Connect with us
https://ronascent.biz/wp-content/uploads/2017/07/ronascent-adv-copy.jpg

EVENTS

Siapa Bilang Morrissey Tak Pamit di Konsernya?

Published

on

morissey-jakarta-report

Konser kedua Morrissey di Jakarta membawakan 19 lagu tanpa menghadirkan 1 lagu encore. (Foto: Kiosplay)

Ada sebuah momen iseng yang dilakukan Morrissey di tengah setlist konser keduanya di Jakarta Rabu malam (12/10). Tepat sebelum membawakan hits milik The Smiths, How Soon Is Now?, Morrissey mengisengi penonton dengan mengucapkan, “Goodbye”. Para penonton yang menganggap itu sebagai salam penutup pun lantas berteriak, “Nooo…”.

Dengan santainya respon itu pun dijawab papa Moz (sebutan untuk Morrissey) dengan, Not you. You have to stay here. You have no choice. Cause I’m going to whip you.dan lagu How Soon Is Now? pun berkumandang dengan riff gitar delay khasnya. Penonton pun kembali bersemangat. Menyanyi dengan riang gembira sepanjang satu dari dua lagu The Smiths yang dibawakan papa Moz tadi malam.

Tapi siapa sangka, keisengan tersebut justru merupakan salam penutup sebenarnya dalam konser garapan Kiosplay ini. Karena, setelah membawakan lagu ke 19, Meat is Murder Morrissey benar-benar pergi tanpa pesan dari atas panggung. Tak ada satu pun salam penutup atau kata-kata perpisahan dari papa Moz. Apalagi encore yang sudah dinanti-nantikan lima ribuan penonton di GBK Sport Complex Senayan, Jakarta tadi malam. Kurang lebih 15 menit waktu yang dibutuhkan hingga akhirnya penonton benar-benar percaya: konser berakhir dengan anti-klimaks.

“Menggantung nih konsernya. Ketang. Kecewa gue,” ungkap Thomas, salah satu peliput musik dari salah satu media nasional. Pun dengan Danishwara, vokalis band alternative Surabaya, Zorv mengungkapkan kekecewannya, “kentang gini pak. Sayang banget. Tapi oke lah konser keseluruhan,” ujarnya.

Konser 90 menit Morrissey kemarin total menghadirkan 19 lagu, dengan tambahan 1 encore: What She Said milik The Smiths yang tidak dibawakan. Ini pun diketahui publik setelah Arian, vokalis Seringai mengunggah setlist lengkap #MorrisseyJKT di akun instagramnya @aparatmati.

Meski tanpa encore dan berakhir anti-klimaks, sejumlah hits papa Moz sebagia besar sudah dibawakan.  Sebut saja Suedehead, Almamaters, hingga Everyday Is Like Sunday yang secara berturut-turut membuat penonton melakukan koor massal di awal konser. Tak ketinggalan Let Me Kiss You, First of Gang To Die, sampai You Have Killed Me tuntas dibawakan.

Judy Is A Punk sebuah nomor cover Ramones yang biasanya dibawakan sebagai encore di negara lain, pun dibawakan Morrissey di tengah-tengah setlist. Sejatinya penonton di Jakarta patut berbangga karena tak perlu menunggu hingga akhir untuk menonton papa Moz membawakan lagu ini.

Dibandingkan Dengan Konser 2012

Jika dibandingkan dengan kedatangan pertama Morrissey ke Jakarta 2012 lalu, konser kemarin memang minim aksi spontanitas. Jika empat tahun lalu tercatat ada dua orang penonton yang memberanikan diri naik ke atas panggung untuk mencium dan memberi bunga kepada Morrissey, maka tahun ini aksi itu minim dan bahkan nihil.

Tapi aksi tersebut cukup tergantigan dengan aksi rebutan baju Morrissey yang terjadi saat lagu Let Me Kiss You. Tiba-tiba Morrissey yang nampak sudah kegerahan, membawakan tujuh lagu, lantas membuka bajunya dengan menarik kedua sisinya hingga melepas kancing secara paksa.

morissey-jakarta-report-2

Morrissey dengan baju birunya yang jadi rebutan setelah dilempat ke arah penonton. (Foto: Kiosplay)

Baju berwarna biru itu pun lalu dilemparnya ke arah penonton barisan VIP dan terjadi lah aksi rebutan bin tarik-menarik. Alhasil baju tersebut tersobek-sobek hingga beberapa bagian. Rian, vokalis D’Masiv adalah salah satu yang beruntung mendapatkan cinderamata spesial ini.

