Connect with us
https://ronascent.biz/wp-content/uploads/2017/07/ronascent-adv-copy.jpg

EVENTS

Penyerentakkan Musik Indonesia Di Synchronize Fest

Published

on

sychronize-fest-02

Ratusan musisi dalam tiga hari, Sychronize Fest untuk pertama kalinya sukses digelar di Jakarta. (Foto: @extrajose_)

Syncronize atau yang dalam KBBI menjadi kata sinkronisasi, memiliki arti perihal menyinkronkan atau lebih singkatnya: penyerentakan. Dalam hal apa? Tentunya dalam menjalankan tugas dan fungsinya masing-masing. Sementara itu, beberapa waktu lalu di Jakarta, tepatnya 28 – 30 Oktober kemarin telah digelar untuk pertama kalinya sebuah festival musik yang dinamai dengan Syncronize Festival.

Dyandra Promosindo beserta label rekaman Demajors selaku penyelenggara mengatakan jika Syncronize Festival ini adalah festival musik multi-genre berskala nasional yang mengundang puluhan ribu penonton untuk merayakan keberagaman jenis musik dari berbagai dekade. Secara gamblang hal ini dibuktikan dengan keragaman 104 artis musik yang menjadi penampil di atas lima panggung dalam tiga hari penyelenggaraan.

“Kami mengkurasi band-band yang main di sini, pertama-tama kami pecah berdasarkan tahun eksis, siapa aja sih band-band yang punya peranan penting dan pernah stand out di masanya. Kayak Soneta dan OM PMR dari 70-an, Krakatau dari 80-an,” tutur Rizky Aulia “Ucup”, Program Director acara ini.

Baru setelah itu pihak penyelenggara membagi lagi berdasarkan genre dan daerah asal band tersebut. Maka jangan kaget jika tiba-tiba muncul nama dedengkot punk Begundal Lowokwaru yang berbagi panggung dengan orkes legenda OM PMR di Lake Stage pada hari kedua festival ini.

Begitupun Silampukau dan The Ska Banton, kelompok musik asal Surabaya yang berbagi panggung dengan Heals dari Bandung, atau The Kuda dari Bogor. Ini jelas pengalaman langka yang belum pernah ditemui di festival musik manapun di Negeri ini. Sebut saja Soundrenaline, Kickfest, We The Fest, atau RRRecFest yang pernah mengundang OM PMR sekali pun rasanya tidak akan seikhlas ini menyerentakan musik Indonesia.

Beranjak ke pencuri panggung a.k.a show stealer di tiap aksi panggung, jika hal tersebut dibahas secara utuh dan lengkap nampaknya akan membuat pembaca menjadi lelah dan artikel ini kian ngalor-ngidhul nantinya. Maka berikut paparan singkatnya.

Dari Hattrick Coki Sampai Rebecca yang Aduhai

sychronize-fest-01

Choki hattrick dengan tampil 3 kali di hari yang sama di Sychronize Fest. (Foto: @extrajose_)

Hattrick Coki Bollemeyer di hari pertama Syncronize Festival 2016 cukup menyita perhatian beberapa awak media musik juga rekan satu band Coki. “Andai aja Coki masih lanjut di panggung barengDeadsquad, mungkin kelar dia malam ini. Tiga panggung aja udah modyar, ya Cok,” singgung Bagus Dhanar Dhana, vokalis-pemain bass NTRL kepada gitarisnya saat tampil di Dynamic Stage hari pertama (28/10).

Coki memang nge-gas maksimal di hari pertama. Tiga bandnya : NTRL, Blackteeth, hingga proyek fusion jazz teranyarnya, Sunyotok, ketiganya main di hari itu. Beruntung Coki sudah resign dari Deadsquad, yang juga menjadi headliner di hari pertama Forest Stage. Setidaknya dari tiga band Coki yang berbeda genre: NTRL- rock alternatif, Blackteeth – punkrock, hingga free-jazz ala Sunyotok sudah menggambarkan jelas betapa lebarnya cakupan genre musik yang bermain di festival ini.

Selain Coki Bollemeyer yang dapat gelar man of the match di hari itu, The Upstairs dan Sheila On 7 juga layak mendapatkan gelar sebagai show stealer hari pertama. The Upstairs kian memukau dengan penyanyi latar Rebecca yang tampil aduhai mengenakan dress hitam dan dansa ala modern darling di sepanjang penampilan. Panggung The Upstairs pun ditutup dengan apik melalui “Matraman” yang kembali menampilkan suara vokal latar sesungguhnya, Rebecca.

Lain The Upstairs, lain juga Sheila On 7. Meski sempat diwarnai insiden genset listrik yang mati, namun lima ribuan Sheilagank yang bertahan hingga pukul 12 malam tetap setia menanti Duta (vokal), Eross (gitar), Adam (bass), dan Brian (drum). Mereka tetap kekeuh di depan panggung menanti band asal Jogja ini menyelesaikan malam dengan berlapang dada.

