Connect with us
https://ronascent.biz/wp-content/uploads/2017/07/ronascent-adv-copy.jpg

FEATURES

Masa Transisi & Eksplorasi Musik LALA

Published

on

lala-karmela-blackwhite

Perjalanan panjang LALA di dunia musik yang penuh dengan masa transisi dan eksplorasi. (Dok. LALA)

Enam tahun lalu, sebuah single everlasting berjudul Satu Jam Saja muncul menghiasi industri musik nasional. Lala Karmela terdengar begitu sendu dengan petikan gitar merdu. Lagu yang jadi soundtrack film berjudul serupa itu membawanya ke titik di mana namanya kian santer terdengar. Setahun setelahnya, ia pun merilis album Aku, Kamu, Cinta di mana terdapat satu hits hasil kolaborasi dengan Barry, Ello, dan Ipank di single Semangat Baru.

Tidak dipungkiri juga kalau beberapa menyebutnya sebagai one hit wonder. Pasalnya tidak semua lagu yang ada di albumnya merasakan kesuksesan seperti Satu Jam Saja. Tapi, dengan kemapanan di bawah label besar, nama Lala Karmela tidak pernah redup. Lewat beberapa klip, perform, sampai kolaborasi dengan musisi lain solois satu ini masih terus muncul di tengah industri musik pop yang di tahun-tahun itu sedang mengalami deklinasi.

Memang sosoknya bukan lagi nama baru di blantika musik nasional ataupun dunia entertainment. Memulai karir di dunia akting, nyatanya passion tetap tidak bisa ditinggalkan. Karya demi karya dengan musik pop generiknya makin melekat membentuk karakternya, ditambah stage perform yang tidak bisa jika tanpa gitar. Hingga, satu albumnya yang rilis 2013 kemarin seperti merubah brand image yang telah dibangun sebelumnya. Namanya perubahan tentu bertujuan untuk sesuatu yang lebih baik, dan itulah yang ia lakukan.

Tidak sedikit musisi potensial yang memilih jalur sendiri untuk melampiaskan hasrat bermusiknya. Dan Lala jadi salah satunya. Between Us (2013) membuktikan betapa ‘liar’ ide-ide bermusiknya. Album ketiga yang rilis via Sinjitos Records itu menyajikan kolaborasi menarik antara Lala dengan produser ‘cerdas’ Joseph Saryuf. Berangkat dari pop industrial, mereka coba mempertahankan lirik cinta yang melodramatis, namun dipadukan sentuhan pop eklektik; itulah kesan pertama yang muncul saat mendengarkannya.

lala

Selepas memilih ke jalur independen, LALA jauh lebih bersinar. (Dok. LALA)

Tidak ada lagi lagu yang mengelu-elukan cinta sampai jatuh bangun dan berdarah-darah. Tidak ada lagi nada pop monoton atau judul lagu lugas tanpa makna. Adanya hanya Lala Karmela yang terdengar lebih ekspresif, impresif dan eksploratif. Kita seperti melihat burung yang keluar dari sangkar lalu terbang bebas ke langit luas. Morning Star merupakan track pembuka dari album Between Us yang sepertinya jadi represantasi karirnya dulu. Musiknya lebih variatif dan tetap easy listening, dan hebatnya dia tidak membuang karakter lamanya. “Aku seneng banget ngeksplor musik, tapi tetep bakal aku jaga benang merahnya. Karena bagiku, musik itu never ending explore,” cerita Lala Karmela.

Wanita  bernama lengkap Karmela Mudayatri Herradura Kartodirdjo itu memilih bergerak di jalur independen. Dan bisa ditebak, lewat album Between Us Lala membuka lembaran baru, di mana pendengarnya kian luas dan cerdas. Tanggapan positif pun juga bermunculan selepas album tersebut. Banyak yang menganggap jika Lala jadi salah satu musisi penyelamat musik pop nasional. “Butuh kerja sama antara seorang penyanyi dan pencipta lagu pop potensial dengan produser cemerlang guna menunjukkan bagaimana seharusnya musik pop dikemas: menyenangkan untuk didengar sekaligus memiliki kedalaman artistik,” komentar Rolling Stone Indonesia.

