Connect with us
https://ronascent.biz/wp-content/uploads/2017/07/ronascent-adv-copy.jpg

EVENTS

Surabaya Mencintai Kita Kala Akhir Pekan

Published

on

hyper-ballad-01

‘Post’ Rock Alternative: Bima, vokalis Timeless mengenakan kaos band seangkatannya, Cotswolds. (Foto: M. Rudiansyah)

Kita pernah—dan mungkin hampir setiap waktu—menghadapi hari-hari busuk dengan pekerjaan yang menumpuk. Jalanan mengajari kita jadi babi yang bergerak lamban sambil menghitung sudah berapa total usia kita tiap menemui lampu merah, serobotan angkot, truk tinja, taksi, dan berhenti sambil melamun menunggu maghrib yang mengutip bait-bati lirikSilampukau; mengambang, lirih dan terabaikan. Setengah lima sore kebiadaban itu dimulai. Kendaraan melambat dengan sendirinya, tanpa kewajiban dan ketakutan absurd seperti mobil yang harus melambatkan kecepatannya sampai 5 km/jam saat melewati patung Kim Jong Il di Pyongyang sana. Surabaya, melambat atau terhenti bakal sama saja. Yang penting langsung pacu seganas Kijang saat ada celah sedikit, terobos, memungkinkan untuk sampai rumah lima detik lebih cepat. Setelah itu kita akan mampir ke warung-warung kopi, giras-giras andalan tepian jalan. Meneguk kopi creamer, membakar kretek, mencomot tahu garam, duduk sambil mencharge ponsel, memanfaatkan lagi koneksi wifi, menghubungkan lagi pada maya yang sempat terlupa kala sibuk mengerem aspal. Berkali-kali. Terus seperti itu. Kerja, pulang, ngopi, tidur lalu mati. Tidak tenang di kuburan, menyesal, mewek, karena sebenarnya ada hidup yang lebih hidup dibanding hidup yang sempat dijalani sewaktu masih hidup. Hidup yang tidak setegang lagu Dragonforce. Hidup yang tidak serapuh kresek kerupuk. Pokoknya hidup yang tidak sebabi ini.

Pahit kopi adalah satu-satunya kontemplasi, jadi dua jika ditambah nyala kretek. Tiga jika kita punya peralatan memadai untuk memutar koleksi musik terbaik, dengan CD-CD mutu tinggi yang bisa didengarkan sambil tiduran dan membaca Thus Sprach Zarathustra—atau jika terlalu berat, Komik Petualangan Doraemon—dan kemudian ketiduran lagi, sampai esok harus bangun tergopoh, dikejar setan waktu lagi, dan sekali lagi, Silampukau keterlaluan benar. “demi tuhan, atau demi setan, pekerjaan menyita harapan”. Belum lagi tuntutan hidup. Jodoh, atau kapan kawin, kapan punya momongan. Padahal skripsi belum juga kelar. Padahal dosen pembimbing skripsi belum menjelma warung penyetan yang mudah ditemu. Untungnya hari dihitung tujuh hari. Dan jam kerja dihitung lima hari. Sisa dua hari di akhir pekan, kita berkesempatan menjadi manusia lagi. Dan Surabaya, menyediakan jalannya.

Surabaya punya pemusik-pemusik indie terbaik, dan kita tidak perlu susah-susah lagi mencari suaka sampai jadi hipster yang mencari musik-musik ekletik dari Hungaria atau Afrika Selatan. Surabaya menyediakannya lengkap beserta tempatnya. Surabaya mencintai kita semua kala akhir pekan. Banyak acara-acara indie rutin mingguan/bulanan yang mulai bermunculan (lagi). Penikmat musik yang semakin apresiatif dengan tidak duduk dan ikutan bergoyang lenggak-lenggok. Penikmat musik makin loyal dengan membeli CD atau Tape beserta t-shirt band-band lokal. Gairah indie kota jadi semakin kondusif. Semakin hari semakin berkembang. Musik-musik menjadi beragam dan banyak pilihan referensi untuk kita yang sudah keseringan mendengar Carly Ray Jepsen. Dan bahkan tempat-tempat yang dulu tidak pernah dibayangkan akan jadi lahan bagi muda-mudi hip untuk berkumpul dan bernyanyi bersama, kini sudah semakin membuka diri, menampilkan sikap dukungannya dengan membuat gig, yang meskipun tidak besar, tetap bisa menampung band-band lokal untuk tampil membawakan lagu sendiri, berinteraksi dengan penonton, menjajakan CD dan merchandise—dan kita semua membutuhkan itu.

Alhasil sebelum isi otak kita gempar akan pemberitaan Agus Yudhoyono dan Aa’ Gatot Brajamusti season 2, kita sudah di depan stage yang meskipun ada jarak karena kursi-kursi berjejer mengitari, memotret suasana panggung temaram yang belum benar-benar hidup karena pengisi acara masih berupa sampling DJ somehow antah-berantah yang tidak akan pernah cocok bermain di nuansa seperti ini, sambil mengamati foodtruck yang berjejer menjajakan sosis dua puluh lima ribuan, atau semurah-murahnya Teh Gopek enam ribuan, untuk kemudian tahu bahwa suasana di sini sungguh memanjakan mata dengan laju mobil dengan kita yang sedang tidak berada di dalamnya, mengisi udara remang pukul tujuh malam yang kian prosaik andai saja ada lampion dan tangan yang menggandeng. Tapi teman-teman saja sudah lebih dari cukup untuk menikmati acara di Graha Fairground ini. Sebuah acara balada hiperrealitas nan hangat sehingga dinamai Hyper Ballad pun tidak jadi masalah. Yang jadi masalah adalah bila Hyper Ballad berhenti entah di edisi keempat, ketiga, atau kedua yang dengan ini berarti pupus sudah obsesinya untuk menjadi acara gig rutin.

Ada obsesi dari DJ-DJ yang meramu sampling di kanan panggung, semacam keinginan untuk memanasakan malam yang saat itu sedang mendung. Tapi aksi dari komplotan Layung Temaram-lah yang berhasil, setidaknya membuat kita terpaku entah sampai beberapa menit. Lagu-lagu terbaik mereka dilempar, mengingatkan kita semua bahwasanya ada soft spot di dalam hati yang membutuhkan melodi macam ini. Tidak berlebihan bahwasanya pada akhirnya kita akan melunak dan mencintai pop, perlahan-lahan dan tidak tergesa seperti menali sepatu sendiri. Mungkin ini band baru, tapi itu urusan lain. Graha Fairground lewat Hyper Ballad menyediakan sound yang mumpuni. Tidak masalah apakah hafal lagunya atau tidak, termasuk juga saat Sinletto, yang kita semua mengira ini adalah band pemuda kelebihan skill yang memainkan pop rock—dan untungnya berusaha tidak generik. Beberapa hentakan kemudian DJ mengisi lagi jeda antar band. Kali ini Ayren Mayden—dan bukan Iron Maiden, entah apa ini parodi—tetapi DJ veteran yang dulu sempat bermain bersama Lawless Youtube Squad-nya Arian13 dan Sammy ini cukup meringankan leher untuk mengangguk-angguk santai.

hyper-ballad-02

Hyper Catchy: Timeless berkesempatan memainkan mayoritas lagu-lagu barunya. (Foto: M. Rudiansyah)

Lalu berduyun-duyun datanglah punggawa dari Timeless, dengan Fajri Armstrong, sang gitaris yang sedang dalam kondisi kurang fit. “Ada teh panas?” tanyanya pada salah satu penjaja minuman di stan. Sayangnya tidak ada. “Lagi kurang fit ini badan, butuh teh panas.” ujarnya. Ronascent sempat menemuinya dan bertanya padanya akan kemungkinan tur nasional debut terbaru mereka, Beetwen And Beyond. “Nanti, ini masih direncanakan, masih dibahas sama temen-temen juga,” ujarnya. “Suwun loh ya, sudah beli albumnya.” Tambahnya lagi. Untuk Beetwen And Beyond sendiri, track-track seperti Golden Age yang dikeluarkan sebagai single sudah banyak riwa-riwi di Soundcloud. Motown Crush, salah satu track dari album ini, adalah andalan Ronascent: lick-lick yang gawat dan gatal di telinga, jelas Timeless menjadi makin matang dan berbahaya.

Seperti biasa, acara musik akan berlipat garingnya bila ada host atau MC atau apapun itu yang dilibatkan. Meski tidak mengapa juga karena dalam rangka promosi foodtruck, tapi tidak perlu sampai heboh sendiri dan berteriak-teriak layaknya besok kiamat. Memang sudah tugasnya, dan kita sudah terbiasa mendengarkan celotehan kurang penting apapun itu yang keluar dari industri musik odong-odong. Untungnya Timeless tidak suka berlama-lama. Energi yang kelihatan meluap-luap dari Bimantarah, Anggra, Ferry dan juga Fajri—yang terlihat amat segar bugar di atas panggung. Hampir seluruh track di Beetwen And Beyond dimuntahkan, mulai dari—jika tidak lupa judul dan urutannya—Living Free Living Easy, Free From The Universe, Fine, Pills, Golden Age, dan Motown Crush. Mungkin banyak penonton awam yang belum ngeh karena album ini terhitung masih sangat baru. Meski begitu suasana Graha Fairground langsung mendadak ramai saat mereka main. Kursi-kursi langsung penuh. Yang berdiri berjajar juga lumayan. Puja-puji untuk suara Bimantarah yang jika boleh menyebutkan sosok, mirip seperti Eddie Vedder, di era-era album Ten, sempat terlontar. Juga sound yang mendekati paripurna, meski mereka bermain sedikit ugal-ugalan khsusunya Ferry pada drum—sosok perfeksionis yang selalu tepat memperhitungkan pukulan. Atmosfer berubah saat Golden Age dimainkan karena bisa jadi inilah lagu yang sudah cukup dikenal. Tidak ada lingkaran moshing karena seputaran panggung adalah kursi. Pun juga tidak ada yang sampai dekat-dekat panggung dan bertindak gila karena akan sangat terlihat rock snob. Yang ada hanya sedikit tembakau dan headbang tipis-tipis, mengiringi mendung yang makin menjadi dan mungkin akan segera turun hujan. Satu-satunya lagu dari EP We Believe For What We Do Is Timeless yang kemungkinan besar dihafal oleh semua yang hadir, Cold Summer, dimainkan dan menjadi penutup. Lagu ini seperti banyak dapat pengaruh dari Foo Fighters, ditambah sejumput kebengalan punk rock, kita akan mengetahui bahwa tidak terlalu banyak perbedaan mencolok dari EP dan debut album baru mereka. Timeless tampak sudah memperhitungkan dan terlihat menuju ke arah sana. Meski EP terdengar lebih ngebut dan raw, sementara Beetwen And Beyond adalah tata kelola yang lebih rapih dan fresh—mengurangi senyawa-senyawa oktan knalpot dengan tetap menggunakan amplifier Orange sebagai senjata.

Setelah semuanya berkumpul dengan riang gembira, dan waktu belum terlalu malam untuk pulang dan bercinta, Humi Dumi datang dengan membawa serangkaian kenangan—atau yang lebih melankolik dari itu. Para personilnya sempat membaur bersama penonton, dan seperti tipikal pemirsa musik di Surabaya, tidak ada yang tahu bahwa orang-orang itu, vokalis imut itu, si bassist cantik itu, yang akan naik panggung dan menghibur mereka. Jadi tidak ada tekanan menjadi selebritas meski terkadang itu ironis. Dengan gelap yang semakin jadi mendung, tidak butuh waktu lama bagi band yang melabeli dirinya sebagai innocence folk pop ini mengalunkan nadanya. Tidak banyak yang bisa diingat mengingat syahdunya permainan mereka—seperti yang sudah-sudah. Kita akan mengumpat ngeri karena di intro yang sengaja dibuat berbelit namun untungnya amat manis—seperti yang sudah-sudah—kemudian terlantun Sleep yang teduh surgawi. Bisa-bisanya band ini tidak mencuat ke blantika pop nasional? Kita akan membahasnya lain waktu. Riuh tepuk tangan penonton yang memang tidak terlalu ramai sehingga berkesan hangat dan intim seakan ingin mengapresiasi meskipun Qanita Hasinah si vokalis sempat berujar di tengah sapaannya, “Kalian pengen aku atau Irna yang ngomong?’’ yang tidak terdengar ironis malah terdengar seperti guyonan meski tiada penonton yang tertawa—walau ada juga begundal yang berteriak ‘Irna!’

Tentang Irna sendiri (nama lengkapnya Irna Kurnia R, dan tersedia di Instagram) adalah jelita cantik kekinian dulunya berambut sebahu kini sudah agak panjangan, dengan senyum manis dan dia memainkan bass pula. Iya benar, satu kata: bergetar. Bisa jadi betotan bass dia selalu bisa membetot hati penonton laki-laki juga yang kesengsem sembari mencari candid fotonya di atas panggung. Tapi sudahlah bahas musik saja. Sudah bisa ditebak lagu-lagu dari EP I Am Ij Sin A-lah yang diputar, minus Walking In The Pillow yang—seperti yang sudah-sudah—jarang mereka mainkan saat off air. Tambahan lagi satu lagu yang seperti tidak asing tapi juga tidak terlalu familiar. Mungkin ini single terbaru atau cover version, terserah saja. Ada gimmick-gimmick sederhana yang ditawarkan Humi Dumi di Hyper Ballad, sesederhana menambahkan gemericik gitar sebelum awal lagu, atau suara synth, atau bebunyian yang sudah disiapkan sebelumnya, mengalun mengawang di sisi sound saat Ceria Cerita, Bella In 79 Seconds, dan Mirror sebagai lagu pamungkas dimainkan. Kita tidak bisa melupakan saat asyik-asyiknya duduk dan memejam mata menikmati indahnya duniawi, tiba-tiba turun gerimis yang meluap menjadi hujan. Semuanya menyingkir dan berlindung di balik atap sound engineer yang sedang bekerja—dan untungnya tidak merasa terganggu. Humi Dumi tetap tampil atraktif dan elegan meski penonton menjauh, dan ajaibnya saat hujan berubah jadi rintik, penonton menyemut lagi, kali ini tidak duduk-duduk karena bangku sudah kepalang basah, melainkan berdiri merapat panggung, Terima kasih hujan sudah menghidupkan penonton. Dengan berdiri kita lebih leluasa bergoyang, menyulut tembakau, mengangguk kepala, mengamati Irna, apapun. Dan walau hujan datang lagi setelahnya, tetap saja penonton akan menyemut kembali kala ia mulai mereda. Yang tidak bisa terkatakan adalah bagaimana ajaibnya Mirror—sebagai lagu terbaik Humi Dumi sejauh ini—dimainkan saat gerimis turun. Pendar lampu kekuningan menerpa hujan dan jadilah ini malam yang magis. Ini adalah momen terbaik penampilan Humi Dumi dari yang sudah-sudah. Suasanya yang tidak terkatakan namun akhirnya terkatakan juga. Dan saat hampir memungkasi lagunya, di mana itu adalah part-part yang menunjukkan kejeniusan mereka sebagai penghayat sejati, langit sedikit-demi-sedikit mulai cerah, dan Humi Dumi perlahan meninggalkan gemerlap lampu panggung, dengan gimmick outro Mirror yang di remix ala-ala chillout yang terus berkumandang.

