Connect with us
https://ronascent.biz/wp-content/uploads/2017/07/ronascent-adv-copy.jpg

EVENTS

Surabaya Mencintai Kita Kala Akhir Pekan

Published

on

hyper-ballad-01

‘Post’ Rock Alternative: Bima, vokalis Timeless mengenakan kaos band seangkatannya, Cotswolds. (Foto: M. Rudiansyah)

Kita pernah—dan mungkin hampir setiap waktu—menghadapi hari-hari busuk dengan pekerjaan yang menumpuk. Jalanan mengajari kita jadi babi yang bergerak lamban sambil menghitung sudah berapa total usia kita tiap menemui lampu merah, serobotan angkot, truk tinja, taksi, dan berhenti sambil melamun menunggu maghrib yang mengutip bait-bati lirikSilampukau; mengambang, lirih dan terabaikan. Setengah lima sore kebiadaban itu dimulai. Kendaraan melambat dengan sendirinya, tanpa kewajiban dan ketakutan absurd seperti mobil yang harus melambatkan kecepatannya sampai 5 km/jam saat melewati patung Kim Jong Il di Pyongyang sana. Surabaya, melambat atau terhenti bakal sama saja. Yang penting langsung pacu seganas Kijang saat ada celah sedikit, terobos, memungkinkan untuk sampai rumah lima detik lebih cepat. Setelah itu kita akan mampir ke warung-warung kopi, giras-giras andalan tepian jalan. Meneguk kopi creamer, membakar kretek, mencomot tahu garam, duduk sambil mencharge ponsel, memanfaatkan lagi koneksi wifi, menghubungkan lagi pada maya yang sempat terlupa kala sibuk mengerem aspal. Berkali-kali. Terus seperti itu. Kerja, pulang, ngopi, tidur lalu mati. Tidak tenang di kuburan, menyesal, mewek, karena sebenarnya ada hidup yang lebih hidup dibanding hidup yang sempat dijalani sewaktu masih hidup. Hidup yang tidak setegang lagu Dragonforce. Hidup yang tidak serapuh kresek kerupuk. Pokoknya hidup yang tidak sebabi ini.

Pahit kopi adalah satu-satunya kontemplasi, jadi dua jika ditambah nyala kretek. Tiga jika kita punya peralatan memadai untuk memutar koleksi musik terbaik, dengan CD-CD mutu tinggi yang bisa didengarkan sambil tiduran dan membaca Thus Sprach Zarathustra—atau jika terlalu berat, Komik Petualangan Doraemon—dan kemudian ketiduran lagi, sampai esok harus bangun tergopoh, dikejar setan waktu lagi, dan sekali lagi, Silampukau keterlaluan benar. “demi tuhan, atau demi setan, pekerjaan menyita harapan”. Belum lagi tuntutan hidup. Jodoh, atau kapan kawin, kapan punya momongan. Padahal skripsi belum juga kelar. Padahal dosen pembimbing skripsi belum menjelma warung penyetan yang mudah ditemu. Untungnya hari dihitung tujuh hari. Dan jam kerja dihitung lima hari. Sisa dua hari di akhir pekan, kita berkesempatan menjadi manusia lagi. Dan Surabaya, menyediakan jalannya.

Surabaya punya pemusik-pemusik indie terbaik, dan kita tidak perlu susah-susah lagi mencari suaka sampai jadi hipster yang mencari musik-musik ekletik dari Hungaria atau Afrika Selatan. Surabaya menyediakannya lengkap beserta tempatnya. Surabaya mencintai kita semua kala akhir pekan. Banyak acara-acara indie rutin mingguan/bulanan yang mulai bermunculan (lagi). Penikmat musik yang semakin apresiatif dengan tidak duduk dan ikutan bergoyang lenggak-lenggok. Penikmat musik makin loyal dengan membeli CD atau Tape beserta t-shirt band-band lokal. Gairah indie kota jadi semakin kondusif. Semakin hari semakin berkembang. Musik-musik menjadi beragam dan banyak pilihan referensi untuk kita yang sudah keseringan mendengar Carly Ray Jepsen. Dan bahkan tempat-tempat yang dulu tidak pernah dibayangkan akan jadi lahan bagi muda-mudi hip untuk berkumpul dan bernyanyi bersama, kini sudah semakin membuka diri, menampilkan sikap dukungannya dengan membuat gig, yang meskipun tidak besar, tetap bisa menampung band-band lokal untuk tampil membawakan lagu sendiri, berinteraksi dengan penonton, menjajakan CD dan merchandise—dan kita semua membutuhkan itu.