Tiga tahun berselang, dengan nama LALA yang sudah digunakan sejak album Between Us, dia kembali lagi lewat album keempat, Solina. Sempat tertunda lama karena satu dan lain hal, sampai akhirnya April kemarin  album tersebut rilis mandiri. Yang ditawarkan kali ini bukan sekadar pop eklektik, tapi juga sentuhan 80’s. Kita seperti mendengar ambisi LALA yang ingin kembali pada era bermunculannya diva pop dunia. Belum lagi musiknya, ide-ide cemerlang Widi Puradiredja yang kali ini jadi produsernya membuat album minimalis itu jauh lebih berbobot.

Bicara Cinta Tanpa Kata Cinta

Untuk urusan lirik, tiap musisi punya karakterisitiknya masing-masing. Namun jika kita mendengarkan LALA, mudah saja langsung menebak arah pembicaraannya. Cinta, namun tanpa kata ‘cinta’ dan tanpa derita. Tidak ada istilahnya menderita karena urusan hati. Lihat cover album Solina, kita pasti tidak sedikitpun menemukan kesan muram di dalamnya, begitupun saat mendengarkan semua lagunya.

solina-cover

Nuansa ceria yang ada di cover album ‘Solina’ merepresentasikan lagu-lagunya yang tak kalah ceria. (Dok.LALA)

Meski begitu, ada dua kesulitan yang didapat saat memilih terjun sebagai songwriter di albumnya sendiri. Pertama, bagaimana mengolah lirik berbahasa Indonesia dengan manis dan tulus, kedua bagaimana memoles kata cinta tanpa menghilangkan maknanya. “Nulis lirik berbahasa Indonesia itu bener-bener gak gampang, terutama untuk menulis lirik yang manis dan setulus mungkin,” cerita LALA saat interview bersama Ronascent.

Berbicara cinta tanpa kata cinta; ini salah satu hal menarik yang kami dapat saat mewawancarainya, tentu di luar musik dan parasnya yang tak biasa. Mengenai perasaan, mungkin itu sudah menjadi sifat superego tiap kaum hawa, namun wanita satu ini coba menutupinya agar tidak terkesan mendayu. Perhatikan keseluruhan lirik dari delapan lagu di album Solina. Hanya ada satu kata ‘cinta’ yang ada pada track Love Affair. Sisanya, Lala menganalogikannya tanpa perlu menyebutnya sebagai suatu kebutuhan.

Yah, meskipun proses perampungan album ini diwarnai dengan rubuhnya kisah percintaan Lala yang tak mungkin dibahas di sini, tapi itu justru memberi power tersendiri. Setidaknya Lala berusaha menunjukkan pada Lalaland (fanbase LALA,red) bahwa tidak ada dinamika terbawah yang harus dilalui dengan tertatih-tatih. Semua harus dihadapi dengan ceria, kurang lebih seperti itu. Baik Between Us ataupun Solina; kedua album ini menunjukan bahwa pop itu ‘megah’, dan tidak selalu menjengahkan.

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

EDITOR'S PICK

The Flins Tone dan Sebuah Pembunuhan (Karakter)

Published

on

Formasi terbaru The Flins Tone: Bimo, Ucup, Kiky, Diko & Rudy. (Dok. TFT/Sandy Whisnu)

Sejak pertama melihat artwork dan mendengar intro-nya, Blossom memiliki karakter yang berbeda. Perpindahan chord serta beberapa fill di dalamnya mengingatkan kita pada era kejayaan emo di masa lalu. Bahkan, mereka tak luput menyelipkan sedikit scream di dalamnya. Terbaca sudah, punk yang berlulurkan emo dan rock terpilih jadi karakter baru The Flins Tone (TFT), yang lagi-lagi masih produktif di tahun ke-15 nya. Single Blossom sendiri mereka rilis baru-baru ini (22/2) secara digital. Lagu tersebut merupakan satu dari lima tracklist yang telah disiapkan untuk mini album Epitome.

Jika kita mendengar TFT sejak awal, ada perkembangan referensi dan sound yang terus beranjak dewasa. Dan di EP terbarunya nanti, mereka tampak ingin membunuh karakter lawas-nya yang cenderung energik, jadi lebih dramatik. Hal itu tertuang pada single Blossom, di mana liriknya berkisah tentang pembunuhan Jason Blossom; seorang karakter fiktif dari komik ‘Archie’ yang sempat diangkat ke serial thriller ‘Riverdale’. “Perkenalanku sama komik Archie itu berawal dari Bimo (drummer TFT), penggila sekaligus kolektor komiknya. Nah ketika diangkat ke serial ‘Riverdale’, aku suka banget. Khususnya pas nyari siapa pembunuh si Jason (Blossom),” ujar Kiky, vokalis dari The Flins Tone.

