Connect with us
https://ronascent.biz/wp-content/uploads/2017/07/ronascent-adv-copy.jpg

EVENTS

The 10th Psychofest, Kembali Membawa Hulu Ledak

Published

on

Selalu Beringas: Coki dari KPR yang selalu tampil beringas menggeber nomor-nomor indo-rock versi mereka. (Foto: Rido Ramadhan)

Senang rasanya mengetahui Psychofest sebagai acara rutin Fakultas Psikologi Universitas Airlangga telah memasuki tahun ke-10. Senang juga menyimak bahwa Psychofest selalu membawa keseruan baru tiap tahunnya. Terakhir menyaksikan Psychofest adalah saat mereka memboyong Barasuara untuk tampil di Surabaya Town Square. Barasuara saat itu belum benar-benar meledak di Surabaya, dan Psychofest sebagai festival bergengsi sepertinya punya peran mengenalkan supergroup ini ke khalayak di kota ini. Dan sepertinya, sekarang Psychofest kembali membawa hulu ledak berbahaya. Tidak tanggung-tanggung, unit  indie rock The Trees & The Wild (TTATW) dan indo-rock berbahaya Kelompok Penerbang Roket (KPR) didatangkan langsung dari ibukota. Meski acara sempat molor kurang lebih satu jam, beruntung atmosefer keseruannya tetap terasa meski salah satu band yang ditunggu-tunggu, Hi Mom! terpaksa tidak tampil.

Dihelat di lapangan Grand City, penonton disuguhi penampilan band-band lokal terbaik. Salah satu band yang didaulat di awal acara adalah Cotswolds, post rock terbaik yang pernah dihasilkan Surabaya, tampil memukau. Membawakan lagu-lagu yang ada di album European Ocean, menonton Cotswolds di saat langit mulai menggelap dan pengunjung mulai ramai membuat nuansa gelap sekaligus panas. Cotswolds yang amat terpengaruh pergerakan skena post ponk era akhir 70-an (simak Joy Division, band terbesar di era ini), membabat habis-habisan influence mereka mulai dari sound gitar yang mengawang, drum yang monoton, atmosfer musikal yang dingin dan yang paling kentara, suara bariton si vokalis yang mengingatkan pada Ian Curtis, sebelum ia gantung diri di rumahnya di usia 23 tahun. Hujan gitar yang bertalu di kanan dan kiri telinga, membuat bulu kuduk merinding sendiri.

Timeless didaulat sebagai penampil berikutnya. Entah kenapa tata sound system saat penampilan band yang usai melakukan tur album Beetwen And Beyond di Jakarta dan Bandung ini kurang prima. Pada beberapa part, sound terdengar sedikit cemperet dan terlalu kasar. Lepas dari hal itu, penampilan Timeless tetap memukau dan bising. Membawakan nomor-nomor terbaik dari album keduanya seperti Golden Age sampai Ride Into The Sun, Timeless terlihat semakin matang dan menemukan aksi panggung terbaik mereka.

Selanjutnya unit post rock asal Malang, Beeswax tampil setelahnya. Beeswax tampil bagus dan hanya saja tidak klimaks. Eksplorasi musik yang mereka hadirkan  sayangnya harus terpotong. “Kami mendapat pemberitahuan, durasi main kami dipotong.” ujar si vokalis. Tidak hanya Beeswax, hal tersebut juga menimpa Hi Mom!, yang tidak hanya dipotong tapi malah batal mencicipi arena.

Penampilan The Trees And The Wild di 10th Psychofest. (Foto: Rido Ramadhan)

Pembatalan penampilan Hi Mom! ini langsung dikonfirmasi Ronascent usai acara. “Jadi penyebabnya itu karena acara molor, jadi akhirnya kita yang di cancel. Dengan mediasi yang asik dan damai akhirnya kita bisa menerima itu,” ujar Hi Mom! saat ditemui. “Maaf juga mengecewakan nggak jadi main, soalnya pembatalannya mendadak,” lanjut mereka yang sempat mengira jika pembatalan tersebut akan diumumkan di panggung. Tapi ternyata tidak diumumkan.