Penampilan pamungkas datang dari band yang disebut-sebut sebagai saudara Humi Dumi—di mana mereka selalu ada di tiap gigs yang mengundang Humi Dumi—dengan vokalis perempuan yang lebih terlihat berhawa gelap dan murung. Senandung Sore memainkan lagu-lagu terbaik mereka, mencoba memaknai sisa-sisa bau hujan, mengajak penonton menyesapi sisa-sisa malam, dan setelah Sadrah—yang masuk dalam kompilasi terbaru Ronascent Outtatime—kita akan menguap dengan amat panjang. Bukan mengantuk, bukan juga lelah, melainkan sudah terlalu banyak hal-hal yang patut disyukuri di malam ini, termasuk penampilan-penampilan luar biasa dari band-band lokal yang tampil. Ternyata hidup masih amat menyengangkan. Dan Surabaya, nyatanya masih mencintai kita kala akhir pekan.

Mahasiswa sastra. Kecanduan Tebs dan masih mengimani Billie Joe Armstrong sebagai nabi.

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

EDITOR'S PICK

Berselancarnya The Panturas & Polka Wars di Surabaya

Published

on

Ada sedikit keraguan kala The Panturas gagal berselancar di Surabaya Oktober kemarin. Nuansa surf-rock yang diusung sekelompok alumnus jurnalistik ini tidak memancar, mereka justru hanya terdengar sebagai band rock melayu biasa. Namun ketika Buka Musik Connectified chapter Surabaya membawa mereka ke Nens Corner akhir pekan kemarin (14/12), ceritanya berbeda. The Panturas benar-benar Mabuk Laut bersama ratusan penonton yang merelakan mata perih karena asap rokok hingga kepala puyeng akibat alkohol.

Bagi sebagian besar penonton yang hadir, kami yakin mereka semua mendapat klimaks. Diawali dengan dua band pendatang baru Surabaya yang unjuk gigi; Alter dan Eisen, hingga dibawa membeku bersama Cotswolds dan puncak dari segala kerusuhan ada pada si protagonis Polka Wars. Pemilik album Axis Mundi ini sejatinya menurunkan tempo pasca meliarnya crowd The Panturas. Tapi tak bisa dipungkiri jika musikalitas terus memancarkan aura semangat. Setidaknya, Surabaya telah memberikan kesan manis bagi Polka Wars dan The Panturas yang hingga akhir tahun ini melaksanakan tur di 6 kota di bawah platform musik Buka Musik milik Bukalapak.

Anak muda penuh semangat tapi tidak bergairah, suka melakukan banyak hal baru dan sedang berstatus mahasiswa aktif dengan doa semoga lulus tepat waktu dan segera mempunyai penghasilan.

Continue Reading

EVENTS

The 41st Jazz Goes to Campus: Kejayaan Musik Jazz Masih Dimulai Dari Kampus

Published

on

Jika menengok kembali sejarah musik jazz di Indonesia, dunia kampus memang berperan penting dalam perkembangan musik ini. Salah satunya adalah Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia. Lewat Jazz Goes to Campus, musik jazz bisa dikenal dan mendapat tempat tersendiri di telinga mahasiswa. Tahun ini, JGTC sudah memasuki tahun ke-41. Sebuah perjalanan yang tak singkat memang. Konsistensi JGTC dalam menghadirkan sajian musik jazz yang segar mampu membuat acara ini bertahan hingga lebih dari empat dekade.

Minggu, 2 Desember 2018, 41stJazz Goes to Campus yang mengusung tema“Bring The Jazz On” kembali digelar di lingkungan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia. Sama seperti tahun-tahun sebelumnya, JGTC selalu berhasil menyedot animo yang luar biasa. Sejak pukul 12.30 antrean sudah mulai penuh sesak untuk memasuki kawasan acara. Sekitar pukul 13.00 acara dimulai dan dibuka oleh penampilan dari beberapa band kampus dan pemenang JGTC Band Competition.

Menjelang sore, penonton mulai memadati Sprite Stage untuk menyaksikan Maliq & D’Essentials. Antusiasme penonton sangat liar sore itu. Sprite Stage penuh sesak dengan penonton yang ingin menyaksikan Maliq & D’Essentials. Membawakan tembang-tembang hits seperti Dia dan Untitled, Maliq & D’Essentials sukses memanaskan sore yang mendung kemarin. Bergeser ke Kopiko Stage, grup musik parodi asal Bandung, Project Pop juga mampu menyedot animo penonton yang ingin bernostalgia dengan lagu-lagu lawas mereka. Track andalan seperti Gara-gara Kahitna, Metal vs. Dugem, dan Ingatlah Hari Ini sukses membuat penonton bernyanyi bersama. Disela-sela lagu lama yang nangkring di setlists, Project Pop juga sempat membawakan lagubaru yang berjudul Coconut dan sukses mengajak penonton untuk bergoyang bersama.

Menjelang maghrib, JGTC sempat diguyur hujan yang cukup deras dan sempat membuat penonton yang tidak membawa jas hujan kocar-kacir mencari tempat berteduh. Untungnya hujan tidak berlangsung lama, karena di Indofood Stage, Vira Talisa sudah bersiap untuk menghangatkan malam setelah hujan. Walaupun tidak terlalu ramai, karena banyak penonton yang sudah memenuhi Kopiko Stage untuk menunggu Boyzlife, set Vira Talisa malam itu tetap syahdu. Pindah ke Kopiko Stage, Boyzlife dengan mudahnya membuat para penonton histeris. Hanya bermodalkan rekaman lawas lagu-lagu Boyzone dan Westlife, Keith Duffy dan Brian McFadden sukses berkaraoke bersama penonton. Set yang minimalis, tanpa band pengiring, dan hanya bermodal rekaman minus one membuat Boyzlife tidak memiliki daya tarik yang lebih selain hanya lagu-lagu hits lawas mantan boyband mereka dulu.

Kembali ke Sprite Stage, kali ini giliran Glenn Fredly yang menghangatkan malam para pecinta jazz di JGTC. Penuh dan lantang. Begitulah kira-kira gambaran crowd yang menonton Glenn Fredly kemarin. Dari awal set hingga akhir, semua penonton sangat kompak menyanyikan lagu-lagu Glenn Fredly. Terlebih lagi ketika lagu Terserah, koor massal yang gila bisa terdengar dari depan hingga belakang. Dan di panggung yang sama sebagai penutup JGTC, Reza Artamevia juga berhasil membawa para penonton bernostalgia dengan tembang-tembang lawas miliknya. Walaupun sudah tak muda lagi, Reza tetap energik dan interaktif dengan penonton JGTC.

Dengan tema yang diusung, pagelaran JGTC tahun ini cukup sukses membawa kembali musik jazz. Bermodal track record yang bagus JGTC menjadi salah satu festival jazz yang ditunggu-tunggu setiap tahunnya. Seperti apakah kejutan JGTC tahun depan. We’ll see!

 

Teks: Agita Bela | Foto:  Adrian Daniarsyah

An amateur dilettante | Straight Edge | Star Wars’ die-hard fans | Records Junkie |

Continue Reading

EVENTS

Impresional Made J Music di Launching Album Tiger Blood

Published

on

Akhir pekan kemarin (28/11), Gimme Shelter mendapat kesempatan untuk menjadi tuan rumah bagi Made J Music yang baru saja merilis album barunya berisikan 12 materi baru dengan titel Tiger Blood. Launching party ini turut menghadirkan kolaborasi serta perform dari beberapa musisi lain seperti  The Dissland, The Hydrant, dan The Eastbay. 

a free soul sun chaser who’s addict to experiment something beyond . Adore nature’s living material. Get her some food and no one’s hurt

Continue Reading

Surabaya