Connect with us
https://ronascent.biz/wp-content/uploads/2017/07/ronascent-adv-copy.jpg

NEWS

Beyond Infinity & Methiums Berkolaborasi di Album Baru

Published

on

Beyond Infinity & Methiums, dua one man project ini berkolaborasi membuat split EP.

Stage Decimation Fest IV kemarin sempat menyuguhkan kolaborasi antara Morganostic dengan Arya Akbara, gitaris Headcrusher dan Athenian. Kolaborasi tersebut mempertemukan dua gitaris yang beberapa tahun ke belakang sedang gencar memperdengarkan materi-materi modern progressive metal ala Protest The Hero, Periphery, dan TesseracT. Ya, Arya Akbara dengan proyek solonya Methiums, sementara gitaris anyar Morganostic Reza Akbar Felayati dengan Beyond Infinity. Dan ternyata pertemuan keduanya tadi merupakan bagian dari teaser untuk proyek split album mereka. Pekan lalu (25/1), dua project one man asal Surabaya ini mengumumkan rampungnya split EP yang akan rilis secara digital pada 28 Januari mendatang.

“Split EP ini merupakan kolaborasi pertama yang tercipta dari bincang-bincang iseng dan proses saling kirim materi yang rencananya akan dirilis di album masing-masing. Tidak disadari, ternyata ada benang merah diantara materi-materi tersebut, yang mana terdapat corak gabungan antara musik djenty yang heavy dan unsur-unsur ambient yang chill, meskipun dalam takaran maupun komposisi yang berbeda,” tulis mereka. Setelah sepakat untuk melakukan kolaborasi, Methiums dan Beyond Infinity akhirnya melalui proses rekaman dan post-production yang kurang lebih memakan waktu setahun.

Uniknya, proses pengerjaan split EP ini bukan Cuma melibatkan dua musisi langsung, tapi juga dua kota. Meski sama-sama berasal dari Surabaya, tapi posisinya saat ini Arya tengah berada di Pangkalan Bun, sementara Reza di Surabaya. “Semua lagu di split EP ini direkam secara mandiri di kamar tidur masing-masing dengan menggunakan PC dan laptop,” lanjutnya. Sementara untuk artworknya sendiri mereka mempercayakannya pada Baryeri Enggarnadi. “Kenapa dia (Baryeri Enggarnadi,red)? Karena selain punya selera musik yang tak jauh berbeda, kami bertiga juga besar di lingkungan yang sama, sehingga komunikasi, tukar ide serta segala prosesnya jadi lebih solid,” imbuhnya.

Split EP milik Methiums dan Beyond Infinity ini akan tersedia secara digital melalui platform Bandcamp, iTunes, dan Spotify. Dan nantinya, split EP ini juga akan rilis dalam format CD yang bekerjasm dengan label asal Surabaya Radioactive-Force dengan dua track tambahan yang secara eksklusif hanya ada di dalam versi CD. Radioactive-Force sendiri sebelumnya sempat merilis fisik album dari kedua project tersebut, Methiums di tahun 2014 dan Beyond Infinity di tahun 2015.

 

Melepas lajang di dunia tarik pena dengan menyandang lulusan sastra yang tidak sastrawi, musisi gagal, penimbun berita pil koplo, dan buruh radio.

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

NEWS

Kenistaan Layar Laca di Mata Hockey Hook

Published

on

Artwork single terbaru Hockey Hook, Layar Nista. (dok. Hockey Hook)

Cerita tentang kekesalan terhadap tayangan televisi di Indonesia memang belum ada habisnya. Banyak musisi yang menumpahkan keluhannya lewat lagu, tak terkecuali dengan unit ska punk asal Kota Kembang, Hockey Hook. Kenistaan layar kaca mereka nyanyikan lewat single baru yang diberi judul Layar Nista.

Single yang rilis digital akhir November kemarin ini digarap sendiri oleh Hockey Hook dengan bantuan Ako selaku sound engineering di Red Studio Bandung. Lewat rilis persnya, Hockey Hook menyebut konten televisi di Indonesia sampai saat ini masih jauh dari kata edukatif. “Konten televisi di Indonesia dipenuhi program-program tidak mendidik seperti sinetron yang ditayangkan siang hari, pengemasan variety show di beberapa kanal media yang penuh gosip selebriti, diwarnai juga cemoohan antar satu sama lain host. Tidak ketinggalan pula kampanye hitam politik di media Televisi yang tentunya saling menjatuhkan lawan,” sebut mereka.

