Connect with us
https://ronascent.biz/wp-content/uploads/2017/07/ronascent-adv-copy.jpg

EDITOR'S PICK

Band of the Danger 2016: Kembalinya Beberapa Band Yang Sempat Hiatus

Published

on

Band of the Danger 2016. (Foto: Rido Ramadhan)

Para pelaku terus giat mencoba mengenalkan karyanya, tidak hanya membuat langkah-langkah inovatif tapi juga mencoba hadir sebagai pegiat seni dalam skena musik yang produktif. Dalam sekian banyak yang konsisten, muncul pula beberapa nama lama yang telah bangun dari masa hiatusnya. Tanpa terasa, proses recovery tersebut membawa mereka menjadi begitu disegani lagi di Surabaya.

Timeless

Timeless

Pada medio 2013, seorang kawan menginap dan menyuguhkan sebuah karya band baru. Musik yang segar dalam pikiran saat itu, karena langsung menancap saat pertama kali mendengarkannya. Mungkin saat itu masih subjektif, tapi lambat laun waktu pun merubahnya jadi cukup objektif. Dan benar, sampai sekarang band ini terus melaju kencang dengan karya-karyanya.

Timeless punya karya yang baik dan diolah oleh tangan yang benar-benar baik. Mulai dari perkenalan di We Believe For What We Do Is Timeless (EP), beberapa single ngebut, hingga Between And Beyond sebagai album penuh pertamanya. Kelompok satu ini telah membuktikan kapasitasnya sebagai band yang potensial di scene musik Surabaya. Bahkan band yang terbentuk tahun 2013 ini sempat mencicipi festival musik terbesar Sulawesi, Rock In Celebes 2015.

Kesempatan itu datang berkat kualitas musik mereka yang cukup fresh dan menarik. Ardy Chambers, salah satu penggagas Rock In Celebes yang langsung terpikat saat mendengar lagu-lagunya. Dan di tahun 2016 ini, Timeless tak hentinya bergerak. Di mulai dari awal Januari, masuk studio untuk rekaman Between And Beyond yang rilis September kemarin. Setelah itu, berbagai rangkaian tur juga mereka lakukan hingga puncaknya, kemarin (30/12) kuartet rock ini menutup serangkaian promonya sepanjang 2016 melalui launching party yang cukup ugal-ugalan.

Pig Face Joe

Pig Face Joe

Momen kembali yang sempurna. Dikatakan demikian karena jalan yang mereka lampaui terbilang lancar dan licin hingga akhir tahun. Are You Okay? jadi modal segar bagi Pig Face Joe dengan susunan personil barunya. Diiringi dengan permainan yang lincah di setiap panggung, Pig Face Joe yang awalnya hanya menyisakan seorang personil, tiba-tiba melejit kencang dan menuai benih eksistensi.

Lagipula momen kembalinya Pig Face Joe juga cukup mewarnai pergerakan punk di kota ini. Tepat pada pertengahan 2016, saat hiruk pikuk punk masih begitu-begitu saja di Surabaya, Pig Face Joe muncul kembali dan jadi referensi anyar.  Siapa sangka setelah itu geliat musik punk makin menjadi-jadi. Mulai dari munculnya movement Pop Punk Sub, reuninya The Gamblezz, rilisnya debut album Egon Spengler, sampai mulai bergerliyanya lagi band-band macam Dindapobia dan pastinya kolektif punk lain yang ternyata memang masih banyak jumlahnya.

Indonesian Rice

Indonesian Rice

Seperti yang tertulis pada review album Prolog milik Indonesian Rice, “Bagi orang yang tidak suka reggae pun, Indonesian Rice akan tetap terasa menyenangkan,”. Tidak membual, karena kenyataannya demikian. Setidaknya esensi reggae yang sejatinya lebih segmented mendadak jadi cukup general untuk telinga orang-orang di kota ini.

Muatan unsur funk, hip hop, dub, soul dan tentunya jamaican music begitu melebur halus. Musikalitas mereka tidak perlu dipertanyakan lagi. Karena band ini diisi oleh sosok-sosok yang kompeten dalam urusan tersebut. Bahkan, lirik yang terkesan generik, tetap saja menarik dengan olahan musik ala Indonesian Rice.

Daddy T, sebagai sosok utama dibalik band ini bahkan selalu bisa menyihir penontonnya untuk ikut berdansa ala reggae sambil memaknai pesan-pesan moral dalam bait lirik yang ia lontarkan. Ya, inilah Indonesian Rice. Tahun 2016 jadi tahun di mana mereka kembali bangkit meski dengan mayoritas personil baru. “Yang bisa ngebuat kita ngumpul di Indonesian Rice itu adalah sosok Daddy T. Karya-karyanya bagus, sayang kalo kelewat gitu aja,” cerita Raka, mengenang awal bergabungnya dengan Indonesian Rice.

Fraud

Fraud

Tidak ada yang tidak serius yang dilakukan oleh Fraud. Meski baru enam tahun, tidak sedikit pergerakan yang dilakukannya. Mulai dari album, tur, video klip sampai berbagai gimmick telah dikemas secara serius.

Hulu ledak berbahaya satu ini selalu punya langkah-langkah fenomenal tapi toh juga nantinya akan dikenang. Seperti itulah kiranya Fraud dalam mengorganisir karya-karyanya. Mulai dari yang baru saja mereka kerjakan, video dengan teknik matte painting yang dipadu resolusi 4k. Lalu pesta rilis yang begitu mewah, Brotherground. Hingga kesempatan menggagahi festival – festival musik akbar di lain kota, seperti Hammersonic, Hellshow 2015, dsb telah mereka lewati.

Meski begitu musik yang mereka ramu juga bukan sembarangan. Fraud mencoba membuat tajuk genre sendiri yang dikenal dengan beatdown hardcore. Ingin menulusuri jejak mereka sampai ke hulu maka tengoklah mereka yang aktif di komunitasnya yang tidak hanya di kota asal.

Silampukau

Silampukau

Era Silampukau habis? kami meyakini setidaknya butuh waktu yang tidak sebentar jika saja kontinuitas dari Dosa, Kota, & Kenangan belum ada lanjutannya. Memang band ini benar-benar melejit ke skala nasional di tahun lalu. Tapi jangan lupakan juga dengan apa yang mereka kerjakan di tahun 2016 ini: membuat dua kali pertunjukan tunggal di dua kota berbeda, yakni Jakarta dan Surabaya.

Pergerakan Silampukau sangat tenang namun masif. Dimulai dari tur albumnya yang tak kunjung selesai dalam setahun ke belakang, hingga bulan Agustus 2016 mereka memilih tanggal puncaknya di Surabaya. Gedung bersejarah Cak Durasim jadi saksi betapa eksklusifnya band ini. Menjual lebih dari 500 tiket, berkolaborasi dengan banyak musisi, hingga tata cahaya yang mumpuni. “Pertunjukan ini akan jadi konser terakhir Silampukau,” ucap Anita Silvia, manager, saat bertemu disela progam KIRI bersama Radiogasm. Jelasnya sambil mengutarakan jika Silampukau akan memulai proses berkarya lagi setelah konser tersebut.

Silampukau pun menunjukan akselerasi yang tidak biasa. Hanya butuh dua tahun saja bagi mereka untuk sampai ke titik yang bisa dibilang puncak bagi musisi. Ya, cukup dua tahun bagi dua orang ini setelah mereka menyatakan diri untuk aktif lagi.