Alhasil sebelum isi otak kita gempar akan pemberitaan Agus Yudhoyono dan Aa’ Gatot Brajamusti season 2, kita sudah di depan stage yang meskipun ada jarak karena kursi-kursi berjejer mengitari, memotret suasana panggung temaram yang belum benar-benar hidup karena pengisi acara masih berupa sampling DJ somehow antah-berantah yang tidak akan pernah cocok bermain di nuansa seperti ini, sambil mengamati foodtruck yang berjejer menjajakan sosis dua puluh lima ribuan, atau semurah-murahnya Teh Gopek enam ribuan, untuk kemudian tahu bahwa suasana di sini sungguh memanjakan mata dengan laju mobil dengan kita yang sedang tidak berada di dalamnya, mengisi udara remang pukul tujuh malam yang kian prosaik andai saja ada lampion dan tangan yang menggandeng. Tapi teman-teman saja sudah lebih dari cukup untuk menikmati acara di Graha Fairground ini. Sebuah acara balada hiperrealitas nan hangat sehingga dinamai Hyper Ballad pun tidak jadi masalah. Yang jadi masalah adalah bila Hyper Ballad berhenti entah di edisi keempat, ketiga, atau kedua yang dengan ini berarti pupus sudah obsesinya untuk menjadi acara gig rutin.

Ada obsesi dari DJ-DJ yang meramu sampling di kanan panggung, semacam keinginan untuk memanasakan malam yang saat itu sedang mendung. Tapi aksi dari komplotan Layung Temaram-lah yang berhasil, setidaknya membuat kita terpaku entah sampai beberapa menit. Lagu-lagu terbaik mereka dilempar, mengingatkan kita semua bahwasanya ada soft spot di dalam hati yang membutuhkan melodi macam ini. Tidak berlebihan bahwasanya pada akhirnya kita akan melunak dan mencintai pop, perlahan-lahan dan tidak tergesa seperti menali sepatu sendiri. Mungkin ini band baru, tapi itu urusan lain. Graha Fairground lewat Hyper Ballad menyediakan sound yang mumpuni. Tidak masalah apakah hafal lagunya atau tidak, termasuk juga saat Sinletto, yang kita semua mengira ini adalah band pemuda kelebihan skill yang memainkan pop rock—dan untungnya berusaha tidak generik. Beberapa hentakan kemudian DJ mengisi lagi jeda antar band. Kali ini Ayren Mayden—dan bukan Iron Maiden, entah apa ini parodi—tetapi DJ veteran yang dulu sempat bermain bersama Lawless Youtube Squad-nya Arian13 dan Sammy ini cukup meringankan leher untuk mengangguk-angguk santai.

hyper-ballad-02

Hyper Catchy: Timeless berkesempatan memainkan mayoritas lagu-lagu barunya. (Foto: M. Rudiansyah)

Lalu berduyun-duyun datanglah punggawa dari Timeless, dengan Fajri Armstrong, sang gitaris yang sedang dalam kondisi kurang fit. “Ada teh panas?” tanyanya pada salah satu penjaja minuman di stan. Sayangnya tidak ada. “Lagi kurang fit ini badan, butuh teh panas.” ujarnya. Ronascent sempat menemuinya dan bertanya padanya akan kemungkinan tur nasional debut terbaru mereka, Beetwen And Beyond. “Nanti, ini masih direncanakan, masih dibahas sama temen-temen juga,” ujarnya. “Suwun loh ya, sudah beli albumnya.” Tambahnya lagi. Untuk Beetwen And Beyond sendiri, track-track seperti Golden Age yang dikeluarkan sebagai single sudah banyak riwa-riwi di Soundcloud. Motown Crush, salah satu track dari album ini, adalah andalan Ronascent: lick-lick yang gawat dan gatal di telinga, jelas Timeless menjadi makin matang dan berbahaya.