Malam mulai kelam. Semuanya masih terjaga dan menanti-nanti The Trees & The Wild yang menata alat panggung mereka begitu dekat dengan bibir stage. Drum set dipasang menyamping sehingga kita bisa melihat akurasi yang ditampilkan. Tiga synthetizer dihadirkan, membawa suara-suara transendental yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya. Aura-aura magis ditunjang oleh penampilan mereka yang sedingin es, tanpa sedikitpun menyapa penonton seperti layaknya band post rock misterius bermain tanpa basa-basi. Digeber nomor-nomor terbaik mereka yang kental dengan repetisi dan permainan synth. Band yang baru saja merilis materi terbaru mereka Zaman, Zaman ini menjadi begitu spiritual saat lagu terakhir dibawakan bersamaan dengan rintik hujan lembut yang mulai turun. Kekuatan mereka memuncak semakin lama semakin kencang, bak angin puting beliung yang membesar seiring berjalannya waktu. Momen eargasm terasa saat mereka mulai menuntaskan penampilannya.

Berandalan ibukota berisi tiga orang manusia paling ugal-ugalan tampil setelahnya. Kelompok Penerbang Roket membuat penonton seketika merapat, merangsak, dan kebengalan rock and roll itu telah dimulai. Selalu diawali dengan Anjing Jalanan, berturut-turut Tanda Tanya, Beringin Tua dan Target Operasi yang diambil dari album Teriakan Bocah. Selanjutnya, nomor-nomor dari Panbers seperti Bimbang dan Ragu, Hujan Badai, sampai Mr. Bloon dari album HAAI. Mereka menyudahi penampilan dengan Dimana Merdeka, dan setelahnya sudah pasti Mati Muda, yang memanaskan ampli mereka. Coki, Rey dan Viki tampil maksimal dan memuaskan. Dan inilah klimaks dari acara 10th Psycofest.

Mahasiswa sastra. Kecanduan Tebs dan masih mengimani Billie Joe Armstrong sebagai nabi.

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

EVENTS

Folk Music Festival 2018: Beradaptasi Dengan Cuaca, Berkontemplasi Dengan Musik

Published

on

Tampak seorang penonton menggosokkan kedua tangan, sambil sesekali ditiup dengan nafasnya agar terasa hangat. Terlihat dari kejauhan, ia berbicara dengan rahang sedikit bergetar. Lawan bicaranya pun demikian, lipatan syal berbahan katun tampak memenuhi lehernya. Lalu kedua tangannya masuk ke kantung jaket tebal. Kemudian dari atas panggung, terdengar rintihan Danilla; “Awali dengan merintih dan tertawa/Menuai kenangan yang tak hentikanku jua”. Musiknya lirih, seketika membius semua penonton bersama cuaca yang mencapai 13° menyelimuti malam di kawasan Kusuma Agrowisata, Batu-Jawa Timur akhir pekan kemarin di Folk Music Festival (FMF).

FMF ke-4 berlangsung dingin. Bagi penikmat musik non-folk, pop atau sejenisnya, bisa dipastikan mereka akan membeku. Sebaliknya, para pengikut musikalisasi puisi-nya Reda, orasi Jason Ranti, Instrumentalia Gerald Situmorang, atau melankolisnya Mondo Gascaro tentu berasa hangat. Namun di situlah esensinya. FMF keempat masih konsisten menawarkan pengalaman menikmati musik yang beda; berada di dataran tinggi, dua panggung berjejer seperti menikmati festival dalam headphone, hingga bertemunya musik dan literasi; kandungan gizi yang pas dikala cuaca dingin seringkali membekukan daya intelektual. Selain itu, festival ini benar-benar mengajak penontonnya untuk beradaptasi dengan cuaca demi berkontemplasi bersama deretan menu-menu musik yang syahdu.

Kesampingkan ego lokalitas yang mengharapkan tumpukan musisi lokal kota setempat tampil di dua panggung megah, itu sudah terlalu butut. Kali ini FMF punya rekomendasi baru dalam Gang of Folk yang berhasil mendatangkan empat musisi potensial. Mereka datang cukup jauh, ada Diroad (Palembang), Sepertigamalam (Palembang), Holaspica (Bandar Lampung), dan Arief S. Pramono (Parepare). Keempatnya bisa disebut sebagai jati diri festival folk satu ini. Sementara lainnya, mulai dari Efek Rumah Kaca, Pohon Tua, Fourtwnty, dan juga White Shoes & Couples Company telah menjadi nyawa yang paling pandai membuat penonton melupakan dingin.

Tahun ini Folk Music Festival berbicara tentang segala macam pertemuan. Dan akhir pekan kemarin, tim kami dipertemukan kembali oleh Folk Music Festival, dan kami merekam beberapa pertemuan, perbincangan, hingga pertunjukan yang tersaji di sana. Silahkan menikmati!

Teks: Rona Cendera
Foto: Adven Wicaksono

Seorang mahasiswa hampir abadi yang menghabiskan sebagian besar waktu di kehidupanya dengan hal hal penuh manfaat seperti mengabadikan wajah wajah ekstase para pemuda pemudi bangsa di atas panggung.

Continue Reading

EVENTS

Pesta Anak-Anak Bunga Yang Berusaha Jaga Lingkungan

Published

on

Tampilan mereka tidak rapi. Omongan mereka juga seenak udelnya. Mereka pemabuk, bermain musik keras, dan sarat akan konten dewasa. Ya, Dandelions sebenarnya bukan band yang ramah lingkungan, justru sebaliknya. Murni rock n roll, slengean. Seringkali, vokalis mereka, Njet menyuarakan “koruptor itu anjing” di tiap performnya. Bukan tanpa sebab, karena dari perilaku para tikus itu mereka menghasilkan beberapa lagu, sebut saja Impor. Suara-suara itulah yang jadi power bagi mereka untuk menyelematkan lingkungannya agar bebas doktrin dari segala perbuatan negatif.

Album penuh pertamanya Anak-Anak Bunga yang baru dirilis kemarin bermuatan pesan-pesan moral yang bagus untuk dicerna. Maka dari itu, akhir pekan kemarin (29/7) Dandelions berinisiatif menyambangi tiga tempat krusial; yakni Kampung Dupak Bangunrejo yang bekas lokalisasi, kemudian Kampung Seni THR dan puncaknya di tanah sengketa Tambak Bayan Tengah. Di tempat terakhir, band yang belum lama ini baru melempar klip (Bukan) Playboy tersebut benar-benar jadi tuan rumah yang baik. Selain mengundang tuan rumah yang sesungguhnya (warga Tambak Bayan), mereka juga mengundang beberapa gitaris untuk berkolaborasi, seperti Bima (Timeless), Rasvan (Rasvan Aoki), Wawa (Ampun Women), Adiee (Portal Addict/ex Dandelions), serta Happy Arabika (Pig Face Joe).

Tambak Bayan, tempat ini mengingatkan kita pada titik awal Silampukau yang melaunching debut albumnya Dosa, Kota, & Kenangan tahun 2015 silam. Penuh kesederhanaan, namun lagu-lagunya bermuatan banyak kritik yang satire, begitupun Dandelions. Dan semoga Tambak Bayan juga bisa menjadi titik awal yang bagu dari album terbaru mereka.

Seorang mahasiswa hampir abadi yang menghabiskan sebagian besar waktu di kehidupanya dengan hal hal penuh manfaat seperti mengabadikan wajah wajah ekstase para pemuda pemudi bangsa di atas panggung.

Continue Reading

EVENTS

Holy Skateboard Video Premiere; Wahana Skate Yang Multisegmen

Published

on

Akibat tragedi bom yang terjadi di tiga Gereja di Surabaya Mei silam, pemutaran perdana video dari Holy Skateboard ikut kena imbasnya. Event yang seharusnya berlangsung beberapa jam setelah kejadian itu harus dibatalkan, lantaran venue M-Radio yang berdekatan dengan lokasi peledakan.

Dua bulan setelahnya, tepatnya kemarin Sabtu (28/7), acara tersebut akhirnya dilaksanakan. Venue pun bergeser ke Grand Dharmahusada Lagoon. Pergeseran cemerlang, karena vibes acara lebih terasa. Mulai dari anak-anak hingga orang tua melebur jadi satu di taman yang luas, hijau, dengan cuaca mendukung, serta lingkungan perumahan yang nyaman; seperti berada di taman keluarga, menikmati akhir pekan, berburu keringat agar sehat. Ada yang bermain skate, atau sekadar lari-lari kecil mengejar anaknya, atau cuma duduk malas dengan mulut berasap sambil menunggu pemutaran video skate dari Holy Skateboard.

Jadi, skate itu bukan lagi tentang anak muda yang energik, tapi sangat multisegmen. Sekalipun band model The Gamblezz, Timeless, hingga Egon Spengler yang atraktif dengan kostum yang … (lihat di foto), pada intinya, semua membaur dalam wahana skate yang multisegmen ini.

Seorang mahasiswa hampir abadi yang menghabiskan sebagian besar waktu di kehidupanya dengan hal hal penuh manfaat seperti mengabadikan wajah wajah ekstase para pemuda pemudi bangsa di atas panggung.

Continue Reading
Advertisement

Zine Archives

Surabaya