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

EDITOR'S PICK

Merayakan 14 Tahun Blingsatan & Meroketnya 6 Rilisan Baru Skena Punk

Published

on

14 Tahun Blingsatan (dari kiri): Saka, Amir, Arief. (Foto: Novan Rebellnoise)

Euforia band gaek asal Surabaya, Blingsatan kemarin tak terbendung lagi. Sehari pasca merayakan hari kemerdekaan Indonesia yang ke-74, trio punk yang beranggotakan Arief, Saka, dan Amir itu juga merayakan hari jadinya yang ke-14. Dengan titel event Merocket #1 yang digelar di M-Radio Surabaya kemarin malam (18/8), mereka sekaligus melempar album The Best of Blingsatan, From The Past For The Future. Di tengah penampilannya, Blingsatan menyematkan seremoni pemotongan kue yang menandakan bertambahnya usia mereka. “Kue ini untuk kita semua, terima kasih yang sudah memberi support buat Blingsatan hingga kini!,” ujar Arief di sela-sela penampilannya.

Dalam setlist semalam, Blingsatan membawakan mayoritas lagu lama, seperti I Don’t Know Where, Belia, Si Sexy, Yang Muda Yang Bercinta, Waiting Is Hard Things To Do dan Berbeda Merdeka. Gigs semalam memang menjadi ajang bersenang-senang. Lupakan sejenak segala kesempurnaan di atas panggung, karena yang ada hanyalah sing along, alkohol, dan colekan kue tart yang menghiasi wajah ketiga personil Blingsatan.

Perayaan ulang tahun Blingsatan pun semakin marak dengan rilisan masal yang dilakukan oleh band-band penampil sebelumnya. Seperti Tulipe de Gezner yang akhirnya merilis album Berdiri Untuk Melangkah. Kemudian Melaju yang memperkenalkan mini albumnya Triakan Kebersamaan serta dua single baru yang meluncur masing-masing dari Dindapobia berjudul Overnow dan  Cheers The Punk dari Radiocase. Dan tentunya juga album digital The Best of Blingsatan, From The Past For The Future yang kabarnya akan menjadi pemanasan bagi Blingsatan untuk merilis album keempatnya.

Merocket #1 akhirnya ditutup lewat penampilan kolaboratif dari Hometown Rockers yang menampilkan musisi-musisi punk dari berbagai band seperti Happy Arabika (Pig Face Joe), Biyan (Plester-X), Paul (Give Me Mona), dan Ucup (Tulipe de Gezner). Menampilkan beberapa hits ala punk rock seperti Blitzkrief Bop, Basketcase, hingga When I Come Arround, mereka pun menutup pesta singkat Blingsatan yang selesai tidak lebih dari jam 9 malam, punk rock yang tertib!

 

Continue Reading

EDITOR'S PICK

Merayakan Hari Musik Nasional Bersama Music Gallery

Published

on

FUR ikut merayakan hari musik nasional di Music Gallery akhir pekan lalu (9/3) di Tennis Indoor Senayan, Jakarta. (Foto: Arina Habaidillah)

Sabtu kemarin (9/3), acara kesembilan Music Gallery kembali digelar oleh BSO Band FEB UI. Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, Music Gallery kali ini bertempat di Tennis Indoor Senayan. Dari segi venue, 9th Music Gallery lebih oke, khususnya segi keamanan dan kenyamanan dibanding edisi sebelumnya yang berada di Kuningan City. Untuk segi line-up, 9th Music Gallery sepertinya kurang menarik dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Meski mengusung kuartet asal Brighton, FUR,  nyatanya daya tarik 9th Music Gallery belum cukup besar untuk membuat Tennis Indoor penuh sesak. Namun kombinasi band lokal seperti The Upstairs, Elephant Kind, The Changcuters, Rumahsakit, Daramuda, dsb cukup mampu memberikan keseruan tersendiri.

Dimulai sejak pukul 14.00 WIB, keseruan sudah nampak terlihat. Di Ashbury Stage, Oscar Lolang menampilkan set yang manis seperti biasanya. Sementara di Haight Stage, Pamungkas dengan karismanya mampu membuat crowdnya ber-sing a long dengan cukup lantang. Menjelang sore, Ashbury Stage lumayan dibuat penuh oleh Rumahsakit yang membawakan hits-hits andalan mereka. Sebelum maghrib, pentolan Anomalyst, Christianto Ario Wibowo, bersama proyek alter ego nya, Kurosuke juga mampu membuat penonton di Haight Stage bersenandung. Ada yang unik di set Kurosuke, menggandeng vokalis Reality Club, Kurosuke dan Fathia Izzati menghadirkan harmonisasi manis lewat lagu ‘Velvet’ yang merupakan single terbaru Kurosuke.