Seperti biasa, acara musik akan berlipat garingnya bila ada host atau MC atau apapun itu yang dilibatkan. Meski tidak mengapa juga karena dalam rangka promosi foodtruck, tapi tidak perlu sampai heboh sendiri dan berteriak-teriak layaknya besok kiamat. Memang sudah tugasnya, dan kita sudah terbiasa mendengarkan celotehan kurang penting apapun itu yang keluar dari industri musik odong-odong. Untungnya Timeless tidak suka berlama-lama. Energi yang kelihatan meluap-luap dari Bimantarah, Anggra, Ferry dan juga Fajri—yang terlihat amat segar bugar di atas panggung. Hampir seluruh track di Beetwen And Beyond dimuntahkan, mulai dari—jika tidak lupa judul dan urutannya—Living Free Living Easy, Free From The Universe, Fine, Pills, Golden Age, dan Motown Crush. Mungkin banyak penonton awam yang belum ngeh karena album ini terhitung masih sangat baru. Meski begitu suasana Graha Fairground langsung mendadak ramai saat mereka main. Kursi-kursi langsung penuh. Yang berdiri berjajar juga lumayan. Puja-puji untuk suara Bimantarah yang jika boleh menyebutkan sosok, mirip seperti Eddie Vedder, di era-era album Ten, sempat terlontar. Juga sound yang mendekati paripurna, meski mereka bermain sedikit ugal-ugalan khsusunya Ferry pada drum—sosok perfeksionis yang selalu tepat memperhitungkan pukulan. Atmosfer berubah saat Golden Age dimainkan karena bisa jadi inilah lagu yang sudah cukup dikenal. Tidak ada lingkaran moshing karena seputaran panggung adalah kursi. Pun juga tidak ada yang sampai dekat-dekat panggung dan bertindak gila karena akan sangat terlihat rock snob. Yang ada hanya sedikit tembakau dan headbang tipis-tipis, mengiringi mendung yang makin menjadi dan mungkin akan segera turun hujan. Satu-satunya lagu dari EP We Believe For What We Do Is Timeless yang kemungkinan besar dihafal oleh semua yang hadir, Cold Summer, dimainkan dan menjadi penutup. Lagu ini seperti banyak dapat pengaruh dari Foo Fighters, ditambah sejumput kebengalan punk rock, kita akan mengetahui bahwa tidak terlalu banyak perbedaan mencolok dari EP dan debut album baru mereka. Timeless tampak sudah memperhitungkan dan terlihat menuju ke arah sana. Meski EP terdengar lebih ngebut dan raw, sementara Beetwen And Beyond adalah tata kelola yang lebih rapih dan fresh—mengurangi senyawa-senyawa oktan knalpot dengan tetap menggunakan amplifier Orange sebagai senjata.

Setelah semuanya berkumpul dengan riang gembira, dan waktu belum terlalu malam untuk pulang dan bercinta, Humi Dumi datang dengan membawa serangkaian kenangan—atau yang lebih melankolik dari itu. Para personilnya sempat membaur bersama penonton, dan seperti tipikal pemirsa musik di Surabaya, tidak ada yang tahu bahwa orang-orang itu, vokalis imut itu, si bassist cantik itu, yang akan naik panggung dan menghibur mereka. Jadi tidak ada tekanan menjadi selebritas meski terkadang itu ironis. Dengan gelap yang semakin jadi mendung, tidak butuh waktu lama bagi band yang melabeli dirinya sebagai innocence folk pop ini mengalunkan nadanya. Tidak banyak yang bisa diingat mengingat syahdunya permainan mereka—seperti yang sudah-sudah. Kita akan mengumpat ngeri karena di intro yang sengaja dibuat berbelit namun untungnya amat manis—seperti yang sudah-sudah—kemudian terlantun Sleep yang teduh surgawi. Bisa-bisanya band ini tidak mencuat ke blantika pop nasional? Kita akan membahasnya lain waktu. Riuh tepuk tangan penonton yang memang tidak terlalu ramai sehingga berkesan hangat dan intim seakan ingin mengapresiasi meskipun Qanita Hasinah si vokalis sempat berujar di tengah sapaannya, “Kalian pengen aku atau Irna yang ngomong?’’ yang tidak terdengar ironis malah terdengar seperti guyonan meski tiada penonton yang tertawa—walau ada juga begundal yang berteriak ‘Irna!’