Layar Nista ini dikemas lebih ke reggae dub ala California era 90an. Mereka juga menggandeng DJ Eone Cronik dari Eye Feel Six guna membangun nuansa scratch di lagu tersebut. Dan setelah ini, Hockey Hook kabarnya akan melempar mini album berisikan lima lagu yang sekaligus melanjutkan debut album yang rilis dua tahun lalu.

Melepas lajang di dunia tarik pena dengan menyandang lulusan sastra yang tidak sastrawi, musisi gagal, penimbun berita pil koplo, dan buruh radio.

Continue Reading

NEWS

Humi Dumi Tinggalkan Akustik & Perluas Dimensi Musik

Published

on

Artwork single baru Humi Dumi karya Bagus ‘Bagong’ Priyo. (Dok. Humi Dumi)

Meninggalkan nuansa akustik dan memperluas dimensi musik; selamat datang kembali Humi Dumi! Salah satu serpihan band pop Surabaya di medio 2014 ini beranjak kembali ke permukaan. Sematan folk yang sempat diberi oleh kebanyakan pendengarnya coba dimentahkan, karena sejatinya Humi Dumi kini tengah membangun entitas indie pop lewat single barunya, Pathless.

Meskipun mencoba untuk jadi lebih dewasa dan kompleks, tapi Humi Dumi tetap menaruh ciri khasnya, di mana imajinasi tetap menyelimuti tiap bait yang dinyanyikan syahdu. “Kami masih bermain-main dengan imajinasi, tentang sebuah wacana eskpais atas sang waktu dan merakit kembali fragmen demi fragmen tentang ingatan, demi berdamai dengan masa lalu,” ujar vokalis mereka Qanita Hasinah.

Terkait dimensi musik, Humi Dumi kini tak hanya terpaku pada Angus & Julia Stone, yang konon kerap disandingkan sebagai influence terbesarnya. Dalam lagu Pathless, kalian bisa mendengar bagaimana Qanita dkk punya banyak rasa dan referensi. Cukup terasa bagaimana pengaruh british yang datang dari The Smith, riff-riff Thom Yorke hingga luapan emosi ala Saosin.

Dengan rilisnya Pathless, Humi Dumi juga berencana melahirkan anak keduanya di awal 2019 nanti. Jika sesuai timeline, maka album tersebut akan menjadi rilisan kedua mereka setelah debut I Am Ij Sin A yang rilis empat tahun lalu.

Melepas lajang di dunia tarik pena dengan menyandang lulusan sastra yang tidak sastrawi, musisi gagal, penimbun berita pil koplo, dan buruh radio.

Continue Reading

NEWS

Monkey to Millionaire Sindir Orang Yang Gila Popularitas

Published

on

Artwork Monkey to Millionaire – Envy. (Source: Desire Music)

Monkey to Millionaire sedang melanju dengan kecepatan tinggi. Setahun setelah album Tanpa Koma, Aghan Sudrajat dan Wisnu Aji lanjut tancap gas lewat single baru Envy. Mengamati dengan kritis lalu menyindir dengan sarkartis; MTM masih tetap sama. Di lagu ini, sasaran mereka ada pada orang-orang yang gila popularitas hingga nekat melakukan apapun untuk bisa dikenal. “Bahkan sampai ngejual kehidupan pribadi cuma buat kebutuhan promosi dan naikin nama. Entah itu mengumbar atau diumbar,” ujar Aghan. Mereka mempertanyakan tentang orang-orang yang gila popularitas dengan beragam cara yang bisa dibilang nyaris tidak masuk akal.

Single Envy sendiri dijadikan single pertama yang akan mewakili album keempatnya. Jika dibanding Titik Koma atau Lantai Merah, Monkey to Millionaire terdengar seperti ingin menunjukan betapa easy listening-nya lagu mereka. Nada-nadanya terasa manis dan menyenangkan, tidak sarat emosi atau eksperimen sound seperti beberapa lagu terdahulu. “Kita ngerasain banget berkembang dari segi aransemen untuk lagu-lagu baru. Karena ternyata untuk membuat lagu terdengar sederhana dan catchy itu susah ya. Rasanya udah lama sekali nggak ngelakuin hal itu,” lanjut Aghan seraya tertawa.

Berbicara proses album terbarunya, Monkey to Millionaire memilih untuk fokus dalam penggodokan materinya. Bahkan untuk judul, mereka memilihi untuk tidak membicarakannya lebih dulu. Yang pasti, mereka sudah menyiapkan beberapa hal baru, seperti logo dan juga additional drum.

Media musik online yang berbasis di Surabaya. Mengamati gejolak dan gairah industri musik independen yang kerap menjadi sokongan musik berkualitas. Kontak kami di [email protected] untuk berbagi informasi.

Continue Reading

Surabaya