Ketika tercetus mengangkatnya untuk jadi lirik, Kiky pun menggandeng dua rekannya di radio, yakni Hanamay dan Deylon. “Kita bertiga sama-sama suka, dan nyambung. Deylon ngebantu nulis liriknya secara eksplisit, nah si Hanamay banyak bantu untuk perbendaharaan idiom-nya. Sementara di bagian scream, liriknya aku ambil dari dialog di episode terakhir ‘Riverdale’, biar makin klimaks gitu,” sambungnya. Karakter Jason Blossom sendiri muncul di era 90an, tampak pas dengan ambient musik emo punk yang TFT leburkan di lagu, dan juga mini albumnya nanti.

Beberapa nama seperti Alexis on Fire, Story of the Year, The Used, Jimmy Eat World, Billy Talent, Fugazi, hingga The Starting Line menjadi referensi mereka untuk melakuan brainstorm. “Setelah 3 album, sekarang kami mau eksplore lebih jauh. Rudi yang awalnya pengen ngebawa ke vibes emo 2000-an. Nah kebetulan kita semua ini dasarnya anak emo kali ya, akhirnya pas workshop cepet nyambung satu sama lain,” lanjut Kiky. Pria yang juga bersiar di prime time sore salah satu radio di Surabaya itu juga menyebut jika ekspektasi pendengar terhadap Blossom dan deretan track di Epitome bisa saja berubah. “Vibes di tiap lagunya nanti bakalan berbeda, karena cara mengexplore-nya pun beda-beda. Part scream? ada juga hehe,” ucapnya.

 

Siapkan Studio Update, Video Klip & Bersih-Bersih Instagram

Artwork single anyar TFT, Blossom. (Dok. The Flins Tone)

The Flins Tone punya banyak agenda di awal 2019 ini. Beruntung seluruh materi album mereka telah rampung, jadi saat ini tinggal fokus membangun promosi. Belakangan mereka baru saja melempar episode pertama dari Studio Update yang digarap Redixcover. Beberapa pekan sebelumnya malah Kiky, Ucup, Rudy, Bimo dan Diko tampak sibuk melakukan shoot klip Blossom. Dalam klip yang dikerjakan di Skale Creative Space itu, TFT bekerjasama dengan salah satu fotografer panggung Yogie Husein. “Nah, jadi bulan Maret ini kami mau ngeluarin beberapa episode ‘Epitome Studio Update’. Nanti di episode terakhirnya, baru lah kita kasih tanggal rilis video klipnya,” imbuh Kiky.

Selain kesibukan secara audio dan visual, media sosial pun tak luput untuk mereka perhatikan. Instagram milik The Flins Tone yang sudah memiliki lebih dari 5 ribu pengikut itu tiba-tiba di awal Januari nihil postingan. Beberapa pertanyaan dan keheranan sempat menghampiri mereka lantaran akunnya yang tiba-tiba jadi pasif itu. Kiky mewakili rekan-rekannya pun mengakui kalau mereka sengaja ‘bersih-bersih’ Instagram. “Itu cuma buat menyesuaikan sama konsep baru kami sih. Jadi emang kita rebranding gitu lah istilahnya,” perihal apa saja yang akan mereka tampilkan nantinya, Kiky meminta untuk menunggu tanggal mainnya, sembari menikmati gimmick-gimmick yang telah mereka siapkan sampai Epitome resmi dirilis.

Dengan hampir rampungnya mini album Epitome, sekaligus menambah perbendaharaan diskografi mereka. Epitome akan menjadi rilisan keempat The Flins Tone, sekaligus EP kedua setelah debut Flinsnopsis tahun 2010 silam. Sementara dua LP juga telah mereka rilis setelahnya, yaitu He’s The Best Actor For This Episode (2012) yang menjadi album persembahan untuk mendiang drummernya alm. Mahdi dan terakhir ada Good News (2015) yang rilis ke dalam 3 format, CD, kaset dan digital streaming.

Continue Reading

EDITOR'S PICK

Fraud: Release The Beast

Published

on

Fraud ketika tampil di Grand City pertengahan Februari kemarin (16/2) dengan memainkan beberapa materi baru. (Foto: Haryo Bahrul Ilmi)

Seperti yang kita ketahui bersama, selepas album kedua Movement Before Mouthment rilis empat tahun lalu, Fraud tidak berhenti untuk menciptakan karya baru. Dan masuk di 2019 ini, mereka sedikit memberi bocoran tentang album barunya. Mengutip dari statement Kecenk, gitaris dari Fraud, ia sempat mengujarkan niat bandnya untuk tidak lagi menggunakan kata-kata umpatan dalam liriknya.

Lebih lanjut lagi, Kecenk menjelaskan sebagian dari lirik di album ketiganya nanti akan rilis tahun ini. Isinya masih tetap berkutat tentang refleksi mereka terhadap lingkungan sosial dalam bentuk kritik yang membangun. Tak luput beberapa permasalahan yang terjadi di tanah air dalam beberapa waktu lalu, termasuk juga suntikan motivasi untuk para korban bencana alam yang terjadi baru-baru ini. “Jadi di album ketiga ini kami lebih menata kalimat dan diksi. Tidak seperti album-album sebelumnya,” terang Kecenk ketika kami hubungi pekan lalu. Dirinya juga tak lupa menyelipkan pesannya untuk lebih mempertahankan lokalitas Surabaya. “Karena kita harus tetap jadi diri sendiri, mempertahankan esensi kelokalan, supaya bisa memperkuat agar trend dan industrinya tidak tergeser dan berubah-ubah,” sambungnya.

Kini Fraud tengah fokus pada tahap revisi dan evaluasi materi yang telah selesai digarap.  Dengan mengenyampingkan ego, band yang baru saja berpisah dengan drummernya (Edel) akhir tahun kemarin coba memperhatikan hal-hal terkecil untuk album barunya, termasuk urusan menggaet produser. Nantinya, nama produser yang telah mereka pilih akan diumumkan pasca single barunya rilis. Selain itu, pemilihan studio dan sound engineering juga mereka fokuskan. Buktinya, proses rekaman dilakukan di beberapa studio berbeda, khususnya untuk take drum, Fraud menginginkan studio yang nyaman dengan feel akustik yang mumpuni.

Dalam waktu dekat, sembari menunggu menunggu proses album yang berjalan sejak pertengahan 2018 rampung, Fraud akan merilis ulang album pertama dan keduanya. Kali ini, band yang sempat berbagi panggung dengan Sick Of It All ini memlih format kaset untuk merilis kedua album lawas-nya. “Setelah rampung produksinya, kami akan membuat launching atau bahkan secret gigs mungkin,” tutur Kecenk.

Fraud (1)
Fraud (2)
Fraud (3)
Fraud (4)
Fraud (5)
Fraud (6)
Fraud (7)
Fraud (8)
Fraud (9)
Fraud (10)
Fraud (11)
Fraud (12)
Fraud (13)
Fraud (14)
IMG_6929
Continue Reading

EDITOR'S PICK

Berselancarnya The Panturas & Polka Wars di Surabaya

Published

on

Ada sedikit keraguan kala The Panturas gagal berselancar di Surabaya Oktober kemarin. Nuansa surf-rock yang diusung sekelompok alumnus jurnalistik ini tidak memancar, mereka justru hanya terdengar sebagai band rock melayu biasa. Namun ketika Buka Musik Connectified chapter Surabaya membawa mereka ke Nens Corner akhir pekan kemarin (14/12), ceritanya berbeda. The Panturas benar-benar Mabuk Laut bersama ratusan penonton yang merelakan mata perih karena asap rokok hingga kepala puyeng akibat alkohol.

Bagi sebagian besar penonton yang hadir, kami yakin mereka semua mendapat klimaks. Diawali dengan dua band pendatang baru Surabaya yang unjuk gigi; Alter dan Eisen, hingga dibawa membeku bersama Cotswolds dan puncak dari segala kerusuhan ada pada si protagonis Polka Wars. Pemilik album Axis Mundi ini sejatinya menurunkan tempo pasca meliarnya crowd The Panturas. Tapi tak bisa dipungkiri jika musikalitas terus memancarkan aura semangat. Setidaknya, Surabaya telah memberikan kesan manis bagi Polka Wars dan The Panturas yang hingga akhir tahun ini melaksanakan tur di 6 kota di bawah platform musik Buka Musik milik Bukalapak.

Continue Reading

Surabaya