Wejangan “Mirasantika” yang Memabukan

Di hari kedua,  Rhoma Irama dan Soneta Group jelas jadi yang paling ditunggu oleh 10 ribu lebih pengunjung. Memulai aksi di Dynamic Stage tepat pukul 00.00, penampilan sang raja dangdut seakan jadi klimaks prematur dari festival ini.

soneta-group

Soneta Group, musisi paling ditunggu di Sychronize Fest. (Foto: M.Zaki)

Digelontor dengan wejangan lagu “Mirasantika” justru membuat penonton kian agresif menuangkan cairan-cairan memabukan tersebut. Dengan kesadaran yang mungkin hanya mencapai setengah, barisan depan anak-anak muda di panggung ini berjoged maksimal seakan ini adalah kali pertama dan terakhir mereka menikmati lantunan syahdu sang raja Dangdut.

Penampilan Soneta Group pun diakhiri dengan encore dua lagu: “Begadang” dan “Darah Muda” yang tentunya membuat malam kedua Syncronize Fest ditutup dengan penuh gairah serta tingkat kesadaran diri yang minimal. “Sudah seharusnya festival musik di Indonesia itu menghadirkan dangdut sebagai headlinernya. Bukan malah artis luar negeri. Ini baru festival keren. Hahaha,” lantur Iqbal Harahap, salah satu penonton yang juga sudah setengah sadar mengomentari festival hari kedua.

Kembalinya Cholil Hingga Glenn Fredly yang Menggemari KPR

sychronize-fest-03

Efek Rumah Kaca yang tampil dengan formasi lengkap bersama Cholil. (Foto: @extrajose_)

Di penghujung festival, tepatnya di hari ketiga (30/10) para pengunjung terlihat lebih ramai. Dan mungkin yang paling ramai diantara dua hari sebelumnya. Maklum, pengisi acara di hari ketiga rentan dengan massa yang berjubel. Sebut saja Tony Q Rastafara, Koil, Maliq & D’Essential, Tulus, Seringai, Barasuara, Shaggy Dog, hingga Efek Rumah Kaca yang dalam kesempatan ini kembali menghadirkan vokalis-gitaris Cholil Mahmud dan ERK formasi lengkap.

Lantas kesempatan itu jelas dimaksimalkan Cholil dengan lagu-lagu andalan seperti: “Sebelah Mata”, “Pasar Bisa Diciptakan”, “Hujan Jangan Marah”, “Desember”, sampai lagu “Putih” yang selalu mengingatkan kita akan peristiwa kematian.

Hari ketiga, Syncronize Festival pun ditutup dengan penampilan Glenn Fredly. Uniknya malam itu Glenn tampil dengan mengenakan kaos band Kelompok Penerbang Roket. “Gue adalah salah satu penggemar dari band Kelompok Penerbang Roket, seperti baju yang gue pakai sekarang,” aku Glenn dari atas Dynamic Stage di hari terakhir. “Mereka lagi kenceng menjadi daftar putar gue,” sambungnya lagi. Penampilan Glenn dengan membawakan “You Are My Everything” pun akhirnya menutup Syncronize Festival 2016.

Arek Suroboyo asli lulusan kuli aplikasi messenger Jepang-Korea ini masih berusaha bertahan di dunia digital sambil menyambung hidup menjadi peliput musik akhir pekan. Gemar sekali dengan Sheila On 7 dan kasur-bantal-guling

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

EVENTS

Galeri Foto: Synchronize Fest 2018

Published

on

Selama tiga hari kami berkelana di tengah padatnya Gambir Expo Kemayoran, Jakarta. Baik di atas atau bawah stage terasa sesak. Mata dan telinga kami kenyang terpuaskan oleh penampilan ratusan musisi lintas generasi. Sebuah kenyataan di mana musik Indonesia memang beragam dan menyenangkan. Silahkan menikmati hasil jepretan fotografer kami.

Tukang Foto keliling, yang berusaha segiat mungkin, demi mengisi dompet dan perutnya.

Continue Reading

EDITOR'S PICK

Menengok Wajah Musik Indonesia di Synchronize Fest 2018

Published

on

Sinkronisasi musisi antar generasi masih jadi issue utama di Synchronize Fest ketiganya. (Foto: Agastiko)

“Jika ada orang tanya, seperti apa sih musik Indonesia? Suruh datang aja ke Synchronize Festival.” Begitulah kira-kira celetuk Iga Masardi di sela-sela set Barasuara di event tersebut. Yap, tahun ini salah satu festival musik terbesar di Indo ini kembali menyapa pemuda-pemudi yang haus akan lantunan musik Indonesia dari generasi ke generasi.

Festival musik yang dikerjakan Dyandra Promosindo dan Demajors ini kembali digelar untuk ketiga kalinya di Gambir Expo Kemayoran, Jakarta. Seperti tahun-tahun sebelumnya, signature Synchronize Festival ada deretan pengisi acara yang banyak, hingga ratusan. Lelah? memang. Tapi mood yang terbangun untuk melihat segala macam bentuk dan tampilan musik lintas genre mengalahkan segalanya. Hiperboliknya, event ini sudah cukup menggambarkan wajah musik Indonesia dulu dan sekarang.

.Feast di Synchronize Fest kemarin. (Foto: Agastiko)

Hari pertama, kalau dideskripsikan dengan satu kata sih ya “gendheng”. Deretan aksi panggung yang bikin geleng-geleng hingga ngakak sudah tersaji. Aksi dari Mesin Tempur misalnya. Band grindcore Bandung ini nyeleneh dengan membawa ayam jago ke atas panggung.  Tak mau kalah dengan Mesin Tempur, band bernuansa Betawi, Jiung juga menyuguhkan aksi panggung yang gila. Ajul, sang vokalis dengan enaknya turun panggung lalu mandi ditengah-tengah penonton. Sesudah maghrib, insaf sejenak. aksi panggung yang gila sudah berkurang, namun digantikan dengan set-set menawan. Mooner, yang pertama kalinya main di Synchronize Fest disambut antusias oleh penonton yang  menjadi-jadi. Bergeser ke District Stage, ada Reality Club yang tak kalah histeris-nya disambut. Makin malam makin jadi. Kaki sudah lelah, tubuh berkeringat, rambut lepek, baterai gadget mulai lowbatt. Tapi, jam 21.30 masih ada dua penampil yang sayang untuk dilwati. Di Dynamic Stage ada dominasi anak-anak muda sedang “menunggangi badai” dengan Barasuara. Sedangkan di Forest Stage, para senior indie sedang “menikmati coklat” bersama Pure Saturday”. Puncaknya, penampilan Naif, si tukang sedot keringat penonton.

Lanjut hari kedua, kali ini nuansa nostalgia terasa lebih kental. Deretan pengisi acara seperti Godbless, Sheila On 7, dan Project Pop ada di hari itu. Di set Godbless, penonton dipenuhi  kalangan senior pecinta rock lawas. Tembang-tembang hits seperti Musisi, Kehidupan, Rumah Kita, Semut Hitam, dan Panggung Sandiwara membangun vibes karaoke bersama. Begitupun Sheila On 7 yang penuh sesak oleh penonton lintas generasi. Sementara di Distric Stage, musik jenaka Project Pop begitu merindukan era di mana grup vokal itu tidak harus selalu keren, tapi juga bisa receh nan menyenangkan. Sang Raja Dangdut, Rhoma Irama dan Soneta Group akhirnya menutup hari kedua. Pesonanya yang kharismatik sebagai maestro selalu berhasil menyebarkan penyakit menular; (baca: goyang).

Well, dua hari non-stop berkeliling luasnya venue. Pindah dari satu stage ke stage lain, sebenarnya ada pikiran untuk menyudahinya. Tapi apa daya, nama-nama seperti Snickers And The Chicken Fighters (SATCF), Ramengvrl hingga NOXA terlalu sayang jika terlewatkan. Jamrud pun hadir di Dynamic Stage. Lagu-lagu lawas-nya masih terdengar lantang meski ada perubahan pada karakter suaranya. Lagi-lagi dan lagi-lagi, penonton yang dibesarkan era MTV Ampuh sangat dimanjakan. Kali ini giliran Padi Reborn beserta penutup Synchronize Festival 2018 secara keseluruhan; Dewa 19 bersama Once & Ari Lasso. Fine! ini sebuah pertunjukan langka. Deretan megahits yang versi bajakannya tak kalah laris ini membuat penonton semakin giting. Dua eks vokalis terbaik itu tampil dalam satu stage pertama kalinya. Di tengah nikmatnya mengenang masa muda, kami pun berpikir: bagaimana caranya si organizer melakukan proses negosiasi dengan mereka yah? Ahh sudahlah, sekalipun kami bisa melakukannya, pasti kami tak sanggup membayarnya. Akhir cerita, kami puas dan semua penonton lainnya pun demikian. Harapan kami, semoga konsep acara ini terus berkembang. Jangan sampai termakan jenuh. Karena pada dasarnya, wajah musik nusantara ada di sini (untuk saat ini). See you next year!

An amateur dilettante | Straight Edge | Star Wars’ die-hard fans | Records Junkie |

Continue Reading

EVENTS

Brotherground 2018: Beside Primadona, Down For Life Mempesona & Klimaks Death Vomit

Published

on

Mengadakan festival musik hingga edisi ke-5 bukan perkara mudah. Apalagi dengan line up yang konsisten kencengnya. Tahun ini Beside jadi primadona, namun Down For Life tak kalah mempesona, ditambah tenaga Death Vomit yang tak pernah habis hingga tuan rumah Fraud yang selalu beringas. Kami merangkumnya dalam foto-foto yang bisa memanjakan mata kalian.

Tukang Foto keliling, yang berusaha segiat mungkin, demi mengisi dompet dan perutnya.

Continue Reading

Surabaya