Connect with us
https://ronascent.biz/wp-content/uploads/2017/07/ronascent-adv-copy.jpg

EDITOR'S PICK

Rookies of the Year 2016: Minim Secara Kuantiti, Maksimal Secara Variasi

Published

on

Dhurma, salah satu andalan gig di Surabaya sepanjang 2016. (Foto: Dok.Dhurma)

Belum ada satu jenis musik tertentu yang mendominasi Surabaya di 2016 ini. Menyenangkan melihat band-band baru potensial bertumbuhan. Meski jumlahnya tidak sebanyak tahun-tahun sebelumnya, tapi variasi yang ditawarkan jauh melebihi tahun-tahun yang lalu. List yang kami munculkan di tulisan ini bukan berdasarkan baik-buruknya kualitas, semua berdasarkan apa yang telah mereka lakukan sepanjang 2016. Well, selamat menikmati rekomendasi kami.

Dhurma

Local Wisdom: Yudhis, Tommy, Dhimas, dan Richie. (Dok. Dhurma)

Geliat musik Surabaya terus berkembang. Banyak band muncul dengan konsep yang tak peduli pada pakemnya; intinya satu, enak didengar. Dari semua kelompok yang berkembang tersebut, Dhurma hadir sebagai salah satu referensi dengan taring yang bisa diperhitungkan. Pengusung doom metal ini cukup agresif, terlebih saat memangkas banyak gig sepanjang 2016. “Hampir tiap minggu kami main tiga kali. Itupun ada juga yang mepet antara jarak waktunya,” cerita Dhimas Zoso, gitaris Dhurma.

Meski sering tampil, band ini justru harus mengalami beberapa kendala untuk menyelesaikan rilisan pertamanya. Rencana masuk dapur rekaman tertunda karena fokus kesibukan personil hingga drummernya yang sedang sibuk-sibuknya dengan project musik lain. Dhurma pun tidak mengambil kata hiatus. Memasuki semester kedua tahun ini, Dhurma mulai mengurangi eksistensinya di gig, dan semakin fokus meramu materi untuk direkam. Saat artikel ini ditulis, Dhurma pun berkabar telah selesai rekaman. Persiapan lainnya juga sedang dikerjakan. Kiranya band satu ini siap menunjukan militansinya lagi di tahun mendatang.

 

 

Dandelions

Dandelions, siapkan debut album ‘Mantra Sakti’ di tahun 2017 mendatang. (Dok. Dandelions)

Pada saat berselancar di media sosial, ada akun seorang teman yang memposting foto perform dari Dandelions. Liar, telanjang, berkarakter, blues, dan rock n roll. Setidaknya uraian kata-kata itulah yang langsung keluar dalam pikiran saat melihat band satu ini. Dan benar, pada caption postingan itu juga tertulis “layaknya The Rolling Stones yang liar”, merujuk sebab mengapa band ini bisa ugal-ugalan seperti itu saat tampil.

Dandelions merupakan kuartet yang mengambil jalur rock n roll yang dirasa populasinya di Surabaya tidak begitu banyak. Musik yang diangkat banyak mengusung wacana sosial, cukup segar untuk didengarkan. Lagipula sebuah debut album berjudul Mantra Sakti yang telah mereka tunggu sejak 2013 akhirnya sudah siap rilis untuk tahun depan.

 

 

The Flatters

The Flatters; potensial rock asal Surabaya. (Dok. The Flatters)

Record Store Day (RSD) 2016 kemarin jadi saksi munculnya satu rilisan baru. Album yang singkat, padat, dan sangat menyita perhatian. Super Gigantic Noise muncul dari rahim band yang terbilang masih belia, The Flatters. Nuansa rock 60an begitu kental, lirik-liriknya juga ringan, kemasannya pun fresh, band ini benar-benar berbahaya dan sangat potensial untuk mengobrak-abrik Kota Pahlawan yang konon katanya gudang musik keras.

Sayang, selepas debut albumnya meluncur para personil The Flatters harus berpencar karena melanjutkan studinya masing-masing. Jody jadi salah satu personil yang masih tersisa di Surabaya. Maka dari itu, sepertinya harus menunggu waktu yang tidak sebentar untuk melihat mereka ber-noise ria di stage.

 

 

Casanuestra

Casanuestra

Dibalik dominasi musik underground, Casanuestra berani maju ke garis depan untuk menyuarakan karyanya. Kelompok hip hop ini tidak pandang bulu dan momentum. Kemunculan mereka sejak awal tahun seakan memberi sinyal jika musik yang diusungnya telah siap kembali mengekspansi. Ditambah lagi, di saat bersamaan musisi-musisi hip-hop lawas mulai beringas lagi.

