Celcea Tifani & Ketertarikannya Pada Indonesian Rice

Celcea Tifani, illustrator yang berkolaborasi dengan Indonesian Rice (Foto: Dite Surendra)

Di album Prolog milik Indonesian Rice, terdapat satu lagu yang begitu soft dan berbeda dari lainnya. Tanpa terlepas dari beat-beat ala jamaican, sebuah single berjudul Satu berdendang begitu santai dan sedikit syahdu. Ya, ketika kembali terkenang pada masa lalu dan teringat pada satu sosok, tentu nuansa melankolia sekelibat muncul dan merubah energi jadi elegi. Tapi nyatanya bukan itu yang ingin dituangkan Indonesian Rice. Meski liriknya terbilang sendu nan generik, toh apa yang mereka mainkan dan nyanyikan selalu mampu memunculkan ide-ide liar. Seperti yang dialami oleh Celcea Tifani.

Wanita yang kini tengah menetap di Shanghai, Cina itu adalah seorang illustrator yang punya ketertarikan tersendiri pada single pembuka di debut album milik Indonesian Rice tersebut. Baginya, lagu-lagu milik band reggae dub Surabaya itu begitu nyaman untuk dinikmati, terutama Satu. “Ketika mendengarkan lagu Satu, ada banyak layer dalam lagu tersebut seperti piano, brass section, vocal, dan intrsumen lain yang membuat semuanya terdengar dinamis,” ujar Celcea. Berangkat dari situ, Celcea berkolaborasi dengan Indonesian Rice untuk mengerjakan video lirik dari lagu Satu.

Lanjutnya lagi, sarjana lulusan Desain Komunikasi Visual UK Petra Surabaya itu mendapat rasa nyaman dari instrumentalia yang ditawarkan Indonesian Rice. Sehingga, Celcea dengan mudah menumpahkan apa yang dirasakannya saat itu lewat ilustrasinya. “Dari sebuah rasa nyaman, kedekatan, dan kecintaanku terhadap instrumen Satu yang berlapis tadi, aku membuat ilustrasi yang tumpang tindih namun saling melengkapi. Aku juga bermain dengan warna-warna yang cukup mewakilkan perasaan saya ketika mendengarkan lagu Satu,” lanjutnya.

Kolaborasi keduanya pun berujung manis. Pada 1 Januari kemarin, video lirik dari single Satu sudah bisa dikonsumsi secara audio dan visual. Cukup terasa bagaimana Celcea menggoreskan sebuah perpaduan gambar yang tumpang tindih, namun seirama dan saling melengkapi. Begitupun warna-warna cerah yang dipilihnya, menggambarkan bagaimana suasana Satu yang sebenarnya merupakan lagu ‘sedikit’ sendu namun menyimpan banyak spirit positif di dalamnya. “Di dalam lagu Satu, terdapat dua bagian yakni lirik dan musik. Nah, ketika mendengarkan lagunya, saya jauh lebih menikmati musiknya. Instrumen yang saya dengarkan sangat penuh dan percaya diri, secara pribadi saya suka instrumen yang seperti itu,” imbuh Celcea.

Melepas lajang di dunia tarik pena dengan menyandang lulusan sastra yang tidak sastrawi, musisi gagal, penimbun berita pil koplo, dan buruh radio.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *