan matang saat memilih tanggal event di suasana yang sudah dekat dengan tahun baruan, tapi band yang sedang berada dalam euforia album penuh pertamanya itu tidak peduli. “Kami memilih tanggal 30 Desember karena kami ingin menjadikannya sebagai penutup rangkaian tur kami selama setahun kemarin,” cerita Bimantarah seusai tampil di launchingnya. Jadi memang Timeless tidak menarget banyaknya penonton yang hadir, karena bagi mereka momentum tutup tahun itulah yang jadi cerita manis Timeless di penghujung 2016 kemarin.

Dengan berbekal sembilan lagu baru serta beberapa lagu lama, Timeless pun menggelar launching party album Between And Beyond di Kaya Resto 30 Desember kemarin. Sejak lagu pembuka Ride Into The Sun digulirkan, suasana resto yang cukup sering menggelar berbagai macam gig itu sudah tumpah ruah. Yang namanya sing along dan mosphit tidak ada berhentinya. Dijamin 100%, semua penonton yang ada kemarin sudah beli atau paling minim sudah mendengarkan materi-materi anyar Timeless yang rilis bulan Oktober kemarin.

Satu nomor yang begitu ditunggu, Golden Age diluncurkan di tengah-tengah show. Baik Timeless maupun penonton meyakini lagu ini adalah andalan di gig kemarin. Lagu demi lagu yang dibawakan makin memperusuh kondisi stage. Bima yang sejatinya berdiri di tengah dengan stand mic beserta gitarnya, mendadak harus pindah ke sisi kiri karena beberapa kali dia mendapat dorongan dari penonton, bahkan sampai kehilangan mic-nya. Ya, tapi memang itu yang membuat seru acara launching Timeless. Apresiatif dan kondusif. Timeless puas, penonton pun senang.

Bassis dari Pig Face Joe di launching party Timeless. (Foto: Merlando Yuka)

Setelah rentetan lagu Living Free Living Easy, Pills, Motown Crush, Genuine Hearts, Fine dan View From The Sky akhirnya band yang baru terbentuk tahun 2014 itu membawa satu lagu yang sempat diteriakan oleh penonton: Black Golds. Suasana makin kacau, tapi menyenangkan. Tiap senggolan moshing rasanya jadi spirit untuk ikut masuk di kerumunan tersebut. Bahkan, satu encore tidak cukup. Meski sudah mengucap terima kasih dan selamat tahun baru, tapi hasrat menonton band ini masih belum habis. Lonesome Street mau tidak mau harus dibawakan agar klimaks benar-benar mencapai batas puncak.

Menonton launching party yang dikerjakan sendiri oleh mereka ibarat menonton sebuah pertunjukan drama yang penuh intrik dengan tempo cerita yang naik-turun. Mulai dari mundurnya jadwal rundown karena Surabaya sempat diguyur hujan hingga penampilan dingin dari Cotswolds yang memunculkan banyak rasa penasaran karena membawakan beberapa lagu baru.

Belum berhenti di situ, band yang juga sedang terbang tinggi di 2016 kemarin, Pig Face Joe juga ikut tampil. Konsumsi alkohol secukupnya, lalu moshing di kerumunan saat Pig Face Joe tampil, maka band ini memang selalu berhasil memanaskan crowd luar dan dalam. Dan yang paling menarik adalah hadirnya band Malang, Much. Pasangan serasi Aulia Anggia (vokal) dan Dandy Gilang (gitar & vokal) tampil dengan format band, membawakan lagu-lagu baru mereka, termasuk Uneven yang baru rilis dua minggu sebelumnya.

Melepas lajang di dunia tarik pena dengan menyandang lulusan sastra yang tidak sastrawi, musisi gagal, penimbun berita pil koplo, dan buruh radio.

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

EVENTS

Galeri Foto: Synchronize Fest 2018

Published

on

Selama tiga hari kami berkelana di tengah padatnya Gambir Expo Kemayoran, Jakarta. Baik di atas atau bawah stage terasa sesak. Mata dan telinga kami kenyang terpuaskan oleh penampilan ratusan musisi lintas generasi. Sebuah kenyataan di mana musik Indonesia memang beragam dan menyenangkan. Silahkan menikmati hasil jepretan fotografer kami.

Tukang Foto keliling, yang berusaha segiat mungkin, demi mengisi dompet dan perutnya.

Continue Reading

EDITOR'S PICK

Menengok Wajah Musik Indonesia di Synchronize Fest 2018

Published

on

Sinkronisasi musisi antar generasi masih jadi issue utama di Synchronize Fest ketiganya. (Foto: Agastiko)

“Jika ada orang tanya, seperti apa sih musik Indonesia? Suruh datang aja ke Synchronize Festival.” Begitulah kira-kira celetuk Iga Masardi di sela-sela set Barasuara di event tersebut. Yap, tahun ini salah satu festival musik terbesar di Indo ini kembali menyapa pemuda-pemudi yang haus akan lantunan musik Indonesia dari generasi ke generasi.

Festival musik yang dikerjakan Dyandra Promosindo dan Demajors ini kembali digelar untuk ketiga kalinya di Gambir Expo Kemayoran, Jakarta. Seperti tahun-tahun sebelumnya, signature Synchronize Festival ada deretan pengisi acara yang banyak, hingga ratusan. Lelah? memang. Tapi mood yang terbangun untuk melihat segala macam bentuk dan tampilan musik lintas genre mengalahkan segalanya. Hiperboliknya, event ini sudah cukup menggambarkan wajah musik Indonesia dulu dan sekarang.

.Feast di Synchronize Fest kemarin. (Foto: Agastiko)

Hari pertama, kalau dideskripsikan dengan satu kata sih ya “gendheng”. Deretan aksi panggung yang bikin geleng-geleng hingga ngakak sudah tersaji. Aksi dari Mesin Tempur misalnya. Band grindcore Bandung ini nyeleneh dengan membawa ayam jago ke atas panggung.  Tak mau kalah dengan Mesin Tempur, band bernuansa Betawi, Jiung juga menyuguhkan aksi panggung yang gila. Ajul, sang vokalis dengan enaknya turun panggung lalu mandi ditengah-tengah penonton. Sesudah maghrib, insaf sejenak. aksi panggung yang gila sudah berkurang, namun digantikan dengan set-set menawan. Mooner, yang pertama kalinya main di Synchronize Fest disambut antusias oleh penonton yang  menjadi-jadi. Bergeser ke District Stage, ada Reality Club yang tak kalah histeris-nya disambut. Makin malam makin jadi. Kaki sudah lelah, tubuh berkeringat, rambut lepek, baterai gadget mulai lowbatt. Tapi, jam 21.30 masih ada dua penampil yang sayang untuk dilwati. Di Dynamic Stage ada dominasi anak-anak muda sedang “menunggangi badai” dengan Barasuara. Sedangkan di Forest Stage, para senior indie sedang “menikmati coklat” bersama Pure Saturday”. Puncaknya, penampilan Naif, si tukang sedot keringat penonton.

Lanjut hari kedua, kali ini nuansa nostalgia terasa lebih kental. Deretan pengisi acara seperti Godbless, Sheila On 7, dan Project Pop ada di hari itu. Di set Godbless, penonton dipenuhi  kalangan senior pecinta rock lawas. Tembang-tembang hits seperti Musisi, Kehidupan, Rumah Kita, Semut Hitam, dan Panggung Sandiwara membangun vibes karaoke bersama. Begitupun Sheila On 7 yang penuh sesak oleh penonton lintas generasi. Sementara di Distric Stage, musik jenaka Project Pop begitu merindukan era di mana grup vokal itu tidak harus selalu keren, tapi juga bisa receh nan menyenangkan. Sang Raja Dangdut, Rhoma Irama dan Soneta Group akhirnya menutup hari kedua. Pesonanya yang kharismatik sebagai maestro selalu berhasil menyebarkan penyakit menular; (baca: goyang).

Well, dua hari non-stop berkeliling luasnya venue. Pindah dari satu stage ke stage lain, sebenarnya ada pikiran untuk menyudahinya. Tapi apa daya, nama-nama seperti Snickers And The Chicken Fighters (SATCF), Ramengvrl hingga NOXA terlalu sayang jika terlewatkan. Jamrud pun hadir di Dynamic Stage. Lagu-lagu lawas-nya masih terdengar lantang meski ada perubahan pada karakter suaranya. Lagi-lagi dan lagi-lagi, penonton yang dibesarkan era MTV Ampuh sangat dimanjakan. Kali ini giliran Padi Reborn beserta penutup Synchronize Festival 2018 secara keseluruhan; Dewa 19 bersama Once & Ari Lasso. Fine! ini sebuah pertunjukan langka. Deretan megahits yang versi bajakannya tak kalah laris ini membuat penonton semakin giting. Dua eks vokalis terbaik itu tampil dalam satu stage pertama kalinya. Di tengah nikmatnya mengenang masa muda, kami pun berpikir: bagaimana caranya si organizer melakukan proses negosiasi dengan mereka yah? Ahh sudahlah, sekalipun kami bisa melakukannya, pasti kami tak sanggup membayarnya. Akhir cerita, kami puas dan semua penonton lainnya pun demikian. Harapan kami, semoga konsep acara ini terus berkembang. Jangan sampai termakan jenuh. Karena pada dasarnya, wajah musik nusantara ada di sini (untuk saat ini). See you next year!

An amateur dilettante | Straight Edge | Star Wars’ die-hard fans | Records Junkie |

Continue Reading

EVENTS

Brotherground 2018: Beside Primadona, Down For Life Mempesona & Klimaks Death Vomit

Published

on

Mengadakan festival musik hingga edisi ke-5 bukan perkara mudah. Apalagi dengan line up yang konsisten kencengnya. Tahun ini Beside jadi primadona, namun Down For Life tak kalah mempesona, ditambah tenaga Death Vomit yang tak pernah habis hingga tuan rumah Fraud yang selalu beringas. Kami merangkumnya dalam foto-foto yang bisa memanjakan mata kalian.

Tukang Foto keliling, yang berusaha segiat mungkin, demi mengisi dompet dan perutnya.

Continue Reading

Surabaya