Tentang Irna sendiri (nama lengkapnya Irna Kurnia R, dan tersedia di Instagram) adalah jelita cantik kekinian dulunya berambut sebahu kini sudah agak panjangan, dengan senyum manis dan dia memainkan bass pula. Iya benar, satu kata: bergetar. Bisa jadi betotan bass dia selalu bisa membetot hati penonton laki-laki juga yang kesengsem sembari mencari candid fotonya di atas panggung. Tapi sudahlah bahas musik saja. Sudah bisa ditebak lagu-lagu dari EP I Am Ij Sin A-lah yang diputar, minus Walking In The Pillow yang—seperti yang sudah-sudah—jarang mereka mainkan saat off air. Tambahan lagi satu lagu yang seperti tidak asing tapi juga tidak terlalu familiar. Mungkin ini single terbaru atau cover version, terserah saja. Ada gimmick-gimmick sederhana yang ditawarkan Humi Dumi di Hyper Ballad, sesederhana menambahkan gemericik gitar sebelum awal lagu, atau suara synth, atau bebunyian yang sudah disiapkan sebelumnya, mengalun mengawang di sisi sound saat Ceria Cerita, Bella In 79 Seconds, dan Mirror sebagai lagu pamungkas dimainkan. Kita tidak bisa melupakan saat asyik-asyiknya duduk dan memejam mata menikmati indahnya duniawi, tiba-tiba turun gerimis yang meluap menjadi hujan. Semuanya menyingkir dan berlindung di balik atap sound engineer yang sedang bekerja—dan untungnya tidak merasa terganggu. Humi Dumi tetap tampil atraktif dan elegan meski penonton menjauh, dan ajaibnya saat hujan berubah jadi rintik, penonton menyemut lagi, kali ini tidak duduk-duduk karena bangku sudah kepalang basah, melainkan berdiri merapat panggung, Terima kasih hujan sudah menghidupkan penonton. Dengan berdiri kita lebih leluasa bergoyang, menyulut tembakau, mengangguk kepala, mengamati Irna, apapun. Dan walau hujan datang lagi setelahnya, tetap saja penonton akan menyemut kembali kala ia mulai mereda. Yang tidak bisa terkatakan adalah bagaimana ajaibnya Mirror—sebagai lagu terbaik Humi Dumi sejauh ini—dimainkan saat gerimis turun. Pendar lampu kekuningan menerpa hujan dan jadilah ini malam yang magis. Ini adalah momen terbaik penampilan Humi Dumi dari yang sudah-sudah. Suasanya yang tidak terkatakan namun akhirnya terkatakan juga. Dan saat hampir memungkasi lagunya, di mana itu adalah part-part yang menunjukkan kejeniusan mereka sebagai penghayat sejati, langit sedikit-demi-sedikit mulai cerah, dan Humi Dumi perlahan meninggalkan gemerlap lampu panggung, dengan gimmick outro Mirror yang di remix ala-ala chillout yang terus berkumandang.

Penampilan pamungkas datang dari band yang disebut-sebut sebagai saudara Humi Dumi—di mana mereka selalu ada di tiap gigs yang mengundang Humi Dumi—dengan vokalis perempuan yang lebih terlihat berhawa gelap dan murung. Senandung Sore memainkan lagu-lagu terbaik mereka, mencoba memaknai sisa-sisa bau hujan, mengajak penonton menyesapi sisa-sisa malam, dan setelah Sadrah—yang masuk dalam kompilasi terbaru Ronascent Outtatime—kita akan menguap dengan amat panjang. Bukan mengantuk, bukan juga lelah, melainkan sudah terlalu banyak hal-hal yang patut disyukuri di malam ini, termasuk penampilan-penampilan luar biasa dari band-band lokal yang tampil. Ternyata hidup masih amat menyengangkan. Dan Surabaya, nyatanya masih mencintai kita kala akhir pekan.

Mahasiswa sastra. Kecanduan Tebs dan masih mengimani Billie Joe Armstrong sebagai nabi.

