Connect with us
https://ronascent.biz/wp-content/uploads/2017/07/ronascent-adv-copy.jpg

EVENTS

Decimation Fest VI: Suguhan Awal Tahun Dari Damage.Inc

Published

on

Kolaborasi stage antara Morganostic dan Arya Akbara di Decimation Fest VI kemarin. (Foto: Rido Ramadhan)

Damage.Inc sebetulnya bukan nama baru lagi di ranah underground. Kolektif event yang berdomisili di Surabaya ini sudah aktif sekitar tahun 2008. Saat itu project gig pertama mereka bertajuk ‘Beneath The Summer’ yang hanya bertahan dua edisi sampai 2009. Mungkin karena memang gig sudah jadi hobi dan passion bagi mereka, selepas itu muncul lah gig-gig lain seperti ‘Straight To Your Face’, ‘Surabaya Grind Fest’, ‘Menolak Lelah’, dan ‘Decimation Fest’ yang mewarnai era Magnetzone sampai era studio gig. Untuk nama terakhir, mungkin itu menjadi gig yang paling awet bagi Damage.Inc. Karena sejak 2011 Decimation Fest sukses digelar enam kali, dan yang keenam kemarin sekaligus menjadi gig pembuka awal tahun di Surabaya.

Masih dikerjakan oleh beberapa wajah lama, Decimation Fest VI kali ini sedikit naik ‘pangkat’, di mana venue Happy Puppy yang notabene adalah sebuah pub keluarga dan disulap jadi arena musik underground. Mulai dari pendatang baru Longest sampai band yang tengah mempersiapkan album baru Morganostic tampil bergantian di acara yang digelar minggu kemarin (8/1). Selain itu, ada juga perform dari Gears Of Dagger Saw, Simpul Mati, Godamnation, dan Dopest Dope.

Longest membuka gig dengan lagu-lagunya yang memang masih belum familiar. Band ini tergolong baru, tahun lalu mereka sempat tampil juga di launching album Crucial Conflict. Bahkan lagu-lagunya belum beredar di ranah internet. “Kami sudah menyiapkan tiga single baru yang bakalan kami lepas sekaligus di tanggal 17 Januari besok dan semoga kalian menikmatinya,” ujar Oscar, vokalis Longest yang hampir semua personilnya dihuni wajah lama.

Band Baru: Oscar, ex-Give Me Mona dan ex-Teenagers tampil bersama Longest. (Foto: Rido Ramadhan)

Tempo pun semakin naik kala Gears Of Dagger Saw yang baru merilis debut albumnya tahun lalu tampil. Kombinasi lima pria dan dua wanita dengan gelontoran aroma post-hardcore generasi baru di band ini memberikan nuansa yang sedikit berbeda. Semakin memanas saat dua grup death metal Godamnation dan Simpul Mati memblasting venue secara non stop.

Hingga akhirnya nuansa makin kalem seketika saat Dopest Dope mendoktrin penonton dengan musik-musik imajinatifnya. Menarik untuk disimak ketika Morganostic tampil dengan susunan personil yang sedikit berbeda. Arya Akbara, gitaris dari Headcrusher sekaligus pemilik one man show Methiums mempertontonkan skill gitar-nya yang menyelip di materi-materi baru Morganostic. Kolaborasi tersebut sekaligus menutup gig di awal 2017.

Sarjana hukum yang gak pandai ngibul. Mencoba menggabungkan hobi musik dan photography menjadi profesi. Tokoh protagonis di setiap peran antagonis

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

EVENTS

Folk Music Festival 2018: Beradaptasi Dengan Cuaca, Berkontemplasi Dengan Musik

Published

on

Tampak seorang penonton menggosokkan kedua tangan, sambil sesekali ditiup dengan nafasnya agar terasa hangat. Terlihat dari kejauhan, ia berbicara dengan rahang sedikit bergetar. Lawan bicaranya pun demikian, lipatan syal berbahan katun tampak memenuhi lehernya. Lalu kedua tangannya masuk ke kantung jaket tebal. Kemudian dari atas panggung, terdengar rintihan Danilla; “Awali dengan merintih dan tertawa/Menuai kenangan yang tak hentikanku jua”. Musiknya lirih, seketika membius semua penonton bersama cuaca yang mencapai 13° menyelimuti malam di kawasan Kusuma Agrowisata, Batu-Jawa Timur akhir pekan kemarin di Folk Music Festival (FMF).

FMF ke-4 berlangsung dingin. Bagi penikmat musik non-folk, pop atau sejenisnya, bisa dipastikan mereka akan membeku. Sebaliknya, para pengikut musikalisasi puisi-nya Reda, orasi Jason Ranti, Instrumentalia Gerald Situmorang, atau melankolisnya Mondo Gascaro tentu berasa hangat. Namun di situlah esensinya. FMF keempat masih konsisten menawarkan pengalaman menikmati musik yang beda; berada di dataran tinggi, dua panggung berjejer seperti menikmati festival dalam headphone, hingga bertemunya musik dan literasi; kandungan gizi yang pas dikala cuaca dingin seringkali membekukan daya intelektual. Selain itu, festival ini benar-benar mengajak penontonnya untuk beradaptasi dengan cuaca demi berkontemplasi bersama deretan menu-menu musik yang syahdu.

Kesampingkan ego lokalitas yang mengharapkan tumpukan musisi lokal kota setempat tampil di dua panggung megah, itu sudah terlalu butut. Kali ini FMF punya rekomendasi baru dalam Gang of Folk yang berhasil mendatangkan empat musisi potensial. Mereka datang cukup jauh, ada Diroad (Palembang), Sepertigamalam (Palembang), Holaspica (Bandar Lampung), dan Arief S. Pramono (Parepare). Keempatnya bisa disebut sebagai jati diri festival folk satu ini. Sementara lainnya, mulai dari Efek Rumah Kaca, Pohon Tua, Fourtwnty, dan juga White Shoes & Couples Company telah menjadi nyawa yang paling pandai membuat penonton melupakan dingin.

Tahun ini Folk Music Festival berbicara tentang segala macam pertemuan. Dan akhir pekan kemarin, tim kami dipertemukan kembali oleh Folk Music Festival, dan kami merekam beberapa pertemuan, perbincangan, hingga pertunjukan yang tersaji di sana. Silahkan menikmati!

Teks: Rona Cendera
Foto: Adven Wicaksono

Seorang mahasiswa hampir abadi yang menghabiskan sebagian besar waktu di kehidupanya dengan hal hal penuh manfaat seperti mengabadikan wajah wajah ekstase para pemuda pemudi bangsa di atas panggung.

Continue Reading

EVENTS

Pesta Anak-Anak Bunga Yang Berusaha Jaga Lingkungan

Published

on

Tampilan mereka tidak rapi. Omongan mereka juga seenak udelnya. Mereka pemabuk, bermain musik keras, dan sarat akan konten dewasa. Ya, Dandelions sebenarnya bukan band yang ramah lingkungan, justru sebaliknya. Murni rock n roll, slengean. Seringkali, vokalis mereka, Njet menyuarakan “koruptor itu anjing” di tiap performnya. Bukan tanpa sebab, karena dari perilaku para tikus itu mereka menghasilkan beberapa lagu, sebut saja Impor. Suara-suara itulah yang jadi power bagi mereka untuk menyelematkan lingkungannya agar bebas doktrin dari segala perbuatan negatif.

Album penuh pertamanya Anak-Anak Bunga yang baru dirilis kemarin bermuatan pesan-pesan moral yang bagus untuk dicerna. Maka dari itu, akhir pekan kemarin (29/7) Dandelions berinisiatif menyambangi tiga tempat krusial; yakni Kampung Dupak Bangunrejo yang bekas lokalisasi, kemudian Kampung Seni THR dan puncaknya di tanah sengketa Tambak Bayan Tengah. Di tempat terakhir, band yang belum lama ini baru melempar klip (Bukan) Playboy tersebut benar-benar jadi tuan rumah yang baik. Selain mengundang tuan rumah yang sesungguhnya (warga Tambak Bayan), mereka juga mengundang beberapa gitaris untuk berkolaborasi, seperti Bima (Timeless), Rasvan (Rasvan Aoki), Wawa (Ampun Women), Adiee (Portal Addict/ex Dandelions), serta Happy Arabika (Pig Face Joe).

Tambak Bayan, tempat ini mengingatkan kita pada titik awal Silampukau yang melaunching debut albumnya Dosa, Kota, & Kenangan tahun 2015 silam. Penuh kesederhanaan, namun lagu-lagunya bermuatan banyak kritik yang satire, begitupun Dandelions. Dan semoga Tambak Bayan juga bisa menjadi titik awal yang bagu dari album terbaru mereka.

Seorang mahasiswa hampir abadi yang menghabiskan sebagian besar waktu di kehidupanya dengan hal hal penuh manfaat seperti mengabadikan wajah wajah ekstase para pemuda pemudi bangsa di atas panggung.

Continue Reading

EVENTS

Holy Skateboard Video Premiere; Wahana Skate Yang Multisegmen

Published

on

Akibat tragedi bom yang terjadi di tiga Gereja di Surabaya Mei silam, pemutaran perdana video dari Holy Skateboard ikut kena imbasnya. Event yang seharusnya berlangsung beberapa jam setelah kejadian itu harus dibatalkan, lantaran venue M-Radio yang berdekatan dengan lokasi peledakan.

Dua bulan setelahnya, tepatnya kemarin Sabtu (28/7), acara tersebut akhirnya dilaksanakan. Venue pun bergeser ke Grand Dharmahusada Lagoon. Pergeseran cemerlang, karena vibes acara lebih terasa. Mulai dari anak-anak hingga orang tua melebur jadi satu di taman yang luas, hijau, dengan cuaca mendukung, serta lingkungan perumahan yang nyaman; seperti berada di taman keluarga, menikmati akhir pekan, berburu keringat agar sehat. Ada yang bermain skate, atau sekadar lari-lari kecil mengejar anaknya, atau cuma duduk malas dengan mulut berasap sambil menunggu pemutaran video skate dari Holy Skateboard.

Jadi, skate itu bukan lagi tentang anak muda yang energik, tapi sangat multisegmen. Sekalipun band model The Gamblezz, Timeless, hingga Egon Spengler yang atraktif dengan kostum yang … (lihat di foto), pada intinya, semua membaur dalam wahana skate yang multisegmen ini.

Seorang mahasiswa hampir abadi yang menghabiskan sebagian besar waktu di kehidupanya dengan hal hal penuh manfaat seperti mengabadikan wajah wajah ekstase para pemuda pemudi bangsa di atas panggung.

Continue Reading
Advertisement

Zine Archives

Surabaya