Band of the Danger 2016: Kembalinya Beberapa Band Yang Sempat Hiatus

Band of the Danger 2016. (Foto: Rido Ramadhan)

Para pelaku terus giat mencoba mengenalkan karyanya, tidak hanya membuat langkah-langkah inovatif tapi juga mencoba hadir sebagai pegiat seni dalam skena musik yang produktif. Dalam sekian banyak yang konsisten, muncul pula beberapa nama lama yang telah bangun dari masa hiatusnya. Tanpa terasa, proses recovery tersebut membawa mereka menjadi begitu disegani lagi di Surabaya.

Timeless

Timeless

Pada medio 2013, seorang kawan menginap dan menyuguhkan sebuah karya band baru. Musik yang segar dalam pikiran saat itu, karena langsung menancap saat pertama kali mendengarkannya. Mungkin saat itu masih subjektif, tapi lambat laun waktu pun merubahnya jadi cukup objektif. Dan benar, sampai sekarang band ini terus melaju kencang dengan karya-karyanya.

Timeless punya karya yang baik dan diolah oleh tangan yang benar-benar baik. Mulai dari perkenalan di We Believe For What We Do Is Timeless (EP), beberapa single ngebut, hingga Between And Beyond sebagai album penuh pertamanya. Kelompok satu ini telah membuktikan kapasitasnya sebagai band yang potensial di scene musik Surabaya. Bahkan band yang terbentuk tahun 2013 ini sempat mencicipi festival musik terbesar Sulawesi, Rock In Celebes 2015.

Kesempatan itu datang berkat kualitas musik mereka yang cukup fresh dan menarik. Ardy Chambers, salah satu penggagas Rock In Celebes yang langsung terpikat saat mendengar lagu-lagunya. Dan di tahun 2016 ini, Timeless tak hentinya bergerak. Di mulai dari awal Januari, masuk studio untuk rekaman Between And Beyond yang rilis September kemarin. Setelah itu, berbagai rangkaian tur juga mereka lakukan hingga puncaknya, kemarin (30/12) kuartet rock ini menutup serangkaian promonya sepanjang 2016 melalui launching party yang cukup ugal-ugalan.

Pig Face Joe

Pig Face Joe

Momen kembali yang sempurna. Dikatakan demikian karena jalan yang mereka lampaui terbilang lancar dan licin hingga akhir tahun. Are You Okay? jadi modal segar bagi Pig Face Joe dengan susunan personil barunya. Diiringi dengan permainan yang lincah di setiap panggung, Pig Face Joe yang awalnya hanya menyisakan seorang personil, tiba-tiba melejit kencang dan menuai benih eksistensi.

Lagipula momen kembalinya Pig Face Joe juga cukup mewarnai pergerakan punk di kota ini. Tepat pada pertengahan 2016, saat hiruk pikuk punk masih begitu-begitu saja di Surabaya, Pig Face Joe muncul kembali dan jadi referensi anyar.  Siapa sangka setelah itu geliat musik punk makin menjadi-jadi. Mulai dari munculnya movement Pop Punk Sub, reuninya The Gamblezz, rilisnya debut album Egon Spengler, sampai mulai bergerliyanya lagi band-band macam Dindapobia dan pastinya kolektif punk lain yang ternyata memang masih banyak jumlahnya.

Indonesian Rice

Indonesian Rice

Seperti yang tertulis pada review album Prolog milik Indonesian Rice, “Bagi orang yang tidak suka reggae pun, Indonesian Rice akan tetap terasa menyenangkan,”. Tidak membual, karena kenyataannya demikian. Setidaknya esensi reggae yang sejatinya lebih segmented mendadak jadi cukup general untuk telinga orang-orang di kota ini.

Muatan unsur funk, hip hop, dub, soul dan tentunya jamaican music begitu melebur halus. Musikalitas mereka tidak perlu dipertanyakan lagi. Karena band ini diisi oleh sosok-sosok yang kompeten dalam urusan tersebut. Bahkan, lirik yang terkesan generik, tetap saja menarik dengan olahan musik ala Indonesian Rice.

Daddy T, sebagai sosok utama dibalik band ini bahkan selalu bisa menyihir penontonnya untuk ikut berdansa ala reggae sambil memaknai pesan-pesan moral dalam bait lirik yang ia lontarkan. Ya, inilah Indonesian Rice. Tahun 2016 jadi tahun di mana mereka kembali bangkit meski dengan mayoritas personil baru. “Yang bisa ngebuat kita ngumpul di Indonesian Rice itu adalah sosok Daddy T. Karya-karyanya bagus, sayang kalo kelewat gitu aja,” cerita Raka, mengenang awal bergabungnya dengan Indonesian Rice.

Fraud

Fraud

Tidak ada yang tidak serius yang dilakukan oleh Fraud. Meski baru enam tahun, tidak sedikit pergerakan yang dilakukannya. Mulai dari album, tur, video klip sampai berbagai gimmick telah dikemas secara serius.

Hulu ledak berbahaya satu ini selalu punya langkah-langkah fenomenal tapi toh juga nantinya akan dikenang. Seperti itulah kiranya Fraud dalam mengorganisir karya-karyanya. Mulai dari yang baru saja mereka kerjakan, video dengan teknik matte painting yang dipadu resolusi 4k. Lalu pesta rilis yang begitu mewah, Brotherground. Hingga kesempatan menggagahi festival – festival musik akbar di lain kota, seperti Hammersonic, Hellshow 2015, dsb telah mereka lewati.

Meski begitu musik yang mereka ramu juga bukan sembarangan. Fraud mencoba membuat tajuk genre sendiri yang dikenal dengan beatdown hardcore. Ingin menulusuri jejak mereka sampai ke hulu maka tengoklah mereka yang aktif di komunitasnya yang tidak hanya di kota asal.

Silampukau

Silampukau

Era Silampukau habis? kami meyakini setidaknya butuh waktu yang tidak sebentar jika saja kontinuitas dari Dosa, Kota, & Kenangan belum ada lanjutannya. Memang band ini benar-benar melejit ke skala nasional di tahun lalu. Tapi jangan lupakan juga dengan apa yang mereka kerjakan di tahun 2016 ini: membuat dua kali pertunjukan tunggal di dua kota berbeda, yakni Jakarta dan Surabaya.

Pergerakan Silampukau sangat tenang namun masif. Dimulai dari tur albumnya yang tak kunjung selesai dalam setahun ke belakang, hingga bulan Agustus 2016 mereka memilih tanggal puncaknya di Surabaya. Gedung bersejarah Cak Durasim jadi saksi betapa eksklusifnya band ini. Menjual lebih dari 500 tiket, berkolaborasi dengan banyak musisi, hingga tata cahaya yang mumpuni. “Pertunjukan ini akan jadi konser terakhir Silampukau,” ucap Anita Silvia, manager, saat bertemu disela progam KIRI bersama Radiogasm. Jelasnya sambil mengutarakan jika Silampukau akan memulai proses berkarya lagi setelah konser tersebut.

Silampukau pun menunjukan akselerasi yang tidak biasa. Hanya butuh dua tahun saja bagi mereka untuk sampai ke titik yang bisa dibilang puncak bagi musisi. Ya, cukup dua tahun bagi dua orang ini setelah mereka menyatakan diri untuk aktif lagi.

Pelaku musik yang tak pernah laku di pasaran. Kini sedang belajar menulis demi mencari cerminan diri sendiri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *