Christabel Annora & Caranya Ungkapkan Rasa Rindu

Christabel Annora. (Foto: Hendisgorge)

Memasuki penghujung tahun 2016 ini, salah satau solois asal Kota Malang Christabel Annora merilis video klip baru yang diambil dari single keduanya, Rindu Itu Keras Kepala. Dalam klip tersebut, Ista-sapaan akrab Christabel Annora dibantu oleh Prialangga, selaku sutradara merangkap Director of Photography (DOP) serta M.Y. Fahmi yang dipercaya mengerjakan proses editing. klip yang dikerjakan di empat kota itu juga menghadirkan sosok Christabel Annora, dan juga menampilkan Titi Savitri dan Aswin Wiyatmoko sebagai model utama.

Pada dasarnya video klip ini diadaptasi dari lirik lagu Rindu Itu Keras Kepala yang menceritakan tentang bagaimana orang mengatasi rasa rindunya masing-masing. “Alurnya saya coba gambarkan melalui beberapa karakter tokoh. Soal bagaimana setiap karakter itu mencari, menunggu, sampai kemudian pasrah akan kerinduannya masing-masing. Namun video ini tetap membebaskan siapa pun juga untuk mendeskripsikan ceritanya menurut persepsi mereka sendiri,” tutur Prialangga menjelaskan gambaran umum video garapannya.

Prosesnya sendiri terbilang cukup santai. Menurut Christabel Annora, meski digarap di empat kota berbeda yakni Semarang, Surabaya, Malang, dan Yogyakarta, tapi klip ini tidak memakan waktu lama. Terhitung prosesnya hanya memakan waktu seminggu, tepatnya pada bulan Oktober kemarin. “Kebetulan semuanya juga sahabat saya. Jadi enak dalam koordinasi dan proses menuangkan ide-idenya,” ujar Christabel Annora.

Rindu Itu Keras Kepala merupakan single kedua dari Christabel Annora yang diambil dari debut album Talking Days yang rilis bulan Mei kemarin via label Barongsai Records. Bagi Ista, lagu ini bisa dibilang cukup spesial. Karena dalam prosesnya dia turut melibatkan beberapa rekannya, seperti musisi folk kenamaan Malang Iksan Skuter yang mengisi gitar di lagu ini. Begitupun liriknya, Ista terinspirasi dari puisi sahabatnya Nadia Agustina.

“Semua karyanya (Nadia Agustina,red) bagus-bagus sekali, tapi puisi tentang rindu ini yang paling kena ke saya. Rasanya kok pas, karena saya juga sedang mengalami hal yang sama persis seperti yang ditulis Nadia dalam puisinya itu. Lalu, tidak lama kemudian… Jreeeng, jadilah lagu ini.” Imbuhnya. “Kadang soal rindu itu memang susah dipahami. Masing-masing orang kayaknya punya cara-cara tersendiri dalam mengungkapkan rasa rindunya…” tutup Ista.

Melepas lajang di dunia tarik pena dengan menyandang lulusan sastra yang tidak sastrawi, musisi gagal, penimbun berita pil koplo, dan buruh radio.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *