Connect with us
https://ronascent.biz/wp-content/uploads/2017/07/ronascent-adv-copy.jpg

EVENTS

We Are The Pigs Vol.2; Pesta Britpop Di Tengah Hujan

Published

on

watp-crowd-3

We Are The Pigs Vol2.: Pesta britpop di tengah guyuran hujan. (Foto: Rizky Endar)

Guyuran hujan di kota Malang sejak siang hari sedikit meresahkan. Hal ini dirasa oleh panitia We Are The Pigs Vol.2 Sabtu (5/11) lalu karena hujan dirasa akan mengendorkan bilangan orang untuk menikmati pesta Britpop di sana. Namun kenyataan berkata lain, barisan pemuda kota Malang hadir bergiliran hingga memenuhi Komika Warung Kopi Malang.

Dirasa cukup padat, We Are The Pigs Vol. 2 resmi dibuka pukul 7 malam, band asal Surabaya, Combo, membuka pergelaran ini dengan beberapa lagu dari Blur seperti Coffee & TV dan Boys and Girls. Pemanasan berikutnya datang dari setlist The Smith yang mulai dilantunkan Much. Please, Please, Please Let Me Get What I Want jadi pembukanya dan There Is A Light That Never Goes Out lanjut jadi track kedua sebelum unit indie rock asal Malang dengan duo vokal Dandy dan Aulia ini melantunkan karya mereka sendiri.

Selepas itu, situasi dikendalikan oleh Ikkubaru. Band asal Bandung yang menghentak dengan lagu-lagu dari Ride seperti Kaleidoscope dan Vapour Trail. Mic sebagai tongkat estafet pun diberikan kepada The Breakfast Club yang kemudian mengajak penonton untuk mengingat masa kejayaan Ian Brown, cs dengan melantunkan lagu-lagu The Stone Roses antar lain Ten Story Love Song dan I Wanna Be Adored.

watp-much

Jagoan Malang, Much yang membawakan lagu-lagu dari The Smith. (Foto: Rizky Endar)

We Are The Pigs masih tetap berjalan. Kali ini stage dikuasai oleh Lightcraft asal Jakarta yang berperan sebagai Coldplay dan menyanyikan track Coldplay seperti Yellow dan Clocks. Barulah band yang akan terbang ke Kanada untuk berpartisipasi dalam Indie Week Canada minggu ini membawakan materi dari EP Another Life. Lain lagi dengan Young Savages, unit indie rock asal Malang ini semakin memanaskan panggung dengan cover Britpop legendaris, Suede melalui lagu Chemistry Between Us dan Beautiful Ones.

Tak peduli hujan, pesta tetap berjalan aman dan bahkan semakin panas hingga Peonies didapuk sebagai penutup acara. Peonies, yang pada malam itu membawakan lagu-lagu The Cure versi mereka sendiri tidak harus bekerja terlalu keras karena 250 penonton di Komika Warung Kopi Malang sangat bersemangat untuk bernyanyi. Bahkan penonton mengambil alih dalam urusan tarik suara. Sebagai encore mereka pun menyanyikan karyanya dari album Landscape yang bernuansa surf-dream pop.

We Are The Pigs Vol.2 sendiri merupakan gig tahunan yang mengusung tema “Tribute To Britpop” di mana band yang dipilih sebagai pengisi acara selain menyanyikan karya sendiri juga melantunkan lagu para influence-nya. “Semoga kedepannya banyak bermunculan band2 indie pop/ rock baru yang nantinya bisa turut berpartisipasi dalam acara ini, dan bermunculan gigs gigs serupa yang tidak kalah seru,” ujar Mucho.

Mucho Karmuko & Robertus Donny Hendrawan-lah yang memprakasai We Are The Pigs. Dan kegiatan ini mendapat sambutan positif dari para penikmat musik di Kota Malang dan sekitarnya. Inilah kolektif penggerak skena musik pop indie di Malang yang bertujuan untuk mengangkat kembali pergerakan musik di “Skena Pop” kota Malang.

Pelaku musik yang tak pernah laku di pasaran. Kini sedang belajar menulis demi mencari cerminan diri sendiri.

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

EVENTS

Gallery: Perayaan Drowning In Sadness War Fighters

Published

on

Perayaan Drowning In Sadness, album pertama War Fighters berlangsung di Rumah Jaman Now (OJN) Surabaya. Kami menangkap beberapa momen bahagia dari hubungan para performer dengan penonton. Alhasil, inilah sajian visual bagi kalian yang tak sempat datang pada pesta perayaan War Fighters.

Seorang mahasiswa hampir abadi yang menghabiskan sebagian besar waktu di kehidupanya dengan hal hal penuh manfaat seperti mengabadikan wajah wajah ekstase para pemuda pemudi bangsa di atas panggung.

Continue Reading

EDITOR'S PICK

Berselancarnya The Panturas & Polka Wars di Surabaya

Published

on

Ada sedikit keraguan kala The Panturas gagal berselancar di Surabaya Oktober kemarin. Nuansa surf-rock yang diusung sekelompok alumnus jurnalistik ini tidak memancar, mereka justru hanya terdengar sebagai band rock melayu biasa. Namun ketika Buka Musik Connectified chapter Surabaya membawa mereka ke Nens Corner akhir pekan kemarin (14/12), ceritanya berbeda. The Panturas benar-benar Mabuk Laut bersama ratusan penonton yang merelakan mata perih karena asap rokok hingga kepala puyeng akibat alkohol.

Bagi sebagian besar penonton yang hadir, kami yakin mereka semua mendapat klimaks. Diawali dengan dua band pendatang baru Surabaya yang unjuk gigi; Alter dan Eisen, hingga dibawa membeku bersama Cotswolds dan puncak dari segala kerusuhan ada pada si protagonis Polka Wars. Pemilik album Axis Mundi ini sejatinya menurunkan tempo pasca meliarnya crowd The Panturas. Tapi tak bisa dipungkiri jika musikalitas terus memancarkan aura semangat. Setidaknya, Surabaya telah memberikan kesan manis bagi Polka Wars dan The Panturas yang hingga akhir tahun ini melaksanakan tur di 6 kota di bawah platform musik Buka Musik milik Bukalapak.

Anak muda penuh semangat tapi tidak bergairah, suka melakukan banyak hal baru dan sedang berstatus mahasiswa aktif dengan doa semoga lulus tepat waktu dan segera mempunyai penghasilan.

Continue Reading

EVENTS

The 41st Jazz Goes to Campus: Kejayaan Musik Jazz Masih Dimulai Dari Kampus

Published

on

Jika menengok kembali sejarah musik jazz di Indonesia, dunia kampus memang berperan penting dalam perkembangan musik ini. Salah satunya adalah Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia. Lewat Jazz Goes to Campus, musik jazz bisa dikenal dan mendapat tempat tersendiri di telinga mahasiswa. Tahun ini, JGTC sudah memasuki tahun ke-41. Sebuah perjalanan yang tak singkat memang. Konsistensi JGTC dalam menghadirkan sajian musik jazz yang segar mampu membuat acara ini bertahan hingga lebih dari empat dekade.

Minggu, 2 Desember 2018, 41stJazz Goes to Campus yang mengusung tema“Bring The Jazz On” kembali digelar di lingkungan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia. Sama seperti tahun-tahun sebelumnya, JGTC selalu berhasil menyedot animo yang luar biasa. Sejak pukul 12.30 antrean sudah mulai penuh sesak untuk memasuki kawasan acara. Sekitar pukul 13.00 acara dimulai dan dibuka oleh penampilan dari beberapa band kampus dan pemenang JGTC Band Competition.

Menjelang sore, penonton mulai memadati Sprite Stage untuk menyaksikan Maliq & D’Essentials. Antusiasme penonton sangat liar sore itu. Sprite Stage penuh sesak dengan penonton yang ingin menyaksikan Maliq & D’Essentials. Membawakan tembang-tembang hits seperti Dia dan Untitled, Maliq & D’Essentials sukses memanaskan sore yang mendung kemarin. Bergeser ke Kopiko Stage, grup musik parodi asal Bandung, Project Pop juga mampu menyedot animo penonton yang ingin bernostalgia dengan lagu-lagu lawas mereka. Track andalan seperti Gara-gara Kahitna, Metal vs. Dugem, dan Ingatlah Hari Ini sukses membuat penonton bernyanyi bersama. Disela-sela lagu lama yang nangkring di setlists, Project Pop juga sempat membawakan lagubaru yang berjudul Coconut dan sukses mengajak penonton untuk bergoyang bersama.

Menjelang maghrib, JGTC sempat diguyur hujan yang cukup deras dan sempat membuat penonton yang tidak membawa jas hujan kocar-kacir mencari tempat berteduh. Untungnya hujan tidak berlangsung lama, karena di Indofood Stage, Vira Talisa sudah bersiap untuk menghangatkan malam setelah hujan. Walaupun tidak terlalu ramai, karena banyak penonton yang sudah memenuhi Kopiko Stage untuk menunggu Boyzlife, set Vira Talisa malam itu tetap syahdu. Pindah ke Kopiko Stage, Boyzlife dengan mudahnya membuat para penonton histeris. Hanya bermodalkan rekaman lawas lagu-lagu Boyzone dan Westlife, Keith Duffy dan Brian McFadden sukses berkaraoke bersama penonton. Set yang minimalis, tanpa band pengiring, dan hanya bermodal rekaman minus one membuat Boyzlife tidak memiliki daya tarik yang lebih selain hanya lagu-lagu hits lawas mantan boyband mereka dulu.

Kembali ke Sprite Stage, kali ini giliran Glenn Fredly yang menghangatkan malam para pecinta jazz di JGTC. Penuh dan lantang. Begitulah kira-kira gambaran crowd yang menonton Glenn Fredly kemarin. Dari awal set hingga akhir, semua penonton sangat kompak menyanyikan lagu-lagu Glenn Fredly. Terlebih lagi ketika lagu Terserah, koor massal yang gila bisa terdengar dari depan hingga belakang. Dan di panggung yang sama sebagai penutup JGTC, Reza Artamevia juga berhasil membawa para penonton bernostalgia dengan tembang-tembang lawas miliknya. Walaupun sudah tak muda lagi, Reza tetap energik dan interaktif dengan penonton JGTC.

Dengan tema yang diusung, pagelaran JGTC tahun ini cukup sukses membawa kembali musik jazz. Bermodal track record yang bagus JGTC menjadi salah satu festival jazz yang ditunggu-tunggu setiap tahunnya. Seperti apakah kejutan JGTC tahun depan. We’ll see!

 

Teks: Agita Bela | Foto:  Adrian Daniarsyah

An amateur dilettante | Straight Edge | Star Wars’ die-hard fans | Records Junkie |

Continue Reading

Surabaya