Perjalanan Casanuestra yang saat itu dimotori, Gery, Panca, dan Anwar diawali lewat album Westcoast Rules yang dilepas Februari kemarin. Semakin manis saat klip Hip Hop Nation meluncur dan memperlihatkan betapa seriusnya mereka. Bahkan, musik mereka berkali-kali terdengar di tengah kerumunan gig underground. Tidak berlebihan, pasalnya memang sebagian dari mereka lahir dari scene tersebut. 

 

 

RHNK

RHNK: Wajah lama dengan konsep baru. (Source: Facebook)

Mereka bukan nama baru lagi sebenarnya. Tapi rekam jejak bandnya masih bisa dikategorikan rookies. Pasalnya, perjalanan RHNK masihlah naik turun sejak dua atau tiga tahun ke belakang. Satu hal yang paling menjanjikan dari mereka adalah konsep musiknya yang berat dan sarat akan sentilan-sentilan sosial.

Mencoba mencari kata untuk konklusi pada satu band ini, meski tidak terlihat begitu agresif tapi kehadirannya di tiap gig selalu saja memberi sensasi tersendiri untuk headbanging, merasakan temponya dengan kaki untuk kemudian masuk ke lingkaran mosphit. Tahun 2016 ini RHNK telah merilis dua klip baru, yakni Badai Pasir dan Tong Edan.

 

 

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

EDITOR'S PICK

Merayakan 14 Tahun Blingsatan & Meroketnya 6 Rilisan Baru Skena Punk

Published

on

14 Tahun Blingsatan (dari kiri): Saka, Amir, Arief. (Foto: Novan Rebellnoise)

Euforia band gaek asal Surabaya, Blingsatan kemarin tak terbendung lagi. Sehari pasca merayakan hari kemerdekaan Indonesia yang ke-74, trio punk yang beranggotakan Arief, Saka, dan Amir itu juga merayakan hari jadinya yang ke-14. Dengan titel event Merocket #1 yang digelar di M-Radio Surabaya kemarin malam (18/8), mereka sekaligus melempar album The Best of Blingsatan, From The Past For The Future. Di tengah penampilannya, Blingsatan menyematkan seremoni pemotongan kue yang menandakan bertambahnya usia mereka. “Kue ini untuk kita semua, terima kasih yang sudah memberi support buat Blingsatan hingga kini!,” ujar Arief di sela-sela penampilannya.

Dalam setlist semalam, Blingsatan membawakan mayoritas lagu lama, seperti I Don’t Know Where, Belia, Si Sexy, Yang Muda Yang Bercinta, Waiting Is Hard Things To Do dan Berbeda Merdeka. Gigs semalam memang menjadi ajang bersenang-senang. Lupakan sejenak segala kesempurnaan di atas panggung, karena yang ada hanyalah sing along, alkohol, dan colekan kue tart yang menghiasi wajah ketiga personil Blingsatan.

Perayaan ulang tahun Blingsatan pun semakin marak dengan rilisan masal yang dilakukan oleh band-band penampil sebelumnya. Seperti Tulipe de Gezner yang akhirnya merilis album Berdiri Untuk Melangkah. Kemudian Melaju yang memperkenalkan mini albumnya Triakan Kebersamaan serta dua single baru yang meluncur masing-masing dari Dindapobia berjudul Overnow dan  Cheers The Punk dari Radiocase. Dan tentunya juga album digital The Best of Blingsatan, From The Past For The Future yang kabarnya akan menjadi pemanasan bagi Blingsatan untuk merilis album keempatnya.

Merocket #1 akhirnya ditutup lewat penampilan kolaboratif dari Hometown Rockers yang menampilkan musisi-musisi punk dari berbagai band seperti Happy Arabika (Pig Face Joe), Biyan (Plester-X), Paul (Give Me Mona), dan Ucup (Tulipe de Gezner). Menampilkan beberapa hits ala punk rock seperti Blitzkrief Bop, Basketcase, hingga When I Come Arround, mereka pun menutup pesta singkat Blingsatan yang selesai tidak lebih dari jam 9 malam, punk rock yang tertib!

 

Continue Reading

EDITOR'S PICK

Merayakan Hari Musik Nasional Bersama Music Gallery

Published

on

FUR ikut merayakan hari musik nasional di Music Gallery akhir pekan lalu (9/3) di Tennis Indoor Senayan, Jakarta. (Foto: Arina Habaidillah)

Sabtu kemarin (9/3), acara kesembilan Music Gallery kembali digelar oleh BSO Band FEB UI. Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, Music Gallery kali ini bertempat di Tennis Indoor Senayan. Dari segi venue, 9th Music Gallery lebih oke, khususnya segi keamanan dan kenyamanan dibanding edisi sebelumnya yang berada di Kuningan City. Untuk segi line-up, 9th Music Gallery sepertinya kurang menarik dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Meski mengusung kuartet asal Brighton, FUR,  nyatanya daya tarik 9th Music Gallery belum cukup besar untuk membuat Tennis Indoor penuh sesak. Namun kombinasi band lokal seperti The Upstairs, Elephant Kind, The Changcuters, Rumahsakit, Daramuda, dsb cukup mampu memberikan keseruan tersendiri.

Dimulai sejak pukul 14.00 WIB, keseruan sudah nampak terlihat. Di Ashbury Stage, Oscar Lolang menampilkan set yang manis seperti biasanya. Sementara di Haight Stage, Pamungkas dengan karismanya mampu membuat crowdnya ber-sing a long dengan cukup lantang. Menjelang sore, Ashbury Stage lumayan dibuat penuh oleh Rumahsakit yang membawakan hits-hits andalan mereka. Sebelum maghrib, pentolan Anomalyst, Christianto Ario Wibowo, bersama proyek alter ego nya, Kurosuke juga mampu membuat penonton di Haight Stage bersenandung. Ada yang unik di set Kurosuke, menggandeng vokalis Reality Club, Kurosuke dan Fathia Izzati menghadirkan harmonisasi manis lewat lagu ‘Velvet’ yang merupakan single terbaru Kurosuke.

Setelah maghrib, giliran tiga dara idola kaum adam dan kaum indie yang menyumbangkan suara mereka di Ashbury Stage. Obrolan ringan dan lagu syahdu dari Daramuda membuat penonton Music Gallery dengan enak menikmati senja; tingggal ditambah kopinya saja, semua penonton fix jadi anak skena indie folk. Setelah Daramuda turun panggung, atmosfer berubah 180 derajat menjadi kegilaan yang meroket. Kelompok Penerbang Roket memanaskan malam itu dengan deretan lagu andalannya. Sesekali crow surf dan mosh pit nampak dilakukan para Pencarter Roket. Bergeser ke Haight Stage, The Trees and The Wild disusul oleh Elephant Kind juga tak kalah seru membuat penonton berkaraoke malam itu.

Semakin malam nampaknya semakin gila. Dua band enerjik yang ini mampu menyuguhkan set yang menyenangkan. Di luar, The Changcuters dengan lagu-lagu lawasnya mampu mengembalikan memori masa SMP penonton. Momen unik juga sempat terjadi pada saat The Changcuters mendominasi panggung. Sebelum menyanyikan ‘Pria Idaman Wanita’, Tria (vokalis) sempat ngobrol dengan FUR yang ternyata menyaksikan The Changcuters dari backstage. Spontan Tria langsung berkata kepada FUR, “We’re the greatest band in Indonesia”. Para personel FUR pun merespon dengan tertawa dan tepuk tangan sebelum beranjak ke dalam untuk bersiap. Kemudian The Changcuters kembali melanjutkan kegilaan bersama Changcut Rangers malam itu. Sementara di dalam Haight Stage, dedengkot New Wave ibukota, The Upstairs menyuguhkan lantai dansa yang bertenaga. Sesekali Jimmy berceletuk bahwa mereka bangga karena bisa membuka band legend Psychedelic Furs.

Setelah The Upstairs, akhirnya 9th Music Gallery ditutup oleh FUR. Menghadirkan nuansa 60’s lewat lagu-lagunya, FUR yang pertama kalinya tampil di Indonesia ini mampu menyuguhkan atmosfer yang fun. FUR memang belum menelurkan full album, namun stok single-single dan lagu dari EP Self Titled mereka cukup membuat penonton koor massal. Disela-sela set FUR juga beberapa kali menyelipkan lagu baru, yang kemungkinan akan masuk di album pertama mereka nantinya. Ditutup dengan lagu ‘Angel Eyes’, Haight Stage dibuat histeris ketika William Murray (vokal) turun dari panggung untuk bernyanyi bersama dan menyapa penonton.

Well, sekalipun The 9th Music Gallery terasa kurang menggigit secara kuantitas dan atmosfernya. Namun cukup oke untuk menghabiskan akhir pekan dengan ciamik sekaligus merayakan Hari Musik Nasional yang juga jatuh pada 9 Maret. Selamat Hari Musik Nasional dan sampai jumpa di Music Gallery tahun depan. Cheers!