Setelah maghrib, giliran tiga dara idola kaum adam dan kaum indie yang menyumbangkan suara mereka di Ashbury Stage. Obrolan ringan dan lagu syahdu dari Daramuda membuat penonton Music Gallery dengan enak menikmati senja; tingggal ditambah kopinya saja, semua penonton fix jadi anak skena indie folk. Setelah Daramuda turun panggung, atmosfer berubah 180 derajat menjadi kegilaan yang meroket. Kelompok Penerbang Roket memanaskan malam itu dengan deretan lagu andalannya. Sesekali crow surf dan mosh pit nampak dilakukan para Pencarter Roket. Bergeser ke Haight Stage, The Trees and The Wild disusul oleh Elephant Kind juga tak kalah seru membuat penonton berkaraoke malam itu.

Semakin malam nampaknya semakin gila. Dua band enerjik yang ini mampu menyuguhkan set yang menyenangkan. Di luar, The Changcuters dengan lagu-lagu lawasnya mampu mengembalikan memori masa SMP penonton. Momen unik juga sempat terjadi pada saat The Changcuters mendominasi panggung. Sebelum menyanyikan ‘Pria Idaman Wanita’, Tria (vokalis) sempat ngobrol dengan FUR yang ternyata menyaksikan The Changcuters dari backstage. Spontan Tria langsung berkata kepada FUR, “We’re the greatest band in Indonesia”. Para personel FUR pun merespon dengan tertawa dan tepuk tangan sebelum beranjak ke dalam untuk bersiap. Kemudian The Changcuters kembali melanjutkan kegilaan bersama Changcut Rangers malam itu. Sementara di dalam Haight Stage, dedengkot New Wave ibukota, The Upstairs menyuguhkan lantai dansa yang bertenaga. Sesekali Jimmy berceletuk bahwa mereka bangga karena bisa membuka band legend Psychedelic Furs.

Setelah The Upstairs, akhirnya 9th Music Gallery ditutup oleh FUR. Menghadirkan nuansa 60’s lewat lagu-lagunya, FUR yang pertama kalinya tampil di Indonesia ini mampu menyuguhkan atmosfer yang fun. FUR memang belum menelurkan full album, namun stok single-single dan lagu dari EP Self Titled mereka cukup membuat penonton koor massal. Disela-sela set FUR juga beberapa kali menyelipkan lagu baru, yang kemungkinan akan masuk di album pertama mereka nantinya. Ditutup dengan lagu ‘Angel Eyes’, Haight Stage dibuat histeris ketika William Murray (vokal) turun dari panggung untuk bernyanyi bersama dan menyapa penonton.

Well, sekalipun The 9th Music Gallery terasa kurang menggigit secara kuantitas dan atmosfernya. Namun cukup oke untuk menghabiskan akhir pekan dengan ciamik sekaligus merayakan Hari Musik Nasional yang juga jatuh pada 9 Maret. Selamat Hari Musik Nasional dan sampai jumpa di Music Gallery tahun depan. Cheers!

Teks: Agita Bela Hakiki | Foto: Arina Habaidillah

Continue Reading

REVIEW

Barasuara – Pikiran dan Perjalanan: Mengajak Berkontemplasi Tentang Problematika Manusia

Published

on

  • Barasuara - Pikiran dan Perjalanan (Darlin' Records)
4

Foto: Dok. Barasuara

Hampir empat tahun berselang setelah Taifun, akhirnya Barasuara secara resmi merilis album kedua mereka bertajuk ‘Pikiran dan Perjalanan’. Tak bisa dipungkiri, jadwal manggung yang padat serta kesibukan masing-masing personil membuat proses pengerjaan album ini memakan waktu yang cukup panjang. Tapi penantian panjang Penunggang Badai, sebutan fans Barasuara, nampaknya terbayar lunas di album ini.

Di album kedua ini, sepertinya Barasuara mencoba membuat identitas yang sangat kentara. Sama seperti Taifun, ‘Pikiran dan Perjalanan’ juga berisi sembilan lagu yang karakteristiknya “sangat Barasuara”. Di sisi musikalitas, album yang diproduseri oleh Iga Massardi, Gerald Situmorang, dan Marco Steffiano ini menyajikan beberapa warna baru seperti efek vokal, perkusi, serta paduan terompet dan saxophone yang manis. Kejeniusan Iga, Gerald, dan Marco dalam meramu materi dapat kita nikmati di album kedua ini. Terlebih lagi harmonisasi vokal antara Iga, Asteriska, dan Puti mampu disusun dengan pas dan nendang.

Bergeser ke ranah lirik. Peran Iga Massardi sebagai front-man mampu ia manifestasikan dalam lirik-lirik yang bercerita tentang berbagai macam problematika manusia. Sebagai pembuka, ‘Seribu Racun’ bercerita tentang seseorang yang mencoba melawan dan menjawab semua ketakutan dan pertanyaan dalam pikirannya. Lagu kedua yang juga diambil sebagai judul album mereka ‘Pikiran dan Perjalanan’ menceritakan tentang proses perubahan dan pengambilan keputusan yang terjadi dalam kehidupan manusia. Lanjut ke lagu ketiga ,‘Guna Manusia, yang merupakan single andalan di album ini menceritakan fenomena penurunan tanah yang terjadi di Jakarta yang disebabkan oleh manusia. Sebuah sentilan yang elegan.

Barasuara – Pikiran dan Perjalanan

Sedikit melompat menuju lagu keenam berjudul ‘Masa Mesias Mesias’ yang bisa dibilang menjadi lagu paling outstanding di album ini. Dari segi musik, lagu ini tergolong unik dan fresh. Warna baru Barasuara terlihat jelas di lagu ini. Sementara dari segi lirik, lagu ini mungkin bisa digolongkan sebagai “lagu religi” layaknya ‘Hagia’ di album pertama Barasuara. Namun, jika dicermati kembali liriknya, lagu ini menceritakan tentang fenomena yang akhir-akhir terjadi yaitu aksi yang digadang-gadang membela agama yang justru malah memecah belah.

 

Bergeser menuju lagu kedelapan yang pertama kali dibawakan Barasuara pada tahun 2016 (Taifun Tour) yaitu ‘Samsara’. Lagu yang dirilis sebagai single terbaru Barasuara saat itu mampu menyedot banyak perhatian para Penunggang Badai. Lagu ini sendiri mengandung lirik yang unik. Dibuka dengan tiga kata “Samara, Ani, Jiyana”. Tiga kata ini bisa dibilang jadi peran utama atau representasi manusia di lagu ini. Diambil dari Bahasa Hindi, Samara berarti pertarungan/perjuangan, Ani berarti batasan, dan Jiyana yang berarti kekuatan. Di bagian akhir lagu terdapat repetisi lirik “Kita bisa tenggelam dan bisa padam. Atau bangkit berjalan lalu melawan” yang menegaskan bahwa lagu ini bercerita tentang kehidupan manusia yang berjuang dan bangkit dari setiap masalah yang dia hadapi.

‘Pikiran dan Perjalanan’ adalah sebuah memoir singkat dari Barasuara tentang problematika manusia yang dikemas secara apik dan menyentuh. Album ini sudah bisa kalian nikmati di layanan musik digital dan juga rilisan fisik. Selain itu, Barasuara bersama Darlin’ Records juga menggelar Release Party pada tanggal 13 Maret 2019.

Barasuara – Pikiran dan Perjalanan Tracklist:

  1. Seribu Racun
  2. Pikiran dan Perjalanan
  3. Guna Manusia
  4. Pancarona
  5. Tentukan Arah
  6. Masa Mesias Mesias
  7. Haluan
  8. Samara
  9. Tirai Cahaya
Continue Reading

Surabaya