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

EVENTS

Galeri Foto: Mlete Sejak Maba

Published

on

Istilah gigs kampus saat ini lebih sering dijadikan obrolan saja, sebab sudah jarang dilakukan. Sampai akhirnya, dua edisi Mlete Sejak Maba berupaya membangkitkan lagi semangatnya. Masih bertempatkan di area FISIP UNAIR Kampus B Surabaya, kali ini spirit sosial-lah yang memanggil mereka. Sembari ngegigs, acara ini juga mengumpulkan donasi untuk tragedi gempa Lombok. Dari harga tiket kemarin, terkumpul sekitar Rp. 2.210.000 yang akan dibelikan kebutuhan logistik untuk dikirim ke Lombok.

Didukung oleh Plester-X, Wolf Feet, Kuda Poni 168, Hold, Taman Nada, Ndemo & Pepet, Relics, serta Starving Nomad yang tampil. Dan, satu kata untuk acara ini; keos! Yah, buat kalian yang familiar dateng ke gigs-gigs kampus pasti paham betul bagaimana situasinya. Dan acara kemarin, mungkin  jauh lebih ganas dari biasanya. Silahkan menikmati foto-foto dari rekan kami, Luqman Darwis.

Anak muda penuh semangat tapi tidak bergairah, suka melakukan banyak hal baru dan sedang berstatus mahasiswa aktif dengan doa semoga lulus tepat waktu dan segera mempunyai penghasilan.

Continue Reading

EVENTS

Jazz Traffic, Masa Depan dan Eksperimennya

Published

on

Malam ini dan malam selanjutnya adalah pesta. Dan pesta malam ini dan malam selanjutnya punya definisi yang berbeda. Kesimpulan ini didapat saat menghadiri Jazz Traffic Festival 2018, yang digelar di Grand City Surabaya 25 dan 26 Agustus lalu. Masih teringat dengan jelas bagaimana antrian panjang di pintu penukaran tiket yang mengular-memanjang sampai hampir ke jalanan depan Gubeng. Ini jelas bukan acara main-main. Animo masyarakat cukup besar, sebesar puluhan ampli yang bertumpuk-tumpuk di lima panggung besar yang tersebar di area parkir, Convention dan Exibition.

Sebenarnya festival agak sedikit menghambat kita dalam menghayati memori dan ingatan. Ini karena penampilan demi penampilan demi penampilan dari sekitar 400 musisi langsung dihantamkan ke otak tanpa permisi. Rundown yang tahun ini tidak dicetak tapi dalam versi aplikasi resmi Jazz Traffic, membuat kita sebagai pengidap panic disorder tiba-tiba gelisah karena banyak sekali penampilan bagus di semua lini; jazz, pop, rock, metal, bahkan dangdut. Jazz Traffic sudah berevolusi dari sebuah acara reguler di Suara Surabaya sejak 1983—dengan Bubi Chen sebagai sosok musisi yang paling bertanggung jawab—menjadi festival musik besar-besaran tahunan sejak 2011 lalu. Kalau awalnya jazz, kali ini melebarkan sayapnya di berbagai macam genre dan aliran, yang tentu saja masih punya benang merah dengan jazz. Kata Errol Jonathans Chairman Jazz Traffic sekaligus CEO Radio Suara Surabaya, festival tahun ini mengusung tema The Future Is Now.

Tapi sekali lagi hidup adalah pilihan. Sekalipun itu sulit, yang penting adalah terus berjalan dan menjalaninya, dengan gila-gilaan dan tertawa. Mari sedikit kita deskripsikan pilihan-pilihan apa yang tersedia di festival legendaris ini. Ada Jazz Traffic Stage yang indoor di area Convention, juga Suara Surabaya Stage di area Exhibiton. Lalu mendongak keluar, ada MLD Stage dan Indihome Stage, yang disekitarnya berputar berbagai macam arena yang bisa disambangi. Termasuk Studio Mini Suara Surabaya yang mengudara di FM 100 saat membawakan siaran langsung dari venue. Selanjutnya menyatu dengan area F&B, ada Kolaborasik Stage yang diatur sedemikian rupa oleh punggawa M Radio dan anak-anak Kolektif Kolaborasik. Hidup adalah pilihan dan kepala kami terus berdenyut kencang mengingat pilihan-pilihan semacam ini.