Teks: Agita Bela Hakiki | Foto: Arina Habaidillah

Continue Reading

REVIEW

Barasuara – Pikiran dan Perjalanan: Mengajak Berkontemplasi Tentang Problematika Manusia

Published

on

  • Barasuara - Pikiran dan Perjalanan (Darlin' Records)
4

Foto: Dok. Barasuara

Hampir empat tahun berselang setelah Taifun, akhirnya Barasuara secara resmi merilis album kedua mereka bertajuk ‘Pikiran dan Perjalanan’. Tak bisa dipungkiri, jadwal manggung yang padat serta kesibukan masing-masing personil membuat proses pengerjaan album ini memakan waktu yang cukup panjang. Tapi penantian panjang Penunggang Badai, sebutan fans Barasuara, nampaknya terbayar lunas di album ini.

Di album kedua ini, sepertinya Barasuara mencoba membuat identitas yang sangat kentara. Sama seperti Taifun, ‘Pikiran dan Perjalanan’ juga berisi sembilan lagu yang karakteristiknya “sangat Barasuara”. Di sisi musikalitas, album yang diproduseri oleh Iga Massardi, Gerald Situmorang, dan Marco Steffiano ini menyajikan beberapa warna baru seperti efek vokal, perkusi, serta paduan terompet dan saxophone yang manis. Kejeniusan Iga, Gerald, dan Marco dalam meramu materi dapat kita nikmati di album kedua ini. Terlebih lagi harmonisasi vokal antara Iga, Asteriska, dan Puti mampu disusun dengan pas dan nendang.

Bergeser ke ranah lirik. Peran Iga Massardi sebagai front-man mampu ia manifestasikan dalam lirik-lirik yang bercerita tentang berbagai macam problematika manusia. Sebagai pembuka, ‘Seribu Racun’ bercerita tentang seseorang yang mencoba melawan dan menjawab semua ketakutan dan pertanyaan dalam pikirannya. Lagu kedua yang juga diambil sebagai judul album mereka ‘Pikiran dan Perjalanan’ menceritakan tentang proses perubahan dan pengambilan keputusan yang terjadi dalam kehidupan manusia. Lanjut ke lagu ketiga ,‘Guna Manusia, yang merupakan single andalan di album ini menceritakan fenomena penurunan tanah yang terjadi di Jakarta yang disebabkan oleh manusia. Sebuah sentilan yang elegan.

Barasuara – Pikiran dan Perjalanan

Sedikit melompat menuju lagu keenam berjudul ‘Masa Mesias Mesias’ yang bisa dibilang menjadi lagu paling outstanding di album ini. Dari segi musik, lagu ini tergolong unik dan fresh. Warna baru Barasuara terlihat jelas di lagu ini. Sementara dari segi lirik, lagu ini mungkin bisa digolongkan sebagai “lagu religi” layaknya ‘Hagia’ di album pertama Barasuara. Namun, jika dicermati kembali liriknya, lagu ini menceritakan tentang fenomena yang akhir-akhir terjadi yaitu aksi yang digadang-gadang membela agama yang justru malah memecah belah.

 

Bergeser menuju lagu kedelapan yang pertama kali dibawakan Barasuara pada tahun 2016 (Taifun Tour) yaitu ‘Samsara’. Lagu yang dirilis sebagai single terbaru Barasuara saat itu mampu menyedot banyak perhatian para Penunggang Badai. Lagu ini sendiri mengandung lirik yang unik. Dibuka dengan tiga kata “Samara, Ani, Jiyana”. Tiga kata ini bisa dibilang jadi peran utama atau representasi manusia di lagu ini. Diambil dari Bahasa Hindi, Samara berarti pertarungan/perjuangan, Ani berarti batasan, dan Jiyana yang berarti kekuatan. Di bagian akhir lagu terdapat repetisi lirik “Kita bisa tenggelam dan bisa padam. Atau bangkit berjalan lalu melawan” yang menegaskan bahwa lagu ini bercerita tentang kehidupan manusia yang berjuang dan bangkit dari setiap masalah yang dia hadapi.

‘Pikiran dan Perjalanan’ adalah sebuah memoir singkat dari Barasuara tentang problematika manusia yang dikemas secara apik dan menyentuh. Album ini sudah bisa kalian nikmati di layanan musik digital dan juga rilisan fisik. Selain itu, Barasuara bersama Darlin’ Records juga menggelar Release Party pada tanggal 13 Maret 2019.

Barasuara – Pikiran dan Perjalanan Tracklist:

  1. Seribu Racun
  2. Pikiran dan Perjalanan
  3. Guna Manusia
  4. Pancarona
  5. Tentukan Arah
  6. Masa Mesias Mesias
  7. Haluan
  8. Samara
  9. Tirai Cahaya
Continue Reading

Surabaya