Sejauh ini berlebihan rasanya jika terus-terusan merujuk ketidak-tuntasan konser sebagai kambing hitam kekecewaan konser kedua Morrissey.

Seperti kata Erick Tobing, editor in chief Provoke Magazine: “Kesalahan doi kali ini cuma karena ga pamit. Soal ada atau nggak encore itu hak doi sepenuhnya sih. Kita cuma bisa pasrah. Tapi kalo soal setlist, ai prefer konser yang ini ke mana-mana ketimbang yang beberapa tahun lalu. Sadis!”. Atau dengan Reno Nismara, editor Rolling Stone Indonesia : 16 Morrissey Songs, 2 The Smiths Songs, and a Ramones cover? I’m not complaining.” imbuhnya.

Arek Suroboyo asli lulusan kuli aplikasi messenger Jepang-Korea ini masih berusaha bertahan di dunia digital sambil menyambung hidup menjadi peliput musik akhir pekan. Gemar sekali dengan Sheila On 7 dan kasur-bantal-guling

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

EVENTS

Gallery: Perayaan Drowning In Sadness War Fighters

Published

on

Perayaan Drowning In Sadness, album pertama War Fighters berlangsung di Rumah Jaman Now (OJN) Surabaya. Kami menangkap beberapa momen bahagia dari hubungan para performer dengan penonton. Alhasil, inilah sajian visual bagi kalian yang tak sempat datang pada pesta perayaan War Fighters.

Seorang mahasiswa hampir abadi yang menghabiskan sebagian besar waktu di kehidupanya dengan hal hal penuh manfaat seperti mengabadikan wajah wajah ekstase para pemuda pemudi bangsa di atas panggung.

Continue Reading

EDITOR'S PICK

Berselancarnya The Panturas & Polka Wars di Surabaya

Published

on

Ada sedikit keraguan kala The Panturas gagal berselancar di Surabaya Oktober kemarin. Nuansa surf-rock yang diusung sekelompok alumnus jurnalistik ini tidak memancar, mereka justru hanya terdengar sebagai band rock melayu biasa. Namun ketika Buka Musik Connectified chapter Surabaya membawa mereka ke Nens Corner akhir pekan kemarin (14/12), ceritanya berbeda. The Panturas benar-benar Mabuk Laut bersama ratusan penonton yang merelakan mata perih karena asap rokok hingga kepala puyeng akibat alkohol.

Bagi sebagian besar penonton yang hadir, kami yakin mereka semua mendapat klimaks. Diawali dengan dua band pendatang baru Surabaya yang unjuk gigi; Alter dan Eisen, hingga dibawa membeku bersama Cotswolds dan puncak dari segala kerusuhan ada pada si protagonis Polka Wars. Pemilik album Axis Mundi ini sejatinya menurunkan tempo pasca meliarnya crowd The Panturas. Tapi tak bisa dipungkiri jika musikalitas terus memancarkan aura semangat. Setidaknya, Surabaya telah memberikan kesan manis bagi Polka Wars dan The Panturas yang hingga akhir tahun ini melaksanakan tur di 6 kota di bawah platform musik Buka Musik milik Bukalapak.

Anak muda penuh semangat tapi tidak bergairah, suka melakukan banyak hal baru dan sedang berstatus mahasiswa aktif dengan doa semoga lulus tepat waktu dan segera mempunyai penghasilan.

Continue Reading

EVENTS

The 41st Jazz Goes to Campus: Kejayaan Musik Jazz Masih Dimulai Dari Kampus

Published

on

Jika menengok kembali sejarah musik jazz di Indonesia, dunia kampus memang berperan penting dalam perkembangan musik ini. Salah satunya adalah Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia. Lewat Jazz Goes to Campus, musik jazz bisa dikenal dan mendapat tempat tersendiri di telinga mahasiswa. Tahun ini, JGTC sudah memasuki tahun ke-41. Sebuah perjalanan yang tak singkat memang. Konsistensi JGTC dalam menghadirkan sajian musik jazz yang segar mampu membuat acara ini bertahan hingga lebih dari empat dekade.

Minggu, 2 Desember 2018, 41stJazz Goes to Campus yang mengusung tema“Bring The Jazz On” kembali digelar di lingkungan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia. Sama seperti tahun-tahun sebelumnya, JGTC selalu berhasil menyedot animo yang luar biasa. Sejak pukul 12.30 antrean sudah mulai penuh sesak untuk memasuki kawasan acara. Sekitar pukul 13.00 acara dimulai dan dibuka oleh penampilan dari beberapa band kampus dan pemenang JGTC Band Competition.

Menjelang sore, penonton mulai memadati Sprite Stage untuk menyaksikan Maliq & D’Essentials. Antusiasme penonton sangat liar sore itu. Sprite Stage penuh sesak dengan penonton yang ingin menyaksikan Maliq & D’Essentials. Membawakan tembang-tembang hits seperti Dia dan Untitled, Maliq & D’Essentials sukses memanaskan sore yang mendung kemarin. Bergeser ke Kopiko Stage, grup musik parodi asal Bandung, Project Pop juga mampu menyedot animo penonton yang ingin bernostalgia dengan lagu-lagu lawas mereka. Track andalan seperti Gara-gara Kahitna, Metal vs. Dugem, dan Ingatlah Hari Ini sukses membuat penonton bernyanyi bersama. Disela-sela lagu lama yang nangkring di setlists, Project Pop juga sempat membawakan lagubaru yang berjudul Coconut dan sukses mengajak penonton untuk bergoyang bersama.

Menjelang maghrib, JGTC sempat diguyur hujan yang cukup deras dan sempat membuat penonton yang tidak membawa jas hujan kocar-kacir mencari tempat berteduh. Untungnya hujan tidak berlangsung lama, karena di Indofood Stage, Vira Talisa sudah bersiap untuk menghangatkan malam setelah hujan. Walaupun tidak terlalu ramai, karena banyak penonton yang sudah memenuhi Kopiko Stage untuk menunggu Boyzlife, set Vira Talisa malam itu tetap syahdu. Pindah ke Kopiko Stage, Boyzlife dengan mudahnya membuat para penonton histeris. Hanya bermodalkan rekaman lawas lagu-lagu Boyzone dan Westlife, Keith Duffy dan Brian McFadden sukses berkaraoke bersama penonton. Set yang minimalis, tanpa band pengiring, dan hanya bermodal rekaman minus one membuat Boyzlife tidak memiliki daya tarik yang lebih selain hanya lagu-lagu hits lawas mantan boyband mereka dulu.

Kembali ke Sprite Stage, kali ini giliran Glenn Fredly yang menghangatkan malam para pecinta jazz di JGTC. Penuh dan lantang. Begitulah kira-kira gambaran crowd yang menonton Glenn Fredly kemarin. Dari awal set hingga akhir, semua penonton sangat kompak menyanyikan lagu-lagu Glenn Fredly. Terlebih lagi ketika lagu Terserah, koor massal yang gila bisa terdengar dari depan hingga belakang. Dan di panggung yang sama sebagai penutup JGTC, Reza Artamevia juga berhasil membawa para penonton bernostalgia dengan tembang-tembang lawas miliknya. Walaupun sudah tak muda lagi, Reza tetap energik dan interaktif dengan penonton JGTC.

Dengan tema yang diusung, pagelaran JGTC tahun ini cukup sukses membawa kembali musik jazz. Bermodal track record yang bagus JGTC menjadi salah satu festival jazz yang ditunggu-tunggu setiap tahunnya. Seperti apakah kejutan JGTC tahun depan. We’ll see!

 

Teks: Agita Bela | Foto:  Adrian Daniarsyah

An amateur dilettante | Straight Edge | Star Wars’ die-hard fans | Records Junkie |

Continue Reading

Surabaya