Kami yang datang di hari pertama pada Sabtu sore, akhirnya memilih menonton penampilan Adhitya Sofyan, yang sekarang berpenampilan eksotis; memelihara rambutnya sampai gondrong dengan kumis yang lumayan tebal. Siapa mengira dia sudah berumur empat puluh tahun. Setiap orang punya waktu terbaik untuk menonton sebuah pertunjukan musik. Tapi menurut penulis kami saat ini, waktu favoritnya adalah sore menjelang pukul setengah lima. Pasca terik dan pra-senja di mana matahari sudah tampak sayu dan hangat, kuning orange tidak lagi merah membakar, menerpa panggung yang polosan tanpa perlu pakai lighting dan tata cahaya yang bejibun, dengan semilir angin empat sore yang menghembuskan rambut terurai Adhitya Sofyan yang saat itu sedang membawa gitar kopong.

Si Adhit melempar sejumlah kidungnya yang menggubah pop menjadi sedemikian harmonis. Musik semacam begini penting didengar saat suara-suara di luaran sana punya pola yang sama; kebanyakan khianat dan susah dipercaya. Adhit menggunting pikiran sadar dan bawah sadar kita seketika, membawa kita masuk dalam setlist yang dia bawakan. Agak lupa memang dia membawakan lagu apa saja, tapi nomor Adelaide Sky yang disenandungkan jadi penutup, seolah jadi transisi ketidaksadaran itu tadi. Langit perlahan mulai menghitam dan Adhit pamitan dengan sopan sementara penonton terus bertepuk tangan sambil sedikit berkaca-kaca sambil sedikit mengasihani kisah romantisme diri sendiri sambil mengingat-ingat pikiran-pikiran soal sesuatu yang kemudian dicerna sebagai rekaman ingatan yang suwung. Adhit adalah penghiburan yang menawarkan rasa sedih sekaligus gembira, atraktif sekaligus kontemplatif, meditatif sekaligus adiktif. Dan sekarang kita adalah manusia-manusia yang tiba-tiba saja menjadi naif. Sebegitunya vibe acara musik live memengaruhi kita.

Selanjutnya adalah keramaian demi keramaian yang terus menghantam kepala. Dua panggung yang disusun berhadap-hadapan seperti layaknya festival, agaknya diatur sedemikian rupa supaya tidak saling bertempur. Pasca Adhitya Sofyan yang memukau sampai lima sore, kami melanjutkan destinasi telinga berikutnya masih di panggung yang sama: MLD Spot Stage. Bedanya saat ini hawa sudah mulai menusuk, nuansa mulai gelap dan senja sudah tidak tampak batang hidungnya. Kami beruntung karena si penulis naskah ini kedapatan membawa gelang all access. Tanpa peduli malu langsung menerobos ke backstage tempat penampil selanjutnya yang akan memulai aksi sedang memanasi motor peralatan. Wajah itu. Kaus itu. Perangai itu. Tidak salah lagi: Eet Sjahranie. Benar, kami sedang berada di depan legenda rock kenamaan yang membentuk salah satu eksponen rock paling panas bernama Edane. Eet sendirian mengawasi penonton di belakang panggung sambil terus mengisap rokoknya. Sesudah basa-basi super penting soal pengakuan penulis sebagai fans berat Edane yang beruntung bisa bersama Eet saat ini, Eet membeberkan sedikit rahasia soal penampilannya kali ini: “Masih memainkan rock. Itulah kenapa dinamakan Eet Sjahranie Black.” Tandem penampilan si mata eyeliner ini tidak lain tidak bukan: Gilang Ramadan. “Gilang lebih ke blues. Maka dari itu namanya Gilang Ramadan Blue.” Kata Eet. Ya benar, mereka berdua membuat satu proyekan yang baru pertama kalinya ditampilkan, bahkan satu-satunya di Indonesia. Dan Surabaya dengan Jazz Traffic-nya beruntung mendapatkan kesempatan emas yang dinamakan Gilang Ramadan Blue dan Eet Sjahranie Black ini. Dengan dibantu Novi dari Voodoo—unit slow rock legendaris 90-an.

Yang dilemparkan dari tembang pertama adalah Fire punya Jimi Hendrix. Di lagu yang berulang-ulang dicover menjadi gubahan yang tidak main-main oleh sejumlah musisi (bahkan DeadSquad di album Profanatik), kali ini digeber dengan nuansa yang sama sekali lain. Hard rock keras tanpa ba-bi-bu dengan pertunjukkan gitar solo-drum solo-gitar solo-drum solo secara konstan demi mempertegas nama Gilang dan Eet sebagai si empunya show. Novi seperti biasa, masih kuat melingking meskipun hanya sampai begitu saja: tidak ada yang terlampau istimewa. Dilanjutkan dengan beberapa tembang lawas evergreen slow rock dari band 80-an seperti Heart. Lalu yang sempurna adalah Highway To Hell dari AC/DC yang membuat Eet semakin memposisikan dirinya sebagai pengagum berat Angus Young si tua-tua keladi yang doyan memakai seragam sekolah. Pengunjung juga merespons secara histeris dan antusias. Bercampur lebur dari bapak-bapak ibu-ibu berumur sampai anak-anak mahasiswa. Ini gila. Bahkan banyak di antara mereka yang mungkin belum lahir saat The Beast-nya Edane dirilis. Tapi pesona seorang rockstar memang seberbahaya itu. Membuatnya sampai kapanpun akan terdengar keren dan mendatangkan massa. Apalagi di panggung Jazz Traffic ini, ada dua sosok yang bisa dikategorikan sebagai rockstar. Sekaligus!

Malam semakin biru dan kami melompati beberapa penampilan selanjutnya dalam naskah ini. Bukan apa-apa, akan terlalu banyak deskripsi yang bisa kami beberkan yang dikhawatirkan akan memusingkan kepala kalian. Karena itu kami langsung mengajak kalian ke tempat di mana hal spesial soal Jazz Traffic ini ditawarkan: Via Vallen Jazz Traffic Project. Ini membuat kalian sedikit gila pada akhirnya karena Via bukan sosok yang lumayan bisa diterima di kalangan pencinta music arus pinggir. Kebanyakan mereka yang suka dan doyan, malu-malu menyetelnya di kamar, atau hanya hafal lagunya yang memang sangat catchy itu tanpa sadar. Tapi selebihnya lagu-lagu Via Vallen—sebagus apapun hanya numpang dengar dan numpang lewat saja. Tidak untuk dihayati dan dibuat hiburan—atau bagi kalian yang menemukan jalan damai lewat musik, lagu Via jelas tidak bisa dipakai bahan renungan atau kontemplasi. Seharusnya kalian juga menyadari juga kalau kebanyakan lagu Via adalah cover song. Dan dengan itu kalian juga harus mengerti kalau cover song itu berhaluan dangdut yang di Jazz Traffic ini dicover lagi jadi bebunyian jazz. Saat mendengarnya memang nuansa dangdutnya agak hilang. Tapi juga tidak jazz-jazz amat. Bagaimana ini? Atau mungkin kimiawi dangdut kalau ditemukan dengan jazz akan bertemu di satu titik tengah bernama pop? Begini saja, kami akhiri tulisan ini biar kalian yang kebingungan bisa mengobrol langsung dengan redaksi kami soal Jazz Traffic. Entah itu soal seberapa hitam eyeliner Eet, kostum Via Vallen, atau… Marion Jola?

Mahasiswa sastra. Kecanduan Tebs dan masih mengimani Billie Joe Armstrong sebagai nabi.

Continue Reading

EVENTS

Galeri Foto: Jazz Traffic Festival 2018

Published

on

Sesuai dugaan, hadirnya sosok Via Vallen di Jazz Traffic Festival 2018 (JTF 2018) mampu menumpah ruahkan penonton dengan bermacam segmen. Kita bisa melihat para loyalis Via Vallen hingga penikmat jazz senior ada semua di sana. Seluruh area Grand City di pekan kemarin (25-26 Agustus 2018) pun tumpah ruah, khususnya di hari kedua. Tanpa akses backstage, kami pun harus bersusah payah mendapat angle foto terbaik dari barisan penonton yang rapat tanpa celah. Mari menyimak hasil foto-foto kami yang dijepret dengan susah payah.

Seorang mahasiswa hampir abadi yang menghabiskan sebagian besar waktu di kehidupanya dengan hal hal penuh manfaat seperti mengabadikan wajah wajah ekstase para pemuda pemudi bangsa di atas panggung.

Continue Reading
Advertisement

Zine Archives

Surabaya